life

On Being An Independent Woman

Beberapa waktu lalu ada seorang teman di sini yang “menegur” saya sambil bercanda : “Ella, kamu itu independen sekali ya. Tidak ada salahnya lho sekali-kali manja.”

Jawaban spontan saya : “saya geli kalau harus bermanja-manja, apalagi sama cowok”

Ya, saya dididik untuk menjadi seorang yang tangguh. Sejak saya kecil, orang tua saya tidak pernah mengajarkan saya untuk bergantung pada siapapun. Mulai dari hal sekecil merapikan tempat tidur, cuci piring, dan sebagainya, saya lakukan sendiri walaupun dulu di rumah ada ART.

Mungkin hal itulah yang membuat saya tidak pernah merasa takut tinggal berjauhan dengan orang tua. Mereka menyediakan segala fasilitas yang saya perlukan, tetapi saya sudah dibiasakan untuk mengurus keperluan saya sendiri.

Beranjak dewasa, saya mulai dekat dengan pria. Pada masa inilah saya menyadari bahwa sebagian besar pria tidak menyukai wanita yang independen. Apakah lantas saya mengubah kepribadian supaya menjadi seorang wanita yang “disukai” oleh pria? Tidak. Justru dengan kriteria ini saya bisa menyeleksi pria mana yang layak saya harapkan. Ternyata masih ada kok pria yang tidak terintimidasi dengan seorang wanita independen seperti saya. 🙂

Jujur saja, wacana tentang “wanita independen tidak disukai pria” ini sempat menghantui pikirian saya. Bagaimana kalau pria-pria itu berpikir bahwa saya terlalu picky? Tapi pada akhirnya, hey justru saya harus picky untuk hal-hal yang berkaitan dengan masa depan saya.

Saya tidak mempan dengan kata-kata puitis nan romantis. Tapi saya bisa jatuh hati dengan seseorang yang mempunyai visi jelas tentang masa depannya. Saya jatuh hati dengan seseorang yang punya mimpi. Saya jatuh hati dengan seseorang yang berorientasi pada solusi dari suatu masalah, bukan malah memperkeruh situasi. Saya jatuh hati dengan seseorang yang bisa romantis di saat yang tepat (contohnya ketika saya sakit).

Seorang wanita independen juga membutuhkan kehadiran seorang pria. Tetapi bukan pria biasa. Hanya pria tangguh yang bisa berjalan berdampingan dengan seorang wanita tangguh.

Pada akhirnya, apakah saya perlu berubah menjadi seorang wanita yang dependen? Tidak! 🙂

(Almost) two years and counting. Masih dia yang sama, yang cuek nyebelin, tapi suka tertawa terkekeh. Bedanya? Dulu jarak rumah kami hanya berkisar 5 kilometer-an, jarak kantor cuma sebatas Jakarta Pusat-Jakarta Timur. Sekarang, jarak kami ribuan kilometer ditambah beda waktu 5 jam. Tidak ada lagi dia yang naik motor samperin saya ke rumah. Hanya sesekali muncul notifikasi dari dia di layar telepon genggam saya.

Mungkin kalau dulu saya tidak ketemu dia lagi, sekarang saya gak ada di Jerman.

 

The Best vs The Better

God already given me the best one but I still keep on searching to find the better one instead.

Mendadak kalimat itu terlintas di pikiran saya ketika saya merenung pagi tadi. Kembali membahas masalah hati dan perasaan. Saya merasa tidak mensyukuri anugerah Tuhan karena menyesali kondisi saya yang hingga saat ini masih single. Ketika curhat dengan orang-orang terdekat, topik pembicaraan juga pasti ujung-ujungnya nyenggol ke sana.

Saya berusaha mencari seseorang yang lebih baik buat saya, padahal saya sudah dipertemukan dengan yang terbaik. Dia yang selalu mengikuti perkembangan saya dari jauh, yang pada akhirnya berani maju selangkah demi selangkah. Pasti luar biasa pergumulan yang sudah terjadi dalam hatinya, menebak-nebak apakah saya nyaman dengan kehadirannya.

Tetapi, ketika pada suatu hari saya dikenalkan dengan seorang lain yang ternyata bisa mengisi sedikit kekosongan di hati, saya meninggalkan dia yang sudah berjuang untuk saya itu. Semakin saya berpikir, saya merasa bahwa ada yang salah dengan saya. Jujur saya sempat terbutakan dengan perhatian semu dari seseorang yang saya anggap lebih baik itu. Tiga hari lalu saya sampai pada titik di mana saya membandingkan kepribadian dua orang itu. Ditinjau dari segala sisi, dia memang jauh lebih baik. Kemarin saya video call sama Ibu, dan beliau tanya tentang kondisi percintaan saya. Biasalah itu saya memang selalu curhat sama Ibu. Beliau juga lebih setuju kalau saya sama yang pertama saja. Haha. Sehingga sempat agak “menentang” ketika saya mulai dekat dengan yang kedua. Ternyata memang insting seorang Ibu itu benar ya.

Jadi saya kemudian mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada diri saya. Siapa yang semangatin saya ketika saya lagi down? Siapa yang dorong saya buat sekolah lagi? Siapa yang paling bahagia ketika saya lolos beasiswa? Siapa yang mau mengorbankan waktunya untuk bertemu dengan saya? Jawabannya cuma satu : dia.

It seems so unfair if I leave him just because it took him so long to answer my text. Sedangkan dulu dia sudah pernah menunggu saya bertahun-tahun tanpa kepastian. Tiga tahun ke depan kita memang terpisah jarak dan waktu. Saya di Jerman, dia di Indonesia. Komunikasi juga sepertinya agak susah, karena dia profesi dia menuntutnya untuk mengutamakan keselamatan orang lain di atas kepentingan pribadinya.

Tapi, satu hal yang pasti, dia dekati saya tanpa tendensi apapun. Saya tahu itu.

