Putus

Pernah dengar lagu yang judulnya “Jatuh Cinta Itu Biasa Saja” yang dinyanyikan oleh grup band Efek Rumah Kaca beberapa tahun yang lalu?

Kita berdua tak pernah ucapkan maaf, tapi saling mengerti

Kita berdua tak hanya menjalani cinta, tapi menghidupi

Ketika rindu menggebu-gebu, kita menunggu

Jatuh cinta itu biasa saja

Liriknya sederhana, tetapi dalem. Suatu hubungan memang seharusnya seperti lirik lagu di atas, kalau mau berjalan dengan baik. Tidak perlu drama. Saya baru saja putus dengan seseorang. Kami pacaran hanya seumur jagung, tetapi diawali dengan proses pendekatan yang cukup panjang. Sekitar 1 tahun. Kenapa putus? Tidak cocok. Namun, alasan “tidak cocok” itu hanyalah sesuatu yang ada di puncak gunung es. Di bawahnya banyak sekali alasan, yang membuat saya berpikir bahwa kalau hubungan ini diteruskan, pasti akan semakin sakit untuk kami berdua.

Dia terlalu percaya dengan saya. Pasti kalian berpendapat : “Bagus dong! Jarang ada cowok yang gak posesif sama ceweknya”. Saya ingin ada seseorang yang menanyakan kabar saya dan antusias dengan kegiatan saya. Dia tidak bisa memberikan itu.

Dia tidak bisa dibantah. Banyak yang berpendapat bahwa dalam suatu hubungan, perbedaan itu indah. Tapi kalau terlalu banyak perbedaan, bisa berakhir perang. Sifat kami bertolak belakang dan kami memiliki pola pikir yang sangat berbeda. Saya sudah menyadarinya sejak pertama kali berkenalan dengan dia. Salah saya, kenapa juga mau jadian sama dia. But, anyway, shouldn’t we learn from our mistakes? Dia tipe pria yang sangat dominan. Saya pun begitu. Memang terkadang dia mengalah, tapi saya sadar bahwa dia “terpaksa” mengalah supaya situasi seakan baik-baik saja di antara kami.

Satu lagi, dia tidak (belum) bisa berkomitmen. At least berkomitmen dengan saya pada saat ini. Sedangkan, seperti yang kalian ketahui, saat ini saya tinggal di Jerman dan si beliau ini di Indonesia. Apa jadinya sebuah long distance relationship tanpa dilandasi oleh komitmen yang kuat? Bubar.

Untuk si ex, ketika saya bilang thanks for everything, itu benar-benar dari lubuk hati terdalam dan bukan basa basi. Saya belajar banyak dari proses yang sudah kita jalani ini. Mungkin saya memang terlalu keras kepala buat kamu. Semoga kamu dipertemukan dengan seseorang yang bisa membuatmu bahagia ya! Satu hal, saya tidak pernah merasa menyesal dipertemukan dengan kamu karena saya percaya Tuhan sudah merencanakan kita untuk bertemu supaya kita bisa saling belajar untuk menjadi lebih baik lagi ke depannya. 🙂

Boleh ada yang namanya mantan pacar, tapi tidak ada istilah mantan teman. Kita berawal dari teman, dan semoga akan berakhir menjadi teman lagi. Tidak ada blok-blokan media sosial. Well, karena kita bukan lagi ABG labil. Haha.

Kalau saya bilang, saya baik-baik saja setelah putus, sepertinya hati saya terbuat dari batu ya. Tentu saja saya sedih ketika mengingat segala hal baik yang pernah terjadi. Tapi hidup harus berlanjut. Masih banyak mimpi yang harus dikejar. Mudah-mudahan akan ada seseorang lagi yang datang di waktu yang tepat.

It’s not a failure. It’s another lesson learned.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s