Cyber World vs Your Image

Currently I have some social media accounts. It’s quite addictive for me. It started with just one account, then I was tempted to make other accounts. But you know, with all of the internet accounts that I have, comes the responsibility as well. I didn’t really realize and paid attention to that before. Not all of your personal informations are worth to be shown on the internet. People nowadays can google your name and get the informations they need in just a couple of seconds. That’s good! On the other side, it’s scary.

Why am I writing this post?

Some of my Facebook friends have this tendency to write, literally, everything on their statuses. Actually it’s none of my business. But it’s just a little bit annoying. For example, there is this one girl who always complain about her job. On her Facebook status. I can be categorized as an “outsider”, but I know everything that’s happening to her in her office. Just by reading her Facebook statuses. I admit that Facebook has become quite exaggerating lately. We can stalk on people as much as we want. Just so you know, yes, I’m a pretty good stalker. And if I want to, I can easily gather most of the informations about someone just by looking at his/her Facebook. No one has privacy anymore in the cyber world. It’s our own responsibility to protect our own informations and be selective in accepting friend requests.

Currently, one social media can be automatically synced with others. If you write something on your twitter’s timeline, for example, it could be automatically appears on your Facebook, even without you notice about it. Then, without you realizing it, your Facebook page will turn into Twitter because it is flooded with your tweets. What I want to say here is, every social media have their own purposes. It’s kinda weird when you sync everything. Maybe it’s not a big problem for you, but other people might think differently. And you have to consider other people, too.

There’s a reason why I protect most of my social media accounts. Well, except my blogs. I’m not that important. My tweets are mostly just contain my random thoughts. So, should I make it open to public? No. That’s why I protect it. I don’t want people, except the ones who willingly become my followers, read my unimportant tweets.

I’ve got a bad experience in expressing my thought in social media. So, one day, a few months ago, I found a good video in YouTube. I just wanted to express my appreciation to the artist. But maybe it turned out (for other viewers) that I wrote an “inappropriate” comments. Some people started to reply on my comments and judging me because of my comments. Started from that moments, I’m being extra careful with my activities in cyber world. It’s better to just click the “like” button, rather than write comments. 🙂

Maybe you’ve never had any bad experiences on the internet. But, still, you need to be careful on everything you do in this “world”. Everyone can easily track your activities. There are sooo many informations scattered on the internet. No doubt, internet is very useful. Just remember, not all of the people you find on the internet, are good people. And other people might be annoyed looking at what you post on the internet. You can say : ” I don’t ask them to look at my pictures or to read my status. It’s my account, it’s my blog. I got all the rights to post everything on my accounts!” But that’s just not completely acceptable. You can’t be selfish, in this case.

Everything that you write, everything that you post, are the reflections of yourself. It’s up to you, how you want to build up your image in front of others. Sometimes we cannot act just the way we are. Good image is essential, especially when we’re just starting our career.

Tenang, Doamu Pasti Dikabulkan

Kata-kata di Khotbah yang dilontarkan oleh Pastor di gereja saya pada Hari Raya Kenaikan Isa Almasih, kamis yang lalu, masih saja terngiang di telinga saya. Salah satu kalimat yang dia ucapkan adalah : “Saya berani jamin bahwa semua doa yang Anda ucapkan dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan, pasti akan dikabulkan”. Pada saat itu juga, saya langsung colek ibu saya dan bilang “Yakin banget ya, tuh Romo, bu”. Ibu saya hanya tertawa. Oiya dan satu lagi, sang Pastor juga mengatakan kalimat ini : “Hati-hati dengan apa yang Anda ucapkan, karena semua perkataan yang keluar dari mulut anda adalah doa”. Kalau kalimat ini, saya sudah sering dengar beberapa kali.

Tapi setelah misa itu, bahkan sampai hari ini saya berpikir. Ternyata, memang benar Tuhan selalu mengabulkan doa-doa saya. Tapi kadangkala saya tidak menyadarinya. Yeah, manusia memang seperti itu kan, ya? :p Kemudian, saya coba flashback kejadian-kejadian selama beberapa tahun terakhir. Peristiwa “tertua” yang berhasil saya ingat adalah ketika tahun 2006, saat detik-detik sebelum UAN, saya galau mau lanjut kuliah dimana, jurusan apa. Saya heboh ikut ujian masuk beberapa universitas negeri, termasuk ITB. Bahkan, saya sampai dua kali ikut USM ITB. Setelah gagal USM pertama, sebenarnya saya sudah malas ikut USM kedua. Saya sudah menyiapkan mental untuk ikut SPMB pada saat itu. Sebenarnya, pada saat itu, masuk ITB bukanlah cita-cita saya. Yang saya mau adalah kuliah di jurusan yang bisa mengakomodir cita-cita saya untuk menjadi peneliti dalam bidang medis. Orangtua saya mendesak agar saya ikut USM sekali lagi. Kalau di kesempatan ini gagal, berarti memang bukan jalannya. Pada saat itu juga sebenarnya saya sudah diterima di salah satu PTN lain, jadi saya santai saja ikut USM yang kedua itu. Eh, malah keterima di jurusan Mikrobiologi ITB. Dan kemudian saya menjalani 4 tahun hidup saya yang sangat menyenangkan di kampus tersebut.

