Author: Gabriella Febriana

scientist | pianist | dreamer

Minggu Pertama Menjadi Mahasiswa Kembali

Halo!

Tak terasa minggu pertama di Essen sudah terlewati. Dimulailah rangkaian hidup saya sebagai seorang mahasiswa doktoral. Masih sulit untuk percaya rasanya ketika saya diperkenalkan ke seluruh penghuni lab sebagai “eine neue Doktorand in unsere Labor”. 🙂

Hari ini baru sempat mengupdate blog karena baru menyadari bahwa jadwal saya ternyata cukup padat juga.

Dua hari pertama saya di Essen cukup parah. Kalau kata orang Jerman, eine Katastrophe. Saat itu saya sangat kaget dengan suasana kota ini yang benar-benar berbeda dengan Cologne. Kondisi itu diperparah dengan tidak adanya koneksi internet di apartemen tempat saya tinggal, sehingga saya tidak ada hiburan. Akhirnya saya hubungi beberapa teman yang ada di kontak saya. Intinya, curhat betapa “sengsara”nya hidup saya. Terus beberapa hari kemudian baru sadar, saya gak bersyukur banget ya.

Tanggal 9 Oktober 2017, hari pertama saya masuk lab. Supervisor saya tidak masuk pada hari itu. Jadi, saya hanya ditemani oleh Lab Technicians untuk mengurus hal-hal administratif  terkait dengan keberadaan saya di lab selama 3 tahun ke depan.

Sebagai informasi, selain mengerjakan proyek penelitian di lab, saya juga masih harus mengambil beberapa mata kuliah level Master di tahun pertama studi saya di sini. Alasannya? 1) S1 saya di bidang Mikrobiologi dirasa tidak terlalu “nyambung” dengan proyek penelitian yang saya kerjakan. 2) S2 saya yang Masters of Research itu dianggap terlalu menitikberatkan pada lab skills (which is good), tapi kurang memberikan konsep fundamental untuk beberapa aspek yang terkait dengan penelitian saya. Jadilah saya harus mengambil mata kuliah Advanced Molecular Cell Biology, Bioinformatics, dan Biophysical Chemistry di semester ini. Untung tidak diminta ambil kuliah Immunology. Haha. Bisa malu sama Janeway (if you know what I mean).  Semester depan ada kuliah Mathematical Modeling, yang, well, saya tidak mau memikirkannya sekarang karena bisa buat saya gila. Puji Tuhan, semua mata kuliah semester ini diberikan dalam bahasa Inggris.

Oiya mungkin kalian bertanya-tanya, saya mengerjakan penelitian apa sih di sini? Saya melakukan penelitian di Medical Research Centre (Medizinischesforschung Zentrum) Universitätsklinikum Essen di departemen Molecular Opthalmology dan Endocrinology. Fokus penelitian saya dalam bidang autoimmune endocrinology. Detail penelitiannya seperti apa? Nanti saja saya share kalau saya sudah ada publikasi, ya! *karena saya trauma ide penelitian saya dicuri orang. haha*

Di hari berikutnya saya bertemu dengan main supervisor saya, membicarakan proyek penelitian dan hal-hal apa saja yang perlu saya persiapkan. Di akhir pertemuan, saya recap kembali apa saja yang harus saya kerjakan dan practically hari-hari saya di sini dari Senin hingga Jumat pagi hingga sore akan sangat padat dengan penelitian, kuliah, seminar, dan training. Bulan November nanti akan ada research day (Forschungstag), yang mana jika saya sudah memperoleh preliminary result, saya diminta untuk mempresentasikannya dalam bentuk scientific poster. Hari rabu tanggal 11 Oktober saya juga akhirnya bertemu dengan supervisor saya yang lain, seorang dokter bedah mata. Beliau adalah kepala grup riset saya. Beliau memberitahu saya bahwa tahun depan ada scientific conference dan akan sangat bagus kalau saya bisa mempresentasikan penelitian saya di sana. Well, doakan saja semoga semua berjalan baik.

