love

So?

Jadi ceritanya saya lagi iseng lihat-lihat video di Youtube, sampai menemukan video di atas. Friends vs. More Than Friends. Tanpa sadar saya mengaitkan konten video itu dengan peristiwa yang terjadi pada saya.

Beberapa teman sering bilang bahwa saya tidak peka. Jadi, alasan saya single sampai sekarang itu karena saya gak peka. Itu pendapat mereka. Gak tau juga benar atau tidak.

Singkat cerita ada seseorang yang dekat sama saya sejak November 2016. Saya merasa dia hanya menganggap saya teman dan kita berteman secara profesional karena saya juga terlibat suatu proyek dengan dia. Tapi sahabat saya bilang “ih dia tuh suka sama lo, kali La”.

Suatu hari di awal Februari 2017, kita pernah janjian. Hari itu Jumat malam dan hujan. Kami janjian di sebuah mall dekat rumah saya untuk makan dan nonton. Kantor dia di pusat Jakarta, sedangkan meeting point kita di selatan Jakarta. Bisa dibayangkan betapa macetnya jalanan dari kantor dia ke meeting point kita. Jadi, saya sudah perkirakan kalau kemungkinan besar acara ketemuan hari itu akan batal. Tapi ternyata dia datang, naik ojek hujan-hujanan. Padahal beberapa hari sebelumnya bilang lagi sakit radang tenggorokan. Dia bayarin saya makan dan nonton, kemudian dia antar saya pulang.

Kalau definisi “suka” bisa diukur salah satunya dari parameter di atas, ya mungkin saja dia suka sama saya.

Tapi banyak sifat dia yang tidak (belum) bisa saya tolerir. Salah satunya : ingkar janji. Walaupun dia selalu klarifikasi alasannya, tapi tetap saja saya tidak suka. Contohnya, beberapa minggu lalu sebelum saya pergi dia sudah ajak saya ketemu, sudah set waktu. Tapi akhirnya batal. Wajar saya kecewa.

Ketika saya sudah di sini, kami hampir setiap hari berkomunikasi via chat. Kadang juga dia menelepon.

Apa segala definisi di atas itu berarti dia “more than friends?”

Yang saya mau adalah : kalau memang suka, bilang suka. gak perlu pakai kode segala macam. Kan belum tentu saya tolak juga.

Ada teman yang bilang, di umur kita yang sekarang ini sudah tidak perlu legitimasi suatu hubungan dengan kata-kata (baca : prosesi penembakan). Well, buat saya itu perlu. Untuk meminimalisir rasa kecewa kalau ternyata dia hanya menganggap kita teman.

Kalau si tersangka itu tidak sengaja tersasar di blog ini, ya mohon diperjelas aja sih. Haha.

balik kanan maju jalan.

“La, kamu janji ya kalau suatu saat nanti kamu tiba-tiba sudah gak ada perasaan lagi sama dia..kamu jangan musuhi dia” | “Iya, janji”

Percakapan berbulan-bulan lalu dengan teman saya. Berbicara soal memilih pacar, ada satu profesi pria yang bagi saya tidak layak untuk dijadikan pacar (saya) : dokter. Kenapa? Karena saya punya beberapa teman yang berprofesi sebagai dokter dan saya sudah paham sekali bagaimana tidak teraturnya hidup seorang dokter. Saya bukan tipe orang yang, ketika punya pacar, mengharapkan si pacar ada di sisi saya 24/7. Tapi juga bukan orang yang bisa santai-santai saja ketika si cowok menghilang tanpa kabar selama beberapa hari. :p

Tapi, kita tidak pernah tahu jalan hidup kita kan. Singkat kata, pada akhir 2012 sepulangnya saya dari UK, saya bertemu kembali dengan seorang teman lama. Cowok. Profesinya dokter. Jreng! Entah bagaimana caranya, kami menjadi dekat. Selama satu tahun terakhir ini, tidak ada status yang melabeli hubungan kami. Semuanya baik-baik saja. Dia sangat sabar, baik hati, dan suportif. Terlepas dari jam kerjanya yang ajaib. Saya pikir, saya bisa berkompromi dengan keadaannya. Ternyata saya tidak bisa.