Peristiwa kedua terjadi ketika saya duduk di akhir tingkat 3. Saya harus mencari perusahaan/lembaga riset untuk tempat saya melakukan kerja praktek. Pada saat itu, saya sudah mengincar 1 institusi. Tapi, apa daya mereka hanya menerima mahasiswa dengan IPK yang superior untuk melakukan kerja praktek di lembaga mereka. Sampai seminggu sebelum deadline, saya belum menemukan tempat untuk kerja praktek. Saya terus berdoa dan mencari, dengan tetap dibantu oleh orangtua saya (oh, how I love my parents!). Akhirnya dapat dong. Dengan mudahnya. Entah kenapa saya tidak pernah melirik institusi tersebut, sebelumnya.

Selanjutnya, 1 tahun setelahnya, ketika penelitian Tugas Akhir. Pada awalnya, saya mendapat topik penelitian tentang tanaman. Bisa kacau cita-cita saya yang mau menjadi medical scientist, kalau tiba-tiba penelitian tugas akhir saya tentang tanaman. Gak nyambung. Saya mikir, pokoknya saya harus bisa melakukan penelitian yang ada hubungannya dengan penyakit. Solusinya adalah saya harus memikirkan proposalnya dari awal. Saya sendiri merasa hal itu mustahil. Saya, yang pada saat itu masih mahasiswa S1, harus membuat proposal penelitian beneran yang harus saya ajukan ke sebuah lembaga. Di luar negeri aja, yang biasa bikin proposal-proposal macam itu, anak-anak S3. Eh, tapi akhirnya goal dong.

Terus, saya juga pernah berkoar-koar bahwa di bulan Juli 2010, saya harus bisa berdiri di Sabuga pakai Toga dengan menyandang gelar sarjana. Kesampaian.

Lulus S1, saya pengennya langsung lanjut S2. 1 bulan setelah saya apply, langsung dapat conditional offering letter. Yang berarti, berdasarkan seleksi dokumen akademik, saya sudah bisa diterima. Saat itu juga saya coba-coba apply kerja (buat iseng). Gak ada yang diterima. Sekarang saya mikir, mungkin kalau dulu saya langsung dapat kerja, saya bakal bimbang untuk lanjut sekolah lagi.

Awal tahun 2012, saat pemilihan project untuk penelitian master, saya sudah mengincar salah satu project yang menurut saya prospektif. Supervisor-nya juga terlihat asik. Saya approach si supervisor itu dari jauh-jauh hari, memgutarakan bahwa saya tertarik dengan projectnya. Dia nampak oke-oke saja dengan maksud saya tersebut. Tibalah hari penentuan project. Jeng..jeng..saya tidak dapat ajalah project si supervisor itu. Ngamuk sengamuk-ngamuknya saya pada saat itu. Terutama sama orang yang pada akhirnya dapat project itu. Haha. Dia orang dari negara lain (bukan orang Indonesia, gak usah disebut lah ya darimana). Sampai-sampai teman-teman saya selalu bilang : “Ella, look it’s your arch enemy coming”. Haha. Jadi, terpaksalah saya mengerjakan project yang menjadi pilihan kedua di list saya. Sejujurnya, saya tidak terlalu mengerti tentang topiknya. Tapi, saya malah belajar banyak hal selama 5 bulan berada di lab mengerjakan project ini. Saya dapat supervisor yang sangat baik dan suportif. Saya belajar dari dia, bahwa seorang peneliti yang hebat itu tidak akan pernah puas dengan segala hasil yang dicapainya, karena di dalam dunia sains semua hal dapat dieksplor. Ketika kita sudah menemukan satu hal, itu adalah pintu untuk kita menemukan hal lain. Jadi, gak ada habis-habisnya. Kata-kata penyemangat dari dia yang paling saya ingat adalah : “Gabriella, sometimes sh*t happens. Try again. Don’t give up”. Kata-kata itu terucap setelah saya melakukan eksperimen selama 15 kali, dan kesemuanya gagal. Project ini membuat saya jatuh cinta lebih dalam lagi dengan imunologi. Pengalaman tersebut sangat berkesan buat saya. Melewatkan beberapa bulan dengan bekerja bersama peneliti beneran, yang publications-nya sudah banyak dimuat di jurnal-jurnal keren macam Nature. Ritme kerja mereka gila, jujur saja. Tapi, saya ketagihan.

