love

On Being An Independent Woman

Beberapa waktu lalu ada seorang teman di sini yang “menegur” saya sambil bercanda : “Ella, kamu itu independen sekali ya. Tidak ada salahnya lho sekali-kali manja.”

Jawaban spontan saya : “saya geli kalau harus bermanja-manja, apalagi sama cowok”

Ya, saya dididik untuk menjadi seorang yang tangguh. Sejak saya kecil, orang tua saya tidak pernah mengajarkan saya untuk bergantung pada siapapun. Mulai dari hal sekecil merapikan tempat tidur, cuci piring, dan sebagainya, saya lakukan sendiri walaupun dulu di rumah ada ART.

Mungkin hal itulah yang membuat saya tidak pernah merasa takut tinggal berjauhan dengan orang tua. Mereka menyediakan segala fasilitas yang saya perlukan, tetapi saya sudah dibiasakan untuk mengurus keperluan saya sendiri.

Beranjak dewasa, saya mulai dekat dengan pria. Pada masa inilah saya menyadari bahwa sebagian besar pria tidak menyukai wanita yang independen. Apakah lantas saya mengubah kepribadian supaya menjadi seorang wanita yang “disukai” oleh pria? Tidak. Justru dengan kriteria ini saya bisa menyeleksi pria mana yang layak saya harapkan. Ternyata masih ada kok pria yang tidak terintimidasi dengan seorang wanita independen seperti saya. 🙂

Jujur saja, wacana tentang “wanita independen tidak disukai pria” ini sempat menghantui pikirian saya. Bagaimana kalau pria-pria itu berpikir bahwa saya terlalu picky? Tapi pada akhirnya, hey justru saya harus picky untuk hal-hal yang berkaitan dengan masa depan saya.

Saya tidak mempan dengan kata-kata puitis nan romantis. Tapi saya bisa jatuh hati dengan seseorang yang mempunyai visi jelas tentang masa depannya. Saya jatuh hati dengan seseorang yang punya mimpi. Saya jatuh hati dengan seseorang yang berorientasi pada solusi dari suatu masalah, bukan malah memperkeruh situasi. Saya jatuh hati dengan seseorang yang bisa romantis di saat yang tepat (contohnya ketika saya sakit).

Seorang wanita independen juga membutuhkan kehadiran seorang pria. Tetapi bukan pria biasa. Hanya pria tangguh yang bisa berjalan berdampingan dengan seorang wanita tangguh.

Pada akhirnya, apakah saya perlu berubah menjadi seorang wanita yang dependen? Tidak! 🙂

(Almost) two years and counting. Masih dia yang sama, yang cuek nyebelin, tapi suka tertawa terkekeh. Bedanya? Dulu jarak rumah kami hanya berkisar 5 kilometer-an, jarak kantor cuma sebatas Jakarta Pusat-Jakarta Timur. Sekarang, jarak kami ribuan kilometer ditambah beda waktu 5 jam. Tidak ada lagi dia yang naik motor samperin saya ke rumah. Hanya sesekali muncul notifikasi dari dia di layar telepon genggam saya.

Mungkin kalau dulu saya tidak ketemu dia lagi, sekarang saya gak ada di Jerman.

 

The Best vs The Better

God already given me the best one but I still keep on searching to find the better one instead.

Mendadak kalimat itu terlintas di pikiran saya ketika saya merenung pagi tadi. Kembali membahas masalah hati dan perasaan. Saya merasa tidak mensyukuri anugerah Tuhan karena menyesali kondisi saya yang hingga saat ini masih single. Ketika curhat dengan orang-orang terdekat, topik pembicaraan juga pasti ujung-ujungnya nyenggol ke sana.

Saya berusaha mencari seseorang yang lebih baik buat saya, padahal saya sudah dipertemukan dengan yang terbaik. Dia yang selalu mengikuti perkembangan saya dari jauh, yang pada akhirnya berani maju selangkah demi selangkah. Pasti luar biasa pergumulan yang sudah terjadi dalam hatinya, menebak-nebak apakah saya nyaman dengan kehadirannya.

Tetapi, ketika pada suatu hari saya dikenalkan dengan seorang lain yang ternyata bisa mengisi sedikit kekosongan di hati, saya meninggalkan dia yang sudah berjuang untuk saya itu. Semakin saya berpikir, saya merasa bahwa ada yang salah dengan saya. Jujur saya sempat terbutakan dengan perhatian semu dari seseorang yang saya anggap lebih baik itu. Tiga hari lalu saya sampai pada titik di mana saya membandingkan kepribadian dua orang itu. Ditinjau dari segala sisi, dia memang jauh lebih baik. Kemarin saya video call sama Ibu, dan beliau tanya tentang kondisi percintaan saya. Biasalah itu saya memang selalu curhat sama Ibu. Beliau juga lebih setuju kalau saya sama yang pertama saja. Haha. Sehingga sempat agak “menentang” ketika saya mulai dekat dengan yang kedua. Ternyata memang insting seorang Ibu itu benar ya.