Suatu hubungan hanya bisa berjalan jika kedua belah pihak bisa berkompromi dengan keadaan pasangannya. Dia gak salah. Saya yang tidak bisa berkompromi. Jadi, hubungan ini memang tidak bisa berjalan mulus. Jujur, saya belum pernah merasa seyakin ini dengan seseorang, sebelum dia. Namun, pada akhirnya saya menyadari bahwa jangan sampai perasaan ini membutakan saya dan lupa menggunakan logika.

Hidup terus berjalan dan saya memutuskan untuk balik kanan maju jalan. Banyak teman (dan keluarga) yang berharap banyak pada hubungan kami. Maaf kalau mengecewakan kalian ya. Saya sempat ingin bertahan, tapi dia tidak bisa memastikan sampai kapan saya harus menunggu. Ada seorang teman yang juga bilang “kalau dia niat dekatin kamu, dia akan berusaha”. Saya tahu dia sudah berusaha keras untuk itu, tapi memang saat ini keadaannya tidak memungkinkan. Dan dia sebenarnya sudah mengingatkan saya akan hal itu. Saya saja yang tidak bisa menerima keadaan dia saat ini.

Semoga kelak akan ada seorang wanita yang jauh lebih sabar daripada saya dalam menghadapi dia. Haha..banyak kenangan manis sama orang ini yang selalu bikin saya senyum-senyum kalau diingat-ingat lagi.

Semangat terus ya, Pak Dokter. Boleh ada istilah bekas gebetan. Tapi gak ada istilah bekas teman ya. Kita berteman selamanya dan teman sejati selalu mendukung satu sama lain. 🙂

Dengan ini berakhir sudah proses lempar-lemparan #kode. Haha.

ps. saya gak akan menghapus segala postingan di blog ini yang terkait sama dia. silakan dibaca (dan ditebak-tebak) saja, bagi kalian yang kepo.

thumb_422BCC31-CCDA-41EB-B2F5-1674BE55B6FE_1024

foto yang diambil olehnya, pada sesi jalan bareng kita yang pertama. Aula Simfonia, Oktober 2015.

My Thought On Waiting for Someone

People say I’m stupid that I’m waiting for someone in uncertainty. Yes, love apparently has a great effect on someone. It can instantly make someone dumb.

However, if I do a little bit of flashback, then I realise that actually I have quite many reasons to wait for him. Who was the person constantly texting me and commenting on my social media status when I was studying abroad? Who was the person coming to my house less than 24 hours after I landed in Jakarta? Who  was the person attending my concert after long hours of night shift? Who was the person encouraging me to pursue my big dream? The answer is : him.

Despite another fact that (well, I can’t determine the validity, though since I heard about this from my friends) he’s been following me since forever without me knowing about that. Yea, I sounded so dumb back then, right?

Long story short, he’s got accepted to this particular program that make him  currently extremely busy 24/7. And that probably will continue until a couple of years (well, 5 years to be exact) from now. Therefore, we rarely communicate now, and I’m always the one who make efforts. Honestly it becomes a one-way communication somehow right now. Then, another person came bringing what he can’t give to me right now.

I usually take a moment of silence between me and myself, whenever I need to make a big decision in my life. It’s been a while since I did that. A couple of days ago, I took a moment of silence asking myself : “what do I want in my life? do I need a man who already have everything? or do I need a man who is willing to struggle for our dreams, climbing the stairs towards our success together?”

The answer is the second one. And so, I choose to wait for him. Don’t ask me why. Cause, despite the reasons I mentioned above,  I don’t have another reason why I choose to wait in uncertainty. My gut feeling said so. 🙂

For those friends who said that I’m stupid, I don’t care. I’m currently enjoying this stupidity.

to someone who make everything seems so effortless

“You don’t find love. It finds you. It’s got a little bit to do with destiny, fate, and what’s written in the stars.” -Anais Nin

Hey!