Bagaimana kehidupan di luar lab? Saya belum punya teman. Well, sejauh ini saya mengenal 3 orang Indonesia di Essen. Yang satu  mahasiswa doktoral tingkat akhir (sibuk ngelab juga setiap hari), dan yang dua orang adalah mahasiswa S1 tingkat akhir yang juga sibuk kerja part-time. So, ya komunikasi dengan mereka hanya bisa dilakukan lewat dunia maya. Jadi teman-teman saya sekarang mostly adalah teman-teman di lab, yang bisa saya katakan SANGAT baik sama saya. Setiap hari biasanya saya memulai hari di lab hingga jam makan siang, kemudian saya kuliah. Berhubung belum ada internet di rumah, selepas kuliah saya ke perpustakaan medical school (Fachbibliothek Medizin) yang hanya berjarak 100 m dari apartemen,  untuk belajar, nonton N*tflix, dan video call dengan orang tua saya. 🙂

IMG_9250

Laboratorium tempat saya bekerja

IMG_9243

Autumn is here!

Untuk yang menanyakan kondisi saya sekarang, puji Tuhan saya baik-baik saja di Essen. Sedang beradaptasi dengan lingkungan dan ritme kehidupan yang baru.

Mohon doanya saja supaya saya bisa fokus mengerjakan apa yang harus saya kerjakan di sini sehingga bisa selesai tepat waktu dan kembali ke tanah air.

Aufwiedersehen, Köln

IMG_7866

Cologne Flora & Botanical Garden – because Cologne is not always about Kölner Dom

Four months flies in a blink! Here comes my last week in Cologne.

Honestly speaking, this town is my comfort zone. But my main reason going to Germany is not staying in Cologne to learn German language. The main reason is to conduct a research in Essen, get my PhD in the next 3 years, then go back to Indonesia and applying my skills.

Being placed in Cologne for 4 months to learn German language is a privilege for me, since this town is one of the tourist destinations in Germany. There are 5 of us, the DAAD scholarship holders, who learned together in Goethe Institut Jakarta back then in March – April 2017. Once arriving in Germany, we were separated. Two of us went to Berlin. The other two went to Goettingen. And me, the only one here in Cologne. 🙂

What was my first impression about Cologne? Crowded. Well, I have grown up in Jakarta, which is for sure much more crowded than Cologne. So, this fact did not really shocked me actually. After spending some times, I feel that this town is very comfortable. There are various means of transportation to make us easily explore the town. However, I must admit that in busy days I cannot rely much on the transportation schedule since I often found delays here and there.

How about the people? Having expected Germans to be “cold”, people in Cologne can be categorized as (very) friendly. If you think that Germans are unfriendly, probably you should meet my landlady, Birgitt. She always make sure that everything’s okay with me and my friend. Once a week she comes to our flat and tells us story about anything, She loves traveling and during our 4 months stay here she has brought us to some short trips. I will definitely miss her so much.

Four months ago when I started living here, I was a little bit worried that I would have difficulties on making new friends. Thankfully I have an Indonesian housemate, who have became my new bestfriend for these past 4 months. Thankfully my German language course class consists of people from various cultural backgrounds. At first I also was so worried how can I move from Cologne to Essen since I got two luggages and it would be hard if I must take a regional train. Thankfully, by chance, I know an Indonesian Catholic Community here, become involved there, and got to know an Indonesian priest who routinely serve for the mass. He offered to help me with the moving.

Yes, lots of things and miracles to be thankful for.

I am so grateful to be surrounded by kind people like them. And finally I have no reason at all to be worried.

Cologne, you always have a special place in my heart. See you again some time. 🙂

Another adventure is waiting.