Tahun 2013 baru hampir setengah jalan, tapi sudah banyak pembelajaran yang saya alami. Yang cukup menjitak saya dengan keras. Pelajaran pertama, saya gak boleh menjadi orang yang terlalu yakin. Pede boleh, terlalu yakin jangan. Pelajaran kedua, pekerjaan jadi peneliti di Indonesia itu memang benar tidak seenak jadi peneliti di luar negeri. Kalau dulu saya hanya mendengar dari kata orang-orang, sekarang saya mengalaminya sendiri. Kamu lulusan luar negeri? Balik ke Indonesia, jadi peneliti? Ya, kamu diperlakukannya sama aja dengan yang lulusan lokal. Jangan berharap lebih. Hahaha. Saya juga mencoba berdamai dengan apapun yang terjadi pada saya saat ini. Mencoba untuk tidak mengeluh, jalani saja, dan tidak memasukkan ke hati segala perkataan-perkataan orang yang gak enak tentang diri saya (ini yang paling susah!)

Ada satu rencana besar yang ingin saya wujudkan tahun ini. Dan itu pula hal yang selalu ada di setiap doa saya, setiap malam sebelum tidur, tidak pernah saya lupa. Semoga Tuhan dengar itu. Kalau rencana itu tercapai (amin!), saya sudah akan tenang mengenai masa depan saya. Karena di usia saya yang sekarang, seharusnya saya yang bekerja keras, dan orang tua saya yang bersantai. Tapi, kenyataannya orangtua saya saat ini masih bekerja dengan sangat keras karena saya benar-benar baru merintis profesi impian saya.

Well, back to the topic. Tuhan selalu mengabulkan doa-doa kita? Berdasarkan pengalaman saya, iya. Tapi, DIA tidak mengabulkannya mentah-mentah. Pasti ada proses sebelum kita bisa bilang : “wah, iya doa gw terkabul”. Kadang, di tengah proses itu, kita merasa ditempatkan pada situasi yang tidak kita inginkan. Tapi pada akhirnya kita merasa bahwa situasi itu jauh lebih menyenangkan buat kita, dari pada kalau Tuhan benar-benar mengabulkan bulat-bulat keinginan kita. Itu terjadi pada saya. Dulu saya pengen banget kuliah di Prancis, eh saya malah terdampar di UK selama 1 tahun. Tempat di mana saya mendapatkan sangat banyak pengalaman, teman, dan pelajaran-pelajaran lain tentang hidup. Yang kedua adalah research project buat master saya tahun lalu.

Banyak keajaiban yang terjadi pada saya sebelum kurun waktu tahun 2006, tapi saya tidak bisa mengingatnya. Waktu itu, saya akui, saya kurang bersyukur dan terlalu sombong. Sekarang, saya berpikir kalau pada tahun 2006 itu, saya tidak memaksa diri ikut USM ITB yang kedua, mungkin saat ini keadaan saya berbeda. Atau sama? Haha..gak tau. Tapi, pasti tidak exactly sama seperti sekarang.

Kalau kalian percaya Tuhan (apapun agama kalian), andalkan dia dalam hidupmu. Berdoalah. Dia pasti mengabulkan doa-doa kamu.

don’t disregard small things

Kali ini saya akan share pengalaman saya, yang agak tidak enak beberapa hari yang lalu. Akan tetapi, syukurlah semuanya bisa berakhir dengan baik.

Jadi ceritanya saya mau apply visa di kedutaan Jerman. Segala persyaratan untuk visa application sudah lengkap. Saya sudah disuruh membayar biaya aplikasi visa dan mereka juga sudah memberikan surat bukti pengambilan kepada saya. Terus, apa masalahnya? Mereka sebenarnya masih ragu untuk mengeluarkan visa saya karena passport saya (menurut mereka) bermasalah.

Sejak tahun 2011-2012, saya bermukim di Inggris. Sebagai warga Indonesia yang baik, saya melaporkan keberadaan diri saya di Kedutaan Besar Indonesia di London. Oleh karena itu, 2 halaman terakhir di passport saya di-cap oleh KBRI London lengkap dengan keterangan alamat tempat saya tinggal di Inggris. Ketika saya pulang, saya diberi surat keterangan bahwa saya akan kembali ke Indonesia, oleh KBRI. Namun, tidak diberikan keterangan apapun di passport saya. Saya tidak berpikir macam-macam saat itu. Ternyata hal sederhana ini membawa masalah buat saya di kemudian hari.

Masalah pertama timbul bulan Desember lalu. Kedutaan Prancis di Jakarta menolak mengeluarkan visa untuk saya. Pada saat itu, segala proses pengurusan visa saya serahkan ke travel agent, karena waktu yang sudah mepet. Saya hanya dapat informasi bahwa mereka tidak bisa mengeluarkan visa saya. Alasannya apa? Tidak jelas. Kemudian, saya coba apply visa dari Kedutaan Belanda di Jakarta. Berhasil. Problem passport sedikit terlupakan oleh saya saat itu.