We’ve been this close for a while. And everything seems so effortless for me. I’m so glad that you came again to my life out of a sudden. You came to my life when I was trying to recover from a major heartache. I denied this feeling of mine at the beginning and tried to find some reasons to not letting you enter my life. The more I tried, the more I failed to find those reasons.

Thank you for always making efforts for me, in the middle of your tight schedule. Still remember that Saturday in June when you attended my choir concert after staying for a night shift followed by a morning shift at the hospital. I know how tired you were by looking at your face. Sometimes I feel that you’re too good for me. But then I realise maybe you’re a gift from God. I’m grateful.

I don’t want to label what’s going on between us right now. Cause such label will just give pressure for us. We’re there for each other. We pray for each other in silence. We support each other, for sure. We’re this close but we still give spaces for each other to grow.

We never know what the future holds indeed, but if we’re meant to be together, I believe we’ll be.

Take care, Doc! I won’t leave you anymore. Though one day I might leave you for a while, well, you already have my heart at least.

yang (katanya) dewasa, yang galau

Adik bungsu saya berusia 17 tahun, kelas 3 SMA. Sepertinya dia sedang jatuh cinta. “Mbak Ella, aku punya gebetan. Anak sekolah lain.”, begitu katanya..bangga. “Mbak Ella, gih cepat cari suami”, lanjutnya. Dia kira cari suami, segampang cari siomay.

Lucu juga ya melihat anak-anak remaja seusia adik saya itu. Ketika dua remaja saling tertarik, mereka ungkapkan rasa itu, kemudian pacaran. Simple. Lebih bagus lagi kalau hubungan pacaran itu malah bisa menambah semangat belajar kedua belah pihak. Saya juga dulu seperti itu. Hanya saja, belum pernah berakhir sampai pacaran. Berteman dekat saja, karena entah kenapa sejak dulu saya agak malas dengan sesuatu yang bernama komitmen,. Kalau sudah pacaran, berarti gak bisa melirik yang lain dong. Haha.

Namun, semakin bertambah usia, terlebih setelah usia melewati angka 25, saya semakin berhati-hati dalam menjalani sebuah hubungan. Tidak hanya saya sebagai pihak wanita. Para pria seusia saya pun begitu. Lebih selektif dan lebih banyak pertimbangan. Terkadang saya malah terlalu menikmati status sebagai wanita single dan takut akan kehilangan kebebasan jika suatu saat nanti saya punya pacar dan akhirnya menikah.

Dalam 2 tahun terakhir ini, saya menjalani dua hubungan (“pertemanan”) yang agak  menjurus ke serius dengan 2 orang pria –bingung kan?– (tentunya di dalam periode waktu yang berbeda yaaaa!). Yang pertama usianya jauh di atas saya dan masih mempertimbangkan karirnya yang belum mapan sehingga menikah bukanlah prioritas hidupnya saat ini. Yang kedua (alias yang sekarang) seusia dengan saya dan masih mengejar cita-citanya tapi kadang galau juga memikirkan kapan harus menikah tapi kemudian kembali sadar akan cita-citanya. Saya sendiri bagaimana? Saya tidak mau pacaran yang tidak jelas ujungnya. Tetapi, memutuskan untuk menikah pun tidak bisa main-main. Dibutuhkan komitmen seumur hidup. So, sekarang ya masih single saja, menikmati pekerjaan, dan mempersiapkan petualangan (akademik) yang selanjutnya.

Di usia ini, mulai banyak tekanan dari pihak luar yang dengan semena-mena bertanya : “sudah punya calon belum? kapan nikah?”, seolah mereka yang paling tahu bagaimana membuat kita bahagia. Yang begini, baiknya dicuekin saja. *peace*

Jadi, janganlah kita men-judge para remaja itu sebagai generasi galau, karena generasi 25++ pun tidak kalah galau. Tetapi jangan sampai kita menjadi tidak selektif dalam memilih pendamping hidup, hanya karena sudah dikejar usia.

Saya selalu percaya, wanita baik akan berpasangan dengan pria yang baik pula.

