Aufwiedersehen, Köln

IMG_7866
Cologne Flora & Botanical Garden – because Cologne is not always about Kölner Dom

Four months flies in a blink! Here comes my last week in Cologne.

Honestly speaking, this town is my comfort zone. But my main reason going to Germany is not staying in Cologne to learn German language. The main reason is to conduct a research in Essen, get my PhD in the next 3 years, then go back to Indonesia and applying my skills.

Being placed in Cologne for 4 months to learn German language is a privilege for me, since this town is one of the tourist destinations in Germany. There are 5 of us, the DAAD scholarship holders, who learned together in Goethe Institut Jakarta back then in March – April 2017. Once arriving in Germany, we were separated. Two of us went to Berlin. The other two went to Goettingen. And me, the only one here in Cologne. 🙂

What was my first impression about Cologne? Crowded. Well, I have grown up in Jakarta, which is for sure much more crowded than Cologne. So, this fact did not really shocked me actually. After spending some times, I feel that this town is very comfortable. There are various means of transportation to make us easily explore the town. However, I must admit that in busy days I cannot rely much on the transportation schedule since I often found delays here and there.

How about the people? Having expected Germans to be “cold”, people in Cologne can be categorized as (very) friendly. If you think that Germans are unfriendly, probably you should meet my landlady, Birgitt. She always make sure that everything’s okay with me and my friend. Once a week she comes to our flat and tells us story about anything, She loves traveling and during our 4 months stay here she has brought us to some short trips. I will definitely miss her so much.

Four months ago when I started living here, I was a little bit worried that I would have difficulties on making new friends. Thankfully I have an Indonesian housemate, who have became my new bestfriend for these past 4 months. Thankfully my German language course class consists of people from various cultural backgrounds. At first I also was so worried how can I move from Cologne to Essen since I got two luggages and it would be hard if I must take a regional train. Thankfully, by chance, I know an Indonesian Catholic Community here, become involved there, and got to know an Indonesian priest who routinely serve for the mass. He offered to help me with the moving.

Yes, lots of things and miracles to be thankful for.

I am so grateful to be surrounded by kind people like them. And finally I have no reason at all to be worried.

Cologne, you always have a special place in my heart. See you again some time. 🙂

Another adventure is waiting.

Da simmer dabei! Dat es prima! VIVA COLONIA!
Wir lieben das Leben, die Liebe und die Lust
wir glauben an den lieben Gott und han auch immer Durst

(An exerpt from “Viva Colonia” – a Cologne folk song)

Advertisements

On Being An Independent Woman

Beberapa waktu lalu ada seorang teman di sini yang “menegur” saya sambil bercanda : “Ella, kamu itu independen sekali ya. Tidak ada salahnya lho sekali-kali manja.”

Jawaban spontan saya : “saya geli kalau harus bermanja-manja, apalagi sama cowok”

Ya, saya dididik untuk menjadi seorang yang tangguh. Sejak saya kecil, orang tua saya tidak pernah mengajarkan saya untuk bergantung pada siapapun. Mulai dari hal sekecil merapikan tempat tidur, cuci piring, dan sebagainya, saya lakukan sendiri walaupun dulu di rumah ada ART.

Mungkin hal itulah yang membuat saya tidak pernah merasa takut tinggal berjauhan dengan orang tua. Mereka menyediakan segala fasilitas yang saya perlukan, tetapi saya sudah dibiasakan untuk mengurus keperluan saya sendiri.

Beranjak dewasa, saya mulai dekat dengan pria. Pada masa inilah saya menyadari bahwa sebagian besar pria tidak menyukai wanita yang independen. Apakah lantas saya mengubah kepribadian supaya menjadi seorang wanita yang “disukai” oleh pria? Tidak. Justru dengan kriteria ini saya bisa menyeleksi pria mana yang layak saya harapkan. Ternyata masih ada kok pria yang tidak terintimidasi dengan seorang wanita independen seperti saya. 🙂

Jujur saja, wacana tentang “wanita independen tidak disukai pria” ini sempat menghantui pikirian saya. Bagaimana kalau pria-pria itu berpikir bahwa saya terlalu picky? Tapi pada akhirnya, hey justru saya harus picky untuk hal-hal yang berkaitan dengan masa depan saya.

Saya tidak mempan dengan kata-kata puitis nan romantis. Tapi saya bisa jatuh hati dengan seseorang yang mempunyai visi jelas tentang masa depannya. Saya jatuh hati dengan seseorang yang punya mimpi. Saya jatuh hati dengan seseorang yang berorientasi pada solusi dari suatu masalah, bukan malah memperkeruh situasi. Saya jatuh hati dengan seseorang yang bisa romantis di saat yang tepat (contohnya ketika saya sakit).

Seorang wanita independen juga membutuhkan kehadiran seorang pria. Tetapi bukan pria biasa. Hanya pria tangguh yang bisa berjalan berdampingan dengan seorang wanita tangguh.

Pada akhirnya, apakah saya perlu berubah menjadi seorang wanita yang dependen? Tidak! 🙂

(Almost) two years and counting. Masih dia yang sama, yang cuek nyebelin, tapi suka tertawa terkekeh. Bedanya? Dulu jarak rumah kami hanya berkisar 5 kilometer-an, jarak kantor cuma sebatas Jakarta Pusat-Jakarta Timur. Sekarang, jarak kami ribuan kilometer ditambah beda waktu 5 jam. Tidak ada lagi dia yang naik motor samperin saya ke rumah. Hanya sesekali muncul notifikasi dari dia di layar telepon genggam saya.

Mungkin kalau dulu saya tidak ketemu dia lagi, sekarang saya gak ada di Jerman.