Beberapa hari lalu saya dinasihati sama teman serumah saya :

“Jangan pernah kita merasa bisa mengubah kebiasaan buruk seseorang. Ketika kita memutuskan untuk menikah sama seseorang, kita harus bisa menerima kebiasaan buruknya seumur hidup kita. Kalau kamu belum bisa menerima, lebih baik tidak usah dilanjutkan”

Nasihat itu yang membuat saya berpikir dan membawa saya pada titik ini.

Mari nikmati masa-masa ini dengan penuh rasa syukur. Saya akhirnya bisa ke Jerman. Dia akhirnya bisa belajar bedah-bedah juga. Dia orang yang gigih, tidak pernah mengeluh, selalu sigap bantu orang sampai seringkali “dimanfaatkan” juga sama orang-orang di sekitarnya.

Terkadang kangen diskusi bareng dia, baik diskusi yang serius maupun yang tidak serius. Lebih kangen lagi duduk bersebelahan dengan dia, karena entah kenapa sepertinya dia punya heat transfer energy. Hangat sekali duduk di sebelah dia. Haha.

Love is complicated, indeed.

Tulisan ini dibuat pada hari Minggu, 30 Juli 2017.

 

Flashback

Tadi pagi begitu bangun tidur, seperti lazimnya aktivitas rutin di akhir minggu, saya cek timeline salah satu media sosial. Teman saya ada yang posting foto wisuda ITB Juli 2017. Mendadak saya teringat momen yang sama, 7 tahun lalu. Ya, pada bulan Juli 2010 saya resmi keluar dari Institut Teknologi Bandung (lewat Sabuga, bukan lewat Annex), dengan menyandang gelar Sarjana Sains setelah menjalani masa studi selama 4 tahun. Masih teringat drama (sidang yang diulang!), yang menyertai proses kelulusan saya dari program S1 Mikrobiologi.

Sudah banyak yang terjadi semenjak saya meninggalkan kampus di Jl. Ganesa 10, Bandung itu, sampai sekarang 7 tahun kemudian saya terdampar di Jerman ini.

Masa-masa awal kelulusan dipenuhi dengan euforia. Tapi setelah beberapa bulan, jujur saja saya merasa takut jadi pengangguran. Pada masa itu, sulit sekali mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang saya. Beberapa job fair saya datangi. Beberapa wawancara kerja saya jalani. Tanpa hasil. Tapi justru di titik itulah saya menyadari bahwa saya tidak memiliki passion untuk bekerja di korporat. Passion saya adalah bekerja di bidang akademik. Ketika saya mengutarakan niat saya untuk jadi peneliti dan dosen, beberapa orang menertawakan. Katanya saya terlalu idealis. Beruntung orang tua saya selalu mendukung apapun yang saya lakukan.

Dengan campur tangan Tuhan, saya yang lulus S1 dengan IPK biasa-biasa saja (saya gak cum laude lho), bisa lanjut kuliah S2 dan lulus, bisa jadi dosen, dan bisa lanjut studi S3.

Karena keajaiban itu nyata adanya.

Sedikit pesan untuk teman-teman yang baru lulus, temukan passion kalian. Tidak usah pedulikan apa kata orang. Sepanjang pekerjaan kalian bisa berguna bagi orang-orang di sekitar kalian, tidak perlu gengsi.

[Sharing] First Things First

Halo! Tidak terasa sudah 1 bulan lebih saya tinggal di Jerman. Sudah mulai bisa beradaptasi dengan segala keteraturan di sini. Walaupun beberapa kali hampir ketabrak sepeda karena (tidak sengaja) berjalan di jalur merah, diklakson mobil gara-gara jalan di sebelah kiri (harusnya jalan di kanan), nyeberang tengoknya kiri di jalur yang harusnya tengok kanan. Sempat terkaget-kaget juga ternyata orang Jerman ada yang bisa senyum juga. Ya begitulah. Sedikit culture shock di minggu-minggu pertama.

Sudah lama tidak sharing, kali ini saya akan sharing sedikit pengalaman saya pada 1 bulan pertama di sini. Semoga berguna untuk teman-teman yang ada rencana untuk studi lanjut di Jerman pada umumnya, dan di UDE pada khususnya (karena peraturan di masing-masing Universitas sedikit berbeda). Oiya, saya sharing di sini dalam kapasitas saya sebagai penerima beasiswa DAAD. Untuk yang studi di sini dengan beasiswa lain, bisa jadi prosesnya tidak semulus yang saya alami.

Secara kronologis prosesnya seperti ini :

Immatrikulasi (Re-registrasi) di Universitas tempat kita akan belajar

Setiap mahasiswa harus melakukan immatrikulasi supaya secara resmi diterima di Universitas. Jadi, walaupun kita sudah menerima Acceptance Letter dari universitas, bukan berarti kita sudah resmi jadi mahasiswa di sana. Ini salah satu perbedaan sistem pendidikan di Jerman dan UK. Di sebagian besar universitas, mahasiswa harus melakukan immatrikulasi pada periode yang sudah ditentukan. Tapi, untungnya di UDE immatrikulasi untuk mahasiswa Doktoral bisa dilakukan kapan saja. Jadilah, saya langsung immatrikulasi di Universitas sebelum ke Köln, akhir Mei lalu. Paling lama (kalau di UDE), sekitar 1 minggu kemudian kita akan terima surat dari Universitas yang berisi bukti immatrikulasi, username & password untuk aktivasi email mahasiswa, dan contoh form untuk transfer semester social contribution.

Registrasi diri dan tempat tinggal (Meldebestätigung) di Rathaus (City Hall/ Balai Kota)

Kita harus isi form (tentunya dalam bahasa Jerman) yang kemudian kita kirimkan beserta fotokopi halaman depan passport, halaman yang berisi visa kita, dan dokumen kontrak rumah. Untuk penerima beasiswa DAAD, yang kita harus lakukan hanya isi form dan bebas biaya. Proses selanjutnya akan dikoordinir oleh tempat kursus kita yang sudah diberi kepercayaan oleh DAAD untuk menangani ini. Untuk selain penerima beasiswa DAAD, sepertinya proses ini akan dikenakan biaya (sekitar 20-50 Euro, kayanya) dan yang bersangkutan harus datang sendiri ke Balai Kota dengan membawa segala dokumen yang diperlukan, Tapi, berdasarkan cerita teman saya, prosesnya gak lama dan gak ribet kok, karena memang orang Jerman sangat efisien dalam bekerja. Saya baru sadar 2 hari lalu bahwa ternyata ada kesalahan informasi pada Meldebestätigung saya. Kode pos yang tertulis salah, karena ternyata ada dua jalan dengan nama yang sama dengan tempat tinggal saya. Haha. Sepertinya dokumen saya akan direvisi. Setiap pindah kota, kita harus mendaftarkan alamat baru kita. Jadi nanti ketika saya pindah dari Köln ke Essen, saya harus melakukan proses yang sama.