Da simmer dabei! Dat es prima! VIVA COLONIA!
Wir lieben das Leben, die Liebe und die Lust
wir glauben an den lieben Gott und han auch immer Durst

(An exerpt from “Viva Colonia” – a Cologne folk song)

On Being An Independent Woman

Beberapa waktu lalu ada seorang teman di sini yang “menegur” saya sambil bercanda : “Ella, kamu itu independen sekali ya. Tidak ada salahnya lho sekali-kali manja.”

Jawaban spontan saya : “saya geli kalau harus bermanja-manja, apalagi sama cowok”

Ya, saya dididik untuk menjadi seorang yang tangguh. Sejak saya kecil, orang tua saya tidak pernah mengajarkan saya untuk bergantung pada siapapun. Mulai dari hal sekecil merapikan tempat tidur, cuci piring, dan sebagainya, saya lakukan sendiri walaupun dulu di rumah ada ART.

Mungkin hal itulah yang membuat saya tidak pernah merasa takut tinggal berjauhan dengan orang tua. Mereka menyediakan segala fasilitas yang saya perlukan, tetapi saya sudah dibiasakan untuk mengurus keperluan saya sendiri.

Beranjak dewasa, saya mulai dekat dengan pria. Pada masa inilah saya menyadari bahwa sebagian besar pria tidak menyukai wanita yang independen. Apakah lantas saya mengubah kepribadian supaya menjadi seorang wanita yang “disukai” oleh pria? Tidak. Justru dengan kriteria ini saya bisa menyeleksi pria mana yang layak saya harapkan. Ternyata masih ada kok pria yang tidak terintimidasi dengan seorang wanita independen seperti saya. 🙂

Jujur saja, wacana tentang “wanita independen tidak disukai pria” ini sempat menghantui pikirian saya. Bagaimana kalau pria-pria itu berpikir bahwa saya terlalu picky? Tapi pada akhirnya, hey justru saya harus picky untuk hal-hal yang berkaitan dengan masa depan saya.

Saya tidak mempan dengan kata-kata puitis nan romantis. Tapi saya bisa jatuh hati dengan seseorang yang mempunyai visi jelas tentang masa depannya. Saya jatuh hati dengan seseorang yang punya mimpi. Saya jatuh hati dengan seseorang yang berorientasi pada solusi dari suatu masalah, bukan malah memperkeruh situasi. Saya jatuh hati dengan seseorang yang bisa romantis di saat yang tepat (contohnya ketika saya sakit).

Seorang wanita independen juga membutuhkan kehadiran seorang pria. Tetapi bukan pria biasa. Hanya pria tangguh yang bisa berjalan berdampingan dengan seorang wanita tangguh.

Pada akhirnya, apakah saya perlu berubah menjadi seorang wanita yang dependen? Tidak! 🙂

(Almost) two years and counting. Masih dia yang sama, yang cuek nyebelin, tapi suka tertawa terkekeh. Bedanya? Dulu jarak rumah kami hanya berkisar 5 kilometer-an, jarak kantor cuma sebatas Jakarta Pusat-Jakarta Timur. Sekarang, jarak kami ribuan kilometer ditambah beda waktu 5 jam. Tidak ada lagi dia yang naik motor samperin saya ke rumah. Hanya sesekali muncul notifikasi dari dia di layar telepon genggam saya.

Mungkin kalau dulu saya tidak ketemu dia lagi, sekarang saya gak ada di Jerman.

 

Memandang Indonesia dari Jauh

Selamat Ulang Tahun, Indonesia!

Tahun ini saya kembali “merayakan” kemerdekaan tanah air dari benua Eropa. Tapi tak apa. Walaupun raga saya sering berpindah-pindah, tetapi jiwa saya tetap ada untuk Indonesia.

Apa arti “merdeka” bagi saya? Memiliki kebebasan untuk menentukan mau jadi apa saya di masa yang akan datang. Memiliki kesempatan untuk mendalami ilmu yang saya tekuni hingga jenjang yang setinggi mungkin.

