Author: Gabriella Febriana

scientist | pianist | dreamer

Flashback

Tadi pagi begitu bangun tidur, seperti lazimnya aktivitas rutin di akhir minggu, saya cek timeline salah satu media sosial. Teman saya ada yang posting foto wisuda ITB Juli 2017. Mendadak saya teringat momen yang sama, 7 tahun lalu. Ya, pada bulan Juli 2010 saya resmi keluar dari Institut Teknologi Bandung (lewat Sabuga, bukan lewat Annex), dengan menyandang gelar Sarjana Sains setelah menjalani masa studi selama 4 tahun. Masih teringat drama (sidang yang diulang!), yang menyertai proses kelulusan saya dari program S1 Mikrobiologi.

Sudah banyak yang terjadi semenjak saya meninggalkan kampus di Jl. Ganesa 10, Bandung itu, sampai sekarang 7 tahun kemudian saya terdampar di Jerman ini.

Masa-masa awal kelulusan dipenuhi dengan euforia. Tapi setelah beberapa bulan, jujur saja saya merasa takut jadi pengangguran. Pada masa itu, sulit sekali mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang saya. Beberapa job fair saya datangi. Beberapa wawancara kerja saya jalani. Tanpa hasil. Tapi justru di titik itulah saya menyadari bahwa saya tidak memiliki passion untuk bekerja di korporat. Passion saya adalah bekerja di bidang akademik. Ketika saya mengutarakan niat saya untuk jadi peneliti dan dosen, beberapa orang menertawakan. Katanya saya terlalu idealis. Beruntung orang tua saya selalu mendukung apapun yang saya lakukan.

Dengan campur tangan Tuhan, saya yang lulus S1 dengan IPK biasa-biasa saja (saya gak cum laude lho), bisa lanjut kuliah S2 dan lulus, bisa jadi dosen, dan bisa lanjut studi S3.

Karena keajaiban itu nyata adanya.

Sedikit pesan untuk teman-teman yang baru lulus, temukan passion kalian. Tidak usah pedulikan apa kata orang. Sepanjang pekerjaan kalian bisa berguna bagi orang-orang di sekitar kalian, tidak perlu gengsi.

[Sharing] First Things First

Halo! Tidak terasa sudah 1 bulan lebih saya tinggal di Jerman. Sudah mulai bisa beradaptasi dengan segala keteraturan di sini. Walaupun beberapa kali hampir ketabrak sepeda karena (tidak sengaja) berjalan di jalur merah, diklakson mobil gara-gara jalan di sebelah kiri (harusnya jalan di kanan), nyeberang tengoknya kiri di jalur yang harusnya tengok kanan. Sempat terkaget-kaget juga ternyata orang Jerman ada yang bisa senyum juga. Ya begitulah. Sedikit culture shock di minggu-minggu pertama.

Sudah lama tidak sharing, kali ini saya akan sharing sedikit pengalaman saya pada 1 bulan pertama di sini. Semoga berguna untuk teman-teman yang ada rencana untuk studi lanjut di Jerman pada umumnya, dan di UDE pada khususnya (karena peraturan di masing-masing Universitas sedikit berbeda). Oiya, saya sharing di sini dalam kapasitas saya sebagai penerima beasiswa DAAD. Untuk yang studi di sini dengan beasiswa lain, bisa jadi prosesnya tidak semulus yang saya alami.

Secara kronologis prosesnya seperti ini :

Immatrikulasi (Re-registrasi) di Universitas tempat kita akan belajar

Setiap mahasiswa harus melakukan immatrikulasi supaya secara resmi diterima di Universitas. Jadi, walaupun kita sudah menerima Acceptance Letter dari universitas, bukan berarti kita sudah resmi jadi mahasiswa di sana. Ini salah satu perbedaan sistem pendidikan di Jerman dan UK. Di sebagian besar universitas, mahasiswa harus melakukan immatrikulasi pada periode yang sudah ditentukan. Tapi, untungnya di UDE immatrikulasi untuk mahasiswa Doktoral bisa dilakukan kapan saja. Jadilah, saya langsung immatrikulasi di Universitas sebelum ke Köln, akhir Mei lalu. Paling lama (kalau di UDE), sekitar 1 minggu kemudian kita akan terima surat dari Universitas yang berisi bukti immatrikulasi, username & password untuk aktivasi email mahasiswa, dan contoh form untuk transfer semester social contribution.