Membuka bank account 

Hal lain yang membedakan Jerman dengan negara lain adalah di sini hampir tidak ada cabang bank internasional. Jadi, kalau kita sekolah atau kerja di Jerman, kita harus punya akun di bank Jerman. Hal ini agak menyusahkan proses transfer dari Indonesia ke Jerman (dan sebaliknya). Untuk membuka bank account ini sebenarnya prosesnya gak ribet. Kita hanya diwajibkan membawa beberapa dokumen, seperti passport dan Meldebestätigung. Tapi, ada beberapa bank yang tidak bisa membukakan account untuk mereka yang memegang passport dari negara-negara tertentu (sebagian besar adalah negara-negara di Timur Tengah). Celakanya, sekarang beberapa bank mulai berpikir untuk memasukkan Indonesia ke dalam “high risk countries” list mereka. Hmm…makanya semoga di tanah air tidak ada kebijakan dan/atau kejadian yang aneh-aneh ya. Menyusahkan kami yang sedang belajar di tanah rantau.

Membayar social contribution ke account universitas 

Ketika kita sudah punya bank account dan sudah melakukan immatrikulasi, kita bisa membayar social contribution ke universitas. Salah satu keuntungan dari membayar social contribution itu, kita bisa menggunakan transportasi (bus, U-Bahn, Straßen Bahn, S-Bahn, Kereta Regional) di satu provinsi secara gratis selama satu semester. Makanya dinamakan Semesterticket.

Itu saja sih yang paling krusial. Selain poin-poin di atas, kita juga harus banyak bergaul dengan orang lokal (untuk mengasah kemampuan berbahasa Jerman), dan juga dengan teman-teman dari negara lain. Namun, jangan lupa juga untuk mencari komunitas pelajar/orang Indonesia di kota tempat kalian tinggal. Selain bisa berbagi cerita dengan teman-teman senasib, juga bisa jadi ajang kumpul-kumpul sambil makan-makan. 🙂

Salam dari Köln yang hari ini hujan

01 Juli 2017

Step 1 : German Language Course

Seperti yang sudah saya ceritakan di post sebelumnya, saya memulai perjalanan studi S3 di Jerman ini dengan belajar bahasa Jerman. Awalnya saya berpikir “ngapain sih belajar bahasa Jerman segala padahal kan nanti saya akan menulis thesis dalam bahasa Inggris?” Eitss..jangan salah..setelah sampai di sini saya baru menyadari bahwa begitu banyak orang Jerman yang tidak bisa berbahasa Inggris. Jadi, untuk bisa survive memang harus memiliki sedikit pengetahuan bahasa Jerman. Selain itu, ketika saya menemui Prof saya minggu lalu beliau bilang bahwa saya sebaiknya bisa bahasa Jerman supaya “nyambung” nanti kalau sudah mulai penelitian. Agak shock juga ketika tahu research group saya beranggotakan orang Jerman semua, kecuali saya. Tapi yasudahlah. Dibawa happy saja. 😀

Sudah dua hari ini saya mengikuti kursus super intensif bahasa Jerman di Cologne. Biaya kursus dan akomodasi semua ditanggung oleh DAAD. Dapat uang saku pula. Puji Tuhan luar biasa sekali. Makanya harus serius. Saya mengikuti kursus di level A2. Di sini ternyata kursusnya lebih menitikberatkan pada conversation. Pesertanya juga datang dari berbagai negara, yang harus saya akui mereka sangat aktif di kelas. Jujur saja saya agak keteteran. But I will catch up! 🙂

Hidup saya di sini masih agak santai, karena setiap hari kursus selesai pukul 13.00. Setelah itu adalah waktu bebas, yang beberapa hari ini saya manfaatkan untuk menemani teman-teman baru saya ke pusat kota untuk membeli SIM card. Haha. Serasa sudah tinggal lama di sini. Oiya saya bertemu dua orang Indonesia di tempat kursus. Senang! Mereka berdua berasal dari Manado. Penerima beasiswa DAAD juga, tetapi berbeda skema dengan saya. Selain itu juga saya berteman dengan orang Pakistan, Malaysia, dan Thailand. Yang orang Thailand ini lucu banget dan berinisiatif membentuk South-east Asian Union. Haha.

Seperti yang telah saya singgung di atas, DAAD sudah menyiapkan akomodasi untuk saya. Puji Tuhan lagi lokasi akomodasi saya juga masih relatif dekat dengan pusat kota. Pemilik rumah (landlady) nya juga baik dan sangat helpful. Beliau sukses mematahkan pendapat saya bahwa orang Jerman itu “dingin”. Kebetulan saya ditempatkan di akomodasi tipe communal residence dan dapat housemate orang Indonesia dan Katolik juga. Jadi bisa ke gereja bareng, deh. Memang berkat Tuhan sangat luar biasa bagi saya. Tidak henti-hentinya bersyukur.

I’m safe and sound, so far!

Cologne. 7 Juni 2017. 9.04 PM

IMG_7427

Kolner Dom, yang dulu cuma bisa saya lihat di postcard. Sekarang hanya berjarak beberapa halte dari tempat tinggal saya.

IMG_7432

Pemandangan dari kamar saya. So refreshing!

Hello, Deutschland!

