serious opinions

Mental Pemburu Beasiswa : Fenomena di Indonesia

Semenjak saya membagikan pengalaman tentang proses mendapatkan beasiswa di blog  ini tahun lalu, banyak rekan-rekan pejuang beasiswa yang menghubungi saya lewat surat elektronik maupun lewat sosial media. Terima kasih saya ucapkan untuk kalian. Saya bersyukur karena bisa menularkan semangat kepada rekan-rekan di luar sana. Saya juga bersyukur bahwa yang menghubungi saya adalah orang-orang yang memiliki semangat juang tinggi, tidak hanya sekedar bertopang dagu dan mengharapkan informasi datang kepada mereka.

Tulisan kali ini saya buat karena terinspirasi dari diskusi dunia maya tadi malam antara kami sesama penerima beasiswa DAAD dari Indonesia angkatan 2017. Salah satu dari kami memulai dengan pertanyaan “Kok sedikit sekali ya penerima beasiswa DAAD dari Indonesia beberapa tahun terakhir ini?”. Hingga saat ini,  hanya ada dua kemungkinan beasiswa yang dapat di-apply oleh warga negara Indonesia yang ingin studi di Jerman yaitu DAAD dan LPDP. Keduanya merupakan dana pemerintah yang bersumber dari pajak rakyat – DAAD dari pajak rakyat Jerman, LPDP dari pajak rakyat Indonesia. Jadi, kami penerima beasiswa ini mengemban amanat dari rakyat sehingga harus belajar dengan baik. Bedanya, penerima beasiswa LPDP memiliki kewajiban untuk kembali mengabdi untuk Indonesia setelah menyelesaikan studi. Kami, penerima beasiswa DAAD, walau disarankan untuk kembali membangun tanah air, tidak pernah menandatangani perjanjian hitam di atas putih untuk kembali.

Kembali kepada pertanyaan kenapa sedikit sekali penerima beasiswa DAAD dari Indonesia? Alasan utama adalah : persyaratannya rumit. Alasan kedua : beasiswa LPDP dianggap lebih prestigius bagi pemburu beasiswa di Indonesia. Kedua alasan tersebut benar adanya. Persyaratan beasiswa DAAD memang “rumit” dan besar kemungkinan kita akan “menyerah” sebelum “berperang”. Saya berbicara dalam konteks beasiswa DAAD untuk S3 di Jerman. Sebelum memutuskan mendaftar, kita sudah harus memperoleh konfirmasi dari Profesor di Jerman bahwa beliau bersedia membimbing penelitian kita. Selanjutnya, kita juga sudah harus mempunyai proposal penelitian. Dengan kata lain, sudah harus ada bayangan nanti di Jerman akan melakukan penelitian tentang apa. Kedua persyaratan tersebut yang dianggap “berat” dan menyebabkan sedikitnya pelamar beasiswa DAAD dari Indonesia. Persyaratan lain menurut saya standar, seperti sertifikat penguasaan bahasa Inggris dan (jika ada) bahasa Jerman.

Fenomena kedua adalah mengenai biaya untuk tes kemampuan bahasa Inggris dan Jerman. Saya sudah sering membaca komentar di forum-forum beasiswa yang mengeluhkan mengapa lembaga pemberi beasiswa tidak membiayai tes bahasa tersebut? Sejujurnya, saya selalu geleng-geleng kepala membaca komentar-komentar semacam itu.

Rekan-rekan, mendapatkan beasiswa itu perlu modal. Pada masa saya dulu, saya harus membayar sekitar 2 juta Rupiah untuk satu kali tes IELTS. Iya memang mahal. Apalagi kalau kalian harus tes berulang kali untuk mencapai nilai standar yang diminta oleh lembaga pemberi beasiswa. Tidak sedikit pejuang beasiswa yang menyerah. Padahal, itu baru tahap awal proses menggapai mimpi kalian. Ketika sudah mendapatkan beasiswa, jangan dikira tidak ada tantangan yang dihadapi. Saya menyadari bahwa uang 2 juta Rupiah itu sangat besar bagi kalian yang belum memiliki penghasilan tetap dan hiduonya masih bergantung pada orang tua. Well, tapi kalian bisa menabung kan?