Registrasi diri dan tempat tinggal (Meldebestätigung) di Rathaus (City Hall/ Balai Kota)

Kita harus isi form (tentunya dalam bahasa Jerman) yang kemudian kita kirimkan beserta fotokopi halaman depan passport, halaman yang berisi visa kita, dan dokumen kontrak rumah. Untuk penerima beasiswa DAAD, yang kita harus lakukan hanya isi form dan bebas biaya. Proses selanjutnya akan dikoordinir oleh tempat kursus kita yang sudah diberi kepercayaan oleh DAAD untuk menangani ini. Untuk selain penerima beasiswa DAAD, sepertinya proses ini akan dikenakan biaya (sekitar 20-50 Euro, kayanya) dan yang bersangkutan harus datang sendiri ke Balai Kota dengan membawa segala dokumen yang diperlukan, Tapi, berdasarkan cerita teman saya, prosesnya gak lama dan gak ribet kok, karena memang orang Jerman sangat efisien dalam bekerja. Saya baru sadar 2 hari lalu bahwa ternyata ada kesalahan informasi pada Meldebestätigung saya. Kode pos yang tertulis salah, karena ternyata ada dua jalan dengan nama yang sama dengan tempat tinggal saya. Haha. Sepertinya dokumen saya akan direvisi. Setiap pindah kota, kita harus mendaftarkan alamat baru kita. Jadi nanti ketika saya pindah dari Köln ke Essen, saya harus melakukan proses yang sama.

Membuka bank account 

Hal lain yang membedakan Jerman dengan negara lain adalah di sini hampir tidak ada cabang bank internasional. Jadi, kalau kita sekolah atau kerja di Jerman, kita harus punya akun di bank Jerman. Hal ini agak menyusahkan proses transfer dari Indonesia ke Jerman (dan sebaliknya). Untuk membuka bank account ini sebenarnya prosesnya gak ribet. Kita hanya diwajibkan membawa beberapa dokumen, seperti passport dan Meldebestätigung. Tapi, ada beberapa bank yang tidak bisa membukakan account untuk mereka yang memegang passport dari negara-negara tertentu (sebagian besar adalah negara-negara di Timur Tengah). Celakanya, sekarang beberapa bank mulai berpikir untuk memasukkan Indonesia ke dalam “high risk countries” list mereka. Hmm…makanya semoga di tanah air tidak ada kebijakan dan/atau kejadian yang aneh-aneh ya. Menyusahkan kami yang sedang belajar di tanah rantau.

Membayar social contribution ke account universitas 

Ketika kita sudah punya bank account dan sudah melakukan immatrikulasi, kita bisa membayar social contribution ke universitas. Salah satu keuntungan dari membayar social contribution itu, kita bisa menggunakan transportasi (bus, U-Bahn, Straßen Bahn, S-Bahn, Kereta Regional) di satu provinsi secara gratis selama satu semester. Makanya dinamakan Semesterticket.

Itu saja sih yang paling krusial. Selain poin-poin di atas, kita juga harus banyak bergaul dengan orang lokal (untuk mengasah kemampuan berbahasa Jerman), dan juga dengan teman-teman dari negara lain. Namun, jangan lupa juga untuk mencari komunitas pelajar/orang Indonesia di kota tempat kalian tinggal. Selain bisa berbagi cerita dengan teman-teman senasib, juga bisa jadi ajang kumpul-kumpul sambil makan-makan. 🙂

Salam dari Köln yang hari ini hujan

01 Juli 2017

So?

Jadi ceritanya saya lagi iseng lihat-lihat video di Youtube, sampai menemukan video di atas. Friends vs. More Than Friends. Tanpa sadar saya mengaitkan konten video itu dengan peristiwa yang terjadi pada saya.

Beberapa teman sering bilang bahwa saya tidak peka. Jadi, alasan saya single sampai sekarang itu karena saya gak peka. Itu pendapat mereka. Gak tau juga benar atau tidak.

Singkat cerita ada seseorang yang dekat sama saya sejak November 2016. Saya merasa dia hanya menganggap saya teman dan kita berteman secara profesional karena saya juga terlibat suatu proyek dengan dia. Tapi sahabat saya bilang “ih dia tuh suka sama lo, kali La”.