Akhirnya hari Selasa tanggal 23 Mei 2017 lalu saya tiba di Jerman. Hari-hari pertama saya di sini cukup aman, karena masih ditemani oleh Ibu saya. 🙂 Meskipun ini sudah kali ke sekian saya menginjakkan kaki di Jerman, namun kali ini terasa berbeda karena saya akan tinggal di sini untuk kurun waktu yang cukup lama. 3 tahun. Excited sekaligus khawatir juga.

Bagaimana kesan pertama saya terhadap Jerman? Negara ini sangat teratur dan warganya juga taat sekali terhadap peraturan-peraturan yang ada. This is nice! Tapi, menurut saya, orang-orang Jerman itu “dingin”. Tidak seperti orang Inggris yang “hangat”. *mulai membandingkan* Semoga kesan pertama saya ini salah ya.

Anyway saya tidak akan langsung memulai perkuliahan. Rentetan perjalanan hidup di tanah rantau ini akan dimulai dengan Kursus Bahasa (Sprachkurs) di Cologne selama bulan Juni hingga September 2017, yang segalanya sudah diorganisir oleh DAAD. Luar biasa sebagai penerima beasiswa, at least sampai detik ini, saya merasa effortless.

Mohon doanya supaya saya betah di sini, cepat beradaptasi, dan dapat banyak teman.

6 tahun lalu, ketika memulai studi master di Inggris, saya membuat kategori “My life in Newcastle” di blog ini. Sekarang juga akan ada kategori baru “My life in Germany”

Semoga akan banyak cerita seru yang bisa saya share di blog ini untuk menambah semangat teman-teman semua. 😀

Essen, 28 Mei 2017. 10:40 PM

x%ZvLPFyRVSSOEmwatGhIw_thumb_3792

berfoto di depan Essen Hauptbahnhof – ps: iya saya potong rambut pendek (sekali) dan di-highlight merah violet :p

Kenapa Mau S3?

Hari Sabtu pekan lalu, orang tua saya mengadakan Misa Syukur di rumah atas berkat yang Tuhan sudah berikan untuk kami sekeluarga, terutama untuk saya. Pada saat itu Pastor bertanya kepada saya : “Ella, kenapa sih kamu mau capek-capek sekolah hingga jenjang S3?”

Jawaban saya saat itu adalah : “Saya ingin mengembangkan diri dan pada dasarnya saya juga senang belajar. Itulah yang mendasari saya melanjutkan sekolah hingga jenjang S3”

Pada Homilinya, Pastor berkata : “Sebaik-baiknya ilmu adalah yang bisa dibagikan kepada orang di sekitarmu. Jadi, janganlah melulu berpikir untuk dirimu sendiri. Namun, berpikirlah bagaimana caranya agar ilmu yang kamu peroleh selama bersekolah di luar negeri itu bisa kamu amalkan buat orang lain”

Iya. Begitu egoisnya saya sampai saya hanya berpikir untuk diri sendiri saja.

Banyak yang bertanya apakah kelak saya akan kembali ke Indonesia. Sampai detik ini saya masih berpikir untuk kembali dan mengembangkan negeri ini melalui ilmu yang saya dapat di sana nanti. Ternyata memang ada sisi idealis dalam diri saya yang belum hilang.

Banyak hal yang mungkin terjadi selama studi saya nanti. Beberapa hari lagi saya berangkat. Mohon doanya!

Semoga keberadaan saya disana bisa membawa kebaikan bagi orang-orang baru yang akan saya temui. Layaknya yang terjadi di sini dan juga di tempat-tempat lain yang pernah saya singgahi dalam hidup saya.

Saya siap berkarya di tempat baru. Belahan bumi lain yang jaraknya beribu-ribu kilometer dari tanah kelahiran saya, Indonesia.

[sharing] Proses Mendapatkan Beasiswa S3

Setelah berhasil mendapatkan Supervisor/Profesor yang cocok, langkah selanjutnya adalah tentunya perburuan beasiswa. Studi S3 dengan biaya sendiri sama saja dengan bunuh diri. Kecuali kalian memang kaya banget ya.

Tahap pertama dari perjuangan mencari beasiswa adalah buka mata dan buka telinga. Saya mulai bergabung dengan komunitas pemburu beasiswa sejak kuliah S1 tingkat 3 (tapi baru berhasil dapat beasiswa pas sudah mau S3). Pada saat itu belum ada Whatsapp, apalagi Whatsapp group. Informasi di-share melalui mailing list. Saat ini informasi beasiswa sudah sangat mudah untuk diakses. Jadi tidak ada alasan untuk tidak update.

Karena saya studi S2 di wilayah Eropa dan kebetulan untuk S3 dapat proyek penelitiannya di wilayah Eropa juga, jadi saya lebih familiar dengan skema beasiswa di wilayah tersebut. Setiap negara biasanya menyediakan beasiswa untuk applicants dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Saya yakin jika kalian rajin blog-walking, pasti sudah banyak menemukan bloggers yang sharing soal beasiswa Eropa.

Nah, berhubung saya dapat proyek S3 di Jerman, jadi saya “hanya” mentarget 3 beasiswa untuk saya apply tahun lalu. Beasiswa Pendidikan Indonesia dari LPDP (http://www.lpdp.kemenkeu.go.id/beasiswa/beasiswa-magister-doktor-2/), Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia – BUDI LNBeasiswa dari Pemerintah Jerman -DAAD (http://www.daadjkt.org/index.php?program-beasiswa-daad), dan Beasiswa dari Lembaga Katolik Jerman -KAAD (http://www.kaad.de/en/stipendien/stipendienprogramm-s1/).

