random thoughts

2012!!

Yes..akhirnya sampai juga ya kita di tahun 2012. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya di mana saya menulis resolusi, tahun ini saya hanya akan mengikuti ke mana ritme hidup membawa saya. Bukan berarti saya puas terhadap segala pencapaian selama ini. Tapi, ada kalanya kita harus bersyukur buat apa yang sudah kita miliki. Bukan begitu? Kalau selama ini saya selalu request sama Tuhan untuk memberi saya sesuatu, tahun ini saya gak mau request apapun sama Tuhan, membiarkan Dia bekerja dalam hidup saya dan yakin bahwa Dia akan memberikan yang terbaik buat saya.

Tahun baru saya dibuka dengan merayakan pesta malam tahun baru di Edinburgh ditemani oleh cuaca yang super dingin, angin super kencang, dan hujan rintik-rintik yang menusuk badan. Yeah, that was my way to begin this so-called 2012. Hari-hari pertama 2012 diawali dengan menyelesaikan assignments! Kemudian, berlanjut dengan presentasi yang puji Tuhan lancar padahal sebelumnya saya udah deg-degan parah. Maklumlah sudah hampir 2 tahun (sejak lulus dari ITB) gak pernah presentasi lagi. Lalu, saya juga menerima 1 email balasan, yang saya harap adalah titik terang dari masa depan saya. Secercah harapan dari apa yang akan saya lakukan setelah saya menyelesaikan program Master di pertengahan tahun 2012 ini.

Dan awal tahun yang indah ini, akan ditutup dengan serangkaian ujian. Yap, 23 Januari-26 Januari akan menjadi hari-hari bersejarah buat saya. Yuk mari semangat!!

Selamat tahun baru, kawan di manapun kalian berada. Semangat selalu.

Happy weekend! πŸ™‚

As 2011 Will Come To The End

Kalau disuruh menyebutkan hal-hal menarik dan berkesan yang terjadi dalam hidup saya di tahun 2011 ini, saya bakal susah banget menjelaskannya. Karena semuanya berkesan. Intinya, 2011 adalah tahun penuh sukacita buat saya. Saya melewati tahun ini dengan penuh senyuman dan benar-benar tidak ada air mata.

Dua dari 3 resolusi 2011 saya sudah tercapai. Sudah sepatutnya saya bersyukur. Β Tinggal di Eropa, yang dulu hanya menjadi mimpi saya, sekarang sudah menjadi kenyataan. Kalau dulu lingkaran pertemanan saya hanya orang Indonesia saja, sekarang saya sudah punya teman dari berbagai negara. Senang sekali bisa belajar tentang kebudayaan negara lain dan tentunya icip-icip makanan khas dari negara lain, karena asrama saya ini multi-kultural sekali.

Tentang jurusan kuliah yang saya ambil, saat ini saya merasa yakin bahwa memang inilah jalan saya. Jalan yang sepertinya akan mengantar saya untuk menjadi seorang imunologis dan dan bukan seorang mikrobiologis. Tapi, tidak ada yang saya sesali dari jurusan yang saya ambil ketika S1 dulu. Justru itu saya rasakan sebagai point positif buat saya di sini, karena saya punya pengetahuan lebih di bidang basic science dibandingkan dengan mayoritas rekan-rekan saya yang background-nya medical. Walaupun saya terlihat happy, jangan disangka tidak ada hal yang tidak mengenakkan yang terjadi pada saya di sini. Tentunya ada, lah. Kejadian itu terjadi beberapa waktu yang lalu. Saya tidak dapat proyek penelitian yang saya inginkan, tetapi akhirnya saya dapat proyek yang ternyata lebih sesuai dengan background saya. Tuhan memang selalu punya cara, ya.

