my life in Germany

Minggu Pertama Menjadi Mahasiswa Kembali

Halo!

Tak terasa minggu pertama di Essen sudah terlewati. Dimulailah rangkaian hidup saya sebagai seorang mahasiswa doktoral. Masih sulit untuk percaya rasanya ketika saya diperkenalkan ke seluruh penghuni lab sebagai “eine neue Doktorand in unsere Labor”. ­čÖé

Hari ini baru sempat mengupdate blog karena baru menyadari bahwa jadwal saya ternyata cukup padat juga.

Dua hari pertama saya di Essen cukup parah. Kalau kata orang Jerman, eine Katastrophe. Saat itu saya sangat kaget dengan suasana kota ini yang benar-benar berbeda dengan Cologne. Kondisi itu diperparah dengan tidak adanya koneksi internet di apartemen tempat saya tinggal, sehingga saya tidak ada hiburan. Akhirnya saya hubungi beberapa teman yang ada di kontak saya. Intinya, curhat betapa “sengsara”nya hidup saya. Terus beberapa hari kemudian baru sadar, saya gak bersyukur banget ya.

Tanggal 9 Oktober 2017, hari pertama saya masuk lab. Supervisor saya tidak masuk pada hari itu. Jadi, saya hanya ditemani oleh Lab Technicians untuk mengurus hal-hal administratif  terkait dengan keberadaan saya di lab selama 3 tahun ke depan.

Sebagai informasi, selain mengerjakan proyek penelitian di lab, saya juga masih harus mengambil beberapa mata kuliah level Master di tahun pertama studi saya di sini. Alasannya? 1) S1 saya di bidang Mikrobiologi dirasa tidak terlalu “nyambung” dengan proyek penelitian yang saya kerjakan. 2) S2 saya yang Masters of Research itu dianggap terlalu menitikberatkan pada lab skills (which is good), tapi kurang memberikan konsep fundamental untuk beberapa aspek yang terkait dengan penelitian saya. Jadilah saya harus mengambil mata kuliah Advanced Molecular Cell Biology, Bioinformatics, dan Biophysical Chemistry di semester ini. Untung tidak diminta ambil kuliah Immunology. Haha. Bisa malu sama Janeway (if you know what I mean). ┬áSemester depan ada kuliah Mathematical Modeling, yang, well, saya tidak mau memikirkannya sekarang karena bisa buat saya gila. Puji Tuhan, semua mata kuliah semester ini diberikan dalam bahasa Inggris.

Oiya mungkin kalian bertanya-tanya, saya mengerjakan penelitian apa sih di sini? Saya melakukan penelitian di Medical Research Centre (Medizinischesforschung Zentrum) Universit├Ątsklinikum Essen di departemen Molecular Opthalmology dan Endocrinology. Fokus penelitian saya dalam bidang autoimmune endocrinology. Detail penelitiannya seperti apa? Nanti saja saya share kalau saya sudah ada publikasi, ya! *karena saya trauma ide penelitian saya dicuri orang. haha*

Di hari berikutnya saya bertemu dengan main supervisor saya, membicarakan proyek penelitian dan hal-hal apa saja yang perlu saya persiapkan. Di akhir pertemuan, saya recap kembali apa saja yang harus saya kerjakan dan practically hari-hari saya di sini dari Senin hingga Jumat pagi hingga sore akan sangat padat dengan penelitian, kuliah, seminar, dan training. Bulan November nanti akan ada research day (Forschungstag), yang mana jika saya sudah memperoleh preliminary result, saya diminta untuk mempresentasikannya dalam bentuk scientific poster. Hari rabu tanggal 11 Oktober saya juga akhirnya bertemu dengan supervisor saya yang lain, seorang dokter bedah mata. Beliau adalah kepala grup riset saya. Beliau memberitahu saya bahwa tahun depan ada scientific conference dan akan sangat bagus kalau saya bisa mempresentasikan penelitian saya di sana. Well, doakan saja semoga semua berjalan baik.