Semua beasiswa yang ditawarkan untuk warga negara Indonesia memiliki persyaratan standar, yaitu menyertakan sertifikat kemampuan bahasa. Kalau memang kalian niat untuk memperoleh beasiswa, seharusnya persiapan sudah dilakukan sejak beberapa tahun sebelumnya. Kalau kalian niat, kalian seharusnya belajar giat untuk mempersiapkan tes kemampuan bahasa sehingga uang 2 juta Rupiah itu tidak sia-sia karena kalian akan berhasil mencapai skor maksimal hanya dengan satu kali tes.

Sekali lagi, syarat utama mendapatkan beasiswa adalah NIAT. Dan saya rasa, kita harus membuang jauh karakteristik “meminta belas kasihan” dari lembaga pemberi beasiswa. Beasiswa untuk studi di luar negeri itu terbuka untuk siapa saja, baik anak orang kaya maupun anak orang miskin. Karena dalam formulir aplikasi beasiswa (DAAD), tidak ada pertanyaan mengenai penghasilan orang tua dan penghasilan kita (bagi yang sudah bekerja). Jadi, kalian akan berkompetisi secara fair. Lembaga pemberi beasiswa akan dengan senang memberi pembiayaan bagi orang-orang yang potensial menjadi scholars (insan berilmu) di masa yang akan datang. Hal tersebut akan terlihat dari cara kita menjawab pertanyaan-pertanyaan dari panelis pada saat sesi wawancara.

Mengutip kata seorang rekan saya, beasiswa itu ibaratnya peluang. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan peluang yang ada. Ingat, di saat kita mengeluhkan persyaratan beasiswa yang berat, di luar sana ada rekan-rekan kita yang berusaha keras mengerahkan segala yang mereka punya untuk menggapai peluang itu.

Bukan IPK S1 dan IPK S2 cum laude yang akan membawa kalian memperoleh beasiswa apapun. Tapi niat yang kuat.

Salam semangat, rekan-rekan semua!

Essen, 27 Juli 2018

Pesta Demokrasi Warga Jakarta

Saya lahir dan besar di Jakarta dan dengan bangga menyebut diri sebagai anak Ibukota. Dan saya bersyukur keluarga saya tidak apatis. Orang tua saya selalu bersemangat untuk menggunakan hak pilihnya demi kemajuan kota kami. Demikian pula dalam rangkaian proses pemilihan kepala daerah tahun ini. Kami selalu mengikuti perkembangannya. Jadi, kami menentukan pilihan bukan berdasarkan “apa kata orang”, tapi berdasarkan data dan kenyataan yang kami saksikan.

Pilkada tahun ini lumayan terasa “panas” ya, apalagi di dunia maya. Kampanye, baik yang positif maupun yang berbau propaganda, kerap berseliweran di linimasa media sosial. Teman-teman yang biasanya asyik untuk diajak berdiskusi santai mendadak jadi “bertanduk” ketika pembicaraan masuk ke pembahasan tentang pandangan politik yang berseberangan. Maka saya sangat menghindari diskusi tentang politik ketika berhadapan dengan teman-teman tertentu yang bahkan beberapa di antara dulu cukup dekat sebenarnya dengan saya. Jujur saja suasana panas jelang Pilkada kemarin sudah mampu membuat kawan berubah menjadi lawan. Hal ini terjadi dalam kehidupan saya. Pengennya sih setelah Pilkada selesai bisa baik-baikan lagi. Tapi saya sudah terlanjur melihat sisi lain dari mereka (yang sebelum ini tak pernah saya tahu). Tak terhitung berapa banyak teman yang saya unfriend di media sosial karena postingan mereka yang selalu penuh dengan provokasi terkait SARA, intimidasi, dan penyebaran kebencian terhadap pihak-pihak yang berbeda pendapat dengan mereka. Beneran deh, masa-masa ini membuat saya kehilangan banyak “teman”. Tapi tidak apa-apa. Semakin kita dewasa, memang akan semakin sedikit teman yang bisa kita percaya.