Jadi saya kemudian mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada diri saya. Siapa yang semangatin saya ketika saya lagi down? Siapa yang dorong saya buat sekolah lagi? Siapa yang paling bahagia ketika saya lolos beasiswa? Siapa yang mau mengorbankan waktunya untuk bertemu dengan saya? Jawabannya cuma satu : dia.

It seems so unfair if I leave him just because it took him so long to answer my text. Sedangkan dulu dia sudah pernah menunggu saya bertahun-tahun tanpa kepastian. Tiga tahun ke depan kita memang terpisah jarak dan waktu. Saya di Jerman, dia di Indonesia. Komunikasi juga sepertinya agak susah, karena dia profesi dia menuntutnya untuk mengutamakan keselamatan orang lain di atas kepentingan pribadinya.

Tapi, satu hal yang pasti, dia dekati saya tanpa tendensi apapun. Saya tahu itu.

Beberapa hari lalu saya dinasihati sama teman serumah saya :

“Jangan pernah kita merasa bisa mengubah kebiasaan buruk seseorang. Ketika kita memutuskan untuk menikah sama seseorang, kita harus bisa menerima kebiasaan buruknya seumur hidup kita. Kalau kamu belum bisa menerima, lebih baik tidak usah dilanjutkan”

Nasihat itu yang membuat saya berpikir dan membawa saya pada titik ini.

Mari nikmati masa-masa ini dengan penuh rasa syukur. Saya akhirnya bisa ke Jerman. Dia akhirnya bisa belajar bedah-bedah juga. Dia orang yang gigih, tidak pernah mengeluh, selalu sigap bantu orang sampai seringkali “dimanfaatkan” juga sama orang-orang di sekitarnya.

Terkadang kangen diskusi bareng dia, baik diskusi yang serius maupun yang tidak serius. Lebih kangen lagi duduk bersebelahan dengan dia, karena entah kenapa sepertinya dia punya heat transfer energy. Hangat sekali duduk di sebelah dia. Haha.

Love is complicated, indeed.

Tulisan ini dibuat pada hari Minggu, 30 Juli 2017.

 

So?

Jadi ceritanya saya lagi iseng lihat-lihat video di Youtube, sampai menemukan video di atas. Friends vs. More Than Friends. Tanpa sadar saya mengaitkan konten video itu dengan peristiwa yang terjadi pada saya.

Beberapa teman sering bilang bahwa saya tidak peka. Jadi, alasan saya single sampai sekarang itu karena saya gak peka. Itu pendapat mereka. Gak tau juga benar atau tidak.

Singkat cerita ada seseorang yang dekat sama saya sejak November 2016. Saya merasa dia hanya menganggap saya teman dan kita berteman secara profesional karena saya juga terlibat suatu proyek dengan dia. Tapi sahabat saya bilang “ih dia tuh suka sama lo, kali La”.

Suatu hari di awal Februari 2017, kita pernah janjian. Hari itu Jumat malam dan hujan. Kami janjian di sebuah mall dekat rumah saya untuk makan dan nonton. Kantor dia di pusat Jakarta, sedangkan meeting point kita di selatan Jakarta. Bisa dibayangkan betapa macetnya jalanan dari kantor dia ke meeting point kita. Jadi, saya sudah perkirakan kalau kemungkinan besar acara ketemuan hari itu akan batal. Tapi ternyata dia datang, naik ojek hujan-hujanan. Padahal beberapa hari sebelumnya bilang lagi sakit radang tenggorokan. Dia bayarin saya makan dan nonton, kemudian dia antar saya pulang.

Kalau definisi “suka” bisa diukur salah satunya dari parameter di atas, ya mungkin saja dia suka sama saya.

Tapi banyak sifat dia yang tidak (belum) bisa saya tolerir. Salah satunya : ingkar janji. Walaupun dia selalu klarifikasi alasannya, tapi tetap saja saya tidak suka. Contohnya, beberapa minggu lalu sebelum saya pergi dia sudah ajak saya ketemu, sudah set waktu. Tapi akhirnya batal. Wajar saya kecewa.

Ketika saya sudah di sini, kami hampir setiap hari berkomunikasi via chat. Kadang juga dia menelepon.

Apa segala definisi di atas itu berarti dia “more than friends?”

Yang saya mau adalah : kalau memang suka, bilang suka. gak perlu pakai kode segala macam. Kan belum tentu saya tolak juga.

Ada teman yang bilang, di umur kita yang sekarang ini sudah tidak perlu legitimasi suatu hubungan dengan kata-kata (baca : prosesi penembakan). Well, buat saya itu perlu. Untuk meminimalisir rasa kecewa kalau ternyata dia hanya menganggap kita teman.