Bagaimana kehidupan di luar lab? Saya belum punya teman. Well, sejauh ini saya mengenal 3 orang Indonesia di Essen. Yang satu ┬ámahasiswa doktoral tingkat akhir (sibuk ngelab juga setiap hari), dan yang dua orang adalah mahasiswa S1 tingkat akhir yang juga sibuk kerja part-time. So, ya komunikasi dengan mereka hanya bisa dilakukan lewat dunia maya. Jadi teman-teman saya sekarang mostly adalah teman-teman di lab, yang bisa saya katakan SANGAT baik sama saya. Setiap hari biasanya saya memulai hari di lab hingga jam makan siang, kemudian saya kuliah. Berhubung belum ada internet di rumah, selepas kuliah saya ke perpustakaan medical school (Fachbibliothek Medizin) yang hanya berjarak 100 m dari apartemen, ┬áuntuk belajar, nonton N*tflix, dan video call dengan orang tua saya. ­čÖé

IMG_9250

Laboratorium tempat saya bekerja

IMG_9243

Autumn is here!

Untuk yang menanyakan kondisi saya sekarang, puji Tuhan saya baik-baik saja di Essen. Sedang beradaptasi dengan lingkungan dan ritme kehidupan yang baru.

Mohon doanya saja supaya saya bisa fokus mengerjakan apa yang harus saya kerjakan di sini sehingga bisa selesai tepat waktu dan kembali ke tanah air.

Aufwiedersehen, K├Âln

IMG_7866

Cologne Flora & Botanical Garden – because Cologne is not always about K├Âlner Dom

Four months flies in a blink! Here comes my last week in Cologne.

Honestly speaking, this town is my comfort zone. But my main reason going to Germany is not staying in Cologne to learn German language. The main reason is to conduct a research in Essen, get my PhD in the next 3 years, then go back to Indonesia and applying my skills.

Being placed in Cologne for 4 months to learn German language is a privilege for me, since this town is one of the tourist destinations in Germany. There are 5 of us, the DAAD scholarship holders, who learned together in Goethe Institut Jakarta back then in March – April 2017. Once arriving in Germany, we were separated. Two of us went to Berlin. The other two went to Goettingen. And me, the only one here in Cologne. ­čÖé

What was my first impression about Cologne? Crowded. Well, I have grown up in Jakarta, which is for sure much more crowded than Cologne. So, this fact did not really shocked me actually. After spending some times, I feel that this town is very comfortable. There are various means of transportation to make us easily explore the town. However, I must admit that in busy days I cannot rely much on the transportation schedule since I often found delays here and there.

How about the people? Having expected Germans to be “cold”, people in Cologne can be categorized as (very) friendly. If you think that Germans are unfriendly, probably you should meet my landlady, Birgitt. She always make sure that everything’s okay with me and my friend. Once a week she comes to our flat and tells us story about anything, She loves traveling and during our 4 months stay here she has brought us to some short trips. I will definitely miss her so much.

Four months ago when I started living here, I was a little bit worried that I would have difficulties on making new friends. Thankfully I have an Indonesian housemate, who have became my new bestfriend for these past 4 months. Thankfully my German language course class consists of people from various cultural backgrounds. At first I also was so worried how can I move from Cologne to Essen since I got two luggages and it would be hard if I must take a regional train. Thankfully, by chance, I know an Indonesian Catholic Community here, become involved there, and got to know an Indonesian priest who routinely serve for the mass. He offered to help me with the moving.

Yes, lots of things and miracles to be thankful for.

I am so grateful to be surrounded by kind people like them. And finally I have no reason at all to be worried.

Cologne, you always have a special place in my heart. See you again some time. ­čÖé

Another adventure is waiting.

Da simmer dabei! Dat es prima! VIVA COLONIA!
Wir lieben das Leben, die Liebe und die Lust
wir glauben an den lieben Gott und han auch immer Durst

(An exerpt from “Viva Colonia” – a Cologne folk song)

Memandang Indonesia dari Jauh

Selamat Ulang Tahun, Indonesia!

Tahun ini saya kembali “merayakan” kemerdekaan tanah air dari benua Eropa. Tapi tak apa. Walaupun raga saya sering berpindah-pindah, tetapi jiwa saya tetap ada untuk Indonesia.

