Month: November 2017

Membudayakan Budaya Tepat Waktu

Bagi teman-teman yang kenal cukup dekat dengan saya, pasti paham benar bahwa saya itu orangnya sangat disiplin, dalam hal apapun. Saya sangat keras pada diri sendiri. Contohnya, setiap hari Senin sampai Jumat saya tidak boleh bangun lebih dari jam 6. Mostly alarm yang membangunkan saya. Tapi, karena sepertinya tubuh saya sudah terbiasa dengan pola seperti itu, suatu hari alarm hp saya mati, tetapi saya bisa terbangun di waktu tersebut.

Saya juga selalu mencatat jadwal saya di beberapa tempat -seperti di hp, laptop, dan agenda-karena saya termasuk orang yang pelupa. Ketika masih tinggal di Indonesia, teman-teman saya sering merasa kesal karena saya tidak pernah bisa untuk diajak sudden meet-up. Entah kenapa jadwal saya selalu padat, sehingga untuk sekedar ngopi bareng teman saja, saya harus mengatur jadwal setidaknya dari dua minggu sebelumnya. Akhirnya saya dicap sok sibuk.

Tetapi, saya selalu menepati setiap janji yang saya buat. Kalian bisa tanya ke orang-orang terdekat saya, berapa kali saya pernah membatalkan janji tiba-tiba. Tidak pernah. Kalaupun saya harus cancel suatu appointment, saya akan lakukan itu paling telat 24 jam sebelumnya. Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Ketika seseorang sudah menyediakan waktunya untuk kita, walau hanya semenit, kita harus menghargainya dengan cara tidak datang terlambat. Oleh karena itu, saya tidak habis pikir ada beberapa jenis manusia yang menganggap bahwa datang terlambat di suatu acara adalah wajar, membatalkan janji tiba-tiba (dengan alasan sibuk) adalah hal yang lumrah. Jenis yang terakhir inilah yang paling menyebalkan dan sebaiknya dimusnahkan dari seluruh muka bumi. Hey, kamu bukan satu-satunya orang yang sibuk di dunia ini. It’s all about priority.

Parahnya, kebiasaan “jam karet” itu masih terbawa ketika orang Indonesia pindah ke luar negeri. Suatu hari saya berencana datang ke acara yang melibatkan orang-orang Indonesia di sini. Di hari yang sama, tapi di waktu yang berselang sekitar 2 jam, saya ada acara juga. Saya mengutarakan rencana saya ke teman saya dan dia memberi saran “kamu datang ke acara yang satu dulu aja, karena acara ini mulainya pasti ngaret. Paling jam 2 atau jam 3 baru mulai” What? Padahal di undangannya tertera acara dimulai jam 11. Budaya jam karet? Kalau saya sih malu ya, ketika orang mengasosiasikan Indonesia dengan hal tersebut.

Bagaimana dengan orang Jerman? Harus diakui bahwa mereka sangat menghargai waktu. Dari yang sepele saja, misalkan jadwal transportasi. Ketika ada keterlambatan, walau hanya 5 menit, pasti ada pemberitahuan. Bandingkan dengan di Indonesia. Jangan bilang : “ya, Jerman kan negara maju. Sistemnya sudah bagus. Beda”. Ini perkara kecil lho, bukan masalah sistem whatever. Dalam hal jam kerja, orang Jerman juga sangat efisien. Mereka berpegang pada kontrak kerja yang sudah disepakati. Kalau jam kerja dimulai pukul 7 pagi, mau ada hujan badai, mereka akan berusaha sudah ada di kantor pada waktu tersebut. Di sini tidak dikenal yang namanya overtime atau lembur. Di Indonesia, kita berlomba-lomba untuk kerja overtime karena semakin malam kita pulang dari kantor, pundi-pundi kita akan semakin tebal di akhir bulan. Di sini, orang berlomba-lomba untuk pulang tepat waktu supaya bisa cepat sampai rumah berkumpul dengan keluarga, atau melakukan hal-hal lain. Di Indonesia, membalas email kantor di kala weekend adalah hal yang keren karena menunjukkan dedikasi yang besar terhadap pekerjaan. Di sini, orang akan bilang kamu gila dan “tidak punya kehidupan”, ketika kamu masih menyentuh those work-related stuffs di akhir minggu.

Menjadi orang yang tepat waktu dan menghargai waktu orang lain itu adalah investasi yang baik buat kehidupan. Jadi tidak ada salahnya untuk berubah menjadi lebih baik. Jangan terus berkedok di balik kata-kata “ah biasa lah orang Indonesia suka terlambat”

Salam dari Essen yang selalu hujan akhir-akhir ini 🙂

24 November 2017