Siang tadi akhirnya sudah diperoleh hasil perhitungan cepat. Kami akan memiliki pemimpin baru yang mulai bekerja bulan Oktober 2017 nanti. Seketika saya kecewa karena pasangan calon pilihan saya kalah. Ah, tapi di setiap pertandingan selalu ada yang menang dan ada yang kalah. Mari kita dukung dan beri kesempatan bagi gubernur baru pilihan mayoritas masyarakat Jakarta untuk mewujudkan janji-janji kampanye mereka.

Mungkin memang sebagian besar warga Jakarta ingin memiliki pemimpin yang santun, bukan yang “senggol bacok”. Ya anggap saja begitu ya. Berpikir positif saja. 🙂

Sore tadi sempat berdiskusi melalui chat dengan seorang teman. Pandangan politik kami berbeda. Pilihan kami pun berbeda. Tapi keinginan kami sama. Apapun untuk kebaikan Jakarta dan Indonesia. 🙂

Selamat untuk kita, warga Jakarta.

Terima kasih untuk Pak Ahok & Pak Djarot yang sudah memimpin Jakarta selama ini. Jakarta memang belum bebas macet dan bebas banjir, tapi saya akui kota saya ini sudah jauh lebih baik di bawah kepemimpinan anda.

Alangkah Lucunya Negeri Ini

“Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” -Yohanes 8:7

Saya mengutip ayat alkitab di atas, untuk menanggapi isu yang sedang hangat-hangatnya di Indonesia. Bahkan sepupu saya yang tinggal di Jerman saja bertanya, apa yang terjadi di tanah air? Ya, isu penistaan agama yang (katanya) dilakukan oleh Ahok. Kejadian Ahok “salah ngomong” itu rupanya berdampak luar biasa. Media sosial mendadak dipenuhi oleh para “ahli agama” dan “ahli tafsir kitab suci”. Dan puncaknya hari Jumat kemarin, terjadi demonstrasi/aksi damai besar-besaran di Jakarta. Namun, saya salut ternyata mereka benar-benar melakukan aksi dengan damai. Tidak ada rusuh, tidak ada anarkis. Salut! Hari itu saya tetap masuk ke kantor dan menjalankan aktivitas seperti biasa, tidak ada rasa takut sama sekali walau tetap waspada.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan mengomentari orang-orang yang ikut serta dalam aksi damai hari Jumat kemarin. Saya lebih tertarik mengomentari orang-orang yang sharing berita provokatif di media sosial dan berkomentar pedas seolah-olah mereka paling tahu tentang isu yang sedang beredar saat ini. Mereka yang menganggap orang-orang yang berbeda keyakinan dengan mereka adalah kafir yang layak untuk diberantas. Mereka yang lupa bahwa hingga detik ini dasar negara Indonesia masih Pancasila. Ingat sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa. Tuhan itu satu, hanya saja cara menyembah-Nya bermacam-macam. Untuk itulah ada agama. Dan terlebih, negara ini mengakui 6 agama.

Saya selalu percaya bahwa semua agama itu baik pada dasarnya, yang tidak baik itu kadangkala adalah pengikut-pengikutnya yang selalu siap sedia “berperang” ketika agamanya (mereka anggap) direndahkan. Itu terjadi pada semua agama. Karena apabila tidak ada orang-orang fanatik di dalam suatu agama, agama tersebut pasti pelan-pelan akan mati. Coba lihat saja yang terjadi saat ini di Eropa sana.

Kembali lagi ke ayat Alkitab yang saya kutip di atas, apakah kalian sebegitu sucinya hingga berhak menghakimi kesalahan orang lain? Kalau iya, wah selamat, kalian sudah sama sucinya dengan Tuhan. Alangkah hebatnya kalian dan alangkah besarnya tanggung jawab yang kalian pikul ya.