Suatu hari di awal Februari 2017, kita pernah janjian. Hari itu Jumat malam dan hujan. Kami janjian di sebuah mall dekat rumah saya untuk makan dan nonton. Kantor dia di pusat Jakarta, sedangkan meeting point kita di selatan Jakarta. Bisa dibayangkan betapa macetnya jalanan dari kantor dia ke meeting point kita. Jadi, saya sudah perkirakan kalau kemungkinan besar acara ketemuan hari itu akan batal. Tapi ternyata dia datang, naik ojek hujan-hujanan. Padahal beberapa hari sebelumnya bilang lagi sakit radang tenggorokan. Dia bayarin saya makan dan nonton, kemudian dia antar saya pulang.

Kalau definisi “suka” bisa diukur salah satunya dari parameter di atas, ya mungkin saja dia suka sama saya.

Tapi banyak sifat dia yang tidak (belum) bisa saya tolerir. Salah satunya : ingkar janji. Walaupun dia selalu klarifikasi alasannya, tapi tetap saja saya tidak suka. Contohnya, beberapa minggu lalu sebelum saya pergi dia sudah ajak saya ketemu, sudah set waktu. Tapi akhirnya batal. Wajar saya kecewa.

Ketika saya sudah di sini, kami hampir setiap hari berkomunikasi via chat. Kadang juga dia menelepon.

Apa segala definisi di atas itu berarti dia “more than friends?”

Yang saya mau adalah : kalau memang suka, bilang suka. gak perlu pakai kode segala macam. Kan belum tentu saya tolak juga.

Ada teman yang bilang, di umur kita yang sekarang ini sudah tidak perlu legitimasi suatu hubungan dengan kata-kata (baca : prosesi penembakan). Well, buat saya itu perlu. Untuk meminimalisir rasa kecewa kalau ternyata dia hanya menganggap kita teman.

Kalau si tersangka itu tidak sengaja tersasar di blog ini, ya mohon diperjelas aja sih. Haha.

Step 1 : German Language Course

Seperti yang sudah saya ceritakan di post sebelumnya, saya memulai perjalanan studi S3 di Jerman ini dengan belajar bahasa Jerman. Awalnya saya berpikir “ngapain sih belajar bahasa Jerman segala padahal kan nanti saya akan menulis thesis dalam bahasa Inggris?” Eitss..jangan salah..setelah sampai di sini saya baru menyadari bahwa begitu banyak orang Jerman yang tidak bisa berbahasa Inggris. Jadi, untuk bisa survive memang harus memiliki sedikit pengetahuan bahasa Jerman. Selain itu, ketika saya menemui Prof saya minggu lalu beliau bilang bahwa saya sebaiknya bisa bahasa Jerman supaya “nyambung” nanti kalau sudah mulai penelitian. Agak shock juga ketika tahu research group saya beranggotakan orang Jerman semua, kecuali saya. Tapi yasudahlah. Dibawa happy saja. 😀

Sudah dua hari ini saya mengikuti kursus super intensif bahasa Jerman di Cologne. Biaya kursus dan akomodasi semua ditanggung oleh DAAD. Dapat uang saku pula. Puji Tuhan luar biasa sekali. Makanya harus serius. Saya mengikuti kursus di level A2. Di sini ternyata kursusnya lebih menitikberatkan pada conversation. Pesertanya juga datang dari berbagai negara, yang harus saya akui mereka sangat aktif di kelas. Jujur saja saya agak keteteran. But I will catch up! 🙂

Hidup saya di sini masih agak santai, karena setiap hari kursus selesai pukul 13.00. Setelah itu adalah waktu bebas, yang beberapa hari ini saya manfaatkan untuk menemani teman-teman baru saya ke pusat kota untuk membeli SIM card. Haha. Serasa sudah tinggal lama di sini. Oiya saya bertemu dua orang Indonesia di tempat kursus. Senang! Mereka berdua berasal dari Manado. Penerima beasiswa DAAD juga, tetapi berbeda skema dengan saya. Selain itu juga saya berteman dengan orang Pakistan, Malaysia, dan Thailand. Yang orang Thailand ini lucu banget dan berinisiatif membentuk South-east Asian Union. Haha.

