Month: July 2018

Mental Pemburu Beasiswa : Fenomena di Indonesia

Semenjak saya membagikan pengalaman tentang proses mendapatkan beasiswa di blog  ini tahun lalu, banyak rekan-rekan pejuang beasiswa yang menghubungi saya lewat surat elektronik maupun lewat sosial media. Terima kasih saya ucapkan untuk kalian. Saya bersyukur karena bisa menularkan semangat kepada rekan-rekan di luar sana. Saya juga bersyukur bahwa yang menghubungi saya adalah orang-orang yang memiliki semangat juang tinggi, tidak hanya sekedar bertopang dagu dan mengharapkan informasi datang kepada mereka.

Tulisan kali ini saya buat karena terinspirasi dari diskusi dunia maya tadi malam antara kami sesama penerima beasiswa DAAD dari Indonesia angkatan 2017. Salah satu dari kami memulai dengan pertanyaan “Kok sedikit sekali ya penerima beasiswa DAAD dari Indonesia beberapa tahun terakhir ini?”. Hingga saat ini, ¬†hanya ada dua kemungkinan beasiswa yang dapat di-apply oleh warga negara Indonesia yang ingin studi di Jerman yaitu DAAD dan LPDP. Keduanya merupakan dana pemerintah yang bersumber dari pajak rakyat – DAAD dari pajak rakyat Jerman, LPDP dari pajak rakyat Indonesia. Jadi, kami penerima beasiswa ini mengemban amanat dari rakyat sehingga harus belajar dengan baik. Bedanya, penerima beasiswa LPDP memiliki kewajiban untuk kembali mengabdi untuk Indonesia setelah menyelesaikan studi. Kami, penerima beasiswa DAAD, walau disarankan untuk kembali membangun tanah air, tidak pernah menandatangani perjanjian hitam di atas putih untuk kembali.

Kembali kepada pertanyaan kenapa sedikit sekali penerima beasiswa DAAD dari Indonesia? Alasan utama adalah : persyaratannya rumit. Alasan kedua : beasiswa LPDP dianggap lebih prestigius bagi pemburu beasiswa di Indonesia. Kedua alasan tersebut benar adanya. Persyaratan beasiswa DAAD memang “rumit” dan besar kemungkinan kita akan “menyerah” sebelum “berperang”. Saya berbicara dalam konteks beasiswa DAAD untuk S3 di Jerman. Sebelum memutuskan mendaftar, kita sudah harus memperoleh konfirmasi dari Profesor di Jerman bahwa beliau bersedia membimbing penelitian kita. Selanjutnya, kita juga sudah harus mempunyai proposal penelitian. Dengan kata lain, sudah harus ada bayangan nanti di Jerman akan melakukan penelitian tentang apa. Kedua persyaratan tersebut yang dianggap “berat” dan menyebabkan sedikitnya pelamar beasiswa DAAD dari Indonesia. Persyaratan lain menurut saya standar, seperti sertifikat penguasaan bahasa Inggris dan (jika ada) bahasa Jerman.

Fenomena kedua adalah mengenai biaya untuk tes kemampuan bahasa Inggris dan Jerman. Saya sudah sering membaca komentar di forum-forum beasiswa yang mengeluhkan mengapa lembaga pemberi beasiswa tidak membiayai tes bahasa tersebut? Sejujurnya, saya selalu geleng-geleng kepala membaca komentar-komentar semacam itu.

Rekan-rekan, mendapatkan beasiswa itu perlu modal. Pada masa saya dulu, saya harus membayar sekitar 2 juta Rupiah untuk satu kali tes IELTS. Iya memang mahal. Apalagi kalau kalian harus tes berulang kali untuk mencapai nilai standar yang diminta oleh lembaga pemberi beasiswa. Tidak sedikit pejuang beasiswa yang menyerah. Padahal, itu baru tahap awal proses menggapai mimpi kalian. Ketika sudah mendapatkan beasiswa, jangan dikira tidak ada tantangan yang dihadapi. Saya menyadari bahwa uang 2 juta Rupiah itu sangat besar bagi kalian yang belum memiliki penghasilan tetap dan hiduonya masih bergantung pada orang tua. Well, tapi kalian bisa menabung kan?

Semua beasiswa yang ditawarkan untuk warga negara Indonesia memiliki persyaratan standar, yaitu menyertakan sertifikat kemampuan bahasa. Kalau memang kalian niat untuk memperoleh beasiswa, seharusnya persiapan sudah dilakukan sejak beberapa tahun sebelumnya. Kalau kalian niat, kalian seharusnya belajar giat untuk mempersiapkan tes kemampuan bahasa sehingga uang 2 juta Rupiah itu tidak sia-sia karena kalian akan berhasil mencapai skor maksimal hanya dengan satu kali tes.