Mungkin banyak di antara kalian yang menganggap saya pendukung Ahok. Iya, saya mendukung Ahok karena hasil kerja beliau selama menjadi gubernur Jakarta sudah nyata terlihat (terlepas dari karakteristik beliau, yang bagi sebagian orang terlihat ajaib) dan saya memiliki harapan besar beliau dapat bekerja lebih baik lagi untuk Jakarta. Saya mendukung beliau bukan karena beliau Kristen dan Cina. Apakah saya setuju dengan apa yang dikatakan beliau di Kepulauan Seribu beberapa waktu lalu, yang pada akhirnya blunder sendiri bagi beliau? Saya, sama seperti kalian, tidak setuju. Komentar spontan saya ketika pertama kali menonton video tersebut adalah “ini orang ngapain sih iseng banget ngebahas kitab suci agama lain. kalau mau bahas, kitab suci sendiri aja lah”

Tapi..tapi..tapi kok sekarang jadi yang diserang Jokowi? Maka, benarlah bahwa aksi hari Jumat kemarin dan segala perdebatan setelahnya itu sepenuhnya bermuatan politis. Saya jadi gagal paham.

Seram sekali ya, membawa-bawa nama Tuhan untuk suatu hal yang berbau politis.

Akhir kata, bagi teman-teman yang memiliki pandangan berbeda dengan saya, silakan saja. Karena perbedaan itu indah, bukan? Tapi, ketika kalian sudah menyebarkan berita-berita yang provokatif dan mendiskreditkan pihak-pihak tertentu di media sosial, maaf sepertinya saya harus “membersihkan” kalian dari daftar teman saya di media sosial. Tidak ada tendensi apapun, saya hanya ingin menjaga supaya konten media sosial saya tetap dipenuhi oleh hal-hal yang positif dan menginspirasi. 🙂

Ingat, kita Indonesia, kita satu, apapun keyakinan kita!

ps: Judul tulisan ini diambil dari salah satu film Indonesia yang saya suka 😀

akselerasi

7c8e5aaa3fbae92a867bdc279f4adfbd

Saya perhatikan di masa sekarang ini banyak orang tua muda yang bangga jika anak-anaknya memiliki kemampuan atau bahkan prestasi yang melebihi anak-anak seusia mereka pada umumnya. Misalkan, di kala normalnya anak-anak memulai playgroup di usia 3 tahun, ada yang ketika berumur 2 tahun sudah dimasukkan ke playgroup. Tidak ada salahnya kalau tujuan utamanya hanya untuk sekedar mengajarkan anak bersosialisasi. Namun, terlihat salah ketika anak usia tersebut sudah diajarkan membaca dan menulis.

Hal ini berlanjut dengan fenomena anak usia 4.5 atau 5 tahun yang sudah masuk SD. Umur 15 tahun sudah lulus SMA. Memang membanggakan ya ketika anak kita memiliki kecerdasan yang brilian. Tapi, pernahkah kalian memikirkan perkembangan psikologis mereka? Pengaruh akselerasi terhadap perkembangan psikologis anak. Ya, ini adalah topik besar yang ingin saya bahas kali ini.

Pertama-tama, saya bukan seorang psikolog. Pekerjaan saya sebagai seorang dosen memungkinkan saya untuk berinteraksi dengan para mahasiswa dengan rentang usia mid-teenage hingga late teenage. Ada beberapa mahasiswa saya yang masih berusia lima belas dan enam belas tahun. Sebagai informasi, usia normal mahasiswa tingkat 1 adalah delapan belas tahun. Dari hasil observasi saya terhadap para mahasiswa yang berusia sangat muda tersebut, sebagian kecil sudah terlihat cukup dewasa dan siap untuk menjalani dunia perkuliahan. Namun, sebagian besar masih terlihat ‘kaget’ dengan dunia perkuliahan. Golongan yang ‘kaget’ini dapat dibagi menjadi dua jenis – Golongan pertama, mereka yang mengucilkan diri dari pergaulan karena merasa tidak nyambung dengan teman-temannya yang rata-rata berusia lebih tua dari mereka. Golongan kedua, mereka yang overexcited terhadap status baru sebagai mahasiswa dan merasa bebas melakukan apa saja termasuk hal-hal yang di luar batas norma kesopanan. Golongan yang kedua ini, jujur saja membuat saya miris. Saya bahkan sampai bertanya-tanya apakah mereka tidak diajarkan tentang kesopanan di rumah?  Bagi saya sepintar apapun seseorang, kalau dia tidak bisa menghormati orang lain dan menempatkan dirinya dengan baik, kepintarannya itu tidak ada artinya.

