Memandang Indonesia dari Jauh

Selamat Ulang Tahun, Indonesia!

Tahun ini saya kembali “merayakan” kemerdekaan tanah air dari benua Eropa. Tapi tak apa. Walaupun raga saya sering berpindah-pindah, tetapi jiwa saya tetap ada untuk Indonesia.

Apa arti “merdeka” bagi saya? Memiliki kebebasan untuk menentukan mau jadi apa saya di masa yang akan datang. Memiliki kesempatan untuk mendalami ilmu yang saya tekuni hingga jenjang yang setinggi mungkin.

Indonesia sendiri, secara resmi sudah merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Tapi, apakah bangsa kita yang telah berusia 72 tahun ini benar-benar merdeka? Kita memang telah merdeka dari penjajah. Namun, rakyat kita sayangnya sepertinya belum mau merdeka. Lihat saja berbagai konflik yang terjadi di Indonesia, yang sebagian besar mengatasnamakan agama demi kepentingan politik. Lihat saja rakyat kita yang masih sangat mudah untuk diadu-domba dan diprovokasi oleh berbagai pihak yang tidak bertanggung jawab.

Saat saya masih tinggal di Indonesia, setiap hari saya selalu dicekoki oleh berita-berita negatif tentang tanah air. Rasanya hampir tidak pernah saya dengar berita yang bagus tentang Indonesia. Sebagai orang Indonesia, saya pernah apatis terhadap masa depan negara ini. Walau sekarang sedikit demi sedikit saya mulai optimis dengan Indonesia.

Kita harus pergi menjauh, supaya bisa memandang tanah air dari sudut pandang yang lebih netral.

Saya pernah membaca kalimat itu. Memang benar, ketika saya berada jauh dari tanah air, sense of belonging terhadap Indonesia semakin kuat. Rasanya saat teman yang berasal dari negara lain bercerita tentang betapa hebat negaranya, saya juga tidak mau kalah berkata “di negara saya juga begitu”. Di sini juga saya seringkali merasa bangga dengan negara Indonesia yang terdiri dari berbagai pulau. Teman-teman dari negara lain iri lho dengan keindahan dan kekayaan negara kita.

Saya juga bangga ketika orang bule melabeli orang Indonesia sebagai pekerja keras. Orang-orang Indonesia selalu berprestasi di luar negeri. Oleh karena itu, banyak yang ditawari untuk bekerja di negeri orang. Dulu waktu saya sekolah di Inggris, ada seorang opa yang sampai membawa selembar peta dunia. Dia hanya ingin menunjukkan betapa jauhnya kami, pelajar-pelajar dari Indonesia, menempuh perjalanan berbelas-belas jam untuk belajar di negerinya Ratu Elizabeth itu. Kenapa mereka begitu kagum? Karena orang Inggris (dan sebagian besar orang Eropa) itu malas untuk jauh-jauh merantau.

Sekarang di Jerman, teman-teman saya juga banyak yang penasaran dengan Indonesia. Mereka ingin mengunjungi Bali, Labuan Bajo, Pulau Komodo, Wakatobi, Raja Ampat, dan berbagai tempat indah lainnya di Indonesia. Saya merasa malu sekali ketika saya hanya bisa menunjukkan gambar-gambar dari Google Images, karena dari semua tempat itu saya baru pernah ke Bali saja. Malu karena saya sudah menjelajahi berbagai negara di dunia, tapi saya belum banyak menjelajahi negara saya sendiri.

Beberapa waktu lalu tersebar tulisan di media sosial yang mengkritik pelajar-pelajar Indonesia di luar negeri yang kebanyakan plesiran. Tapi, apakah mereka tahu bahwa kami di sini tak henti-hentinya mempromosikan budaya Indonesia? Orang-orang Indonesia (yang kurang piknik) memang bisanya hanya mengkritik.

Adakah hal buruk yang saya alami di sini terkait kewarganegaraan saya? Untuk hal-hal yang berhubungan dengan birokrasi, iya saya memang agak sedikit “dicurigai” karena memegang paspor Indonesia. Tapi sejauh ini sih semua urusan sudah berakhir lancar. Oleh karena itu, saya di sini selalu berharap agar situasi di Indonesia selalu aman terkendali. Supaya saya dan teman-teman lain dari Indonesia bisa belajar dengan tenang.

Seenak-enaknya tinggal di negara orang, lebih enak tinggal di negara sendiri. Di sini banyak aturan. Peraturan di Indonesia lebih fleksibel. Di Indonesia, ketika keluar rumah, kita selalu disapa ramah oleh tetangga. Kadangkala kita merasa mereka lebay. Cobalah tinggal di Jerman. Kita mencoba menyapa tetangga, mereka malah pasang muka bingung. Indonesia adalah surganya makanan enak. Di sini? Jangan harap. Sebagian besar makanan di sini hambar tidak ada rasanya. Haha.

Pergilah merantau, maka kamu akan menyadari betapa berharganya tanah airmu

Untuk Indonesia tanah airku, Dirgahayu! Suatu saat saya akan kembali dan membangun tanah air dengan ilmu yang saya miliki. Doakan kami yang sedang berjuang ini.

Walaupun banyak negeri kujalani

Yang mashyur permai dikata orang

Tetapi kampung dan rumahku

Disanalah kurasa senang

Tanahku tak kulupakan

Engkau kubanggakan 

Selamat upacara. Selamat lomba makan kerupuk, balap karung, bakiak, panjat pinang, balap kelereng, dan sebagainya. Di sini 17 Agustus tetap kami lalui layaknya hari biasa. Untuk teman-teman Indonesia di Jerman, ada acara di KBRI Berlin, KJRI Frankfurt, dan KJRI Hamburg. Tapi geng Köln tidak bisa join. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s