Awalnya saya sangat berharap dengan Skema BPI-LPDP. Siapa sih pemburu beasiswa yang tidak tergiur dengan skema beasiswa paling prestisius di Indonesia ini? Sayangnya Universitaet Duisburg-Essen (UDE) tidak ada dalam list universitas tujuan LPDP. Tapi saya nekad saja. Toh, saya bisa jelaskan nanti ketika interview (pede banget bakal lolos sampai tahap interview). Pada awal 2016 sempat beredar gosip kalau dosen sudah tidak diperkenankan lagi untuk mendaftar skema BPI-LPDP ini. Namun, dua orang teman saya yang juga dosen (di universitas yang berbeda dengan saya, tentunya) lolos di Gelombang 1 & 2. Saya daftar untuk Gelombang 3. Namun tiba-tiba ada informasi resmi pada pertengahan tahun 2016 yang intinya memberitahukan untuk semua pendaftar beasiswa yang berstatus dosen dan memiliki NIDN, dialihkan ke beasiswa BUDI-LN. Shock! BUDI-LN ini adalah skema beasiswa khusus untuk dosen dan dananya dikeluarkan oleh Ristekdikti dan LPDP. Saya tidak mau menceritakan panjang lebar tentang beasiswa ini, karena hanya membuat sakit hati. Haha. Ya pokoknya intinya saya pernah apply beasiswa ini. Untuk rekan-rekan dosen yang masih menunggu kelanjutan beasiswa ini, tetap sabar, tabah, dan semangat ya!

Selanjutnya saya mendaftar beasiswa DAAD. Yang selama ini saya ketahui, skema beasiswa ini adalah yang paling sulit. Teman-teman saya yang berhasil mendapatkan beasiswa ini adalah mereka yang menurut saya pintar. Jauh melebihi saya pintarnya. Makanya sejujurnya saya tidak terlalu berharap banyak ketika apply, dan sudah berpikir seandainya tidak lolos beasiswa ini ya mungkin memang bukan jalannya saya untuk melanjutkan studi S3. Saya submit aplikasi beasiswa DAAD ini hanya beberapa hari sebelum deadline. Sampai-sampai saya diingatkan oleh koordinator DAAD regional Jakarta untuk segera submit aplikasi, karena sebagian besar dokumen sudah di-upload. Waktu itu saya masih menunggu surat rekomendasi dari dosen pembimbing S1 saya.

Beasiswa terakhir yang akhirnya tidak jadi saya apply adalah KAAD. Kenapa? Pertama : ketika itu saya sudah sampai pada tahap wawancara beasiswa DAAD dan tidak mau membagi konsentrasi saya. Kedua : Persyaratan beasiswa ini agak sulit dan ribet, menurut saya. Tetapi apabila teman-teman mau mencoba, silakan saja. 🙂

Sekitar dua minggu setelah saya submit aplikasi beasiswa DAAD, saya menerima email dari DAAD Jakarta yang berisi undangan untuk menghadiri interview beasiswa. Surprise banget dong! Saat itu saya sedang supervise lab session, dan saya loncat-loncat gak jelas di dalam lab sampai mahasiswa-mahasiswa saya bingung.

Malam sebelum interview, saya video call sama Prof saya. Beliau berinisiatif mengadakan mock interview dengan saya. Pertanyaan-pertanyaan beliau susah banget dan sempat membuat saya nge-drop sambil berpikir apakah interview DAAD seberat itu. Lucu sih kalau dingat-ingat kembali.

Tanggal 14 November 2016, saya menghadiri interview beasiswa DAAD yang diadakan di salah satu hotel di Jakarta Selatan. Kebetulan saya dapat giliran pertama, pukul 09.30. Sudah deg-degan tidak karuan. Untung tidak nge-blank.  Di dalam ruangan itu saya ditempatkan di tengah. Di hadapan saya ada sekitar 7 orang penguji, yang beranggotakan 5 orang penguji dari beberapa universitas di Indonesia yang juga merupakan alumni Jerman yang bidang keilmuannya terkait dengan life sciences & engineering, 1 orang penguji dari DAAD Bonn, dan 1 orang dari Ristekdikti. Sebagian besar pertanyaan yang diajukan mengacu pada proposal penelitian yang sudah saya buat. Untuk pertanyaan-pertanyaan mengenai teknis penelitian, saya bisa jawab dengan tenang. Namun, satu pertanyaan terberat justru datang dari seorang Bapak dari Ristekdikti itu. “What would you do if your research last for more than 3 years?” Ya, itu kemungkinan terburuk yang sangat mungkin untuk terjadi. Semoga jika pun saya nanti berada di posisi tersebut, bisa memperoleh solusi yang tepat. Amin!

Selesai interview rasanya lega. Tidak ada ekspektasi apapun. Karena ditolak itu sakit, bro! Hehe..saya sudah terbiasa dengan penolakan.

Bulan Desember, saya menerima email lagi dari DAAD. Saya baca emailnya pelan-pelan dari atas. Ternyata saya dinyatakan lolos interview dan direkomendasikan untuk menerima beasiswa. Belum mutlak jadi penerima beasiswa. Tapi, tetap bersyukur! Sehari sebelumnya saya dikasihtau oleh rekan sesama dosen di kampus bahwa salah satu penguji saya adalah saudara sepupunya teman saya itu dan beliau menceritakan tentang keadaan saya pas wawancara. HA! Memalukan. Saya jadi terkenal gitu.

Periode Desember 2016 – Februari 2017 adalah periode paling menegangkan karena bisa saja saya akhirnya tidak memperoleh beasiswa. Interview sudah lolos, tapi Letter of Acceptance dari Universitas belum saya terima. Selama libur Natal-Tahun Baru saya tidak tenang. Setiap hari kerjaan saya ngecek email pribadi. Padahal mah di Jerman juga Prof saya lagi liburan. :p Akhir Januari 2017, surat cinta dari UDE datang juga!! Saya diterima secara resmi sebagai kandidat Doktor dengan syarat harus mengambil beberapa mata kuliah yang mana mata kuliah-mata kuliah tersebut SUSAH! SEMANGAT, LA!