Jika kalian mengikuti tulisan-tulisan di blog saya dari beberapa tahun yang lalu, pasti kalian tahu bahwa dulu saya pengen kuliah di Perancis. Bahkan saya sampai niat ngambil les bahasa Perancis. Terus kenapa sekarang saya nyasar di UK? Well, kita tidak akan pernah tahu ke mana hari esok akan membawa kita kan? Yang jelas, saya merasa bahwa berada di tempat ini merupakan sesuatu yang menurut Tuhan terbaik buat saya. Jadi, saya tinggal menjalani saja.

Meninggalkan Indonesia berarti keluar dari zona nyaman. Kurang lebih 1 tahun yang lalu, ketika saya baru mulai daftar-daftar untuk kuliah Master, saya amat sangat tidak sabar untuk segera meninggalkan Indonesia. Namun, beberapa bulan menjelang bulan Agustus 2011, tiba-tiba saya merasa berat untuk meninggalkan negara saya itu. Tapi, harus ada suatu awal untuk sebuah perubahan. Maka, ketika waktunya tiba, saya mantap bilang ke diri saya : “apapun yang terjadi, saya harus pergi. ini adalah impian saya” A big journey in our life always begins with a single step. Memang itu berarti meninggalkan keluarga, sahabat, dan gebetan (ups). Akan tetapi, perjumpaan dan perpisahan adalah suatu hal yang biasa, menurut saya. Dalam kasus saya, perpisahan dengan keluarga dan sahabat hanyalah untuk sementara. Kita pasti akan ketemu lagi kok suatu saat nanti. Sejauh ini sih tidak ada kendala untuk berkomunikasi dengan mereka. Technology rules the world nowadays, man!Β 

Tahun 2011 adalah tahun yang luar biasa. Diri saya berubah dari berbagai sisi. Mungkin kalau kalian sekarang bertemu saya, kalian akan merasakan bahwa saya sedikit berubah. Yeah, saya harus berubah supaya bisa survive hidup di negeri orang. Jadi, tidak ada lagi Ella yang manja. πŸ™‚

Terima kasih Tuhan atas kesempatan untuk mencicipi kehidupan yang maha indah ini. Target 2012 adalah penelitian saya lancar, Β lulus Master, dan kalau Tuhan mengizinkan, saya mau melanjutkan pendidikan saya ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Mimpi saya belum dan tidak akan pernah habis. Selama bermimpi itu masih gratis, saya akan terus bermimpi. Hidup adalah tentang bermimpi dan mencari cara untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu.

Well, beberapa hari lagi saya mau liburan dan saya tidak akan membawa serta laptop saya. Jadi, kayanya saya gak akan update blog ini sampai awal Januari. So, saya mau mengucapkan selamat natal dan tahun baru buat teman-teman semua para pembaca blog saya. πŸ™‚

Semoga 2012 akan berisi 365 hari yang jauh lebih baik daripada 365 hari yang telah lewat. πŸ˜€ Take care, friends!

ps: postingan ini ditulis menjelang tengah malam dengan ditemani lagu-lagu Westlife. Lumayan buat nostalgia. Eh, btw saya mau menonton konser mereka di Newcastle bulan Mei 2012 nanti lho! *pamer*

salam dari salju di Newcastle, teman-teman!

Perubahan

Saya tidak pernah takut terhadap perubahan yang terjadi pada diri saya. Apalagi, kalau perubahan itu menuju ke arah perbaikan. Saya baru menyadari bahwa sejak saya disini, sedikit demi sedikit saya berubah.

Di satu sisi, saya bukanlah Ella yang dulu. Ini dia list perubahan yang saya sadari :

1. Saya lebih banyak tersenyum

2. Saya “berdandan” setiap mau pergi keluar. Well, definisi dandan a la saya adalah menyapukan compact powder dan sedikit lipbalm. :p

3. Saya bisa masak

4. Saya lebih friendly

5. Saya jarang mengeluh

6. Saya menikmati hidup

Cuma dikit sih. Tapi, saya cukup tercengang menyadari bahwa saya menjadi seseorang yang lebih baik. Lingkungan yang merubah saya. Puji Tuhan banget, di sini saya mendapatkan teman-teman yang positif. Jadi, saya terpengaruh oleh mereka. Tapi, di banyak hal saya masih sama seperti dulu kok. Saya masih belum bisa menghilangkan sifat childish, clumsy, dan innocent. Hmm..sifat innocent ini rentan bikin saya terlihat blo’on kadang-kadang. Dan….tentunya relationship status saya belum berubah. Maybe, soon it will changed. Aha..fingers crossed.