Sekali lagi, syarat utama mendapatkan beasiswa adalah NIAT. Dan saya rasa, kita harus membuang jauh karakteristik “meminta belas kasihan” dari lembaga pemberi beasiswa. Beasiswa untuk studi di luar negeri itu terbuka untuk siapa saja, baik anak orang kaya maupun anak orang miskin. Karena dalam formulir aplikasi beasiswa (DAAD), tidak ada pertanyaan mengenai penghasilan orang tua dan penghasilan kita (bagi yang sudah bekerja). Jadi, kalian akan berkompetisi secara fair. Lembaga pemberi beasiswa akan dengan senang memberi pembiayaan bagi orang-orang yang potensial menjadi scholars (insan berilmu) di masa yang akan datang. Hal tersebut akan terlihat dari cara kita menjawab pertanyaan-pertanyaan dari panelis pada saat sesi wawancara.

Mengutip kata seorang rekan saya, beasiswa itu ibaratnya peluang. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan peluang yang ada. Ingat, di saat kita mengeluhkan persyaratan beasiswa yang berat, di luar sana ada rekan-rekan kita yang berusaha keras mengerahkan segala yang mereka punya untuk menggapai peluang itu.

Bukan IPK S1 dan IPK S2 cum laude yang akan membawa kalian memperoleh beasiswa apapun. Tapi niat yang kuat.

Salam semangat, rekan-rekan semua!

Essen, 27 Juli 2018

sejenak merenung

learning to not envy someone else’s blessings is what grace looks like

-Rupi Kaur

Pernah gak kamu merasa iri? Perasaan iri itu sangat manusiawi. Tapi menjadi tidak manusiawi, ketika rasa iri itu berkembang jadi apa yang kita sebut nyinyir.

Saya beberapa kali menjadi korban kenyinyiran orang-orang yang tak bertanggung jawab. Sedihnya hampir semua yang berbuat demikian adalah teman-teman sebangsa setanah air. Semenjak saya tinggal di Jerman, walau sempat mengalami culture shock, tapi saya akui hidup saya lebih tenang. Lebih tenang dari hantaman orang-orang yang iri dengan kehidupan saya. Haha. Orang Jerman tidak suka mencampuri kehidupan orang lain. Kalau orang Indonesia kan terkenal ramah dan memiliki budaya saling membantu, ya. Walau seringkali berlebihan.

Sejak saya kecil, orang tua saya sering mengajak saya dan adik-adik berlibur. Seringnya memang ke luar negeri. Bukan karena orang tua saya berlimpah harta, tapi saya tahu mereka menabung demi bisa mengajak kami berlibur ke luar negeri. Tujuannya supaya wawasan kami terbuka dan kami tidak menjadi manusia yang berpemikiran sempit. Suatu hal yang memang benar kini saya rasakan. Tapi apa komentar orang-orang di luar sana kala itu? “Ella mah anaknya orang kaya. Liburan harus ke luar negeri. Gak level liburan di Indonesia”

Kedua, ketika saya kuliah di Inggris dengan beasiswa yang hanya parsial. Lagi-lagi mereka bilang kalau saya anak orang kaya. Jadi, gampang saja kalau mau kuliah di luar negeri. Yang mereka tidak tahu adalah bagaimana perjuangan saya untuk bisa lulus dengan nilai yang baik.

Ketiga, ketika saya akhirnya mendapat pekerjaan yang cukup baik. Beberapa orang bilang bahwa saya bisa diterima di tempat itu karena ada koneksi dengan orang dalam. Yang sebenarnya terjadi adalah saya melewati semua tahapan sebelum saya diterima di tempat tersebut, dan sama sekali tidak ada orang dalam.

Iri dengan keberhasilan orang lain, tanpa berusaha memperbaiki kehidupanmu, tidak akan membuat kamu menjadi lebih baik. Di saat yang sama, orang yang menjadi objek “kebencianmu” itu sudah jauh melesat melewatimu.

Kadangkala kamu hanya mengenal sebagian dari pribadi seseorang, tetapi kamu sudah merasa berhak untuk menghakimi kehidupannya. Kamu tidak pernah tahu sekeras apa dia berusaha untuk bisa sampai pada kondisinya yang seperti sekarang.

Dan untuk kalian yang sering dijadikan objek “kebencian” (alias suka dinyinyirin), berbanggalah. Hidup kalian ternyata begitu menariknya bagi orang-orang itu.

Intinya, kalau kamu ingin seperti seseorang, kamu harus berusaha supaya bisa menjadi seperti orang itu. Bukan hanya berpangku tangan dan mengarang asumsimu sendiri.

Pernah gak saya iri? Sering. Tapi, rasa “iri” yang kadang timbul itu selalu saya jadikan sumber motivasi untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik daripada sebelumnya.