Untukmu Yang Berjuang Sendirian

Sudah lama saya ingin menulis ini, tetapi saya tahan. Karena saya pikir ini hanya perasaan saya saja, dan saya akan sedih lagi kalau akhirnya tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Sebenarnya sekarang juga masih ragu, tapi ya sudahlah.

Saya hanya ingin bilang bahwa sulit bagi seseorang yang selalu berjuang sendirian dalam hal cinta (haissh), seperti saya ini untuk menyadari bahwa ada seseorang yang ternyata memperjuangkan saya.

Teruntuk kamu, maaf kalau saya selama ini cuek-cuek saja. Tapi, kamu juga tahu kan? Komitmen itu mudah diucapkan, tapi suit diterapkan. Maka, biarkan ini semua mengalir sebagaimana mestinya saja ya. Biarkan diri kita saling mengenal satu sama lain lebih dekat. Karena, saya masih harus memperbaiki beberapa hal di dalam diri saya supaya pantas bersanding dengan dirimu. Mungkin kamu pun begitu.

Satu hal yang perlu kamu tahu, rasa itu sudah ada sejak pertama kali kita bertemu lagi setelah beberapa tahun. Dan sejak itu terus berkembang, walaupun saya selalu menyangkal. Sekarang kamu tidak lagi perlu berjuang sendirian. Karena ada saya.

Terima kasih untuk pesan-pesan text kamu yang singkat-singkat. Terima kasih untuk segala kata-kata, petuah-petuah, serta candaan seru yang kamu lontarkan manakala kita berkesempatan untuk bertemu langsung. Terima kasih karena sudah berusaha mencari dan akhirnya menemukan saya kembali.

Kita selesaikan urusan kita masing-masing dulu ya. Seperti katamu : “Jika kamu mau berjalan cepat, jalanlah sendirian. Tetapi jika kamu ingin berjalan jauh, jalanlah bersama-sama”

Kesibukan membuat kita jarang bertemu langsung, tapi doa dan support saya untukmu. 🙂

Ketika Ibu Bertanya

Ketika Ibu tiba-tiba bertanya “Ella, udah ada yang approach belum?”. Tidak biasanya Ibu saya menanyakan hal yang seperti itu. Mungkin beliau agak khawatir juga kalau anak perempuan sulungnya ini keasyikkan kerja sampai lupa pacaran.

Jujur saja, semakin saya dewasa, semakin saya hati-hati untuk pacaran. Ditambah lagi, baru saja saya kecewa sama seseorang. Jadi, ceritanya sekarang mau memplester hati saya dulu. Haha. Untuk kasus yang terakhir, saya padahal sudah super hati-hati membuka diri untuk seseorang itu. Endingnya? Sudah bisa ditebak.

Dan akhirnya saya menjawab pertanyaan ibu saya : “Sekarang Ella mau berteman sebanyak-banyaknya dulu sampai ketemu sama yang tepat”.

Karena saya tidak perlu seorang pria yang menghujani saya dengan perhatian yang berlebihan, menghujani saya dengan traktiran-traktiran, menasihati saya dengan ayat-ayat alkitab tetapi banyak perbuatannya yang tidak sesuai dengan ucapannya, yang rela mengubah dirinya supaya dianggap cool. Saya tidak perlu yang seperti itu.

Saya perlu pria yang bisa jadi teman berdiskusi dan bertukar pikiran. Saya perlu pria yang selalu mengandalkan Tuhan dalam segala hal dan terlihat dalam perbuatannya, bukan hanya sekedar pamer ke gereja, pamer doa novena, dll tapi pada kenyataannya terkadang masih mempertanyakan eksistensi Tuhan. Saya perlu pria yang tidak khawatir dengan rencana-rencana saya di masa depan, melainkan yang mau ikut serta bersama saya mewujudkan rencana-rencana tersebut dan juga mau melibatkan saya dalam perjuangan mewujudkan rencana-rencananya.

Saya yakin, orang itu sudah ada di luar sana. Tinggal menunggu waktu di saat kita berdua sudah siap. 🙂

Jadi, Ibu, sabar ya!