my life in Germany

[Sharing] First Things First

Halo! Tidak terasa sudah 1 bulan lebih saya tinggal di Jerman. Sudah mulai bisa beradaptasi dengan segala keteraturan di sini. Walaupun beberapa kali hampir ketabrak sepeda karena (tidak sengaja) berjalan di jalur merah, diklakson mobil gara-gara jalan di sebelah kiri (harusnya jalan di kanan), nyeberang tengoknya kiri di jalur yang harusnya tengok kanan. Sempat terkaget-kaget juga ternyata orang Jerman ada yang bisa senyum juga. Ya begitulah. Sedikit culture shock di minggu-minggu pertama.

Sudah lama tidak sharing, kali ini saya akan sharing sedikit pengalaman saya pada 1 bulan pertama di sini. Semoga berguna untuk teman-teman yang ada rencana untuk studi lanjut di Jerman pada umumnya, dan di UDE pada khususnya (karena peraturan di masing-masing Universitas sedikit berbeda). Oiya, saya sharing di sini dalam kapasitas saya sebagai penerima beasiswa DAAD. Untuk yang studi di sini dengan beasiswa lain, bisa jadi prosesnya tidak semulus yang saya alami.

Secara kronologis prosesnya seperti ini :

Immatrikulasi (Re-registrasi) di Universitas tempat kita akan belajar

Setiap mahasiswa harus melakukan immatrikulasi supaya secara resmi diterima di Universitas. Jadi, walaupun kita sudah menerima Acceptance Letter dari universitas, bukan berarti kita sudah resmi jadi mahasiswa di sana. Ini salah satu perbedaan sistem pendidikan di Jerman dan UK. Di sebagian besar universitas, mahasiswa harus melakukan immatrikulasi pada periode yang sudah ditentukan. Tapi, untungnya di UDE immatrikulasi untuk mahasiswa Doktoral bisa dilakukan kapan saja. Jadilah, saya langsung immatrikulasi di Universitas sebelum ke Köln, akhir Mei lalu. Paling lama (kalau di UDE), sekitar 1 minggu kemudian kita akan terima surat dari Universitas yang berisi bukti immatrikulasi, username & password untuk aktivasi email mahasiswa, dan contoh form untuk transfer semester social contribution.

Registrasi diri dan tempat tinggal (Meldebestätigung) di Rathaus (City Hall/ Balai Kota)

Kita harus isi form (tentunya dalam bahasa Jerman) yang kemudian kita kirimkan beserta fotokopi halaman depan passport, halaman yang berisi visa kita, dan dokumen kontrak rumah. Untuk penerima beasiswa DAAD, yang kita harus lakukan hanya isi form dan bebas biaya. Proses selanjutnya akan dikoordinir oleh tempat kursus kita yang sudah diberi kepercayaan oleh DAAD untuk menangani ini. Untuk selain penerima beasiswa DAAD, sepertinya proses ini akan dikenakan biaya (sekitar 20-50 Euro, kayanya) dan yang bersangkutan harus datang sendiri ke Balai Kota dengan membawa segala dokumen yang diperlukan, Tapi, berdasarkan cerita teman saya, prosesnya gak lama dan gak ribet kok, karena memang orang Jerman sangat efisien dalam bekerja. Saya baru sadar 2 hari lalu bahwa ternyata ada kesalahan informasi pada Meldebestätigung saya. Kode pos yang tertulis salah, karena ternyata ada dua jalan dengan nama yang sama dengan tempat tinggal saya. Haha. Sepertinya dokumen saya akan direvisi. Setiap pindah kota, kita harus mendaftarkan alamat baru kita. Jadi nanti ketika saya pindah dari Köln ke Essen, saya harus melakukan proses yang sama.

Membuka bank account 

Hal lain yang membedakan Jerman dengan negara lain adalah di sini hampir tidak ada cabang bank internasional. Jadi, kalau kita sekolah atau kerja di Jerman, kita harus punya akun di bank Jerman. Hal ini agak menyusahkan proses transfer dari Indonesia ke Jerman (dan sebaliknya). Untuk membuka bank account ini sebenarnya prosesnya gak ribet. Kita hanya diwajibkan membawa beberapa dokumen, seperti passport dan Meldebestätigung. Tapi, ada beberapa bank yang tidak bisa membukakan account untuk mereka yang memegang passport dari negara-negara tertentu (sebagian besar adalah negara-negara di Timur Tengah). Celakanya, sekarang beberapa bank mulai berpikir untuk memasukkan Indonesia ke dalam “high risk countries” list mereka. Hmm…makanya semoga di tanah air tidak ada kebijakan dan/atau kejadian yang aneh-aneh ya. Menyusahkan kami yang sedang belajar di tanah rantau.

Membayar social contribution ke account universitas 

Ketika kita sudah punya bank account dan sudah melakukan immatrikulasi, kita bisa membayar social contribution ke universitas. Salah satu keuntungan dari membayar social contribution itu, kita bisa menggunakan transportasi (bus, U-Bahn, Straßen Bahn, S-Bahn, Kereta Regional) di satu provinsi secara gratis selama satu semester. Makanya dinamakan Semesterticket.

