thank God for this

Flashback

Tadi pagi begitu bangun tidur, seperti lazimnya aktivitas rutin di akhir minggu, saya cek timeline salah satu media sosial. Teman saya ada yang posting foto wisuda ITB Juli 2017. Mendadak saya teringat momen yang sama, 7 tahun lalu. Ya, pada bulan Juli 2010 saya resmi keluar dari Institut Teknologi Bandung (lewat Sabuga, bukan lewat Annex), dengan menyandang gelar Sarjana Sains setelah menjalani masa studi selama 4 tahun. Masih teringat drama (sidang yang diulang!), yang menyertai proses kelulusan saya dari program S1 Mikrobiologi.

Sudah banyak yang terjadi semenjak saya meninggalkan kampus di Jl. Ganesa 10, Bandung itu, sampai sekarang 7 tahun kemudian saya terdampar di Jerman ini.

Masa-masa awal kelulusan dipenuhi dengan euforia. Tapi setelah beberapa bulan, jujur saja saya merasa takut jadi pengangguran. Pada masa itu, sulit sekali mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang saya. Beberapa job fair saya datangi. Beberapa wawancara kerja saya jalani. Tanpa hasil. Tapi justru di titik itulah saya menyadari bahwa saya tidak memiliki passion untuk bekerja di korporat. Passion saya adalah bekerja di bidang akademik. Ketika saya mengutarakan niat saya untuk jadi peneliti dan dosen, beberapa orang menertawakan. Katanya saya terlalu idealis. Beruntung orang tua saya selalu mendukung apapun yang saya lakukan.

Dengan campur tangan Tuhan, saya yang lulus S1 dengan IPK biasa-biasa saja (saya gak cum laude lho), bisa lanjut kuliah S2 dan lulus, bisa jadi dosen, dan bisa lanjut studi S3.

Karena keajaiban itu nyata adanya.

Sedikit pesan untuk teman-teman yang baru lulus, temukan passion kalian. Tidak usah pedulikan apa kata orang. Sepanjang pekerjaan kalian bisa berguna bagi orang-orang di sekitar kalian, tidak perlu gengsi.

dua puluh sembilan

Tanggal 25 Februari yang lalu usia saya bertambah menjadi 29 tahun. Sudah tua, kata beberapa orang. Masih muda, kata saya. Di umur saya ini, ibu saya sudah menikah dan beranak satu.

Saya? Single, bahagia, dan penuh mimpi. Dulu sewaktu berusia awal dua puluhan, saya memiliki target untuk menikah di usia 25. Angka itu pun tanpa terasa terlewati tanpa ada pria yang mendekati saya. Lepas dari usia 27 tahun barulah ada beberapa yang mendekat, namun seketika menjauh tatkala saya bercerita tentang mimpi-mimpi besar saya yang masih menunggu untuk diraih. Namun ada satu yang tak menjauh. Dia. Orang yang sama sejak dua tahun lalu.  Yang hampir saja malah membuat saya balik kanan maju jalan. Tapi akhirnya saya putuskan tidak jadi. Kami saling menyayangi dalam diam. Tapi kami tahu sama tahu perihal hati masing-masing.

Sekarang, tinggal satu tahun lagi menuju angka 30, saya hanya ingin berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan diri saya di tahun-tahun yang lalu.

Saya bahagia dengan segala pencapaian saya selama 29 tahun menghirup dunia ini. Sudah pernah diperkenankan mencicip studi di negara yang berjarak 10.000 km dari rumah saya. Dan sebentar lagi pun akan beroleh kesempatan lagi.  Saya bersyukur Tuhan menganugerahi saya teman-teman yang luar biasa serta keluarga yang sangat suportif.

Kado ulang tahun terindah sudah saya dapatkan di awal Februari 2017.  Dimulai dengan datangnya LoA dari Jerman, JJA saya akhirnya di-approve, dan datangnya keputusan bahwa saya lolos beasiswa DAAD. Kado yang sangat spesial. Semuanya atas kuasa Tuhan, tentunya.