Saya bersyukur karena kedua orangtua saya berkomitmen menyekolahkan saya dan adik-adik di sekolah Katolik, setidaknya untuk pendidikan dasar. Sekolah Katolik tidak mengenal istilah kelas akselerasi. Mereka tidak mau menerima anak yang berusia di bawah 6 tahun untuk masuk SD. Saya tidak tahu apakah aturan seperti itu masih diterapkan hingga saat ini. Tetapi menurut saya, itu adalah aturan yang bagus. Kami bertumbuh sesuai dengan usia kami. Tidak terlalu cepat dewasa.

Saya tahu mendidik anak itu sulit. Tetapi, pendidikan awal seorang anak mengenai norma-norma adalah di rumah. Jangan jadikan kesibukan kalian, sebagai alasan tidak bisa mendidik anak. Saya merupakan anak dari orang tua yang bekerja, tetapi mereka berhasil membekali saya dengan norma dan nilai-nilai kehidupan. Menjadi orang tua itu memang penuh tantangan. Tapi, ketika suatu saat kalian melihat anak-anak kalian tumbuh menjadi seseorang yang tidak hanya pintar namun berakhlak baik, pasti kalian bangga.

Suatu hari nanti, kalau saya memiliki anak, saya akan berusaha membiarkan dia untuk tumbuh sesuai dengan usianya. Saya tidak mau dia terlalu cepat dewasa.

Saya tidak anti terhadap akselerasi. Namun, semoga ke depannya kelas akselerasi di sekolah-sekolah tidak hanya menitikberatkan pada perkembangan intelektualitas belaka. Karena kecerdasan emosi itu tidak kalah penting.

Selamat Datang, Harapan Indonesia!

Saya “mengenal” sosok Pak Jokowi pertama kali melalui berita-berita di internet. Ketika sosoknya booming, waktu beliau dicalonkan menjadi gubernur DKI Jakarta, saya sedang studi di Inggris, sehingga saya tidak bisa ikutan voting. Namun, di sela-sela Skype conversation dengan orang tua saya (yang biasanya terjadi seminggu sekali), mereka selalu mengupdate saya tentang kinerja pria ini, tentang kiprah beliau sebelumnya sebagai walikota Solo, tentang terobosan-terobosan yang sudah beliau lakukan. Saya tidak pernah tahu tentang beliau ini sebelumnya. Tapi, berdasarkan cerita dari orang tua saya, nampaknya Pak Jokowi adalah orang hebat yang tidak merasa bahwa dirinya hebat. Indonesia perlu orang seperti beliau, suatu saat nanti. itulah pemikiran saya, 2 tahun yang lalu.