Indonesia sendiri, secara resmi sudah merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Tapi, apakah bangsa kita yang telah berusia 72 tahun ini benar-benar merdeka? Kita memang telah merdeka dari penjajah. Namun, rakyat kita sayangnya sepertinya belum mau merdeka. Lihat saja berbagai konflik yang terjadi di Indonesia, yang sebagian besar mengatasnamakan agama demi kepentingan politik. Lihat saja rakyat kita yang masih sangat mudah untuk diadu-domba dan diprovokasi oleh berbagai pihak yang tidak bertanggung jawab.

Saat saya masih tinggal di Indonesia, setiap hari saya selalu dicekoki oleh berita-berita negatif tentang tanah air. Rasanya hampir tidak pernah saya dengar berita yang bagus tentang Indonesia. Sebagai orang Indonesia, saya pernah apatis terhadap masa depan negara ini. Walau sekarang sedikit demi sedikit saya mulai optimis dengan Indonesia.

Kita harus pergi menjauh, supaya bisa memandang tanah air dari sudut pandang yang lebih netral.

Saya pernah membaca kalimat itu. Memang benar, ketika saya berada jauh dari tanah air, sense of belonging terhadap Indonesia semakin kuat. Rasanya saat teman yang berasal dari negara lain bercerita tentang betapa hebat negaranya, saya juga tidak mau kalah berkata “di negara saya juga begitu”. Di sini juga saya seringkali merasa bangga dengan negara Indonesia yang terdiri dari berbagai pulau. Teman-teman dari negara lain iri lho dengan keindahan dan kekayaan negara kita.

Saya juga bangga ketika orang bule melabeli orang Indonesia sebagai pekerja keras. Orang-orang Indonesia selalu berprestasi di luar negeri. Oleh karena itu, banyak yang ditawari untuk bekerja di negeri orang. Dulu waktu saya sekolah di Inggris, ada seorang opa yang sampai membawa selembar peta dunia. Dia hanya ingin menunjukkan betapa jauhnya kami, pelajar-pelajar dari Indonesia, menempuh perjalanan berbelas-belas jam untuk belajar di negerinya Ratu Elizabeth itu. Kenapa mereka begitu kagum? Karena orang Inggris (dan sebagian besar orang Eropa) itu malas untuk jauh-jauh merantau.

Sekarang di Jerman, teman-teman saya juga banyak yang penasaran dengan Indonesia. Mereka ingin mengunjungi Bali, Labuan Bajo, Pulau Komodo, Wakatobi, Raja Ampat, dan berbagai tempat indah lainnya di Indonesia. Saya merasa malu sekali ketika saya hanya bisa menunjukkan gambar-gambar dari Google Images, karena dari semua tempat itu saya baru pernah ke Bali saja. Malu karena saya sudah menjelajahi berbagai negara di dunia, tapi saya belum banyak menjelajahi negara saya sendiri.

Beberapa waktu lalu tersebar tulisan di media sosial yang mengkritik pelajar-pelajar Indonesia di luar negeri yang kebanyakan plesiran. Tapi, apakah mereka tahu bahwa kami di sini tak henti-hentinya mempromosikan budaya Indonesia? Orang-orang Indonesia (yang kurang piknik) memang bisanya hanya mengkritik.

Adakah hal buruk yang saya alami di sini terkait kewarganegaraan saya? Untuk hal-hal yang berhubungan dengan birokrasi, iya saya memang agak sedikit “dicurigai” karena memegang paspor Indonesia. Tapi sejauh ini sih semua urusan sudah berakhir lancar. Oleh karena itu, saya di sini selalu berharap agar situasi di Indonesia selalu aman terkendali. Supaya saya dan teman-teman lain dari Indonesia bisa belajar dengan tenang.