Itu saja sih yang paling krusial. Selain poin-poin di atas, kita juga harus banyak bergaul dengan orang lokal (untuk mengasah kemampuan berbahasa Jerman), dan juga dengan teman-teman dari negara lain. Namun, jangan lupa juga untuk mencari komunitas pelajar/orang Indonesia di kota tempat kalian tinggal. Selain bisa berbagi cerita dengan teman-teman senasib, juga bisa jadi ajang kumpul-kumpul sambil makan-makan. 🙂

Salam dari Köln yang hari ini hujan

01 Juli 2017

Step 1 : German Language Course

Seperti yang sudah saya ceritakan di post sebelumnya, saya memulai perjalanan studi S3 di Jerman ini dengan belajar bahasa Jerman. Awalnya saya berpikir “ngapain sih belajar bahasa Jerman segala padahal kan nanti saya akan menulis thesis dalam bahasa Inggris?” Eitss..jangan salah..setelah sampai di sini saya baru menyadari bahwa begitu banyak orang Jerman yang tidak bisa berbahasa Inggris. Jadi, untuk bisa survive memang harus memiliki sedikit pengetahuan bahasa Jerman. Selain itu, ketika saya menemui Prof saya minggu lalu beliau bilang bahwa saya sebaiknya bisa bahasa Jerman supaya “nyambung” nanti kalau sudah mulai penelitian. Agak shock juga ketika tahu research group saya beranggotakan orang Jerman semua, kecuali saya. Tapi yasudahlah. Dibawa happy saja. 😀

Sudah dua hari ini saya mengikuti kursus super intensif bahasa Jerman di Cologne. Biaya kursus dan akomodasi semua ditanggung oleh DAAD. Dapat uang saku pula. Puji Tuhan luar biasa sekali. Makanya harus serius. Saya mengikuti kursus di level A2. Di sini ternyata kursusnya lebih menitikberatkan pada conversation. Pesertanya juga datang dari berbagai negara, yang harus saya akui mereka sangat aktif di kelas. Jujur saja saya agak keteteran. But I will catch up! 🙂

Hidup saya di sini masih agak santai, karena setiap hari kursus selesai pukul 13.00. Setelah itu adalah waktu bebas, yang beberapa hari ini saya manfaatkan untuk menemani teman-teman baru saya ke pusat kota untuk membeli SIM card. Haha. Serasa sudah tinggal lama di sini. Oiya saya bertemu dua orang Indonesia di tempat kursus. Senang! Mereka berdua berasal dari Manado. Penerima beasiswa DAAD juga, tetapi berbeda skema dengan saya. Selain itu juga saya berteman dengan orang Pakistan, Malaysia, dan Thailand. Yang orang Thailand ini lucu banget dan berinisiatif membentuk South-east Asian Union. Haha.

Seperti yang telah saya singgung di atas, DAAD sudah menyiapkan akomodasi untuk saya. Puji Tuhan lagi lokasi akomodasi saya juga masih relatif dekat dengan pusat kota. Pemilik rumah (landlady) nya juga baik dan sangat helpful. Beliau sukses mematahkan pendapat saya bahwa orang Jerman itu “dingin”. Kebetulan saya ditempatkan di akomodasi tipe communal residence dan dapat housemate orang Indonesia dan Katolik juga. Jadi bisa ke gereja bareng, deh. Memang berkat Tuhan sangat luar biasa bagi saya. Tidak henti-hentinya bersyukur.

I’m safe and sound, so far!

Cologne. 7 Juni 2017. 9.04 PM

IMG_7427

Kolner Dom, yang dulu cuma bisa saya lihat di postcard. Sekarang hanya berjarak beberapa halte dari tempat tinggal saya.

IMG_7432

Pemandangan dari kamar saya. So refreshing!

Hello, Deutschland!

Akhirnya hari Selasa tanggal 23 Mei 2017 lalu saya tiba di Jerman. Hari-hari pertama saya di sini cukup aman, karena masih ditemani oleh Ibu saya. 🙂 Meskipun ini sudah kali ke sekian saya menginjakkan kaki di Jerman, namun kali ini terasa berbeda karena saya akan tinggal di sini untuk kurun waktu yang cukup lama. 3 tahun. Excited sekaligus khawatir juga.

Bagaimana kesan pertama saya terhadap Jerman? Negara ini sangat teratur dan warganya juga taat sekali terhadap peraturan-peraturan yang ada. This is nice! Tapi, menurut saya, orang-orang Jerman itu “dingin”. Tidak seperti orang Inggris yang “hangat”. *mulai membandingkan* Semoga kesan pertama saya ini salah ya.

Anyway saya tidak akan langsung memulai perkuliahan. Rentetan perjalanan hidup di tanah rantau ini akan dimulai dengan Kursus Bahasa (Sprachkurs) di Cologne selama bulan Juni hingga September 2017, yang segalanya sudah diorganisir oleh DAAD. Luar biasa sebagai penerima beasiswa, at least sampai detik ini, saya merasa effortless.

Mohon doanya supaya saya betah di sini, cepat beradaptasi, dan dapat banyak teman.

6 tahun lalu, ketika memulai studi master di Inggris, saya membuat kategori “My life in Newcastle” di blog ini. Sekarang juga akan ada kategori baru “My life in Germany”

Semoga akan banyak cerita seru yang bisa saya share di blog ini untuk menambah semangat teman-teman semua. 😀

Essen, 28 Mei 2017. 10:40 PM

x%ZvLPFyRVSSOEmwatGhIw_thumb_3792

berfoto di depan Essen Hauptbahnhof – ps: iya saya potong rambut pendek (sekali) dan di-highlight merah violet :p