Sampai ketika minggu lalu saya harus apply visa lagi. Cukup merepotkan bagi saya, sebenarnya. Sejak hari Jumat hingga Senin yang lalu saya bolak balik ke Kedutaan-Kantor Imigrasi Jakarta Selatan-Ditjen Imigrasi Jakarta (yang gak membantu menyelesaikan masalah). Awalnya masing-masing pihak ngotot dengan pendapatnya masing-masing, yang intinya mereka tidak bisa membuat passport saya jadi valid kembali.

Barulah kemudian saya ingat bahwa saya punya surat keterangan pindah dari KBRI London. Saya bawalah surat tersebut ke kantor imigrasi, dan akhirnya mereka bisa memberikan keterangan bahwa saya sudah tinggal di Indonesia kembali. Ya, birokrasi di negara ini memang segitu ribetnya.

Awalnya mereka menganggap bahwa saya belum resmi jadi penduduk Indonesia kembali. Mereka seolah mengabaikan segala bukti-bukti yang ada di passport saya, yang menyatakan bahwa UK resident permit saya sudah expired pada tanggal 26 Januari 2013.

Segalanya beres, berkat selembar surat yang saya MINTA SENDIRI dari KBRI London. Bayangkan, jika dulu sebelum pulang saya tidak meminta surat itu. Kalau saya apes, selamanya saya tidak bisa apply visa karena dianggapnya saya masih jadi warga UK. Aneh banget.

Jadi, buat teman-teman saya yang masih studi di UK, dan di passportnya ada cap lapor diri : sebelum meninggalkan UK, JANGAN LUPA minta surat pindah. Karena surat tersebut akan sangat berguna di kemudian hari. Well, unless you’re a very very lucky person.

About Respecting Heroes

Setiap tanggal 10 November, Indonesia merayakan hari Pahlawan. Tanpa saya sadari sebelumnya, hari ini (13 November) masyarakat Inggris jugs memperingati hari Pahlawan. Yang mau saya komentari di sini adalah bedanya perayaan hari Pahlawan di Indonesia dan di Inggris.

Di Indonesia, seperti yang kita sama-sama ketahui, para siswa dan pegawai pemerintahan WAJIB menghadiri upacara pada tanggal 10 November. Nah, kata-kata WAJIB inilah yang nampaknya membuat para masyarakat malah jadi malas untuk memperingati hari Pahlawan. Saya sendiri dulu juga seperti itu. Rasanya malas sekali. Selepas SMA hingga sekarang, saya sudah tidak pernah lagi ikut upacara peringatan hari Pahlawan (bahkan upacara hari kemerdekaan 17 Agustus saja saya juga tidak pernah ikut). Merasa berdosa? Tidak juga. Makanya, saya merasa ada yang salah dengan kita orang Indonesia. Kenapa ya kita tidak bisa sungguh-sungguh menghargai para pahlawan? Selama 6 tahun saya belajar Sejarah di sekolah, entah mengapa saya lebih tertarik dengan sejarah dunia daripada sejarah nasional. Saya merasa bahwa apa yang diajarkan di mata pelajaran Sejarah tentang Sejarah nasional itu agak aneh, sepertinya ada banyak hal yang ditutup-tutupi. Padahal, katanya bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pengorbanan para pahlawannya.

Kemudian, bagaimana perayaan hari Pahlawan di Inggris? Sejak sekitar 3 minggu yang lalu, sebagian besar penduduk Inggris menyematkan pin berbentuk bunga Poppy di dada mereka. Bunga Poppy itu adalah simbol yang mereka pilih untuk mengenang para pahlawan yang gugur dalam Perang Dunia I & II. Kenapa Bunga Poppy. Jadi, ceritanya ada seorang prajurit yang menulis puisi sehari setelah dia menyaksikan rekannya gugur di medan perang, di depan mata kepalanya sendiri. Salah satu kalimat di dalam puisi itu kurang lebih adalah seperti ini : “though many soul dies, Poppies will still grow“. Tadi pagi saya tidak sengaja membaca puisi tersebut di gereja. 🙂 Upacara hari Pahlawan di kota saya terpusat di Newcastle University Quadrangle, which is di dalam kampus saya. Masyarakat sangat antusias memperingati hari Pahlawan ini. Bahkan banyak di antara mereka yang bela-belain dress up dengan mengenakan pakaian tradisional Scotland. Padahal pagi ini dingin banget lho. Yang membuat saya salut adalah, orang tua mengajak serta anak-anak mereka yang masih kecil-kecil untuk ikut upacara.

Mungkin itu yang harus kita tiru. Tidak perlu menggembar-gemborkan kata-kata NASIONALISME, kalau itu hanya berhenti di mulut saja, apalagi kalau kata-kata itu hanya muncul “musiman” saja, seperti ketika kita merasa bahwa teritorial atau salah satu unsur budaya kita “dicuri” oleh bangsa tetangga. NASIONALISME itu harus ditunjukkan melalui perbuatan. Contohnya? Seperti yang dilakukan oleh masyarakat Inggris. Inggris adalah negara maju, tapi mereka masih punya hati untuk mengingat para pahlawannya. Saya salut.