Kalau si tersangka itu tidak sengaja tersasar di blog ini, ya mohon diperjelas aja sih. Haha.

balik kanan maju jalan.

“La, kamu janji ya kalau suatu saat nanti kamu tiba-tiba sudah gak ada perasaan lagi sama dia..kamu jangan musuhi dia” | “Iya, janji”

Percakapan berbulan-bulan lalu dengan teman saya. Berbicara soal memilih pacar, ada satu profesi pria yang bagi saya tidak layak untuk dijadikan pacar (saya) : dokter. Kenapa? Karena saya punya beberapa teman yang berprofesi sebagai dokter dan saya sudah paham sekali bagaimana tidak teraturnya hidup seorang dokter. Saya bukan tipe orang yang, ketika punya pacar, mengharapkan si pacar ada di sisi saya 24/7. Tapi juga bukan orang yang bisa santai-santai saja ketika si cowok menghilang tanpa kabar selama beberapa hari. :p

Tapi, kita tidak pernah tahu jalan hidup kita kan. Singkat kata, pada akhir 2012 sepulangnya saya dari UK, saya bertemu kembali dengan seorang teman lama. Cowok. Profesinya dokter. Jreng! Entah bagaimana caranya, kami menjadi dekat. Selama satu tahun terakhir ini, tidak ada status yang melabeli hubungan kami. Semuanya baik-baik saja. Dia sangat sabar, baik hati, dan suportif. Terlepas dari jam kerjanya yang ajaib. Saya pikir, saya bisa berkompromi dengan keadaannya. Ternyata saya tidak bisa.

Suatu hubungan hanya bisa berjalan jika kedua belah pihak bisa berkompromi dengan keadaan pasangannya. Dia gak salah. Saya yang tidak bisa berkompromi. Jadi, hubungan ini memang tidak bisa berjalan mulus. Jujur, saya belum pernah merasa seyakin ini dengan seseorang, sebelum dia. Namun, pada akhirnya saya menyadari bahwa jangan sampai perasaan ini membutakan saya dan lupa menggunakan logika.

Hidup terus berjalan dan saya memutuskan untuk balik kanan maju jalan. Banyak teman (dan keluarga) yang berharap banyak pada hubungan kami. Maaf kalau mengecewakan kalian ya. Saya sempat ingin bertahan, tapi dia tidak bisa memastikan sampai kapan saya harus menunggu. Ada seorang teman yang juga bilang “kalau dia niat dekatin kamu, dia akan berusaha”. Saya tahu dia sudah berusaha keras untuk itu, tapi memang saat ini keadaannya tidak memungkinkan. Dan dia sebenarnya sudah mengingatkan saya akan hal itu. Saya saja yang tidak bisa menerima keadaan dia saat ini.

Semoga kelak akan ada seorang wanita yang jauh lebih sabar daripada saya dalam menghadapi dia. Haha..banyak kenangan manis sama orang ini yang selalu bikin saya senyum-senyum kalau diingat-ingat lagi.

Semangat terus ya, Pak Dokter. Boleh ada istilah bekas gebetan. Tapi gak ada istilah bekas teman ya. Kita berteman selamanya dan teman sejati selalu mendukung satu sama lain. 🙂

Dengan ini berakhir sudah proses lempar-lemparan #kode. Haha.

ps. saya gak akan menghapus segala postingan di blog ini yang terkait sama dia. silakan dibaca (dan ditebak-tebak) saja, bagi kalian yang kepo.

thumb_422BCC31-CCDA-41EB-B2F5-1674BE55B6FE_1024

foto yang diambil olehnya, pada sesi jalan bareng kita yang pertama. Aula Simfonia, Oktober 2015.

My Thought On Waiting for Someone

People say I’m stupid that I’m waiting for someone in uncertainty. Yes, love apparently has a great effect on someone. It can instantly make someone dumb.

However, if I do a little bit of flashback, then I realise that actually I have quite many reasons to wait for him. Who was the person constantly texting me and commenting on my social media status when I was studying abroad? Who was the person coming to my house less than 24 hours after I landed in Jakarta? Who  was the person attending my concert after long hours of night shift? Who was the person encouraging me to pursue my big dream? The answer is : him.

Despite another fact that (well, I can’t determine the validity, though since I heard about this from my friends) he’s been following me since forever without me knowing about that. Yea, I sounded so dumb back then, right?

Long story short, he’s got accepted to this particular program that make him  currently extremely busy 24/7. And that probably will continue until a couple of years (well, 5 years to be exact) from now. Therefore, we rarely communicate now, and I’m always the one who make efforts. Honestly it becomes a one-way communication somehow right now. Then, another person came bringing what he can’t give to me right now.