Apa arti “merdeka” bagi saya? Memiliki kebebasan untuk menentukan mau jadi apa saya di masa yang akan datang. Memiliki kesempatan untuk mendalami ilmu yang saya tekuni hingga jenjang yang setinggi mungkin.

Indonesia sendiri, secara resmi sudah merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Tapi, apakah bangsa kita yang telah berusia 72 tahun ini benar-benar merdeka? Kita memang telah merdeka dari penjajah. Namun, rakyat kita sayangnya sepertinya belum mau merdeka. Lihat saja berbagai konflik yang terjadi di Indonesia, yang sebagian besar mengatasnamakan agama demi kepentingan politik. Lihat saja rakyat kita yang masih sangat mudah untuk diadu-domba dan diprovokasi oleh berbagai pihak yang tidak bertanggung jawab.

Saat saya masih tinggal di Indonesia, setiap hari saya selalu dicekoki oleh berita-berita negatif tentang tanah air. Rasanya hampir tidak pernah saya dengar berita yang bagus tentang Indonesia. Sebagai orang Indonesia, saya pernah apatis terhadap masa depan negara ini. Walau sekarang sedikit demi sedikit saya mulai optimis dengan Indonesia.

Kita harus pergi menjauh, supaya bisa memandang tanah air dari sudut pandang yang lebih netral.

Saya pernah membaca kalimat itu. Memang benar, ketika saya berada jauh dari tanah air, sense of belonging terhadap Indonesia semakin kuat. Rasanya saat teman yang berasal dari negara lain bercerita tentang betapa hebat negaranya, saya juga tidak mau kalah berkata “di negara saya juga begitu”. Di sini juga saya seringkali merasa bangga dengan negara Indonesia yang terdiri dari berbagai pulau. Teman-teman dari negara lain iri lho dengan keindahan dan kekayaan negara kita.

Saya juga bangga ketika orang bule melabeli orang Indonesia sebagai pekerja keras. Orang-orang Indonesia selalu berprestasi di luar negeri. Oleh karena itu, banyak yang ditawari untuk bekerja di negeri orang. Dulu waktu saya sekolah di Inggris, ada seorang opa yang sampai membawa selembar peta dunia. Dia hanya ingin menunjukkan betapa jauhnya kami, pelajar-pelajar dari Indonesia, menempuh perjalanan berbelas-belas jam untuk belajar di negerinya Ratu Elizabeth itu. Kenapa mereka begitu kagum? Karena orang Inggris (dan sebagian besar orang Eropa) itu malas untuk jauh-jauh merantau.

Sekarang di Jerman, teman-teman saya juga banyak yang penasaran dengan Indonesia. Mereka ingin mengunjungi Bali, Labuan Bajo, Pulau Komodo, Wakatobi, Raja Ampat, dan berbagai tempat indah lainnya di Indonesia. Saya merasa malu sekali ketika saya hanya bisa menunjukkan gambar-gambar dari Google Images, karena dari semua tempat itu saya baru pernah ke Bali saja. Malu karena saya sudah menjelajahi berbagai negara di dunia, tapi saya belum banyak menjelajahi negara saya sendiri.

Beberapa waktu lalu tersebar tulisan di media sosial yang mengkritik pelajar-pelajar Indonesia di luar negeri yang kebanyakan plesiran. Tapi, apakah mereka tahu bahwa kami di sini tak henti-hentinya mempromosikan budaya Indonesia? Orang-orang Indonesia (yang kurang piknik) memang bisanya hanya mengkritik.

Adakah hal buruk yang saya alami di sini terkait kewarganegaraan saya? Untuk hal-hal yang berhubungan dengan birokrasi, iya saya memang agak sedikit “dicurigai” karena memegang paspor Indonesia. Tapi sejauh ini sih semua urusan sudah berakhir lancar. Oleh karena itu, saya di sini selalu berharap agar situasi di Indonesia selalu aman terkendali. Supaya saya dan teman-teman lain dari Indonesia bisa belajar dengan tenang.