Suatu saat nanti, kalau saya sudah punya anak, saya mau ajak mereka keliling museum setiap minggu, dan bukannya main ke mall. Saya mau ajak mereka ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, ke Lubang Buaya, biar mereka tahu bahwa banyak pahlawan Indonesia yang mati karena kekejaman bangsanya sendiri. Tapi, di antara yang kejam itu masih banyak juga yang berhati mulia. Saya mau anak saya nanti seberuntung saya, bisa keliling dunia melihat berbagai kebudayaan sambil menceritakan kepada dunia hal-hal baik tentang Indonesia. Dan saya tidak mau anak saya nanti memiliki sifat nasionalisme yang sempit.

Sungguh, kenyataan yang saya lihat hari ini benar-benar membuat saya tertohok. Maaf, para pahlawan, ternyata saya belum sepenuhnya menghargai jasa-jasa kalian. Tapi, saya akan memulai menghargai kalian. Cara pertama, mungkin dengan membaca literatur yang netral dan mencoba memahaminya.

Selamat hari Minggu, guys! God bless you all. 🙂

Dear God, This Is Me.

Apakah di antara kalian ada yang pernah secara khusus menulis surat untuk Tuhan? Saya sih belum pernah. Tapi, kalau “curhat” dengan Tuhan sih sering. Biasanya, ketika sedang ada masalah atau ketika lagi sangat bahagia, saya memperpanjang waktu doa malam saya untuk sekedar “cerita-cerita” dengan Tuhan. Kadang ada sesuatu hal yang saya rasa terlalu memalukan untuk di-share ke orang tua atau para sahabat. Namun, bagi saya tidak ada hal yang terasa memalukan untuk saya share dengan Tuhan.

Menyambung postingan sebelumnya tentang film “Letters to God”, saya ingin menceritakan garis besar dari film tersebut. Tokoh utamanya adalah Tyler, seorang penderita kanker stadium lanjut di usianya yang masih kanak-kanak. Dia rutin menulis surat untuk Tuhan, menceritakan hari-harinya. Tidak pernah ada nada keluhan di dalam tulisan-tulisannya. Yang ada hanyalah kata-kata penyemangat yang memacu dirinya sendiri untuk sembuh. Dia amat sangat percaya bahwa Tuhan pastilah mampu menyembuhkannya. Film ini menurut saya bagus banget dan sangat saya rekomendasikan buat orang-orang yang masih mencari-cari keberadaan Tuhan. Oiya, film ini juga based on a true story.

Saya belajar apa dari film itu? Saya belajar bahwa gak ada yang perlu ditakutin di dunia ini karena Tuhan akan memastikan bahwa semuanya beres. Jadi, kita tenang aja. Kegagalan dan kematian, itu mungkin 2 hal yang paling ditakutkan oleh manusia. Tapi, Tuhan (yang dipercayai oleh semua penganut agama) selalu bilang : “Jangan Takut!”

Pernah gak sih saya mempertanyakan dan meragukan keeksisan Tuhan? Jawabannya adalah “pernah banget”. Kejadiannya waktu saya berumur 15 tahun. Usia yang merupakan titik terendah dalam hidup saya. Sebenarnya masa-masa itu ingin saya kubur dalam-dalam dan gak pengen saya ingat-ingat lagi. Waktu itu saya sampai pada tahap di mana saya membuat statement seperti ini : “Katanya Tuhan itu ada. Kalau Tuhan ada, kok dia ngebiarin gw ancur kayak gini? Gw udah rajin berdoa, tapi kok gw tetep gagal ya?” Saya pernah berada di situasi seperti itu.

Tapi, berkat Tuhan emang selalu datang dengan cara yang misterius, yang menurut saya kadang malah gak masuk akal. Dan pada akhirnya saya cuma bisa mengucapkan “Terima kasih Tuhan”.

Jadi menurut saya betapa sombongnya orang-orang yang merasa bahwa mereka bisa berhasil tanpa pertolongan Tuhan. Saya tidak perlu melihat DIA untuk percaya kepada-NYA. Karena saya telah merasakan karya-karya tangan-NYA di dalam hidup saya. Itu luar biasa.

Anyway, buat yang belum pernah, bisa dicoba tuh ngadain “sesi curhat” dengan Tuhan. Ketika sahabat-sahabat dan orang tua kalian sedang sibuk, Tuhan tidak pernah sibuk untuk mendengarkan “curhatan” kalian yang se-gak penting apapun itu. 🙂

About Plagiarism

Beberapa minggu lalu, saya membaca satu postingan di blognya Mbak Enno. Saya tidak mengenalnya secara langsung, tapi sejak beberapa tahun yang lalu saya senang membaca blognya, walaupun hanya sebagai silent reader. Hehe. Rupanya konten blognya dikopi tanpa izin oleh seseorang, dan ketika si seseorang itu ditegur secara baik-baik, malah memberikan jawaban yang tidak mengenakkan. Sampai akhirnya, Mbak Enno mempublikasikan semua link media sosial dari si copycat tersebut. Menurut saya, itu adalah sebuah langkah yang sangat berani dari seorang blogger untuk memerangi plagiarism. Dan harus diikuti oleh blogger-blogger yang lain yang merasa dirugikan karena konten blognya dicontek.

