The Best vs The Better

God already given me the best one but I still keep on searching to find the better one instead.

Mendadak kalimat itu terlintas di pikiran saya ketika saya merenung pagi tadi. Kembali membahas masalah hati dan perasaan. Saya merasa tidak mensyukuri anugerah Tuhan karena menyesali kondisi saya yang hingga saat ini masih single. Ketika curhat dengan orang-orang terdekat, topik pembicaraan juga pasti ujung-ujungnya nyenggol ke sana.

Saya berusaha mencari seseorang yang lebih baik buat saya, padahal saya sudah dipertemukan dengan yang terbaik. Dia yang selalu mengikuti perkembangan saya dari jauh, yang pada akhirnya berani maju selangkah demi selangkah. Pasti luar biasa pergumulan yang sudah terjadi dalam hatinya, menebak-nebak apakah saya nyaman dengan kehadirannya.

Tetapi, ketika pada suatu hari saya dikenalkan dengan seorang lain yang ternyata bisa mengisi sedikit kekosongan di hati, saya meninggalkan dia yang sudah berjuang untuk saya itu. Semakin saya berpikir, saya merasa bahwa ada yang salah dengan saya. Jujur saya sempat terbutakan dengan perhatian semu dari seseorang yang saya anggap lebih baik itu. Tiga hari lalu saya sampai pada titik di mana saya membandingkan kepribadian dua orang itu. Ditinjau dari segala sisi, dia memang jauh lebih baik. Kemarin saya video call sama Ibu, dan beliau tanya tentang kondisi percintaan saya. Biasalah itu saya memang selalu curhat sama Ibu. Beliau juga lebih setuju kalau saya sama yang pertama saja. Haha. Sehingga sempat agak “menentang” ketika saya mulai dekat dengan yang kedua. Ternyata memang insting seorang Ibu itu benar ya.

Jadi saya kemudian mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada diri saya. Siapa yang semangatin saya ketika saya lagi down? Siapa yang dorong saya buat sekolah lagi? Siapa yang paling bahagia ketika saya lolos beasiswa? Siapa yang mau mengorbankan waktunya untuk bertemu dengan saya? Jawabannya cuma satu : dia.

It seems so unfair if I leave him just because it took him so long to answer my text. Sedangkan dulu dia sudah pernah menunggu saya bertahun-tahun tanpa kepastian. Tiga tahun ke depan kita memang terpisah jarak dan waktu. Saya di Jerman, dia di Indonesia. Komunikasi juga sepertinya agak susah, karena dia profesi dia menuntutnya untuk mengutamakan keselamatan orang lain di atas kepentingan pribadinya.

Tapi, satu hal yang pasti, dia dekati saya tanpa tendensi apapun. Saya tahu itu.

Beberapa hari lalu saya dinasihati sama teman serumah saya :

“Jangan pernah kita merasa bisa mengubah kebiasaan buruk seseorang. Ketika kita memutuskan untuk menikah sama seseorang, kita harus bisa menerima kebiasaan buruknya seumur hidup kita. Kalau kamu belum bisa menerima, lebih baik tidak usah dilanjutkan”

Nasihat itu yang membuat saya berpikir dan membawa saya pada titik ini.

Mari nikmati masa-masa ini dengan penuh rasa syukur. Saya akhirnya bisa ke Jerman. Dia akhirnya bisa belajar bedah-bedah juga. Dia orang yang gigih, tidak pernah mengeluh, selalu sigap bantu orang sampai seringkali “dimanfaatkan” juga sama orang-orang di sekitarnya.

Terkadang kangen diskusi bareng dia, baik diskusi yang serius maupun yang tidak serius. Lebih kangen lagi duduk bersebelahan dengan dia, karena entah kenapa sepertinya dia punya heat transfer energy. Hangat sekali duduk di sebelah dia. Haha.

Love is complicated, indeed.

Tulisan ini dibuat pada hari Minggu, 30 Juli 2017.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s