Seperti yang telah saya singgung di atas, DAAD sudah menyiapkan akomodasi untuk saya. Puji Tuhan lagi lokasi akomodasi saya juga masih relatif dekat dengan pusat kota. Pemilik rumah (landlady) nya juga baik dan sangat helpful. Beliau sukses mematahkan pendapat saya bahwa orang Jerman itu “dingin”. Kebetulan saya ditempatkan di akomodasi tipe communal residence dan dapat housemate orang Indonesia dan Katolik juga. Jadi bisa ke gereja bareng, deh. Memang berkat Tuhan sangat luar biasa bagi saya. Tidak henti-hentinya bersyukur.

I’m safe and sound, so far!

Cologne. 7 Juni 2017. 9.04 PM

IMG_7427

Kolner Dom, yang dulu cuma bisa saya lihat di postcard. Sekarang hanya berjarak beberapa halte dari tempat tinggal saya.

IMG_7432

Pemandangan dari kamar saya. So refreshing!

Hello, Deutschland!

Akhirnya hari Selasa tanggal 23 Mei 2017 lalu saya tiba di Jerman. Hari-hari pertama saya di sini cukup aman, karena masih ditemani oleh Ibu saya. 🙂 Meskipun ini sudah kali ke sekian saya menginjakkan kaki di Jerman, namun kali ini terasa berbeda karena saya akan tinggal di sini untuk kurun waktu yang cukup lama. 3 tahun. Excited sekaligus khawatir juga.

Bagaimana kesan pertama saya terhadap Jerman? Negara ini sangat teratur dan warganya juga taat sekali terhadap peraturan-peraturan yang ada. This is nice! Tapi, menurut saya, orang-orang Jerman itu “dingin”. Tidak seperti orang Inggris yang “hangat”. *mulai membandingkan* Semoga kesan pertama saya ini salah ya.

Anyway saya tidak akan langsung memulai perkuliahan. Rentetan perjalanan hidup di tanah rantau ini akan dimulai dengan Kursus Bahasa (Sprachkurs) di Cologne selama bulan Juni hingga September 2017, yang segalanya sudah diorganisir oleh DAAD. Luar biasa sebagai penerima beasiswa, at least sampai detik ini, saya merasa effortless.

Mohon doanya supaya saya betah di sini, cepat beradaptasi, dan dapat banyak teman.

6 tahun lalu, ketika memulai studi master di Inggris, saya membuat kategori “My life in Newcastle” di blog ini. Sekarang juga akan ada kategori baru “My life in Germany”

Semoga akan banyak cerita seru yang bisa saya share di blog ini untuk menambah semangat teman-teman semua. 😀

Essen, 28 Mei 2017. 10:40 PM

x%ZvLPFyRVSSOEmwatGhIw_thumb_3792

berfoto di depan Essen Hauptbahnhof – ps: iya saya potong rambut pendek (sekali) dan di-highlight merah violet :p

Kenapa Mau S3?

Hari Sabtu pekan lalu, orang tua saya mengadakan Misa Syukur di rumah atas berkat yang Tuhan sudah berikan untuk kami sekeluarga, terutama untuk saya. Pada saat itu Pastor bertanya kepada saya : “Ella, kenapa sih kamu mau capek-capek sekolah hingga jenjang S3?”

Jawaban saya saat itu adalah : “Saya ingin mengembangkan diri dan pada dasarnya saya juga senang belajar. Itulah yang mendasari saya melanjutkan sekolah hingga jenjang S3”

Pada Homilinya, Pastor berkata : “Sebaik-baiknya ilmu adalah yang bisa dibagikan kepada orang di sekitarmu. Jadi, janganlah melulu berpikir untuk dirimu sendiri. Namun, berpikirlah bagaimana caranya agar ilmu yang kamu peroleh selama bersekolah di luar negeri itu bisa kamu amalkan buat orang lain”

Iya. Begitu egoisnya saya sampai saya hanya berpikir untuk diri sendiri saja.

Banyak yang bertanya apakah kelak saya akan kembali ke Indonesia. Sampai detik ini saya masih berpikir untuk kembali dan mengembangkan negeri ini melalui ilmu yang saya dapat di sana nanti. Ternyata memang ada sisi idealis dalam diri saya yang belum hilang.

Banyak hal yang mungkin terjadi selama studi saya nanti. Beberapa hari lagi saya berangkat. Mohon doanya!