Seenak-enaknya tinggal di negara orang, lebih enak tinggal di negara sendiri. Di sini banyak aturan. Peraturan di Indonesia lebih fleksibel. Di Indonesia, ketika keluar rumah, kita selalu disapa ramah oleh tetangga. Kadangkala kita merasa mereka lebay. Cobalah tinggal di Jerman. Kita mencoba menyapa tetangga, mereka malah pasang muka bingung. Indonesia adalah surganya makanan enak. Di sini? Jangan harap. Sebagian besar makanan di sini hambar tidak ada rasanya. Haha.

Pergilah merantau, maka kamu akan menyadari betapa berharganya tanah airmu

Untuk Indonesia tanah airku, Dirgahayu! Suatu saat saya akan kembali dan membangun tanah air dengan ilmu yang saya miliki. Doakan kami yang sedang berjuang ini.

Walaupun banyak negeri kujalani

Yang mashyur permai dikata orang

Tetapi kampung dan rumahku

Disanalah kurasa senang

Tanahku tak kulupakan

Engkau kubanggakan 

Selamat upacara. Selamat lomba makan kerupuk, balap karung, bakiak, panjat pinang, balap kelereng, dan sebagainya. Di sini 17 Agustus tetap kami lalui layaknya hari biasa. Untuk teman-teman Indonesia di Jerman, ada acara di KBRI Berlin, KJRI Frankfurt, dan KJRI Hamburg. Tapi geng Köln tidak bisa join. 😀

Dealing With My Introversion

According to Myers-Briggs personality test that I took last year, I have an INTJ (Introvert, Intuitive, Thinking, Judging) personality. This is a rare personality and only 0.8 % of women population in the world possess this type of personality (16personalities.com). Yeay! 😀

Is it hard for me, as an introvert, to fit in the society? The answers are yes and no. I grew up as a bookworm. Other people may feel insulted with that stereotype, but I don’t. I’m proud to be called a “bookworm”. Just so you know, I read the Indonesian translated version of “Chicken Soup for the Kid’s Soul”, as well as Enid Blyton’s “St. Clare’s” series when I was in 4th grade. I started reading those Indonesian literatures (such as Pram’s “Bumi Manusia”,Ayu Utami’s “Larung”, Fira Basuki’s “Atap” series)  when I was 6th grade. I read Dee’s “Supernova : Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh”, when I was 7th grade. I read Mitch Albom’s “Tuesdays with Morrie” when I was in 8th grade. Yes I still perfectly remember everything.

During my teenage-hood when I experienced my puberty ups and downs moments,  it seemed so important to be exist in the peer-society. As an introvert I always feel like an outsider. When I was in middle school, the situation was still easy because my best friend is also a fellow introvert. But the situation was harder for me when I entered high school as I moved from a Catholic school to a public high school. Frankly speaking, the beginning of high school was a disaster. I didn’t made so many friends during high school. People say high school is the best moment of anyone’s life. Well, it didn’t applied to me. It wasn’t my best moment, but it wasn’t the worst either. I enjoyed my high school moment in my way. I prefer to spend my time during the second break periods in the library, rather than going to the canteen. The craziest moment was when I didn’t invited for prom. It wasn’t a big deal for me though, as that prom was a little bit “illegal” because the students didn’t get any formal permissions from school. But, still I felt sad. Years later (a.k.a one day in early August 2017) I found an article in Pinterest, saying that “an Introvert likes to receive invitations, although at the end they prefer not to go”. Haha. That’s so relatable.

I started to be an outgoing person when I entered college. I enjoyed made friends with quite a lot of people. I involved in some organizations while still maintaining my academic performance. I was happy that finally people know about my talent. I was happy because finally my opinions are heard and counted. But honestly, during that times, I often thought that I was living other people’s life. I wore masks just to fit in the society. Even I wrote an article in this blog back then in 2010. If you read that article, it was so clear that I tried so hard to be a little bit more extrovert.