Saya menonton video kampanye gubernur beliau melalui youtube. Cukup menarik. Namun, pada saat itu sebenarnya saya lebih sreg dengan satu kandidat gubernur yang lain. Hehe. Pak Jokowi memenangkan Pilgub, kemudian dilantik bersama Pak Ahok untuk menjadi gubernur Jakarta, kota saya tercinta. Saya turut senang. Pada saat itu, saya punya harapan bahwa di Jakarta akan lebih banyak lagi ruang terbuka hijau, jangan ada lagi mall baru yang dibangun, kemacetan bisa dikurangi, dan masalah banjir tahunan bisa diatasi dengan baik. Akhir 2012, saya kembali ke tanah air dan jujur saya kaget dengan perubahan yang terjadi di Jakarta. Di daerah pusat kota, sudah dibangun kursi-kursi di pinggir jalan. Keren! Ya walaupun kalau duduk disana terlalu lama, pasti akan sesak nafas juga sih karena polusi kendaraan. Tapi ini merupakan suatu kemajuan. Jakarta masih macet. Benar. Tapi kemacetannya jadi lebih teratur. Hanya superman (dan libur lebaran, tentunya) yang bisa menghilangkan kemacetan dari Jakarta. Dan Pak Jokowi bukanlah superman. Kalau kalian (seperti saya), masih memilih kemana-mana menggunakan mobil pribadi, ya terima saja kalau Jakarta masih saja macet. Di bawah kepemimpinan Pak Jokowi, transportasi publik di Jakarta juga mengalami banyak perbaikan. Pelayanan bus TransJakarta dan kereta commuter line semakin baik. Saya belum pernah coba naik commuter line, btw *facepalm*. Semoga suatu hari nanti, Jakarta bisa punya integrated public transport seperti di London dan kota-kota besar lain di dunia. Nampaknya akan segera terealisasi. Kemudian, masalah banjir. Pak Jokowi tidak berhasil membuat Jakarta bebas banjir. Seperti kemacetan, banjir tidak bisa dengan mudahnya dihilangkan dari Jakarta karena daerah resapan air di kota kita ini sudah tertutup oleh bangunan-bangunan tinggi. Tapi, seingat saya belum pernah ada gubernur yang rela stay semalaman di waduk memantau perbaikan waduk yang jebol. Dan itu bukan cuma sehari saja. Tentu bukan pencitraan, kan? Melihat perubahan yang terjadi di kota saya, melihat kinerja Pak Jokowi untuk Jakarta, saya merasa beruntung memiliki gubernur seperti beliau.

Awal 2014, mulai ada wacana bahwa Pak Jokowi akan dicalonkan menjadi presiden RI. What? Beliau masih harus memimpin Jakarta sampai 3 tahun ke depan. Pada awalnya saya tidak mendukung beliau. Oke, beliau adalah sosok yang cocok untuk memimpin Indonesia, but just give him a little more time to prove that he got that capability to lead this nation. Menurut saya, sepak terjang politik beliau masih kurang dan kita tau sendiri perpolitikan di Indonesia itu penuh dengan trik2 busuk. Saya berharap ada calon lain yang cukup baik untuk memimpin negara ini. Ternyata, pada akhirnya hanya ada 2 pasang calon dan saya tidak mungkin memilih calon yang satunya lagi. Pak Jokowi jauh jauh jauh lebih baik (menurut saya) walaupun beliau masih harus banyak belajar.

20 Oktober 2014. Indonesia memiliki presiden baru. Dunia menyambut positif. Untuk pertama kalinya saya melihat pak Jokowi di televisi lengkap sekeluarga. Sederhana. Itu kesan yang bisa saya tangkap. Saya yakin pak Jokowi tidak akan menyalahgunakan posisinya sebagai presiden untuk kepentingan pribadi. Semoga 5 tahun dari sekarang, keyakinan saya itu tetap tidak tergoyahkan.

Saya pernah apatis dengan negara ini. Tapi sekarang saya punya harapan bahwa negara ini akan menjadi besar dan mendunia di bawah kepemimpinan pak Jokowi. Orang Indonesia banyak di tersebar di luar negeri dan mereka hebat-hebat semua. Sekarang kita punya pemimpin yang hebat. Rakyat Indonesia tidak punya alasan lagi untuk menjadi bangsa yang inferior. Saya pernah hidup di negara orang, dan setiap kali saya ditanya darimana saya berasal, saya sebut Indonesia, reaksi sebagian besar dari mereka adalah : “wow, Indonesia is very beautiful”. Orang asing saja memuji Indonesia, masa kita tidak?

Selamat, Indonesia!

Selamat bekerja, Pak Jokowi & Pak Jusuf Kalla. Jangan khawatir, banyak dukungan di belakang kalian. 🙂

Nasihat Kecil Untuk Remaja Indonesia

Pastinya teman-teman tahu mengenai kejadian yang sedang heboh dalam dua hari terakhir ini. Setidaknya teman-teman yang tinggal di Jakarta (kalau update berita) pasti mengetahuinya. Pembunuhan terhadap seorang gadis berusia 19 tahun oleh mantan pacar dan pacar baru mantannya. Korban dijebak, dipukuli, disetrum, kemudian setelah pingsan mulutnya disumpal dengan gumpalan kertas hingga akhirnya korban meninggal. Lebih sadisnya lagi, korban kemudian dibuang di pinggir jalan tol. Tersangka pelaku pembunuhan masih berusia 19 tahun.