Hari bersejarah itu adalah 15 Februari 2017. Satu hari setelah Valentine’s. 10 hari sebelum ulang tahun saya (Penting!). Datang email pemberitahuan dari DAAD Bonn. Berhubung semua komunikasi dengan DAAD dilakukan melalui portal, setiap ada email yang berisi notifikasi untuk membuka pesan baru yang masuk di Portal, itu pasti deg-degan. Begitu juga di hari itu. Ternyata isi emailnya adalah Letter of Award. Saya dapat beasiswa untuk S3!!! Saya satu di antara tiga penerima beasiswa DAAD Research Grant for Doctoral Program dari Indonesia!! Langsung cubit-cubit tangan, tampar-tampar pipi. Sakit! Oh ini beneran! 😀 😀

Beberapa hari lalu, saya diceritakan oleh teman saya sesama penerima beasiswa bahwa salah satu penguji ketika wawancara itu adalah Dosennya. Teman saya sempat bertemu beliau minggu lalu dan menyebut nama serta institusi saya dan seketika katanya beliau berkomentar : “oh dia cerdas”. Jadi senyum-senyum sendiri saya. Puji Tuhan saya bisa memberikan impresi positif di depan orang-orang yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal saya secara personal.

Begitulah pengalaman saya. Seru dan menegangkan. Tapi pada akhirnya selalu ada yang bisa dikenang. Bahwa saya telah berhasil melalui proses itu, dan apabila di depan nanti ada banyak cobaan, mudah-mudahan dengan melihat postingan ini kembali, saya bisa melewatinya dengan baik.

Salam Semangat! 🙂

 

[sharing] bagaimana mendapatkan (calon) supervisor untuk S3

Setelah beberapa minggu yang lalu saya sharing tentang pengalaman saya mewujudkan serangkaian mimpi saya untuk menjadi sebuah rencana, sekarang saya akan berbagi pengalaman mendapatkan (calon) supervisor untuk s3.

Pertama-tama kita harus sadar bahwa studi di tingkat Doktoral itu jauh berbeda dengan tingkat Master. Berkaca pada pengalaman pribadi 6 tahun yang lalu sewaktu merencanakan untuk studi Master, saya mendaftar ke 4 universitas. Aplikasi saya gagal di 2 universitas dan berhasil di 2 universitas (Newcastle dan Bristol). Pada akhirnya yang saya pilih adalah Newcastle, semata karena universitas tersebut lebih dulu memberikan confirmation of acceptance. Proses dari mendaftar hingga memperoleh konfirmasi memakan waktu kurang dari 1 bulan. Sedangkan ketika mencari calon supervisor untuk S3, saya memerlukan waktu sekitar 2 tahun. Saya sampai sudah bebal dicuekin sama beberapa calon supervisor yang menjadi incaran saya. 😀

Apa yang harus disiapkan dalam rangkaian perburuan calon supervisor S3 ini?

  • Niat

Terdengar klise, tapi ini yang paling penting. Tanpa niat yang kuat, ketika kita berhadapan dengan satu penolakan, besar kemungkinan kita akan menyerah.

  • Tentukan bidang penelitian yang ingin kamu kerjakan untuk proyek S3

Ini harus ditentukan sejak awal. Kalau kita sendiri tidak tahu minat kita, proses perburuan calon supervisor akan terasa sulit sekali. Topik penelitian untuk S3 sebaiknya sejalan dengan topik penelitian yang sudah kita kerjakan ketika S2. Dalam kasus saya misalnya, ketika S2 saya mengerjakan penelitian tentang patogenesis penyakit autoimun. Untuk proyek S3 saya ingin mengerjakan penelitian yang bertujuan untuk menemukan terapi penyakit autoimun.

  • Tulis proposal penelitian

Pada awalnya saya beranggapan bahwa proposal penelitian itu bisa dirancang kemudian, ketika saya sudah menemukan calon supervisor. Saya sudah pernah mencoba menghubungi seorang Prof tanpa bermodal proposal. Beliau bertanya, saya mau penelitian yang seperti apa. Saya bingung menjelaskannya dan korespondensi pun berakhir tanpa hasil. Maka, percayalah. Menulis proposal adalah salah satu bagian terpenting dalam proses perburuan calon supervisor. Buatlah proposal sedetail mungkin. Ketika sudah bertemu dengan calon supervisor yang cocok, besar kemungkinan proposal kita akan dikomentari habis-habisan. Tidak menutup kemungkinan, proposal penelitian akan berubah total. Tapi, kita sudah meninggalkan kesan pertama yang baik kepada calon supervisor kita. Kita punya modal proposal.

Trik ini mungkin berbeda-beda bagi tiap orang. Saya mencari calon supervisor berdasarkan universitas tempat beliau bernaung. Walaupun banyak yang bilang bahwa universitas di wilayah Eropa pada dasarnya memiliki kualitas penelitian yang sama, saya tetap berpegang pada prinsip, ketika kita kuliah di tempat yang bagus, akan lebih banyak hal yang bisa kita dapatkan karena pasti kita akan banyak berinteraksi dengan orang-orang hebat.

  • Kirim email ke calon supervisor 

Tulis email dengan bahasa Inggris yang baik, benar, dan sopan. Ingat, email pertama kita akan menentukan bagaimana kesan calon supervisor terhadap pribadi kita. Jangan lupa lampirkan CV dan proposal penelitian kita. Ada beberapa orang yang bilang, email pertama sebaiknya berisi perkenalan diri dulu, Jangan langsung tembak dengan proposal dan sejenisnya. Well, bukannya saya gak sabaran, tapi akan lebih efektif untuk menjelaskan maksud dan tujuan sekalian melampirkan dokumen-dokumen terkait di email pertama. Calon supervisor kita itu adalah orang yang sibuk. Jadi jangan bayangkan dia punya waktu untuk terus-terusan keep in touch dengan kita.

Langkah selanjutnya adalah menunggu respon dari calon supervisor kita. Biasanya kalau beliau tertarik dengan proposal kita, beliau akan merespon email kita dalam kurun waktu 2 minggu. Kalau setelah 2 minggu belum ada jawaban, ada baiknya kita kirim ulang email kita. Kalau masih tidak ada jawaban juga, anggap saja kita belum jodoh dengan calon supervisor itu. Cari calon supervisor yang lain.

Kunci utama dalam proses perburuan profesor adalah ketekunan. Jangan pernah menyerah ketika menghadapi penolakan.