I usually take a moment of silence between me and myself, whenever I need to make a big decision in my life. It’s been a while since I did that. A couple of days ago, I took a moment of silence asking myself : “what do I want in my life? do I need a man who already have everything? or do I need a man who is willing to struggle for our dreams, climbing the stairs towards our success together?”

The answer is the second one. And so, I choose to wait for him. Don’t ask me why. Cause, despite the reasons I mentioned above,  I don’t have another reason why I choose to wait in uncertainty. My gut feeling said so. 🙂

For those friends who said that I’m stupid, I don’t care. I’m currently enjoying this stupidity.

to someone who make everything seems so effortless

“You don’t find love. It finds you. It’s got a little bit to do with destiny, fate, and what’s written in the stars.” -Anais Nin

Hey!

We’ve been this close for a while. And everything seems so effortless for me. I’m so glad that you came again to my life out of a sudden. You came to my life when I was trying to recover from a major heartache. I denied this feeling of mine at the beginning and tried to find some reasons to not letting you enter my life. The more I tried, the more I failed to find those reasons.

Thank you for always making efforts for me, in the middle of your tight schedule. Still remember that Saturday in June when you attended my choir concert after staying for a night shift followed by a morning shift at the hospital. I know how tired you were by looking at your face. Sometimes I feel that you’re too good for me. But then I realise maybe you’re a gift from God. I’m grateful.

I don’t want to label what’s going on between us right now. Cause such label will just give pressure for us. We’re there for each other. We pray for each other in silence. We support each other, for sure. We’re this close but we still give spaces for each other to grow.

We never know what the future holds indeed, but if we’re meant to be together, I believe we’ll be.

Take care, Doc! I won’t leave you anymore. Though one day I might leave you for a while, well, you already have my heart at least.

yang (katanya) dewasa, yang galau

Adik bungsu saya berusia 17 tahun, kelas 3 SMA. Sepertinya dia sedang jatuh cinta. “Mbak Ella, aku punya gebetan. Anak sekolah lain.”, begitu katanya..bangga. “Mbak Ella, gih cepat cari suami”, lanjutnya. Dia kira cari suami, segampang cari siomay.

Lucu juga ya melihat anak-anak remaja seusia adik saya itu. Ketika dua remaja saling tertarik, mereka ungkapkan rasa itu, kemudian pacaran. Simple. Lebih bagus lagi kalau hubungan pacaran itu malah bisa menambah semangat belajar kedua belah pihak. Saya juga dulu seperti itu. Hanya saja, belum pernah berakhir sampai pacaran. Berteman dekat saja, karena entah kenapa sejak dulu saya agak malas dengan sesuatu yang bernama komitmen,. Kalau sudah pacaran, berarti gak bisa melirik yang lain dong. Haha.

Namun, semakin bertambah usia, terlebih setelah usia melewati angka 25, saya semakin berhati-hati dalam menjalani sebuah hubungan. Tidak hanya saya sebagai pihak wanita. Para pria seusia saya pun begitu. Lebih selektif dan lebih banyak pertimbangan. Terkadang saya malah terlalu menikmati status sebagai wanita single dan takut akan kehilangan kebebasan jika suatu saat nanti saya punya pacar dan akhirnya menikah.

Dalam 2 tahun terakhir ini, saya menjalani dua hubungan (“pertemanan”) yang agak  menjurus ke serius dengan 2 orang pria –bingung kan?– (tentunya di dalam periode waktu yang berbeda yaaaa!). Yang pertama usianya jauh di atas saya dan masih mempertimbangkan karirnya yang belum mapan sehingga menikah bukanlah prioritas hidupnya saat ini. Yang kedua (alias yang sekarang) seusia dengan saya dan masih mengejar cita-citanya tapi kadang galau juga memikirkan kapan harus menikah tapi kemudian kembali sadar akan cita-citanya. Saya sendiri bagaimana? Saya tidak mau pacaran yang tidak jelas ujungnya. Tetapi, memutuskan untuk menikah pun tidak bisa main-main. Dibutuhkan komitmen seumur hidup. So, sekarang ya masih single saja, menikmati pekerjaan, dan mempersiapkan petualangan (akademik) yang selanjutnya.

Di usia ini, mulai banyak tekanan dari pihak luar yang dengan semena-mena bertanya : “sudah punya calon belum? kapan nikah?”, seolah mereka yang paling tahu bagaimana membuat kita bahagia. Yang begini, baiknya dicuekin saja. *peace*

Jadi, janganlah kita men-judge para remaja itu sebagai generasi galau, karena generasi 25++ pun tidak kalah galau. Tetapi jangan sampai kita menjadi tidak selektif dalam memilih pendamping hidup, hanya karena sudah dikejar usia.

Saya selalu percaya, wanita baik akan berpasangan dengan pria yang baik pula.