But then as I entered my adulthood and went to the UK to do my masters, I didn’t really care about what people think of me. I was so lucky that Europeans are unlike Indonesians. I could live my life as comfortable as I wanted to. Thankfully in early 2013 I went back to Indonesia with a different mindset. Yes, I am an introvert. So what?

Right after I found out that I am an INTJ, I started researching about that topic. I read countless articles about introversion. I read this book about INTJ written by Dan Johnson. This book made me even more confident with myself and grateful that I choose to follow a career path which is in-line with my personality. Not everyone can have a life as enjoyable as I am. Then I also read this book by Susan Cain, who started a “quiet” revolution-which I am currently re-reading it). Reading this book, I feel that I’m not alone in this world. Being an introvert doesn’t mean that I can’t be a leader. Being an introvert doesn’t mean that I am a nerd. Currently our world needs more listeners, as there are now so many people who love to talk without even thinking. This world also needs more followers. If everyone wants to be leaders, then who will be followers?

I’m proud to be an INTJ and also a Piscean (which means that I’m an introvert-melancholic person). Not many people can enjoy their solitudes. I have many friends but I choose to whom I speak to. I like my small inner-circle of friends. I feel awkward whenever I am trapped in the new crowds, but once I find someone who have similar interests and with whom I feel comfortable, believe me, I will be a very nice companion. Introvert can be crazy, as well. You can ask my friend! Yes I feel pissed off sometimes  when I have to interact with people who don’t have similar levels of understanding about certain topics. Haha.

For all of those fellow INTJs out there, just believe that we’re specials. To sum up this article, I want you to watch this Ted talk delivered by Susan Cain.

This article is inspired by a short discussion last Saturday, with an INFJ. 😀

The Best vs The Better

God already given me the best one but I still keep on searching to find the better one instead.

Mendadak kalimat itu terlintas di pikiran saya ketika saya merenung pagi tadi. Kembali membahas masalah hati dan perasaan. Saya merasa tidak mensyukuri anugerah Tuhan karena menyesali kondisi saya yang hingga saat ini masih single. Ketika curhat dengan orang-orang terdekat, topik pembicaraan juga pasti ujung-ujungnya nyenggol ke sana.

Saya berusaha mencari seseorang yang lebih baik buat saya, padahal saya sudah dipertemukan dengan yang terbaik. Dia yang selalu mengikuti perkembangan saya dari jauh, yang pada akhirnya berani maju selangkah demi selangkah. Pasti luar biasa pergumulan yang sudah terjadi dalam hatinya, menebak-nebak apakah saya nyaman dengan kehadirannya.

Tetapi, ketika pada suatu hari saya dikenalkan dengan seorang lain yang ternyata bisa mengisi sedikit kekosongan di hati, saya meninggalkan dia yang sudah berjuang untuk saya itu. Semakin saya berpikir, saya merasa bahwa ada yang salah dengan saya. Jujur saya sempat terbutakan dengan perhatian semu dari seseorang yang saya anggap lebih baik itu. Tiga hari lalu saya sampai pada titik di mana saya membandingkan kepribadian dua orang itu. Ditinjau dari segala sisi, dia memang jauh lebih baik. Kemarin saya video call sama Ibu, dan beliau tanya tentang kondisi percintaan saya. Biasalah itu saya memang selalu curhat sama Ibu. Beliau juga lebih setuju kalau saya sama yang pertama saja. Haha. Sehingga sempat agak “menentang” ketika saya mulai dekat dengan yang kedua. Ternyata memang insting seorang Ibu itu benar ya.

Jadi saya kemudian mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada diri saya. Siapa yang semangatin saya ketika saya lagi down? Siapa yang dorong saya buat sekolah lagi? Siapa yang paling bahagia ketika saya lolos beasiswa? Siapa yang mau mengorbankan waktunya untuk bertemu dengan saya? Jawabannya cuma satu : dia.

