puisi

Bersenandika di Minggu Malam Itu

Hadirnya saya di Institut Français Indonesia (IFI), Bandung hari Minggu malam lalu bukanlah hal yang disengaja. Sehari sebelumnya, dalam perjalanan ke Bandung, saya iseng chat seorang teman yang saat ini tinggal di Bandung, berharap jadwal dia agak longgar jadi kita bisa bertemu barang sebentar. Ternyata, di luar dugaan, dia mengajak kami (saya dan seorang teman) untuk hadir menonton penampilan suaminya dalam acara poemuse. Sebelumnya saya sudah melihat sekilas update-nya di akun Instagram milik teman saya. Saya pikir acaranya sudah lewat.

Oke. Cukup introduksi-nya.

Singkat cerita minggu malam, kami menuju IFI dan menikmati pertunjukkannya. Tajuk dari pertunjukkan ini adalah Senandika.

senandika : wacana seorang tokoh dalam karya susastra dengan dirinya sendiri di dalam drama yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut, atau untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca atau pendengar. -Kamus Besar Bahasa Indonesia

Acara dibuka dengan sambutan singkat dari sang sutradara, Kennya Rinonce, yang ternyata merupakan putri dari seniman Sujiwo Tejo. Beliau menyampaikan overview dari pertunjukkan Senandika ini. Selanjutnya pertunjukkan pun dimulai. Babak pertama dibuka dengan lagu “Meninggalkan Kandang” yang liriknya berdasarkan puisi karangan Eka Budianta dan aransemen musik oleh Ananda Sukarlan. Beberapa puisi dinyanyikan secara apik oleh Soprano Delta Damiana dan Tenor Daniel Victor. Galuh Pangestri menginterpretasikan kata-kata dalam puisi-puisi yang dinyanyikan dalam gerak tari yang energik. Luar biasa. Diiringi oleh dentingan piano dari pianis Nicholas Rio.

Pentas ini merupakan bentuk “protes” dari beberapa seniman muda terhadap situasi di negara Indonesia saat ini, di mana sulit untuk menjadi diri sendiri di tengah derasnya informasi yang kita terima (yang kadang lebih banyak hoax). Mereka rindu Indonesia yang damai di tengah keberagaman. Hanya ini yang bisa mereka lakukan sebagai seniman. Dan menurut saya, mereka berhasil menyampaikan pesan tersebut.

Bagian yang paling saya suka sekaligus membuat merinding adalah ketika mereka menggabungkan lagu Ave Maria, suara Adzan, tarian Saman, dan drama lagu Janger pada piano.  Perpaduan yang sangat indah.

Sedikit masukan dari saya, suara Delta dan Daniel masih bisa dibuat lebih powerful lagi. Mungkin karena faktor akustik venue yang tidak terlalu bagus, di beberapa bagian suara mereka terkesan hilang timbul. Anyway, Daniel suaranya bariton bukan Tenor. 🙂

Namun secara keseluruhan pertunjukkan ini luar biasa. Pesan yang diinginkan telah tersampaikan dengan baik. Di Indonesia jarang ada pertunjukkan yang menggabungkan puisi, musik, dan tari sekaligus. Senandika adalah salah satu yang bagus. Proficiat untuk semua yang terlibat dalam pertunjukkan ini. Keep up the great work! 🙂

ps. Lagu “Meninggalkan Kandang” dan “Dalam Doaku” membangkitkan kenangan masa lalu saya. Bertahun lalu pernah diminta seorang teman untuk mengiringinya latihan kedua lagu itu ketika dia mau ikut kompetisi Tembang Puitik Ananda Sukarlan.

IMG_7184

Berhubung susah ambil foto pas lagi pertunjukkan, maka pasang foto ini saja ya 🙂 Bersama Daniel Victor setelah pertunjukkan 

Ulasan mengenai acara ini juga dapat dilihat pada tautan di bawah ini :

http://lifestyle.kontan.co.id/news/poemuse-menyulap-kebisingan-jadi-nyanyian-puisi

https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170513/282076276790810