Enjoy December, guys! Stay positive πŸ™‚

How To Confront Homesick?

Bagi kalian yang sedang merantau ke negeri orang demi menuntut ilmu ataupun bekerja, suatu perasaan yang bernama homesick pasti tidak dapat dihindari. Tapi, menurut saya kita gak boleh terbelenggu sama rasa itu karena ujung-ujungnya bakal merugikan kita sendiri. Terhitung mulai besok, sudah 3 minggu saya tinggal sendiri di negeri yang jauhnya beribu-ribu mil dari kampung halaman. Mungkin di mata orang lain, saya terlihat bahagia-bahagia saja. Ada, lah sedikit rasa homesick itu. Mengutip kata-kata yang pernah diucapkan oleh ibu saya, seenak-enaknya hidup di negeri orang, masih enak hidup di negara sendiri. Iya emang betul sih.

Berdasarkan observasi terselubung kecil-kecilan (biasa lah, mental scientist *tsaahh*) yang saya lakukan terhadap beberapa teman baru saya di sini, rasa kangen terbesar mereka adalah sama keluarga, kemudian sama pacar, terus kangen sama makanan. Nah, berhubung saya belom punya pacar, mungkin itulah sebabnya saya tidak terlalu homesick kali ya. hehe πŸ˜€ Ada untungnya juga jadi jomblo. Kalau sama keluarga ya pasti kangen lah, tapi gak sampai yang nangis-nangis bermuram durja gitu.

Saya kangen juga sama sahabat-sahabat pastinya. Kangen sama si Kristal yang bawelnya ampun-ampunan. Biasanya waktu masih di Jakarta, kalau udah weekend, dia pasti nge-pangpingpong BBM saya ngajakin jalan. Terus kangen juga sama Dita yang rumahnya sering saya intervensi, berhubung sama2 pengangguran terselubung waktu itu. Haha. Kalau sama geng mikro gila (Ipi, Nona, Unik, Aci) sih emang sejak lulus dari ITB kita lebih sering berhubungan secara virtual. Tapi kangen juga sih denger teriakan khasnya si Ipi, suaranya si Unik yang cempreng, berbagi kegaringan sama si Nona, ngetawain tingkah lakunya si Aci yang ajaib itu. Yaaa saya emang lebih kangen sama sahabat-sahabat daripada sama keluarga *haha..anak kurang ajar*. Gak, deeeng. Becanda.

Satu hal lagi yang bikin saya homesick adalah makanan. Gak ada tuh ketoprak, nasi uduk, nasi goreng kambing, dan martabak tipker favorit saya di sini. Untung, masih ada yang jual indomie :p

Boleh sih kangen sekali-sekali. Tapi, gak boleh terus-terusan lah ya. Nih, saya mau coba kasih tips ala Ella untuk mengurangi homesick :