Tiga bulan lagi saya akan kembali merantau untuk 3 tahun. Pasti akan ada yang sinis yang berkata “Kamu sekolah terus sih? Kapan nikahnya?” Untuk setiap hal, ada waktunya masing-masing. Tenang saja lah. Toh ini hidup saya.

 

[sharing] my journey on turning dreams into plans

*disclaimer : this gonna be a long blog post*

Semua berawal dari tahun 2012, ketika saya merampungkan studi S2 saya di Newcastle, UK. Hari itu akhir November, hari terakhir saya datang ke lab untuk berpamitan dengan rekan-rekan yang berada di dalam research group yang sama dengan saya, termasuk dengan Prof saya dan co-supervisor saya. Saya masih ingat percakapan kami saat itu

Prof : “So, Gabriella. what’s next?”

Me : “I’m planning to continue doing a PhD”

Prof : “Where are you planning to apply for a PhD position?”

Me : “Germany”

Co-supervisor : “Eh? Why Germany?” *fyi, supervisor saya ini tipikal orang British banget, yang kayanya ada dendam kesumat sama orang Jerman*

Me : “Why not?”

Semenjak itu, saya mulai melamar ke berbagai universitas yang sedang membuka lowongan untuk mahasiswa PhD. Januari 2013, saya sempat memperoleh kabar baik bahwa saya masuk ke dalam shortlisted kandidat PhD di TUM. Jangan ditanya betapa senangnya saya saat itu. Baru lulus master dan yakin bakal keterima PhD di Jerman. Dreams come true! Pertengahan Februari 2012, saya berangkat ke Munich, Jerman untuk final interview dengan calon supervisor saya. For your info, proyek PhD yang ditawarkan pada saat itu adalah di area kanker. Padahal, mimpi saya adalah mengerjakan proyek penelitian yang terkait terapi penyakit autoimun. Namun, pada saat itu yang ada di pikiran saya adalah yang penting lanjut PhD, yang penting pergi dari Indonesia. Ya, saat itu saya adalah seorang anak muda yang belum bisa move on dari nyamannya suasana Eropa. Dan saya gagal di final interview. Sempat sedih, tapi ya sudah mungkin memang belum jalannya saya lanjut sekolah.

Awal Maret 2012 saya kembali ke Indonesia dan puji Tuhan langsung ditawari oleh salah seorang teman untuk mengerjakan sebuah proyek penelitian. The power of networking! Saya bekerja sebagai research assistant selama kurang lebih 6 bulan, mengerjakan 2 proyek. Dalam kurun waktu itu pula saya melanjutkan proses melamar PhD dengan membabi buta. Setiap ada lowongan, saya baca requirement-nya sekilas dan langsung saya lamar. Terkadang saya sudah bisa memprediksi bahwa saya tidak akan diterima, mengingat kualifikasi saya tidak memenuhi persyaratan minimum untuk proyek-proyek tersebut. Tapi saya nekad. Akibatnya? Puluhan email penolakan saya terima selama tahun 2013 itu. Supervisor S2 saya sampai ngambek tidak mau menulis surat rekomendasi lagi  untuk saya dan beliau benar-benar lakukan itu. Beliau tidak pernah membalas email-email saya selanjutnya yang terkait dengan aplikasi PhD. Saya tahu pada kurun waktu tersebut beliau pindah dari Newcastle ke Utrecht. Bahkan beliau tidak menginformasikan email barunya kepada saya. Haha. Saya menyebut 2013 sebagai a year when life really punched me right on my face. Tahun penuh perjuangan dan penolakan. Dan tahun di mana saya menjadi pengangguran (ngehe) selama 6 bulan. Puas lah glundang glundung di rumah sambil sesekali melamar pekerjaan.