Lagi-lagi remaja labil berpikiran pendek yang mengambil jalan pintas dengan cara membunuh mantan pacarnya. Kejadian ini bukan yang pertama. Sudah banyak kejadian serupa terjadi di Jakarta dan berbagai wilayah lain di Indonesia. Lantas, kenapa tidak dari dulu saya menulis tentang hal ini? Karena, biasanya kasus seperti ini terjadi kepada orang-orang yang tingkat pendidikannya rendah, anak-anak jalanan yang keluarganya tidak jelas, dan semacamnya. Menurut saya, kalau keadaannya seperti itu, wajar jika seorang anak punya perilaku yang menyimpang. Hal itu tetap salah dan pelaku harus dihukum, namun masyarakat seperti dapat memaklumi kalau seorang anak yang latar belakang keluarga dan pendidikannya tidak jelas, kemungkinan besar tidak pernah diajari dan tidak pernah tahu  mana perbuatan yang benar mana yang salah.

Tapi apa yang terjadi dalam kasus kemarin? Nampaknya baik korban maupun pelaku berasal dari keluarga yang normal-normal saja. Dan berdasarkan dari berita yang saya baca, si mantan pacar korban ini sebelumnya adalah anak yang baik. Mungkin yang salah adalah si anak laki-laki ini berpacaran dengan anak perempuan yang agak tidak beres. Alasan mendasar dari rencana pembunuhan yang dilakukan oleh dua tersangka itu juga kayanya sangat sepele, yakni rasa cemburu. Ah, dasar anak muda.

Saya selalu merasa kasihan ketika ada kasus pembunuhan yang pelakunya masih muda. Kenapa? Karena pada saat langkah mereka tersandung sedikit, ketika mereka membunuh orang atau mereka memakai obat-obatan terlarang, mereka harus menyandang predikat sebagai pembunuh dan pecandu obat terlarang di sepanjang hidup mereka. Selain itu, orang tua dan keluarga mereka pasti akan menanggung malu seumur hidup *kalau masih punya rasa malu, sih*.

Tapi, masalahnya banyak anak muda sekarang yang sok jagoan. Mereka pikir kalau sudah berhak mendapat KTP dan SIM, berarti sudah dewasa, sudah boleh melakukan apa saja yang mereka mau.  Mereka tidak memikirkan dampak dari perbuatan mereka di masa depan. Iya sih memang benar kalau kita punya motto hidup seperti ini : “Live for today. Don’t worry about tomorrow. Don’t think about the past”. Tapi kalau lo bunuh orang hari ini, lo yakin gak akan kepikiran besoknya? Itu namanya bodoh, dek!

Dari setiap kejadian, pasti banyak pelajaran yang dapat diambil. Saya pribadi juga bisa mengambil pelajaran dari kasus ini. Harus lebih berhati-hati lagi hidup di Jakarta, harus hati-hati pilih teman, dan harus hati-hati sekali dalam pilih pacar (eyakk!). Jujur,  saya merasa jauh lebih aman untuk bepergian sendiri kemana-mana ketika saya masih sekolah di Inggris daripada sekarang. Jadi, bukannya gaya-gayaan kalau selama di Jakarta ini, saya kemana-mana selalu diantar jemput dan saya tidak diizinkan untuk mengendarai mobil sendiri (selain karena memang gak punya SIM dan males macet-macetan, supaya lebih aman juga).

Last but not least, buat adik-adik remaja, ini ada nasihat sedikit dari kakak Ella (caelaah kakakk!!!), jangan pernah berpikiran pendek dan jangan cari jalan pintas untuk menyelesaikan masalah. Masa remaja adalah saat-saatnya kalian untuk bersenang-senang. Jangan cepat ingin jadi dewasa, karena jadi dewasa itu tanggung jawabnya beda. Beda gimana? Ya, begitulah. Nanti juga kalian akan merasakan. Dinikmati aja itu masa bersenang-senangnya. Kalau mau berpacaran, pacaran lah. Tapi semuanya dibawa happy, gak usah terlalu serius karena belum tentu juga dia yang bakal jadi suami/istri kalian, kan? haha,  gak perlu ada dendam-dendaman, biar nanti ketika kelak kalian sudah dewasa, kalian bisa ketawa-ketawa mengingat keseruan-keseruan di jaman remaja. Masa muda cuma sekali kan? Lakukan hal-hal seru di masa muda kalian! Bunuh mantan pacar itu BUKAN hal yang seru, guys!