  1. Cari teman yang banyak dan dari berbagai negara. Gak mau, kan udah menghabiskan waktu kurang lebih setahun di luar negeri, tapi bahasa Inggrisnya gak ada kemajuan? Satu hal yang pasti, ketika berteman sama orang dari negara lain, wawasan kita akan bertambah.
  2. Cari teman anak Indonesia juga. Kadang-kadang mulut kita capek juga kan casciscus pake bahasa Inggris terus, sampai lidah pegal? Jadi, penting tuh punya temen orang Indonesia yang senasib. Selain itu, juga untuk faktor keamanan. Iya, lah. Kita hidup di negeri orang. Pasti bakal lebih aman kalau kenal sama teman senegara.
  3. Buat diri kita sibuk. Jangan mendem di kamar asrama/flat aja sambil nangis-nangis kejer gara-gara homesick. Jalan-jalan kemana, kek. Shopping, belajar di Perpustakaan, ngampus, ikut society. 24 jam tuh berasa cepet banget. Yakin deh, gak akan inget homesick. Haha.
  4. Maksimalkan fungsi teknologi. Sekarang ada yang namanya Skype. Jarak udah gak ada artinya deh. Kita bisa ngobrol face to face sama keluarga di Indonesia. 2 hari yang lalu saya pertama kali Skype sama Bapak & Ibu. Haha..komentar si Ibu kocak banget deh : “Wah, tau gitu dari dulu pake Skype aja ya, La.” *yaiyalaaaahhhh Ibu!!!*.
  5. Ingat tujuan utama kita di sini adalah belajar atau bekerja dan kita gak boleh pulang sebelum dapet sesuatu dari sini. Jadi, gak boleh homesick.
  6. Cari kecengan. Ini sih tips yang amat personal dari saya. Serius…kecengan itu adalah mood-booster lho. Saking konsentrasinya kita ngeceng, lupa deh homesick-nya. Haha πŸ˜€
Ya, itulah sedikit tips yang rada ngaco dari saya. Hmmm..tapi saya sudah coba selama beberapa minggu ini dan cukup ampuh kok. Alasan serius saya untuk tidak homesick adalah, karena saya gak mau membuat keluarga di Indonesia kepikiran. Orang tua saya masih harus memikirkan adik-adik saya dan juga pekerjaan kantor Bapak & Ibu saya tuh cukup berat. Jadi, gak perlu lah membebani mereka dengan rasa homesick gak penting.
Jadi, buat teman-teman yang sering homesick, ayo lah cheer up!!! πŸ˜€

And The Adventure Ends

Piles of my “Harry Potter” books

Got the first copy when I was in 6th grade

Never miss every single series

Read the 7th book when I was in the 2nd year of university

Watched the first movie when I was in 7th grade

Never miss every single movies

Watched the last movie last week

Maybe those phrases can best describe my addiction to “Harry Potter Series”. An adventure of three kids in a school of witchcraft and wizardry named Hogwarts. I grew up reading their adventure and there was a time in my life when I dreamed of being in a wizard world. When I was in junior high school, me and my friends always talked about muggles, mud-blood, Β Voldemort, and all of those spells they used in the wizard world (such as lumos, obliviate, occulo reparo, avada kedavra, wingardium leviosa, and many mores). I think we should revised our dictionary and adding those words in it. LoL. πŸ˜€

my first copy of “Harry Potter” dated in 2000

When I finished reading the last series of Harry Potter, I was still hoping for some more movies. But now, as the last movie had been released, I feel like half of my childhood had gone somewhere.

“Harry Potter and The Deathly Hallows Part 2” was great with all of those amazing special effects. Speaking about my favorite, the best Harry Potter series are “Harry Potter and The Prisoner of Azkaban” (3rd series) and “Harry Potter and the Goblet of Fire” (4th series). And for the movie, nothing can beat the last part of Harry Potter series. Yes, I am more than satisfied!

I think my generation is so lucky to be given a chance to follow the adventure of Harry Potter right from the very beginning until the very end. Thanks, JK Rowling. You’re so brilliant.

And I promise I will introduce this amazing adventure to my future kids, someday. Just like my auntie had introduced me to some Enid Blyton’s characters back then when I was a kid. πŸ™‚

…and this is the trailer of “Harry Potter and The Deathly Hallow Part 2” in case you haven’t watched it.

pictures taken from here and here.

Balada Apply Visa

Jadi ceritanya tadi pagi adalah jadwal saya untuk melakukan visa appointment di sebuah gedung yang terletak di Jl. Jend. Sudirman, Jakarta. Saya sampai di sana 30 menit sebelum waktu yang telah ditentukan, tentu saja dengan pede. Begitu masuk dan baru duduk beberapa detik, ternyata nomor antrian saya langsung dipanggil. Lalu beginilah percakapan saya dengan si mas-mas di sana yang meng-collect dokumen.