Dalam periode jadi pengangguran itu, ternyata saya lumayan produktif juga. Saya menulis satu proposal penelitian, yang pada akhirnya  amat sangat berguna untuk hunting calon supervisor. Sekitar akhir 2013 saya mendapat info (lagi-lagi the power of networking) dari salah seorang teman yang dulu bersama-sama studi Master di Newcastle. FKUI membuka program PhD joint degree dengan Newcastle University. “Wah, bakal balik lagi ke UK nih”, pikir saya saat itu. Excited! Jadilah saat itu saya ikut ujian SIMAK UI untuk program Doktor dan lolos. SIMAK UI ternyata tidak sesulit yang dikatakan orang-orang. #sombong. Tidak lama setelah itu, saya mendapatkan konfirmasi dari Newcastle bahwa sudah ada supervisor yang bisa membimbing saya. Namun pada akhirnya saya terbentur masalah pembiayaan. Pada saat itu saya mendaftar beasiswa LPDP. Mungkin karena skema programnya tidak terlalu jelas (joint degree ini mengharuskan saya untuk membagi studi saya menjadi 2 periode, 1.5 tahun di Indonesia dan 1.5 tahun di Inggris, kalau tidak salah), jadi pada akhirnya tidak lolos seleksi administrasi. Singkat kata, gagal lagi.

Awal 2014 saya masih belum menyerah untuk mendaftar program PhD yang lain. Namun, tidak disangka-sangka pada Maret 2014, berawal dari iseng-iseng karena bosan diceramahin sama Ibu saya gara-gara kelamaan menganggur, saya malah mendapatkan full time job yang akhirnya membawa saya sebagai seorang dosen. Kita memang tidak pernah bisa memprediksi ke arah mana hidup akan membawa kita. Pada tahun ini saya sangat menikmati profesi baru saya dan sejenak melupakan mimpi besar saya untuk melanjutkan PhD.

Pertengahan 2015 barulah saya tersadar ada mimpi yang menunggu untuk diwujudkan. Tepatnya disadarkan oleh seorang teman lama. Kebetulan pada saat itu dia juga sedang berjuang untuk mimpinya. Beberapa kali, baik secara langsung maupun melalui chat, dia seakan mengindoktrinasi saya supaya segera melanjutkan studi. Percakapan kami biasanya seperti ini :

Teman saya : “Ella..buruan gih lanjut S3”

Me : “Gw belum dapat Prof. Capek gw ditolak mulu”

Teman saya  : “Pokoknya lo harus lanjut S3. Pakai LPDP” *iya dia awardee LPDP yang selalu mempromosikan (maksa, lebih tepatnya) supaya saya daftar beasiswa itu*

Saya akhirnya terbujuk juga oleh omongan dia. Mulai lah saya poles-poles proposal saya yang sudah teronggok di folder laptop sejak 2013. Pada saat itu, preferensi saya mengenai negara tujuan untuk studi PhD  mulai berubah. Saya mau kuliah di Inggris saja karena malas berhadapan dengan kendala komunikasi. Sebagai informasi saja, proposal penelitian saya adalah tentang Graves Disease, salah satu jenis penyakit autoimun yang etiologi-nya masih belum jelas hingga saat ini. Saya memang agak idealis dan cenderung ngotot kalau sudah bicara tentang ide penelitian. Hehee. Jadilah saya mencoba mencari Profesor di Inggris yang fokus penelitiannya di area tersebut. Tak disangka ada seorang Profesor di King’s College London (KCL) yang mengerjakan penelitian dengan topik tersebut. Saya kirim proposal saya ke beliau. LIMA BELAS menit kemudian beliau balas email saya dong! Beliau sangat tertarik dengan ide penelitian saya dan mengajak saya meeting via Skype di hari berikutnya. Pada saat Skype meeting itu beliau mengatakan bahwa beliau memiliki kolaborator di Jerman yang mengerjakan penelitian seperti yang saya inginkan. Jadi, beliau menyarankan saya untuk studi PhD di Jerman saja.  Wah saat itu rasanya bahagia sekali saya. Entah mengapa pada saat itu saya yakin bahwa saatnya sudah dekat untuk saya melanjutkan studi.