Good luck! 🙂

[sharing] my journey on turning dreams into plans

*disclaimer : this gonna be a long blog post*

Semua berawal dari tahun 2012, ketika saya merampungkan studi S2 saya di Newcastle, UK. Hari itu akhir November, hari terakhir saya datang ke lab untuk berpamitan dengan rekan-rekan yang berada di dalam research group yang sama dengan saya, termasuk dengan Prof saya dan co-supervisor saya. Saya masih ingat percakapan kami saat itu

Prof : “So, Gabriella. what’s next?”

Me : “I’m planning to continue doing a PhD”

Prof : “Where are you planning to apply for a PhD position?”

Me : “Germany”

Co-supervisor : “Eh? Why Germany?” *fyi, supervisor saya ini tipikal orang British banget, yang kayanya ada dendam kesumat sama orang Jerman*

Me : “Why not?”

Semenjak itu, saya mulai melamar ke berbagai universitas yang sedang membuka lowongan untuk mahasiswa PhD. Januari 2013, saya sempat memperoleh kabar baik bahwa saya masuk ke dalam shortlisted kandidat PhD di TUM. Jangan ditanya betapa senangnya saya saat itu. Baru lulus master dan yakin bakal keterima PhD di Jerman. Dreams come true! Pertengahan Februari 2012, saya berangkat ke Munich, Jerman untuk final interview dengan calon supervisor saya. For your info, proyek PhD yang ditawarkan pada saat itu adalah di area kanker. Padahal, mimpi saya adalah mengerjakan proyek penelitian yang terkait terapi penyakit autoimun. Namun, pada saat itu yang ada di pikiran saya adalah yang penting lanjut PhD, yang penting pergi dari Indonesia. Ya, saat itu saya adalah seorang anak muda yang belum bisa move on dari nyamannya suasana Eropa. Dan saya gagal di final interview. Sempat sedih, tapi ya sudah mungkin memang belum jalannya saya lanjut sekolah.

Awal Maret 2012 saya kembali ke Indonesia dan puji Tuhan langsung ditawari oleh salah seorang teman untuk mengerjakan sebuah proyek penelitian. The power of networking! Saya bekerja sebagai research assistant selama kurang lebih 6 bulan, mengerjakan 2 proyek. Dalam kurun waktu itu pula saya melanjutkan proses melamar PhD dengan membabi buta. Setiap ada lowongan, saya baca requirement-nya sekilas dan langsung saya lamar. Terkadang saya sudah bisa memprediksi bahwa saya tidak akan diterima, mengingat kualifikasi saya tidak memenuhi persyaratan minimum untuk proyek-proyek tersebut. Tapi saya nekad. Akibatnya? Puluhan email penolakan saya terima selama tahun 2013 itu. Supervisor S2 saya sampai ngambek tidak mau menulis surat rekomendasi lagi  untuk saya dan beliau benar-benar lakukan itu. Beliau tidak pernah membalas email-email saya selanjutnya yang terkait dengan aplikasi PhD. Saya tahu pada kurun waktu tersebut beliau pindah dari Newcastle ke Utrecht. Bahkan beliau tidak menginformasikan email barunya kepada saya. Haha. Saya menyebut 2013 sebagai a year when life really punched me right on my face. Tahun penuh perjuangan dan penolakan. Dan tahun di mana saya menjadi pengangguran (ngehe) selama 6 bulan. Puas lah glundang glundung di rumah sambil sesekali melamar pekerjaan.

Dalam periode jadi pengangguran itu, ternyata saya lumayan produktif juga. Saya menulis satu proposal penelitian, yang pada akhirnya  amat sangat berguna untuk hunting calon supervisor. Sekitar akhir 2013 saya mendapat info (lagi-lagi the power of networking) dari salah seorang teman yang dulu bersama-sama studi Master di Newcastle. FKUI membuka program PhD joint degree dengan Newcastle University. “Wah, bakal balik lagi ke UK nih”, pikir saya saat itu. Excited! Jadilah saat itu saya ikut ujian SIMAK UI untuk program Doktor dan lolos. SIMAK UI ternyata tidak sesulit yang dikatakan orang-orang. #sombong. Tidak lama setelah itu, saya mendapatkan konfirmasi dari Newcastle bahwa sudah ada supervisor yang bisa membimbing saya. Namun pada akhirnya saya terbentur masalah pembiayaan. Pada saat itu saya mendaftar beasiswa LPDP. Mungkin karena skema programnya tidak terlalu jelas (joint degree ini mengharuskan saya untuk membagi studi saya menjadi 2 periode, 1.5 tahun di Indonesia dan 1.5 tahun di Inggris, kalau tidak salah), jadi pada akhirnya tidak lolos seleksi administrasi. Singkat kata, gagal lagi.

Awal 2014 saya masih belum menyerah untuk mendaftar program PhD yang lain. Namun, tidak disangka-sangka pada Maret 2014, berawal dari iseng-iseng karena bosan diceramahin sama Ibu saya gara-gara kelamaan menganggur, saya malah mendapatkan full time job yang akhirnya membawa saya sebagai seorang dosen. Kita memang tidak pernah bisa memprediksi ke arah mana hidup akan membawa kita. Pada tahun ini saya sangat menikmati profesi baru saya dan sejenak melupakan mimpi besar saya untuk melanjutkan PhD.

Pertengahan 2015 barulah saya tersadar ada mimpi yang menunggu untuk diwujudkan. Tepatnya disadarkan oleh seorang teman lama. Kebetulan pada saat itu dia juga sedang berjuang untuk mimpinya. Beberapa kali, baik secara langsung maupun melalui chat, dia seakan mengindoktrinasi saya supaya segera melanjutkan studi. Percakapan kami biasanya seperti ini :

Teman saya : “Ella..buruan gih lanjut S3”

Me : “Gw belum dapat Prof. Capek gw ditolak mulu”

Teman saya  : “Pokoknya lo harus lanjut S3. Pakai LPDP” *iya dia awardee LPDP yang selalu mempromosikan (maksa, lebih tepatnya) supaya saya daftar beasiswa itu*