Saya sendiri tidak tahu apakah ada oknum-oknum yang pernah mencontek isi blog saya, karena saya tidak pernah secara khusus menelusuri keberadaan postingan blog saya di dunia maya. *hmm..gak ngerti juga soalnya*

Saya akui, pada masa-masa awal blogging (sekitar pertengahan 2007), saya melakukan tindak plagiarism. Saya googling gambar-gambar untuk dipasang di beberapa postingan blog saya tanpa mencantumkan link sumbernya. Pada saat itu, saya masih belum mengerti etika per-blogging-an. Tapi, setelah itu sampai sekarang saya selalu mencantumkan link ketika saya meng-copy gambar atau tulisan orang lain ke dalam blog saya.

Saya berkecimpung di dalam dunia ilmu pengetahuan (science) di mana plagiarism dianggap sebagai suatu pelanggaran serius. Bahkan pernah ada 1 orang mahasiswa di kampus saya (tapi beda fakultas) yang gelar doktornya dibatalkan karena terkena kasus plagiarism. Ada sebuah pengalaman tak terlupakan yang berhubungan dengan masalah ini. Dulu, ketika masih tingkat 1 di ITB, saya & teman-teman diberi tugas oleh asisten praktikum untuk membuat resume dari suatu film yang sebelumnya kita tonton bersama. Pada hari H pengumpulan tugas, teman dekat saya belum mengerjakan. Saya merasa kasihan melihatnya ketakutan kalau-kalau dimarahi asisten. Pada saat itu, tanpa berpikir panjang, saya langsung mengizinkannya untuk mencontek tugas saya saja. Dalam pikiran saya, ah paling tugas itu hanya formalitas saja, tidak akan dibaca sama asisten. Eh ternyata beberapa jam setelah pengumpulan tugas, kami berdua dipanggil sama asisten. Saya masih ingat benar nama asisten tersebut. Singkat cerita, nilai saya dipotong 30 poin, sedangkan nilai teman saya 0. Bego banget lah saya waktu itu. Ketika mengerjakan skripsi, dosen pembimbing saya juga selalu mengingatkan tentang plagiarism ini. Jangan sampai kelewatan menulis sumber literatur. Begitu selalu pesan beliau.

Mengkopi karya orang lain, dengan alasan apapun itu adalah hal yang salah. Benar kata Mbak Enno di postingannya bahwa untuk membuat suatu artikel di blog, kadangkala si penulis harus berkontemplasi selama beberapa hari. Saya juga biasanya sudah memikirkan apa yang mau saya tulis di blog sejak beberapa hari.

Jadi, yuk buat para blogger yang lain mari kita tidak membudayakan mencontek isi blog orang lain tanpa izin. Gak usahlah buat postingan dengan kata-kata puitis kalau kata puitis itu kamu ambil dari blog orang. Lebih baik buat postingan di blog dengan kata-kata lugas yang sesuai dengan kepribadian kamu. Gak ada salahnya buat postingan galau, kalau itu memang sesuai dengan keadaan kamu dan yang terpenting setiap kata yang kamu tulis berasal dari pikiran kamu, bukan pikiran orang.

Saya suka ungkapan yang berbunyi seperti ini : don’t write to impress, but let’s write to express.

Maksudnya adalah tulisan yang kita hasilkan adalah ungkapan isi hati dan pikiran kita. Setelah tulisannya jadi, kita puas karena ekspresi kita sudah tersampaikan. Orang lain mau membaca atau tidak, itu perkara lain. Bagi saya, merupakan suatu hal yang sia-sia kalau postingan blog saya dibaca oleh beribu-ribu orang tapi ternyata apa yang saya tulis itu menjiplak tulisan orang.

Buat Mbak Enno (kalau tiba-tiba dia terdampar di blog saya ini), tetap sabar dan please jangan berhenti menulis ya. 🙂

Me Motivating Myself

Apakah ada di antara kalian yang merasakan bahwa kata-kata yang keluar dari mulut orang lain bisa memotivasi diri kalian? Saya tidak.

Postingan ini terinspirasi dari diskusi spontan di kelas les prancis saya beberapa waktu yang lalu. Saat itu, tiba-tiba guru saya mengangkat topik tentang apa yang orang-orang sebut “motivator”. Well, tidak dapat kita pungkiri saat ini di stasiun televisi lokal banyak sekali tayangan yang bertujuan untuk “memotivasi” para penonton. Salah satunya yang paling terkenal adalah yang disiarkan setiap minggu malam di satu stasiun televisi berita. *sorry, saya gak mau sebut nama (stasiun tv & programnya) secara spesifik, nanti dikira promosi, lagi :)* Saya yakin kalian sudah tau lah program acara apa yang saya maksud. Satu hal yang menjadi pertanyaan saya adalah kenapa sih para penonton televisi di Indonesia sangat menggemari tayangan seperti itu? Apakah kita harus mendengar kata-kata penyemangat hidup terlebih dahulu baru kemudian mau bangkit dan beraksi?