Mungkin memang ini sudah digariskan oleh Tuhan, beberapa hari kemudian saya memperoleh info ada conference tentang personalized medicine di London. Kebetulan saat itu saya sedang mengerjakan proyek menulis article review tentang personalized medicine (yang pada akhirnya mandek sih sampai sekarang. tidak sempat terurus lagi. haha!). Jadi, saya rasa cocok. Maka berangkatlah saya ke London untuk conference dan di sela-selanya saya ke KCL bertemu dengan calon Profesor saya itu. Saya menjelaskan bahwa saya akan mendaftar beasiswa untuk membiayai penelitian saya. Ketika itu saya masih pede bisa lolos beasiswa LPDP. Well, ternyata rencana saya yang terkait beasiswa ini tidak semulus yang saya bayangkan. Keseruan proses hunting beasiswa ini akan saya ceritakan dalam posting selanjutnya ya! Singkat kata, calon profesor saya itu antusias sekali dengan proposal penelitian saya. Setelah itu saya mulai penjajakan dengan calon Profesor saya yang di Jerman, yang ternyata juga tidak kalah antusias. Puji Tuhan.

Proses selanjutnya adalah merevisi proposal penelitian saya, disesuaikan dengan situasi terkini terkait Graves Disease itu sendiri. Prosesnya cukup alot, karena -kembali lagi- saya orangnya agak keukeuh sama pendapat saya. Setelah korespondensi selama sekitar 1 bulan, akhirnya jadilah proposal penelitian saya yang sudah final. Yang memerlukan waktu lama adalah finalisasi segala hal administratif yang terkait dengan persiapan studi PhD saya ini. Perlu waktu hampir 1 tahun sejak saya memperoleh surat konfirmasi bahwa mereka bersedia menjadi pembimbing saya hingga keputusan akhir terkait pendanaan studi saya. Proses yang lama, yang melibatkan banyak pihak, yang jujur saja sempat membuat saya lelah.

Saat ini saya sedang dalam fase hectic karena tak menyangka jadwal keberangkatan saya ternyata harus dimajukan 3 bulan dari rencana awal. Banyak sekali hal yang perlu saya lakukan terhitung dari bulan Maret hingga Mei ini. Tapi saya bersyukur akhirnya bisa sampai pada fase ini. Fase yang sudah saya tunggu-tunggu sejak 5 tahun yang lalu.

Banyak pelajaran yang saya petik dari perjalanan panjang menggapai mimpi ini :

  1. Berdoa, berdoa, dan berdoa. Saya memeluk agama Katolik, jadi saya berpegang pada Alkitab. Ayat Alkitab yang selalu menguatkan saya adalah Yesaya 41:10 – “janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan”
  2. Jangan pernah merasa bahwa mimpi kita terlalu tinggi. Saya suka sekali dengan quote dari Andrea Hirata yang tertulis di dalam novel Laskar Pelangi : “Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”
  3. Selalu berpikiran positif dan menunjukkan kegigihan kita di depan calon Profesor
  4. Jangan pernah berpikir untuk berhenti ketika satu peluang untuk mendapatkan beasiswa tertutup.
  5. Perluas networking. Kita harus rajin datang ke acara-acara info session berbagai universitas dan berbicara dengan orang-orang yang inspiratif. Intinya, surround yourself with positive and inspiring people.
  6. Jangan pernah meremehkan sesuatu yang bernama “keajaiban”. Banyak hal yang bagi kita terasa tidak mungkin. Tapi bagi Tuhan, semuanya mungkin terjadi.