Saya akhirnya terbujuk juga oleh omongan dia. Mulai lah saya poles-poles proposal saya yang sudah teronggok di folder laptop sejak 2013. Pada saat itu, preferensi saya mengenai negara tujuan untuk studi PhD  mulai berubah. Saya mau kuliah di Inggris saja karena malas berhadapan dengan kendala komunikasi. Sebagai informasi saja, proposal penelitian saya adalah tentang Graves Disease, salah satu jenis penyakit autoimun yang etiologi-nya masih belum jelas hingga saat ini. Saya memang agak idealis dan cenderung ngotot kalau sudah bicara tentang ide penelitian. Hehee. Jadilah saya mencoba mencari Profesor di Inggris yang fokus penelitiannya di area tersebut. Tak disangka ada seorang Profesor di King’s College London (KCL) yang mengerjakan penelitian dengan topik tersebut. Saya kirim proposal saya ke beliau. LIMA BELAS menit kemudian beliau balas email saya dong! Beliau sangat tertarik dengan ide penelitian saya dan mengajak saya meeting via Skype di hari berikutnya. Pada saat Skype meeting itu beliau mengatakan bahwa beliau memiliki kolaborator di Jerman yang mengerjakan penelitian seperti yang saya inginkan. Jadi, beliau menyarankan saya untuk studi PhD di Jerman saja.  Wah saat itu rasanya bahagia sekali saya. Entah mengapa pada saat itu saya yakin bahwa saatnya sudah dekat untuk saya melanjutkan studi.

Mungkin memang ini sudah digariskan oleh Tuhan, beberapa hari kemudian saya memperoleh info ada conference tentang personalized medicine di London. Kebetulan saat itu saya sedang mengerjakan proyek menulis article review tentang personalized medicine (yang pada akhirnya mandek sih sampai sekarang. tidak sempat terurus lagi. haha!). Jadi, saya rasa cocok. Maka berangkatlah saya ke London untuk conference dan di sela-selanya saya ke KCL bertemu dengan calon Profesor saya itu. Saya menjelaskan bahwa saya akan mendaftar beasiswa untuk membiayai penelitian saya. Ketika itu saya masih pede bisa lolos beasiswa LPDP. Well, ternyata rencana saya yang terkait beasiswa ini tidak semulus yang saya bayangkan. Keseruan proses hunting beasiswa ini akan saya ceritakan dalam posting selanjutnya ya! Singkat kata, calon profesor saya itu antusias sekali dengan proposal penelitian saya. Setelah itu saya mulai penjajakan dengan calon Profesor saya yang di Jerman, yang ternyata juga tidak kalah antusias. Puji Tuhan.

Proses selanjutnya adalah merevisi proposal penelitian saya, disesuaikan dengan situasi terkini terkait Graves Disease itu sendiri. Prosesnya cukup alot, karena -kembali lagi- saya orangnya agak keukeuh sama pendapat saya. Setelah korespondensi selama sekitar 1 bulan, akhirnya jadilah proposal penelitian saya yang sudah final. Yang memerlukan waktu lama adalah finalisasi segala hal administratif yang terkait dengan persiapan studi PhD saya ini. Perlu waktu hampir 1 tahun sejak saya memperoleh surat konfirmasi bahwa mereka bersedia menjadi pembimbing saya hingga keputusan akhir terkait pendanaan studi saya. Proses yang lama, yang melibatkan banyak pihak, yang jujur saja sempat membuat saya lelah.

Saat ini saya sedang dalam fase hectic karena tak menyangka jadwal keberangkatan saya ternyata harus dimajukan 3 bulan dari rencana awal. Banyak sekali hal yang perlu saya lakukan terhitung dari bulan Maret hingga Mei ini. Tapi saya bersyukur akhirnya bisa sampai pada fase ini. Fase yang sudah saya tunggu-tunggu sejak 5 tahun yang lalu.

Banyak pelajaran yang saya petik dari perjalanan panjang menggapai mimpi ini :

  1. Berdoa, berdoa, dan berdoa. Saya memeluk agama Katolik, jadi saya berpegang pada Alkitab. Ayat Alkitab yang selalu menguatkan saya adalah Yesaya 41:10 – “janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan”
  2. Jangan pernah merasa bahwa mimpi kita terlalu tinggi. Saya suka sekali dengan quote dari Andrea Hirata yang tertulis di dalam novel Laskar Pelangi : “Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”
  3. Selalu berpikiran positif dan menunjukkan kegigihan kita di depan calon Profesor
  4. Jangan pernah berpikir untuk berhenti ketika satu peluang untuk mendapatkan beasiswa tertutup.
  5. Perluas networking. Kita harus rajin datang ke acara-acara info session berbagai universitas dan berbicara dengan orang-orang yang inspiratif. Intinya, surround yourself with positive and inspiring people.
  6. Jangan pernah meremehkan sesuatu yang bernama “keajaiban”. Banyak hal yang bagi kita terasa tidak mungkin. Tapi bagi Tuhan, semuanya mungkin terjadi.

Keluarga berperan penting dalam proses ini dan mereka adalah orang-orang yang paling mengetahui segala pergumulan yang pernah saya hadapi  hingga bisa sampai pada kondisi sekarang ini. Namun, kedua orang tua saya bukanlah tipe orang tua pemaksa. Mereka tidak terlalu heboh menyuruh saya S3. Yang heboh justru teman-teman terdekat saya. Mereka semua semangat sekali mendorong saya untuk S3 karena mereka tahu bahwa ini adalah impian saya sejak lama. Terima kasih tak terhingga untuk teman-teman saya. Apalagi untuk satu teman yang paling memaksa saya untuk S3 itu. Inisialnya CA. Dia yang dulu selalu kirimkan kata-kata motivasi buat saya. Bahkan yang sampai datang ke rumah saya untuk mengajari saya “simulasi” wawancara beasiswa. Haha. Terima kasih ya.

Perjuangan belum selesai. Masih ada 3 tahun di depan sana, yang saya pun belum tahu akan seperti apa. Teruntuk teman-teman yang masih berjuang, jangan berhenti berjuang untuk menggapai mimpi. Proses ini memang tidak mudah. Tapi kuncinya hanya satu : pantang menyerah.

Salam semangat! 🙂