sejenak merenung

learning to not envy someone else’s blessings is what grace looks like

-Rupi Kaur

Pernah gak kamu merasa iri? Perasaan iri itu sangat manusiawi. Tapi menjadi tidak manusiawi, ketika rasa iri itu berkembang jadi apa yang kita sebut nyinyir.

Saya beberapa kali menjadi korban kenyinyiran orang-orang yang tak bertanggung jawab. Sedihnya hampir semua yang berbuat demikian adalah teman-teman sebangsa setanah air. Semenjak saya tinggal di Jerman, walau sempat mengalami culture shock, tapi saya akui hidup saya lebih tenang. Lebih tenang dari hantaman orang-orang yang iri dengan kehidupan saya. Haha. Orang Jerman tidak suka mencampuri kehidupan orang lain. Kalau orang Indonesia kan terkenal ramah dan memiliki budaya saling membantu, ya. Walau seringkali berlebihan.

Sejak saya kecil, orang tua saya sering mengajak saya dan adik-adik berlibur. Seringnya memang ke luar negeri. Bukan karena orang tua saya berlimpah harta, tapi saya tahu mereka menabung demi bisa mengajak kami berlibur ke luar negeri. Tujuannya supaya wawasan kami terbuka dan kami tidak menjadi manusia yang berpemikiran sempit. Suatu hal yang memang benar kini saya rasakan. Tapi apa komentar orang-orang di luar sana kala itu? “Ella mah anaknya orang kaya. Liburan harus ke luar negeri. Gak level liburan di Indonesia”

Kedua, ketika saya kuliah di Inggris dengan beasiswa yang hanya parsial. Lagi-lagi mereka bilang kalau saya anak orang kaya. Jadi, gampang saja kalau mau kuliah di luar negeri. Yang mereka tidak tahu adalah bagaimana perjuangan saya untuk bisa lulus dengan nilai yang baik.

Ketiga, ketika saya akhirnya mendapat pekerjaan yang cukup baik. Beberapa orang bilang bahwa saya bisa diterima di tempat itu karena ada koneksi dengan orang dalam. Yang sebenarnya terjadi adalah saya melewati semua tahapan sebelum saya diterima di tempat tersebut, dan sama sekali tidak ada orang dalam.

Iri dengan keberhasilan orang lain, tanpa berusaha memperbaiki kehidupanmu, tidak akan membuat kamu menjadi lebih baik. Di saat yang sama, orang yang menjadi objek “kebencianmu” itu sudah jauh melesat melewatimu.

Kadangkala kamu hanya mengenal sebagian dari pribadi seseorang, tetapi kamu sudah merasa berhak untuk menghakimi kehidupannya. Kamu tidak pernah tahu sekeras apa dia berusaha untuk bisa sampai pada kondisinya yang seperti sekarang.

Dan untuk kalian yang sering dijadikan objek “kebencian” (alias suka dinyinyirin), berbanggalah. Hidup kalian ternyata begitu menariknya bagi orang-orang itu.

Intinya, kalau kamu ingin seperti seseorang, kamu harus berusaha supaya bisa menjadi seperti orang itu. Bukan hanya berpangku tangan dan mengarang asumsimu sendiri.

Pernah gak saya iri? Sering. Tapi, rasa “iri” yang kadang timbul itu selalu saya jadikan sumber motivasi untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik daripada sebelumnya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s