Keluarga berperan penting dalam proses ini dan mereka adalah orang-orang yang paling mengetahui segala pergumulan yang pernah saya hadapi  hingga bisa sampai pada kondisi sekarang ini. Namun, kedua orang tua saya bukanlah tipe orang tua pemaksa. Mereka tidak terlalu heboh menyuruh saya S3. Yang heboh justru teman-teman terdekat saya. Mereka semua semangat sekali mendorong saya untuk S3 karena mereka tahu bahwa ini adalah impian saya sejak lama. Terima kasih tak terhingga untuk teman-teman saya. Apalagi untuk satu teman yang paling memaksa saya untuk S3 itu. Inisialnya CA. Dia yang dulu selalu kirimkan kata-kata motivasi buat saya. Bahkan yang sampai datang ke rumah saya untuk mengajari saya “simulasi” wawancara beasiswa. Haha. Terima kasih ya.

Perjuangan belum selesai. Masih ada 3 tahun di depan sana, yang saya pun belum tahu akan seperti apa. Teruntuk teman-teman yang masih berjuang, jangan berhenti berjuang untuk menggapai mimpi. Proses ini memang tidak mudah. Tapi kuncinya hanya satu : pantang menyerah.

Salam semangat! 🙂

 

2016 : a year of overcoming obstacles

Seminggu lagi, habis sudah hari di tahun 2016. Tahun yang serasa roller coaster bagi saya. Tahun ketika saya diharuskan membuat berbagai keputusan besar yang masing-masing diikuti oleh segala konsekuensinya. Tapi, puji Tuhan, tahun ini bertambah satu orang yang dengan tulus tanpa henti memberikan suntikan semangat untuk saya.

Sejak akhir 2012, mimpi saya adalah lanjut sekolah S3. Tapi, rupanya Tuhan punya kehendak yang berbeda. Saya belum bisa lanjut S3. Tuhan malah berikan saya pekerjaan, hingga sekarang saya jadi dosen.

Akhir tahun 2015, saya diingatkan kembali (dipaksa, lebih tepatnya) oleh seseorang untuk menggapai mimpi yang tertunda itu. Mulailah saya hunting supervisor hingga akhirnya menemukan profesor yang projectnya cocok dengan yang saya inginkan. Proses ini berlangsung relatif cepat. Saya yakin tangan Tuhan bekerja dalam hal ini. 

Bulan Mei 2016, saya mengambil unpaid leave selama kurang lebih 15 hari untuk pergi menghadiri conference di London, sekaligus menemui calon profesor saya. Keputusan yang gila, memang. Tapi, kalau saya tidak melakukan hal tersebut, bisa jadi calon prof saya meragukan keseriusan saya. 

Setelah itu, dimulailah perjuangan mencari beasiswa. Awalnya saya pede daftar beasiswa L*** yang lagi hits banget itu. Si dia, yg kebetulan adalah awardee beasiswa tersebut, semangat sekali sharing tips & trik supaya saya lolos wawancara beasiswa ini. Namun rupanya saya tidak berjodoh dengan beasiswa ini. Di saat-saat terakhir saya menerima kabar bahwa mulai tahun pertengahan 2016, dosen ber-NIDN tidak bisa lagi melamar beasiswa ini, melainkan harus melamar melalui beasiswa BUDI-LN. Shock lah saya. Namun, saya tetap mencoba melamar beasiswa BUDI-LN tersebut sembari melamar beasiswa lain. Yang tak disangka, saya malah dipanggil wawancara beasiswa lain itu dan akhirnya lolos wawancara serta direkomendasikan untuk menerima beasiswa. Beasiswa apakah itu? Nanti akan saya ceritakan pada waktu yg tepat, lengkap dengan sharing pengalaman dari saya. 

Tahun ini juga beberapa tempat yang ada di travel bucket list saya akhirnya berhasil saya kunjungi. Penyandang dana-nya masih orang tua sih. Semoga suatu saat nanti bisa gantian saya yang bawa mereka jalan-jalan.

Selain itu semua, tahun ini saya berhasil mengatasi rasa takut. Akhirnya saya berani menjalani operasi mata, yang Puji Tuhan segala prosesnya lancar.

Dalam hal pekerjaan, saya bersyukur semuanya berjalan lancar. Tidak ada drama-drama gak penting, setidaknya bagi saya pribadi. 