Seenak-enaknya tinggal di negara orang, lebih enak tinggal di negara sendiri. Di sini banyak aturan. Peraturan di Indonesia lebih fleksibel. Di Indonesia, ketika keluar rumah, kita selalu disapa ramah oleh tetangga. Kadangkala kita merasa mereka lebay. Cobalah tinggal di Jerman. Kita mencoba menyapa tetangga, mereka malah pasang muka bingung. Indonesia adalah surganya makanan enak. Di sini? Jangan harap. Sebagian besar makanan di sini hambar tidak ada rasanya. Haha.

Pergilah merantau, maka kamu akan menyadari betapa berharganya tanah airmu

Untuk Indonesia tanah airku, Dirgahayu! Suatu saat saya akan kembali dan membangun tanah air dengan ilmu yang saya miliki. Doakan kami yang sedang berjuang ini.

Walaupun banyak negeri kujalani

Yang mashyur permai dikata orang

Tetapi kampung dan rumahku

Disanalah kurasa senang

Tanahku tak kulupakan

Engkau kubanggakan 

Selamat upacara. Selamat lomba makan kerupuk, balap karung, bakiak, panjat pinang, balap kelereng, dan sebagainya. Di sini 17 Agustus tetap kami lalui layaknya hari biasa. Untuk teman-teman Indonesia di Jerman, ada acara di KBRI Berlin, KJRI Frankfurt, dan KJRI Hamburg. Tapi geng K├Âln tidak bisa join. ­čśÇ

[Sharing] First Things First

Halo! Tidak terasa sudah 1 bulan lebih saya tinggal di Jerman. Sudah mulai bisa beradaptasi dengan segala keteraturan di sini. Walaupun beberapa kali hampir ketabrak sepeda karena (tidak sengaja) berjalan di jalur merah, diklakson mobil gara-gara jalan di sebelah kiri (harusnya jalan di kanan), nyeberang tengoknya kiri di jalur yang harusnya tengok kanan. Sempat terkaget-kaget juga ternyata orang Jerman ada yang bisa senyum juga. Ya begitulah. Sedikit culture shock di minggu-minggu pertama.

Sudah lama tidak sharing, kali ini saya akan sharing sedikit pengalaman saya pada 1 bulan pertama di sini. Semoga berguna untuk teman-teman yang ada rencana untuk studi lanjut di Jerman pada umumnya, dan di UDE pada khususnya (karena peraturan di masing-masing Universitas sedikit berbeda). Oiya, saya sharing di sini dalam kapasitas saya sebagai penerima beasiswa DAAD. Untuk yang studi di sini dengan beasiswa lain, bisa jadi prosesnya tidak semulus yang saya alami.

Secara kronologis prosesnya seperti ini :

Immatrikulasi (Re-registrasi) di Universitas tempat kita akan belajar

Setiap mahasiswa harus melakukan immatrikulasi supaya secara resmi diterima di Universitas. Jadi, walaupun kita sudah menerima Acceptance Letter dari universitas, bukan berarti kita sudah resmi jadi mahasiswa di sana. Ini salah satu perbedaan sistem pendidikan di Jerman dan UK. Di sebagian besar universitas, mahasiswa harus melakukan immatrikulasi pada periode yang sudah ditentukan. Tapi, untungnya di UDE immatrikulasi untuk mahasiswa Doktoral bisa dilakukan kapan saja. Jadilah, saya langsung immatrikulasi di Universitas sebelum ke K├Âln, akhir Mei lalu. Paling lama (kalau di UDE), sekitar 1 minggu kemudian kita akan terima surat dari Universitas yang berisi bukti immatrikulasi, username & password untuk aktivasi email mahasiswa, dan contoh form untuk transfer semester social contribution.