Mas2 : “Selamat pagi, bu. Keperluannya apa ya? Visa turis atau student visa? *sial..saya dipanggil “ibu”*

Saya : “Oh, apply student visa mas”

Mas2 : “Sudah baca guidelines-nya?”

Saya : (dengan sangat mantap) “Udah”

Mas2 : “Coba saya lihat dokumennya”

Saya : (masih pede menyerahkan semua dokumen beserta terjemahannya)

Mas2 : “kalau fotocopy-an nya mana?”

Saya : (bengong, baru ingat kalau lupa fotokopi) Β -_-“

Selain masalah fotokopi itu, ternyata memang ada beberapa dokumen yang belum saya bawa akibat kesoktauan saya. Sebenarnya bukan sok tau juga sih. Saya sebelumnya sudah bertanya pada orang-orang yang senasib -dalam artian sama-sama mau ke UK- yang sebelumnya sudah apply visa. Dan saya ikuti saran mereka. Ternyata salah saudara-saudara!

Akhirnya tadi saya balik ke rumah lagi untuk mengambil segala dokumen yang kurang itu, terus balik lagi ke visa center, dilayanin sama si mas2 yang itu lagi. Dia nampaknya agak shock mendapati saya kembali hari ini juga karena sebelumnya kita memang sudah rearrange appointment menjadi besok. Pikir saya, ya sudahlah lebih baik sekalian capeknya.

Well, apart from all of the hectic event, today I learned a lot. Selama ini saya belum pernah mengurus visa sendiri. Tidak mengetahui prosedurnya, tinggal duduk manis, tau-tau visa jadi. Dengan begini, saya jadi mengerti segala proses aplikasi visa. Ya ribet-ribet sedikit sih. Tapi, tidak seribet yang saya bayangkan sebelumnya kok.

Ada yang menyarankan saya untuk menggunakan jasa agen dalam pengurusan visa ini dengan catatan ada penambahan biaya sebesar sekitar IDR 500K. Yah, saya sih gak rela ya mengeluarkan uang sebesar itu untuk sesuatu yang bisa saya kerjakan sendiri.

Akhir kata, buat teman-teman yang mau apply visa UK, prosesnya cepat kok asalkan segala dokumen sudah siap. Postingan ini hanyalah sharing pengalaman saya hari ini.

Dan sekarang saya tinggal berharap-harap cemas sampai 10 hari ke depan. Semoga visa segera di-approve. Amin.

Oh iya buat teman-teman yang belum tahu, kita bisa melakukan semacam online tracking terhadap proses aplikasi kita dengan cara membuka website VFS Global, kemudian masukkan application reference number dan tanggal lahir kita. Ada fasilitas sms juga sih dari VFS tapi dikenakan biaya tambahan IDR 25K gitu. Jadi, mending tracking sendiri aja kan? πŸ™‚

Berhenti Berharap (?)

Barusan ada seorang teman yang menuliskan statement seperti ini di FB :

Ketika kita berhenti berharap, tiba-tiba kita akan dapat apa yang tidak terduga

mungkinkah saya harus berhenti berharap?

haha..suatu akhir yang anti klimaks, memang. tapi, gak mungkin juga kan saya bertahun-tahun memendam perasaan gak jelas seperti ini? siapa tau di luar sana ada yang lebih baik. siapa tau yang “tak terduga” itu bakal segera datang.

So Long, My Cellphone!

My Lovely Noki

Akhirnya saya harus berpisah juga dengan handphone GSM legendaris milik saya. Sebuah handphone jadul dengan merk Nokia yang saya juga sudah lupa seri berapa. HP tersebut sangat berarti bagi saya, walaupun akhir-akhir ini bentuknya sudah semakin menjijikkan saja. Postingan di blog kali ini akan saya dedikasikan untuk HP saya tercinta.