2016 sudah akan berakhir, meninggalkan pengalaman yang takkan saya lupakan sampai kapanpun. 

Saya bersyukur memiliki orang tua yang sangat suportif dan selalu berdoa untuk saya. Tanpa doa mereka, saya tidak akan sekuat ini menghadapi hari-hari saya. Tanpa dukungan dari mereka, saya tidak akan seberani ini dalam mengambil berbagai keputusan-keputusan besar.

Spesial terima kasih buat kamu yang sudah membuat hari-hari saya lebih berwarna dan yang menularkan semangat berjuang pada saya. Kamu tahulah kamu siapa. Tahun 2017 sepertinya kita akan terpisah jarak (lagi). Namun, saya percaya suatu hubungan yang berdasar pada iman akan Tuhan, adalah sebuah hubungan yang kuat. Semoga studimu dan rencana studi saya selalu dilancarkan. Amin. 

Di atas segalanya, syukur tak terhingga saya ucapkan pada Tuhan karena telah menyertai setiap langkah saya di tahun 2016 yang akan segera berakhir ini.

Selamat tahun baru, teman-teman semua. Semoga tahun 2017 akan memberikan berbagai pengalaman baru bagi kita semua. Tuhan berkati 🙂 

Post-Surgery

thumb_IMG_3727_1024

Mungkin sebagian orang yang pernah berinteraksi dengan saya sudah mengetahui bahwa saya ada problem dengan mata saya. Istilah medisnya strabismus eksotropia atau bahasa bulenya lazy eyes atau bahasa awamnya juling. Ini merupakan kelainan bawaan sejak lahir, tetapi baru mulai terlihat agak jelas beberapa tahun setelah saya memakai kaca mata. Tepatnya sekitar awal-awal masa SD. Awalnya saya tidak sadar dengan kelainan ini karena relatif tidak mengganggu aktivitas saya pada masa itu. Namun, ketika kuliah di jurusan mikrobiologi kondisi ini mulai mengganggu, apalagi ketika awal-awal masa kuliah banyak aktivitas di lab yang mengharuskan saya menggunakan mikroskop. Kondisi strabismus ini ternyata membuat mata saya kehilangan kemampuan 3 dimensi (ini saya baru tahu dari penjelasan dokter mata, beberapa waktu yang lalu) Untungnya, saya mengambil topik penelitian tugas akhir di bidang biologi molekuler, jadi tidak perlu bekerja dengan mikroskop. Gangguan mulai sangat terasa ketika saya penelitian S2 dan harus mengerjakan uji immunocytochemistry menggunakan mikroskop fluoresens. Itu gila banget lah perjuangannya.

Dokter mata saya juga sempat bertanya apakah saya mengalami ketidaknyamanan dalam bergaul karena kondisi saya ini? Well, berhubung saya cuek, jadi dalam kehidupan sosial sih aman-aman aja ya. Beberapa orang suka tanya tentang kondisi mata saya dan saya biasanya jelaskan secara singkat. Kalau ada yang kepo tanya-tanya lebih lanjut, saya tinggalin aja sih. Hahaha.