Registrasi diri dan tempat tinggal (Meldebest├Ątigung) di Rathaus (City Hall/ Balai Kota)

Kita harus isi form (tentunya dalam bahasa Jerman) yang kemudian kita kirimkan beserta fotokopi halaman depan passport, halaman yang berisi visa kita, dan dokumen kontrak rumah. Untuk penerima beasiswa DAAD, yang kita harus lakukan hanya isi form dan bebas biaya. Proses selanjutnya akan dikoordinir oleh tempat kursus kita yang sudah diberi kepercayaan oleh DAAD untuk menangani ini. Untuk selain penerima beasiswa DAAD, sepertinya proses ini akan dikenakan biaya (sekitar 20-50 Euro, kayanya) dan yang bersangkutan harus datang sendiri ke Balai Kota dengan membawa segala dokumen yang diperlukan, Tapi, berdasarkan cerita teman saya, prosesnya gak lama dan gak ribet kok, karena memang orang Jerman sangat efisien dalam bekerja. Saya baru sadar 2 hari lalu bahwa ternyata ada kesalahan informasi pada Meldebest├Ątigung saya. Kode pos yang tertulis salah, karena ternyata ada dua jalan dengan nama yang sama dengan tempat tinggal saya. Haha. Sepertinya dokumen saya akan direvisi. Setiap pindah kota, kita harus mendaftarkan alamat baru kita. Jadi nanti ketika saya pindah dari K├Âln ke Essen, saya harus melakukan proses yang sama.

Membuka bank account 

Hal lain yang membedakan Jerman dengan negara lain adalah di sini hampir tidak ada cabang bank internasional. Jadi, kalau kita sekolah atau kerja di Jerman, kita harus punya akun di bank Jerman. Hal ini agak menyusahkan proses transfer dari Indonesia ke Jerman (dan sebaliknya). Untuk membuka bank account ini sebenarnya prosesnya gak ribet. Kita hanya diwajibkan membawa beberapa dokumen, seperti passport dan Meldebest├Ątigung. Tapi, ada beberapa bank yang tidak bisa membukakan account untuk mereka yang memegang passport dari negara-negara tertentu (sebagian besar adalah negara-negara di Timur Tengah). Celakanya, sekarang beberapa bank mulai berpikir untuk memasukkan Indonesia ke dalam “high risk countries” list mereka. Hmm…makanya semoga di tanah air tidak ada kebijakan dan/atau kejadian yang aneh-aneh ya. Menyusahkan kami yang sedang belajar di tanah rantau.

Membayar social contribution ke account universitas 

Ketika kita sudah punya bank account dan sudah melakukan immatrikulasi, kita bisa membayar social contribution ke universitas. Salah satu keuntungan dari membayar social contribution itu, kita bisa menggunakan transportasi (bus, U-Bahn, Stra├čen Bahn, S-Bahn, Kereta Regional) di satu provinsi secara gratis selama satu semester. Makanya dinamakan Semesterticket.

Itu saja sih yang paling krusial. Selain poin-poin di atas, kita juga harus banyak bergaul dengan orang lokal (untuk mengasah kemampuan berbahasa Jerman), dan juga dengan teman-teman dari negara lain. Namun, jangan lupa juga untuk mencari komunitas pelajar/orang Indonesia di kota tempat kalian tinggal. Selain bisa berbagi cerita dengan teman-teman senasib, juga bisa jadi ajang kumpul-kumpul sambil makan-makan. ­čÖé

Salam dari K├Âln yang hari ini hujan

01 Juli 2017

Step 1 : German Language Course

Seperti yang sudah saya ceritakan di post sebelumnya, saya memulai perjalanan studi S3 di Jerman ini dengan belajar bahasa Jerman. Awalnya saya berpikir “ngapain sih belajar bahasa Jerman segala padahal kan nanti saya akan menulis thesis dalam bahasa Inggris?” Eitss..jangan salah..setelah sampai di sini saya baru menyadari bahwa begitu banyak orang Jerman yang tidak bisa berbahasa Inggris. Jadi, untuk bisa survive memang harus memiliki sedikit pengetahuan bahasa Jerman. Selain itu, ketika saya menemui Prof saya minggu lalu beliau bilang bahwa saya sebaiknya bisa bahasa Jerman supaya “nyambung” nanti kalau sudah mulai penelitian. Agak shock juga ketika tahu research group saya beranggotakan orang Jerman semua, kecuali saya. Tapi yasudahlah. Dibawa happy saja. ­čśÇ