Menurut saya, satu-satunya orang yang bisa memotivasi kita adalah diri kita sendiri. Orang lain mungkin bisa menginspirasi, tapi tidak bisa memotivasi kita untuk menjadi seseorang yang lebih baik apabila tidak ada keinginan dari dalam diri untuk berubah.

Saya tidak bisa membayangkan jika beberapa tahun ke depan, ketika di negara lain sudah ada penemuan-penemuan baru dalam bidang teknologi, sebagian besar masyarakat Indonesia masih duduk terkagum-kagum di depan televisi menonton ceramah seorang motivator. Ironis. Motivator dipandang layaknya Tuhan.

Dalam kesempatan itu, guru saya mengatakan bahwa mungkin salah satu akar penyebab rakyat Indonesia menggemari tayangan yang berbau motivasi itu adalah kemiskinan. Ya, KEMISKINAN yang mungkin membuat mereka berkhayal untuk memiliki suatu kehidupan yang sempurna suatu hari nanti. Dengan menonton tayangan macam itu, mungkin mereka merasa bisa sejenak melupakan penderitaan mereka. Tapi, bagi saya itu bukan solusi. Setelah tayangan itu selesai, mereka pastinya akan kembali menghadapi kehidupan nyata, kan? Jadi, intinya tayangan tersebut tidak akan mengubah kehidupan mereka. Kalau bahasa Jawanya, saya bisa katakan bahwa keberadaan tayangan tersebut hanya untuk “ngayem-ayemi”.

Saya sendiri pernah salah kaprah dengan konsep “motivator” ini. Dulu saya mengira “motivator” sama dengan “inspirator” sehingga saya pernah menulis di salah satu postingan di blog ini beberapa tahun yang lalu bahwa ayah saya adalah motivator saya. Sebenarnya, maksud saya adalah bahwa beliau itu salah satu inspirator saya.

Jadi, tidak ada siapapun yang lebih mengerti diri kamu dibanding kamu sendiri. Mulailah menjadi motivator buat dirimu!

Saya punya banyak inspirator, tapi saya hanya punya 1 motivator.

I am the best motivator for myself.

Am I That Serious?

I keep asking myself this question : “Am I that serious?” Based on  an “observation” that I did  these past few months, I gathered opinions from my new friends. Most of them think that I’m way too serious. In fact, personally I don’t think that I’m serious. I’m just the same as other common people.

I’m trying to guess why they came into such a conclusion like that. First, I love reading. I always bring at least one book (any kind of book) in my bag whenever I go anywhere and I prefer to spend my free time reading a book than having unimportant chit-chat with my friends. Second, when I’m in the class, I always give my full attention to the lessons. Maybe those 2 reasons lead them in making a conclusion that “Ella is a kind of serious person”.

Okay, so this is my defense. Haha. Actually, I’m totally not a serious person. If you don’t believe it, ask my closest friends and family. They think that I’m such a “crazy” girl because sometimes I can throw some absurd jokes that make them laugh. I also not always drown into books until sometimes people labeled me as a bookworm. I love having a discussion or brainstorming with others. Ask me to speak about music,movies, or current scientific issues, and I’ll turn into such a talkative and fussy girl.

Honestly, I’m a little bit offended when my new friends think that I’m too serious. Well, I’m not like that. I’m afraid that when people know me as a serious person, they feel uneasy to be friends with me or they think that they must come with a “big” issue to start a conversation with me.

In these times, I really want to build my network. The only way to build a wide network is by making as many friends as possible. I know maybe I should start to be more friendly and to spread more smiles to others so that they won’t think that I’m that serious. Actually, I take this as a feedback for myself. Finally I know what other people think about me. I’ve just known them for a few months and those are  their judgements. I’m a serious person. In the case of my best friends, I’ve known them for several years and they don’t think that I’m serious. But, who knows if they’ve ever had a same opinion before.

People, try to know someone better before you labeled him/her with a particular stereotype!

image from here.

internet and me

Nowadays, most people in the world have a strong relationship with cyber world. That resulted in the rapid development of social media. At the first time, they only used it as a communication media with their friends who live faraway from them, but now social media have already taken the big part in our everyday’s life. People can maintain their bussiness without needing to go to the office. They can control their company from home. Even housewives also can create bussinesses along with occupying the children. This is a really awesome fact about the effect of social media.