It seems so unfair if I leave him just because it took him so long to answer my text. Sedangkan dulu dia sudah pernah menunggu saya bertahun-tahun tanpa kepastian. Tiga tahun ke depan kita memang terpisah jarak dan waktu. Saya di Jerman, dia di Indonesia. Komunikasi juga sepertinya agak susah, karena dia profesi dia menuntutnya untuk mengutamakan keselamatan orang lain di atas kepentingan pribadinya.

Tapi, satu hal yang pasti, dia dekati saya tanpa tendensi apapun. Saya tahu itu.

Beberapa hari lalu saya dinasihati sama teman serumah saya :

“Jangan pernah kita merasa bisa mengubah kebiasaan buruk seseorang. Ketika kita memutuskan untuk menikah sama seseorang, kita harus bisa menerima kebiasaan buruknya seumur hidup kita. Kalau kamu belum bisa menerima, lebih baik tidak usah dilanjutkan”

Nasihat itu yang membuat saya berpikir dan membawa saya pada titik ini.

Mari nikmati masa-masa ini dengan penuh rasa syukur. Saya akhirnya bisa ke Jerman. Dia akhirnya bisa belajar bedah-bedah juga. Dia orang yang gigih, tidak pernah mengeluh, selalu sigap bantu orang sampai seringkali “dimanfaatkan” juga sama orang-orang di sekitarnya.

Terkadang kangen diskusi bareng dia, baik diskusi yang serius maupun yang tidak serius. Lebih kangen lagi duduk bersebelahan dengan dia, karena entah kenapa sepertinya dia punya heat transfer energy. Hangat sekali duduk di sebelah dia. Haha.

Love is complicated, indeed.

Tulisan ini dibuat pada hari Minggu, 30 Juli 2017.

 

Flashback

Tadi pagi begitu bangun tidur, seperti lazimnya aktivitas rutin di akhir minggu, saya cek timeline salah satu media sosial. Teman saya ada yang posting foto wisuda ITB Juli 2017. Mendadak saya teringat momen yang sama, 7 tahun lalu. Ya, pada bulan Juli 2010 saya resmi keluar dari Institut Teknologi Bandung (lewat Sabuga, bukan lewat Annex), dengan menyandang gelar Sarjana Sains setelah menjalani masa studi selama 4 tahun. Masih teringat drama (sidang yang diulang!), yang menyertai proses kelulusan saya dari program S1 Mikrobiologi.

Sudah banyak yang terjadi semenjak saya meninggalkan kampus di Jl. Ganesa 10, Bandung itu, sampai sekarang 7 tahun kemudian saya terdampar di Jerman ini.

Masa-masa awal kelulusan dipenuhi dengan euforia. Tapi setelah beberapa bulan, jujur saja saya merasa takut jadi pengangguran. Pada masa itu, sulit sekali mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang saya. Beberapa job fair saya datangi. Beberapa wawancara kerja saya jalani. Tanpa hasil. Tapi justru di titik itulah saya menyadari bahwa saya tidak memiliki passion untuk bekerja di korporat. Passion saya adalah bekerja di bidang akademik. Ketika saya mengutarakan niat saya untuk jadi peneliti dan dosen, beberapa orang menertawakan. Katanya saya terlalu idealis. Beruntung orang tua saya selalu mendukung apapun yang saya lakukan.

Dengan campur tangan Tuhan, saya yang lulus S1 dengan IPK biasa-biasa saja (saya gak cum laude lho), bisa lanjut kuliah S2 dan lulus, bisa jadi dosen, dan bisa lanjut studi S3.

Karena keajaiban itu nyata adanya.

Sedikit pesan untuk teman-teman yang baru lulus, temukan passion kalian. Tidak usah pedulikan apa kata orang. Sepanjang pekerjaan kalian bisa berguna bagi orang-orang di sekitar kalian, tidak perlu gengsi.