Sudah dua hari ini saya mengikuti kursus super intensif bahasa Jerman di Cologne. Biaya kursus dan akomodasi semua ditanggung oleh DAAD. Dapat uang saku pula. Puji Tuhan luar biasa sekali. Makanya harus serius. Saya mengikuti kursus di level A2. Di sini ternyata kursusnya lebih menitikberatkan pada conversation. Pesertanya juga datang dari berbagai negara, yang harus saya akui mereka sangat aktif di kelas. Jujur saja saya agak keteteran. But I will catch up! ­čÖé

Hidup saya di sini masih agak santai, karena setiap hari kursus selesai pukul 13.00. Setelah itu adalah waktu bebas, yang beberapa hari ini saya manfaatkan untuk menemani teman-teman baru saya ke pusat kota untuk membeli SIM card. Haha. Serasa sudah tinggal lama di sini. Oiya saya bertemu dua orang Indonesia di tempat kursus. Senang! Mereka berdua berasal dari Manado. Penerima beasiswa DAAD juga, tetapi berbeda skema dengan saya. Selain itu juga saya berteman dengan orang Pakistan, Malaysia, dan Thailand. Yang orang Thailand ini lucu banget dan berinisiatif membentuk South-east Asian Union. Haha.

Seperti yang telah saya singgung di atas, DAAD sudah menyiapkan akomodasi untuk saya. Puji Tuhan lagi lokasi akomodasi saya juga masih relatif dekat dengan pusat kota. Pemilik rumah (landlady) nya juga baik dan sangat helpful. Beliau sukses mematahkan pendapat saya bahwa orang Jerman itu “dingin”. Kebetulan saya ditempatkan di akomodasi tipe communal residence dan dapat housemate orang Indonesia dan Katolik juga. Jadi bisa ke gereja bareng, deh. Memang berkat Tuhan sangat luar biasa bagi saya. Tidak henti-hentinya bersyukur.

I’m safe and sound, so far!

Cologne. 7 Juni 2017. 9.04 PM

IMG_7427

Kolner Dom, yang dulu cuma bisa saya lihat di postcard. Sekarang hanya berjarak beberapa halte dari tempat tinggal saya.

IMG_7432

Pemandangan dari kamar saya. So refreshing!

Hello, Deutschland!

Akhirnya hari Selasa tanggal 23 Mei 2017 lalu saya tiba di Jerman. Hari-hari pertama saya di sini cukup aman, karena masih ditemani oleh Ibu saya. ­čÖé Meskipun ini sudah kali ke sekian saya menginjakkan kaki di Jerman, namun kali ini terasa berbeda karena saya akan tinggal di sini untuk kurun waktu yang cukup lama. 3 tahun. Excited sekaligus khawatir juga.

Bagaimana kesan pertama saya terhadap Jerman? Negara ini sangat teratur dan warganya juga taat sekali terhadap peraturan-peraturan yang ada. This is nice! Tapi, menurut saya, orang-orang Jerman itu “dingin”. Tidak seperti orang Inggris yang “hangat”. *mulai membandingkan* Semoga kesan pertama saya ini salah ya.

Anyway saya tidak akan langsung memulai perkuliahan. Rentetan perjalanan hidup di tanah rantau ini akan dimulai dengan Kursus Bahasa (Sprachkurs) di Cologne selama bulan Juni hingga September 2017, yang segalanya sudah diorganisir oleh DAAD. Luar biasa sebagai penerima beasiswa, at least sampai detik ini, saya merasa effortless.

Mohon doanya supaya saya betah di sini, cepat beradaptasi, dan dapat banyak teman.

6 tahun lalu, ketika memulai studi master di Inggris, saya membuat kategori “My life in Newcastle” di blog ini. Sekarang juga akan ada kategori baru “My life in Germany”

Semoga akan banyak cerita seru yang bisa saya share di blog ini untuk menambah semangat teman-teman semua. ­čśÇ

Essen, 28 Mei 2017. 10:40 PM

x%ZvLPFyRVSSOEmwatGhIw_thumb_3792

berfoto di depan Essen Hauptbahnhof – ps: iya saya potong rambut pendek (sekali) dan di-highlight merah violet :p