I have created accounts in social medias, because in my opinion I can get a lot informations through that sources. The first social media account that I’ve made was Friendster, back then when I was still in the first year of college. Unlike other kids who have already had a soc-med accounts since they were really young, I made it when I was already 18 years old. Yeah, I grew up in the decade of 1990s when internet was still a rare thing in Indonesia.

Now, I have accounts in Facebook, Kaskus, Tumblr, Twitter, Goodreads, YouTube, and of course WordPress. Each of that social media has their own function, I think. I use Facebook for interacting with friends, especially old friends who are now living and studying abroad. I try to maintain communication with them through Facebook. And then, Kaskus. I made an account there and I made a thread to promote my talent. The result was that  I got a job through this site. 🙂 This is also a great place for me to do some online shoppings. You know, I don’t like to spend some times at the mall to shop some clothes and everything, I prefer to buy t-shirt from online distros who sell their products on Kaskus. Most of the time, the designs are much more creative than those we find at the mall. Moreover, I use kaskus to find informations about all of the TV-Series that I’m currently watching, chat with other TV-series enthusiast. It’s quite interesting, actually.  And Tumblr! Who don’t like Tumblr? We can post pictures, videos, music, anything there. We can make friends with strangers. I love spending my time on Tumblr, looking at those beautiful picture posted there. That site is really my stress-killer. Nowadays, who don’t have any twitter account? I’m sure most of Indonesian have got one, because our people is on the top 2 most active twitter user in the world. Wow! I admit that Twitter is a source of information for me. From gossip thingies to serious matters. Since I really love reading, I made a GoodReads account few years ago. I got many friends there who also love reading. In GoodReads, you won’t be judged as a nerdy just because you love reading. Haha..you can also recommend books to your friends and vice versa. And the last one is YouTube. I have an intimate relationship with YouTube recently..hahaa. I’m gonna tell you about my favorite YouTube artist next time I’m blogging.

So, for me internet give more advantages rather than disadvantages. If you know how to use it, this media is really informative. Therefore, for those people out there who seem to be anti-internet and anti-social media, get real, man! You must totally change your point of view. Internet is not all about pornography. It’s sad knowing that even our minister of infomation & communication has an internet-phobia disease. 😦

The Beauty of Learning Different Languages

The first foreign language that I learned was English, of course. I started learning that language when I was in the 1st grade. Back then, learning English was such a temptation for me because I didn’t enjoy it. I saw it like an obligatory because I hadn’t really known the benefit of learning other languages. I had just started to enjoy it when I was already in junior high school. I found that because of my good command in English, it really could increase my self confidence. I always been sent as my school representative to participate in some speech competitions. Honestly, I was really proud of myself. Thanks to my parents who always push me not to stop learning English because nowadays, if you can’t speak English, you’ll dead. Yeah, English is not just our foreign language anymore. It has become our second language because we have to admit that when we want to apply for a job, most companies will give more appreciation for the candidates who possess good commands in English, right?

Since 2 years ago, I have had a curiosity to learn other languages. I know it seemed a little bit too late for me to learn a new language when I’ve already become a graduate student. I started to learn French back then and I’m still doing it until now. In my opinion, French is an extremely difficult language, but once  you can make a sentence or write a paragraph, you’ll find that this language is very beautiful. You’ll appreciate yourself when you can do such things because that was happening to me. I have 2 purposes that made me start learning this new language. The first one is that I really want to continue my study in France so that I should expert in French. Just for your information, you’re totally don’t necessary to pay your tuition fee in France if you take the course in French languge, but on the contrary you have to pay a very high amount of tuition fee if you take an international class in France. That’s why I really give my effort to learn French. I will get much benefit in the future, of course. My second purpose is that I simply love the language, I love the accent that -as my friend says- is very sexy and exotic. 🙂 And I really want to be married to a French  guy someday. *I wish*. So, it can be an “excercise” for me before I literally  interact with my future husband, right? *insane* 😀 Yeah, currently I spend most of my time from Monday to Friday for 4 hours each day learning French at CCF. My Dad sometimes says that I look too busy in doing my activities everyday by waking up early in the morning while I suppose to just stay at home doing nothing since I have to enjoy my post graduation syndrome. Well, Dad if I just stay at home, I’ll be so boring. He also sometimes so worry that I’ll get sick. Haha..no I won’t ,of course. I really enjoy it.

Lucky me, I have been to many different countries since I was young. Everytime I went to a new country I always asked the local guide about their local language of the daily words, such as “good morning”, “thank you”, “sorry”, etc. You know, local people will appreciate tourists who can speak in their language although only a little. You’ll get a special price reduction when you talk in the local language to a seller in the local market. 🙂

Don’t be afraid to learn new languages other than English. Whatever language!  Believe me, you’ll find a pleasure when finally you can expert in that language. And I suggest you to practice it by reading books (start with the simple one, for example comics or children storybooks), watching movie without the subtitle, or listening to the music. It really affect so much because I’ve had practiced it. However, the most effective method is to find a partner and then start a conversation. 🙂

You’ll become a part of a global citizen when you can speak many languages.