Berikut adalah fakta-fakta tentang my lovely noki (jiaahh sok imut) :

1. Saya membeli HP ini pada tanggal 26 Desember 2006. Jadi, sekarang usianya sudah 4 tahun lebih.

2. HP ini jadi saksi kehidupan saya selama menjadi mahasiswa ITB, sejak TPB sampai lulus. Di dalamnya, tersimpan foto-foto saya waktu masih jaman-jamannya kuliah di GKU Barat, jaman-jaman osjur, kuliah lapangan, foto hasil praktikum, dan bahkan ada foto yang memperlihatkan kehebohan seluruh anak mikro 06 ketika hari pertama praktikum mikrobiologi analitik. Oiya, ada foto kamar kosan saya juga. (huuu..jadi kangen kosan KGU 28). Berhubung kabel data HP ini sudah hilang entah kemana, foto-foto tersebut tidak bisa diselamatkan deh. 😦

3. HP nokia saya itu keren banget lho pada masanya. Keypad-nya, yang di bagian samping ada kamera 2 mega pixel, dapat diputar 180 derajat sehingga kita bisa mengambil foto diri dari berbagai sudut. HP ini benar-benar cocok buat orang yang narsis.

4. HP ini amat sangat tahan banting. Tahan banting dalam arti sebenarnya ya. Mungkin pernah jatuh lebih dari 10 kali. Akan tetapi masih bisa dipergunakan. Hanya lecet-lecet sedikit pada body-nya.

5. Pernah nge-hang beberapa kali karena dipaksa menampung beribu-ribu SMS.

6. Ganti baterai 2 kali. Baterai yang pertama menggembung dan kayak mau meledak gitu. Serem lah pokoknya.

7. Casing bagian belakangnya sudah copot.

8. HP ini canggih banget. Bisa tiba-tiba menelepon sendiri ke nomor yang ada di kontak, padahal dalam keadaan terkunci. Bisa jadi HP ini punya kekuatan mistis. Haha. Sudah banyak yang jadi korban kemisteriusan HP ini. Terakhir adalah Bapak dan supir saya.

Ya, itulah fakta mengenai HP saya. Saya patut berterima kasih karena barang itu telah menemani hari-hari saya selama 4 tahun terakhir ini. Untuk menggantikan HP itu, sekarang saya memakai HP lungsuran Bapak saya yang agak lebih bagusan lah.

So long, my noki. Thanks for all these years :’)

Randomly Random

Kenapa judulnya “Randomly Random”? Karena hidup saya akhir-akhir ini agak random alias gak jelas. Berbagai kejadian yang lucu, menyedihkan, menyenangkan semuanya saya alami.

Pertama. Email penolakan dari UPMC dan tidak diterimanya aplikasi beasiswa BGF saya. Tadi pagi akhirnya saya bisa curhat dengan teman seperjuangan saya. Ternyata teman saya itu juga ditolak di salah satu universitas di Prancis. Bedanya dia apply untuk tingkat licence (S1) dan dia mendaftar sekaligus di 12 universitas. Jadi, kalau 1 ditolak masih ada harapan untuk diterima di tempat yang lain. Jadilah tadi dia menyemangati saya dengan kata-kata : “masih ada tahun depan, Ella. Semangat ya!” Iya, saya masih semangat kok. Buktinya saya masih bisa ketawa-ketawa.