Pertama kali muncul wacana untuk operasi adalah ketika  pada tahun 2003 saya diopname karena sakit yang agak parah. Kondisi tubuh saya diperiksa secara menyeluruh dan ketika itu dokter yang merawat saya sadar mata saya gak beres dan menyarankan saya untuk segera operasi. Waktu itu saya masih kelas 1 SMA. Gak mau lah dadakan dioperasi. Orang tua saya kebetulan bukan tipe-tipe orang tua rempong yang memaksa saya operasi. Mereka santai saja. Kedua, ketika saya sedang S2 di Inggrís. Supervisor saya menyarankan saya untuk operasi. Tapi ternyata medical insurance saya sebagai student tidak meng-cover operasi mata. Jadi, batal. Selain juga karena saya takut. Ketiga, ketika saya kembali ke Indonesia dan bekerja di tempat yang lama. Bos saya sadar mata saya juling. Kebetulan suaminya beliau adalah dokter spesialis mata. Maka beliau mempromosikan sang suami untuk mengoperasi saya. Masih gak mempan, karena saya takut. Haha. Keempat, bos pertama saya di tempat kerja yang sekarang. Beliau sangat concern dengan kondisi saya hingga mencarikan dokter-dokter ahli di Singapura. Di saat itulah saya mulai berpikir, sepertinya sooner or later harus operasi. Mulailah diskusi panjang dengan orang tua yang berujung buntu karena lagi-lagi saya yang disuruh mikir. Haha..dilema punya orang tua yang sangat demokratis. Tadinya saya mau operasi tahun lalu, tapi batal karena sibuk dan galau mau operasi di Indonesia, Singapura, atau Penang. Tahun ini pun hampir batal lagi karena kesibukan saya. Namun, saya berpikir kemungkinan besar tahun depan saya akan merantau lagi untuk waktu yang cukup lama. Kalau kondisi ini dibiarkan, takutnya bakal semakin parah dan mengganggu studi saya nanti.

Maka, sekitar akhir bulan Juni lalu saya mulai mencari info tentang dokter mata ahli strabismus di Jakarta Eye Centre (JEC). Kenapa JEC? Karena beberapa teman dan keluarga merekomendasikan rumah sakit ini. Ternyata dokter ahli strabismus itu tidak banyak. Di rumah sakit ini pun hanya ada 3 atau 4 dan hanya 1 yang sudah konsulen. Pertengahan Juli saya konsultasi dengan salah seorang dokter dan menurut beliau kondisi saya sudah cukup parah serta harus dioperasi. Namun, beliau mengaku belum pernah menghadapi kasus yang seperti saya sehingga saya dirujuk ke dokter yang lebih senior. Akhirnya saya ditangani oleh dokter yang senior itu dan diatur lah jadwal operasi (yang harus dicocokkan dengan jadwal saya…sok sibuk banget ya sayaaa..hahaha!). Satu hal yang saya kagum dari dokter ini adalah beliau sangat realistis dengan mengatakan dari awal bahwa ilmu medis adalah ilmu yang paling tidak pasti. Jadi, operasi ini tidak 100% pasti berhasil. Maka beliau berkata : “kalau kamu belum ikhlas, lebih baik ditunda dulu operasinya”. Mungkin kalau pasien lain akan shock ketika bertemu dokter semacam itu. Tapi, saya malah semakin mantap untuk operasi. I believe on his expertise and let God do the rest.

Jumat, 12 Augustus 2016. Hari operasi pun tiba. Saya datang ke rumah sakit dengan super nyantai, membaca medical consent dengan seksama (kebiasaan saya yang tidak mau asal tanda tangan tanpa membaca isi dokumen…sesimpel apapun dokumen itu), mempersiapkan operasi, hingga jalan sendiri ke ruang operasi. Operasinya sendiri berjalan selama 90 menit dan saya tidak merasakan apapun. Setelah operasi pun saya langsung sadar. Ketika dokternya nanya ke perawat “orang tua anak ini mana ya?” Saya langsung jawab : “nunggu di luar dok”. Haha..kaget kayanya dokternya. Cepat banget saya sadarnya.

Setelah operasi masih agak teler, tapi sudah bisa melakukan aktivitas sendiri. Puji Tuhan, tidak merepotkan orang. Hehe. Saat ini saya masih dalam tahap recovery. Syukurlah setiap hari selalu ada kemajuan. Sudah mulai membiasakan pakai kaca mata lagi, membiasakan membaca, dan hari ini mulai mencoba membuka laptop kembali. Semoga dalam beberapa hari ke depan sudah bisa kembali ke kantor dan beraktivitas seperti biasa. Saya sempat post foto saya satu hari pasca operasi di FB dan banyak yang mendoakan saya supaya cepat pulih. Terima kasih ya teman-teman! 🙂

Bagi saya ini bukan sekedar operasi. Ini adalah bukti bahwa akhirnya saya bisa melawan rasa takut saya sendiri. Saya yakin, setelah ini pasti akan banyak momen di mana saya harus keluar dari zona nyaman dan melawan rasa takut saya terhadap hal-hal yang lain.