Enjoy your teenage-hood to the fullest, but remember don’t ever do something stupid that will make you regret the rest of your life. Think about your family, the people who will definitely suffering because of your stupidity.

 

Let’s Vote for The Better Indonesia

Pastinya semua orang tahu dong kalau tahun 2014 ini akan menjadi tahun yang bersejarah untuk bangsa Indonesia. Di tahun ini kita akan memiliki presiden yang baru. Beberapa bulan lagi akan ada Pesta Demokrasi. Eits..sejak kapan saya peduli dengan masalah seperti ini?

Saya memang sudah beberapa tahun ini kehilangan harapan dengan bangsa Indonesia. Menurut saya, siapapun pemimpinnya, kalau masyarakatnya tidak mau berubah ya gak akan ada gunanya. Tapi, sayang juga kalau saya tidak menggunakan hak pilih saya tahun ini. Kalau saya menjadi golput, saya harus rela dipimpin oleh siapapun untuk periode lima tahun ke depan dan saya tidak akan boleh protes.

Kriteria pemimpin seperti apa yang saya inginkan untuk Indonesia? Pemimpin yang dipercaya oleh rakyat dan tidak mengkhianati kepercayaan itu. Saya rasa itu yang penting, selain tentunya dia harus percaya diri, pintar, dan tegas. Presiden Indonesia harus percaya diri, terutama ketika berhadapan dengan perwakilan dari negara-negara asing. Dia harus bisa menumbuhkan respek dari negara lain terhadap bangsa kita. Jangan mau terus menerus dipandang sebelah mata. Negara kita sudah merdeka selama lebih dari 60 tahun. Banyak putra bangsa yang menimba ilmu di negara-negara asing, berhasil, dan mereka membawa nama Indonesia. Tidak ada alasan bangsa kita untuk tidak percaya diri, menurut saya.

Presiden Indonesia terpilih harus bisa mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi. Ini sederhana sebenarnya, mirip dengan apa yang diajarkan di mata pelajaran PPKn sewaktu kita sekolah dulu. Tapi, bertahun-tahun terakhir ini, permasalahan yang kerap kali disorot media adalah korupsi di jajaran pemerintahan. Ini adalah bukti dari pemimpin kita yang mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan bangsa.

Dan satu lagi, saya berharap supaya orang-orang yang duduk di kabinet pemerintahan nanti, adalah mereka yang memang memiliki kualifikasi secara profesional di bidang yang mereka pimpin. Jangan karena untuk memenuhi jatah partai tertentu, lantas seseorang yang tidak memiliki kualifikasi pun bisa masuk ke dalam kabinet.

Saya tidak akan menulis di sini, saya akan memberikan vote saya untuk siapa. Tapi, semoga siapapun presiden yang terpilih nanti, setidaknya memiliki kriteria-kriteria yang saya sebutkan di atas.

Dua puluh sampai tiga puluh tahun lagi, tentunya saya dan teman-teman pemuda yang lain masih akan hidup dan melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana jadinya negara ini. Harapan saya, pada saat itu negara kita sudah menjadi bangsa besar dan bersanding sejajar dengan negara-negara maju di dunia.

Iya, saya sempat kehilangan harapan dengan bangsa saya. Tapi rasanya jahat banget ya, saya lahir, tumbuh besar, dan menjalani pendidikan dasar saya di sini, terus tiba-tiba gak mau berharap lagi sama bangsa Indonesia. So, harapan itu akan selalu ada. Negara saya bisa berubah, kalau masyarakatnya mau berubah. Better late than never.

April tinggal 2 bulan lagi, lho. Jangan sampai golput ya! 🙂