Kedua. Saya baru sadar kalau kemarin sudah masuk hari pertama di bulan Mei. Yang berarti September tinggal hitungan bulan saja. Dan saya akan berangkat akhir Agustus. 3 bulan lagi saya harus ciao dari Indonesia untuk mulai kuliah lagi. Yeay..kuliah! Menghadapi tetek bengek kuliah S2 ini, yang paling heboh adalah kedua orang tua saya, terutama Ibu. Beliau sudah menyiapkan banyak sekali long coat buat persiapan pas musim dingin di sana. Bingung juga nanti gimana cara bawanya, coba baju-baju setebal itu. Selain itu, Ibu juga ribut nyuruh saya belajar masak. Pengalaman tinggal sendiri di Bandung selama 4 tahun tidak berhasil membuat saya bisa masak. Saya cuma bisa masak popmie *popmie, bukan indomie lho* dan ngangetin makanan doang. hehe. Jadi, saya harus belajar masak! *mengepalkan tangan* Tapi, saya cuma mau belajar masak sama Ibu, dan tau sendiri Ibu saya sibuknya luar biasa dengan pekerjaan kantornya. Ujung-ujungnya tertunda lah keinginan untuk belajar masak.

Ketiga. Bandung getaway yang gagal. Seharusnya weekend kemarin saya ke Bandung buat kumpul-kumpul dengan teman kuliah. Ternyata, rencana itu harus batal di detik-detik terakhir. Bahkan, Sabtu siang itu – ketika Jakarta tengah diguyur hujan lebat – saya sudah sampai di travel, siap berangkat. Tapi, apa daya akibat teman-teman saya yang sekarang sudah pada sibuk berkarir, batal-lah rencana itu. Katanya minggu ini mau direalisasikan sih. Tapi, gak tau jadi apa gak. Honestly, I miss Bandung so much. Masa saya tiba-tiba kangen sama kuliner di Bandung? Kangen sama kedai-kedai makanan di sekitar kosan saya. Apa kabar ya Bebor? Dulu si mas-mas yang jualan sampai hafal sama saya saking seringnya saya makan di sana. Toko You juga. Kangen nasi tim ayam-nya yang enak gila.

Keempat. Saya off ngelab selama 3 minggu. Penting banget dilaporin di sini. Awal atau pertengahan Agustus kegiatan aktivitas magang saya akan berakhir, yang berarti saya harus menyerahkan laporan magang, supaya bisa mendapatkan sertifikat. Sejak minggu lalu saya mulai mencicil menyusun laporan tersebut. Lumayan lah, setidaknya saya sudah ada niat untuk memulai menyelesaikannya. Semoga di akhir minggu ini bisa beres. *fingers crossed*

Kelima. Saya punya murid baru. Sebenarnya dia murid limpahan dari guru piano saya. Kali ini murid saya adalah seorang ekspatriat. Ada enak dan tidak enaknya. Enaknya adalah fee saya jauh lebih besar *karena pakai harga bule* dan durasi kursusnya lebih pendek. Tidak enaknya adalah murid saya yang satu ini snob abis. Kalau dikasih tau, ngeyel. Selain dia, saya juga masih punya 2 murid yang sangat adorable. Mereka kakak beradik yang lucu dan yang membuat saya senang adalah mereka sekeluarga (termasuk bapak, ibu, dan eyangnya) punya passion yang besar di musik. Saya gak pernah membayangkan bahwa saya bisa melepas stress dengan cara mengajar piano. I can’t believe that now I get paid by doing such of this refreshing activity.

Keenam. Saya sudah saling berkirim email dengan salah seorang anak PPI di ncl. Saya menanyakan berbagai hal tentang perkuliahan di sana. Sedikit banyak, saya telah memperoleh pencerahan. Sayang sekali, bulan September ini dia sudah bakal lulus. Kita gak bisa ketemu deh di sana.

Ketujuh. Saya masih suka sama seseorang yang nun jauh di sana, padahal banyak perbedaan yang terbentang. Bodo,ah. Saya mau menikmati perasaan ini dulu, sebelum saya ketemu sama seseorang yang baru lagi yang (mungkin) lebih tepat buat saya.