Christmas & End of The Year Post

It’s Christmas again now. Last year I celebrated Christmas in Vatican and probably it was one of the best christmas moments in my life so far. Two years ago, I was celebrating Christmas in London only to know that everything was close down on the Christmas day, even the church (!). Seems like it was only yesterday. I don’t like the way time goes so fast.

This year, I’m celebrating christmas back home with the whole family in Indonesia. Just like the old days. But somehow I miss my grandma. Christmas is just feel different without my grandma being around us. And it’s already seven years after my grandma passed away. Hope she’s happy up there. Heaven must be really happy to have her around.

Anyways, no one give me christmas cards this year. *sad face*. I remember when I was studying in UK, everyone sent me christmas cards, even the ones who are not celebrating christmas. I miss their kindness. To be honest, there’s always this one hope inside my heart to go back there. Let this be my christmas wish this year. 🙂

And since this post obviously going to be the last post of the year, I just want to sum up the year 2013. 2013 for me was the year when real life started to punch me right on my face. I ruined some good opportunities that come to my life. But I took it as lessons learned, rather than failures. On the bright side, I also started some new things, joined new organizations, met new people, and attended some interesting events. And yes, don’t forget, I got a job this year which gave me a little bit of ‘incomes’.  I’m still grateful, no matter what.

And in 2014, I hope I can reach that biggest dream in my life. Apart from that, I also got some targets to be done next year. One of them is related to my blogging life. I’ve already had some rough ideas on what I’m going to do with my blog(s) next year. I’ll share with you later about that. Yeah, apparently being unemployed for these past few months has made my creative minds gone wild!

So, see you next year! I’m signing off from blogging stuff for the next two weeks. I’m going on holiday! Yeay! I’ll still be active on my Instagram, though. So feel free to follow my Instagram account. *self-promotion*

Merry christmas, happy holiday, and happy new year!

My Childhood Christmas Tale

I grew up believing that Santa Clause exists. My parents made me. I’m so thankful now that they made me believe in that such kind of fairytale. I had a wonderful childhood because of that. 🙂

I still remember how on early Decembers I started to pray so that Santa would bring me presents that I wished to get on the Christmas day. I wrote a letter to Santa the day before Christmas, put it inside a shoe, filled the shoe with a handful of grasses taken from our backyard. Why grasses? Because I believed that Santa’s rain deers must be really exhausted and hungry after a very long journey from North Pole to my house. So I gotta feed them.

I believed in Santa Claus until I was a 6th grader and honestly I couldn’t remember exactly how I figured out that all of those stuffs about Santa Claus was actually fictional. However, during that period when I still believing on the existence of that chubby beardy old man from North Pole, I got so many presents from “Santa”. Most of them are books. Encyclopedia of Influential People and Harry Potter series were just some presents from “Santa” that I can still remember until now. Yeah, I’ve been a bibliophile since I was very young, indeed.

I never hate my parents for “lying” to me (and my brothers) about Santa Claus. It made my Christmas more joyful, as a kid. And somehow nowadays I secretly hoping that I could repeat those moments. I miss being a kid.

Christmas is still my favorite day of the year, beside my birthday. And today is just a little bit over a week before Christmas.

As a kid or as an adult, there’s one thing that never change about Christmas. It’s the time for family gathering. 🙂

When I have a kid someday, I will make him/her believe in Santa Claus, as my parents did to me. I want to bring the joy of Christmas for my kid, as well. 😀

Happy counting the days until Christmas, guys!!! Don’t forget to warm yourself with a cup of hot chocolate (and some marshmallows on top of it….oh how I miss marshmallows, it’s hard to get them here) during this gloomy weather.