Semoga keberadaan saya disana bisa membawa kebaikan bagi orang-orang baru yang akan saya temui. Layaknya yang terjadi di sini dan juga di tempat-tempat lain yang pernah saya singgahi dalam hidup saya.

Saya siap berkarya di tempat baru. Belahan bumi lain yang jaraknya beribu-ribu kilometer dari tanah kelahiran saya, Indonesia.

Bersenandika di Minggu Malam Itu

Hadirnya saya di Institut Français Indonesia (IFI), Bandung hari Minggu malam lalu bukanlah hal yang disengaja. Sehari sebelumnya, dalam perjalanan ke Bandung, saya iseng chat seorang teman yang saat ini tinggal di Bandung, berharap jadwal dia agak longgar jadi kita bisa bertemu barang sebentar. Ternyata, di luar dugaan, dia mengajak kami (saya dan seorang teman) untuk hadir menonton penampilan suaminya dalam acara poemuse. Sebelumnya saya sudah melihat sekilas update-nya di akun Instagram milik teman saya. Saya pikir acaranya sudah lewat.

Oke. Cukup introduksi-nya.

Singkat cerita minggu malam, kami menuju IFI dan menikmati pertunjukkannya. Tajuk dari pertunjukkan ini adalah Senandika.

senandika : wacana seorang tokoh dalam karya susastra dengan dirinya sendiri di dalam drama yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut, atau untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca atau pendengar. -Kamus Besar Bahasa Indonesia

Acara dibuka dengan sambutan singkat dari sang sutradara, Kennya Rinonce, yang ternyata merupakan putri dari seniman Sujiwo Tejo. Beliau menyampaikan overview dari pertunjukkan Senandika ini. Selanjutnya pertunjukkan pun dimulai. Babak pertama dibuka dengan lagu “Meninggalkan Kandang” yang liriknya berdasarkan puisi karangan Eka Budianta dan aransemen musik oleh Ananda Sukarlan. Beberapa puisi dinyanyikan secara apik oleh Soprano Delta Damiana dan Tenor Daniel Victor. Galuh Pangestri menginterpretasikan kata-kata dalam puisi-puisi yang dinyanyikan dalam gerak tari yang energik. Luar biasa. Diiringi oleh dentingan piano dari pianis Nicholas Rio.

Pentas ini merupakan bentuk “protes” dari beberapa seniman muda terhadap situasi di negara Indonesia saat ini, di mana sulit untuk menjadi diri sendiri di tengah derasnya informasi yang kita terima (yang kadang lebih banyak hoax). Mereka rindu Indonesia yang damai di tengah keberagaman. Hanya ini yang bisa mereka lakukan sebagai seniman. Dan menurut saya, mereka berhasil menyampaikan pesan tersebut.

Bagian yang paling saya suka sekaligus membuat merinding adalah ketika mereka menggabungkan lagu Ave Maria, suara Adzan, tarian Saman, dan drama lagu Janger pada piano.  Perpaduan yang sangat indah.

Sedikit masukan dari saya, suara Delta dan Daniel masih bisa dibuat lebih powerful lagi. Mungkin karena faktor akustik venue yang tidak terlalu bagus, di beberapa bagian suara mereka terkesan hilang timbul. Anyway, Daniel suaranya bariton bukan Tenor. 🙂

Namun secara keseluruhan pertunjukkan ini luar biasa. Pesan yang diinginkan telah tersampaikan dengan baik. Di Indonesia jarang ada pertunjukkan yang menggabungkan puisi, musik, dan tari sekaligus. Senandika adalah salah satu yang bagus. Proficiat untuk semua yang terlibat dalam pertunjukkan ini. Keep up the great work! 🙂

ps. Lagu “Meninggalkan Kandang” dan “Dalam Doaku” membangkitkan kenangan masa lalu saya. Bertahun lalu pernah diminta seorang teman untuk mengiringinya latihan kedua lagu itu ketika dia mau ikut kompetisi Tembang Puitik Ananda Sukarlan.

IMG_7184

Berhubung susah ambil foto pas lagi pertunjukkan, maka pasang foto ini saja ya 🙂 Bersama Daniel Victor setelah pertunjukkan 

Ulasan mengenai acara ini juga dapat dilihat pada tautan di bawah ini :

http://lifestyle.kontan.co.id/news/poemuse-menyulap-kebisingan-jadi-nyanyian-puisi

https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170513/282076276790810