Kedelapan. Saya akhirnya nemu novel “Extremely Loud & Incredibly Close” nya Jonathan Safran Foer. Sudah setaunan ini saya nyari novel tersebut dan gak pernah dapet. Bahkan ketika saya liburan tahun baru yang lalu ke Singapura, saya mengubek-ubek rak buku di Borders dan tidak menemukannya. Kemarin, by accident saya akhirnya menemukan keberadaan buku ini (yang hanya tersisa sebanyak 3 eksemplar) di Kinokuniya Plaza Senayan, sodara-sodara. Senangnya minta ampun. Akan segera membacanya setelah saya menyelesaikan novel “Negeri 5 Menara” nya A. Fuadi yang sedikit lagi beres. Saya ada ide nih, kira-kira seru kali ya kalau saya bikin 1 kategori lagi di blog saya, yaitu book review? Hihi..selama ini saya selalu (gak selalu juga sih) menulis review di account Good Reads saya.

Quite random, huh?

Well, selamat tinggal April yang penuh dengan ketidak jelasan. Selamat datang Mei, yang semoga lebih jelas dari bulan April! Hehe πŸ™‚

Thanks, sudah merelakan waktu Anda untuk menikmati kerandom-an saya hari ini.

Belajar Mensyukuri Hidup

Beberapa hari yang lalu, entah ada kekuatan dari mana, tiba-tiba saja saya tergerak untuk membaca sebuah buku yang sudah saya beli sekitar 3 tahun yang lalu, tapi sebelumnya hanya teronggok dengan manis di rak buku saya. Judul buku tersebut adalah Purpose Driven Life, atau dalam bahasa Indonesia artinya kira-kira adalah ‘Kehidupan yang Digerakkan oleh Tujuan’. Benar, ini adalah buku rohani. Garis besar dari buku ini adalah mengingatkan kita bahwa Tuhan menempatkan kita di dunia ini, bukan tanpa tujuan. Bahkan sebelum kita dilahirkan, Tuhan sudah mengatur jalan hidup kita. Nah, tadi pagi saya menemukan satu puisi menarik karangan Russel Kelfer (yang tentunya sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia) yang tertulis dalam buku ini. Saya mau share di blog ini. Semoga puisi ini bisa memberikan pencerahan bagi kita semua.

Anda adalah Anda karena suatu alasan

Anda adalah bagian dari suatu rencana yang kompleks

Anda adalah suatu rancangan unik yang berharga dan sempurna

Disebut lelaki atau perempuan khusus milik Tuhan

 

Anda bertampang seperti Anda karena suatu alasan

Tuhan kita tidak membuat kesalahan

Dia merajut Anda menjadi satu di dalam kandungan

Anda benar-benar apa yang ingin Dia ciptakan

 

Orang tua yang Anda miliki adalah orang tua yang Dia pilih

Dan tidak peduli bagaimana perasaan Anda

Mereka dirancang dengan pertimbangan rencana Tuhan

Dan mereka memikul meterai Tuhan

 

Tidak, trauma yang Anda hadapi tidaklah mudah

Dan Tuhan menangis karena trauma itu begitu menyakiti Anda

Tetapi itu diizinkan untuk membentuk hati Anda

Supaya Anda bertumbuh menjadi serupa dengan-Nya

 

Anda adalah Anda karena suatu alasan

Anda telah dibentuk dengan tongkat Tuhan

Anda adalah Anda, kekasih

Karena ada Tuhan

 

Kata-kata dalam puisi tersebut sedikit banyak “menyentil” diri saya. Kadang, saya masih suka mengeluhkan bahwa fisik saya di beberapa bagian tidak sempurna. Padahal di dunia ini juga tidak ada seorang pun yang sempurna. Di lain waktu, saya suka mengeluh tentang betapa banyaknya masalah yang saya hadapi. Well, hidup bukanlah HIDUP jika kita tidak memiliki masalah. Betul, gak?

Akhirnya, mengutip kata-kata di lagunya D’massiv :

Syukuri apa yang ada. Hidup adalah anugerah. Tuhan pasti ‘kan menunjukkan kebesaran dan kuasanya

*wah, jadi ketauan kalau saya suka D’massiv nih. Haha..gak kok. Cuma suka 1 lagunya yang itu saja. πŸ™‚