Tentang Bersyukur

Salah satu pelajaran hidup terpenting yang diajarkan oleh orang tua saya adalah bahwa bersyukur itu penting. Kita boleh “melihat ke atas” supaya termotivasi untuk maju. Namun, ada kalanya kita harus “melihat ke bawah” supaya sadar bahwa banyak orang yang bernasib tidak sebaik kita. Selalu melihat ke atas akan membuat kita lelah karena ambisi. Melihat ke bawah akan membuat kita bersyukur akan apa yang kita miliki.

Ketika masih tinggal di Indonesia, hidup saya sangat nyaman. Tetapi entah mengapa saya selalu merasa ada yang kurang. Namun, semenjak tinggal di sini saya selalu bersyukur untuk segala hal-hal kecil yang terjadi di hidup saya. Saya bersyukur bisa baik-baik saja bertahan selama 1.5 tahun tinggal di Jerman, terlepas dari keterbatasan bahasa, perbenturan kultur, serta ruwetnya birokrasi di sini.

Bicara tentang studi dan penelitian saya di sini, tidak selamanya tanpa masalah. Kalau teman-teman melihat beberapa foto dan konten yang saya bagi di media sosial, mungkin kalian akan berpendapat bahwa hidup saya enak sekali di sini. Pada kenyataannya, ada kalanya saya merasa kecewa karena hasil eksperimen tidak sesuai ekspektasi. Namun, kemudian saya bersyukur bahwa saya memiliki pembimbing yang selalu antusias, apapun hasil yang saya peroleh. Mereka yang selalu mengajak saya berdiskusi dan menganalisis hasil eksperimen saya dari berbagi sudut pandang. Kadangkala, mendengarkan cerita orang lain pun dapat membuat saya lebih mensyukuri keadaan saya.

Hal ini yang membuat saya ingin menulis sesuatu tentang betapa pentingnya bersyukur karena tanpa kita sadari, ketika satu pintu kesempatan tertutup untuk kita, Tuhan ternyata membawa kita masuk melalui pintu lain untuk menemukan kesempatan lain yang ternyata lebih baik untuk kita. Bahkan dalam kasus saya, Tuhan menyelamatkan saya dari sesuatu yang “buruk”

Mungkin saya belum pernah membagi cerita ini di blog. Bertahun-tahun lalu, mungkin sekitar tahun 2013 atau 2014 ketika saya sedang gencar-gencarnya mengirimkan aplikasi untuk S3, saya pernah menghubungi seorang profesor di Essen. Pada saat itu, beliau tidak memiliki posisi untuk mahasiswa S3 baru dan beliau berkata akan menghubungi saya apabila ada posisi yang tersedia. Namun, saya tidak pernah mendengar lagi kabar dari beliau. Hingga dua tahun kemudian, saya mendapat tawaran untuk S3 di Essen, di grup penelitian yang berbeda. Haha..mungkin memang saya berjodoh dengan kota ini sebenarnya. Kemarin saya berkenalan dengan seseorang yang baru memulai penelitian S3-nya di bawah bimbingan profesor yang dulu pernah saya hubungi itu. Dia bercerita bahwa dia harus bekerja tanpa henti di lab setiap hari, bahkan dI akhir pekan. Ternyata profesor itu sangat ambisius. Saya benar-benar tidak bisa berkata-kata ketika dia menceritakan hal itu.

Saya bisa saja berada di posisi teman saya itu. Saya bersyukur karena dulu profesor itu tidak menghubungi saya lagi. Sekarang saya memiliki pembimbing yang sangat baik, memastikan bahwa saya tidak berada di lab ketika weekend atau hari libur (kecuali ketika situasinya tidak memungkinkan, itu pun saya harus secepatnya menyelesaikan eksperimen saya). Profesor saya bahkan pernah berkata bahwa saya tidak memiliki jam kerja, karena saya student bukan karyawan. Saya bisa datang dan pergi jam berapapun. Yang terpenting bukan berapa lama saya stay di lab, tapi berapa banyak progress yang saya buat. Sebenarnya tidak ada alasan untuk saya tidak bersyukur.

Di luar lingkup akademik, saya pun memiliki kehidupan personal. Kadang saya berpikir, kenapa ya saya masih single di kala teman-teman seusia saya, terutama sesama orang Indonesia, bahkan sudah membangun keluarga? Sempat terpikir mungkin ada yang aneh dengan kepribadian saya hingga membuat saya sulit untuk menemukan seseorang yang cocok. Memang saya sempat agak menutup diri selama beberapa bulan, karena tidak mau kecewa lagi. Saya sempat bertekad tidak mau dekat dengan pria Jerman, karena asumsi-asumsi yang saya buat sendiri. Ketika saya memutuskan untuk mulai membuka diri, ketemunya malah sama orang Jerman. Beberapa waktu berinteraksi, menurut dia saya memilki kepribadian yang cukup menarik. Oke, berarti tidak ada masalah dengan saya. Ini hanya perkara belum bertemu dengan yang pas saja. 🙂

Oh iya dengan orang Jerman itu, juga saya putuskan untuk dilanjutkan dengan pertemanan saja. Peristiwa ini juga yang membuat saya bersyukur, karena terhindar dari patah hati yang mungkin akan terjadi apabila saya memutuskan untuk, misalkan, berpacaran sama dia. Tentu ada kalanya saya berpikir tentang segala hal yang bisa terjadi apabila saya tidak memutuskan untuk berteman saja dengan dia. Ya..andaikan kami dipertemukan beberapa tahun lalu, bukan sekarang, mungkin saya bisa ikut andil untuk mengubah masa lalu dia. Mungkin inilah definisi nyata dari “meeting the right person at the wrong time“.  Bisa jadi semuanya akan baik-baik saja. Mungkin saya yang overthinking. Tapi saya rasa saya juga berhak melindungi diri sendiri. Ketika logika dan perasaan dibenturkan, memang berat, Namun, saya harus ingat tujuan awal saya ke sini adalah untuk belajar. Kalau bonus dapat jodoh, ya bagus tapi itu bukan hal yang harus diprioritaskan setidaknya hingga 3 tahun ke depan. Saya bersyukur, saya belum terjerumus lebih dalam di relationship ini. Bersyukur juga karena sekarang dapat satu lagi teman orang Jerman, sehingga bisa sekalian melancarkan bahasa Jerman saya. Haha.

Intinya, kita harus belajar bersyukur untuk hal-hal kecil. Hidup ini akan selalu penuh masalah. Jadikan masalah itu sebagai tantangan, bukan penghalang. Dengan selalu bersyukur, kita akan merasa bahwa hidup ini akan selalu baik-baik saja. Kalau kalian percaya bahwa Tuhan itu ada, untuk banyak hal Dia akan bekerja dan Dia yang paling tahu seberapa kuat dirimu. Jadi tenang saja. 🙂

Selamat berakhir pekan, teman-teman!

Salam dari Essen yang mendung

10 November 2018

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s