Month: May 2017

Hello, Deutschland!

Akhirnya hari Selasa tanggal 23 Mei 2017 lalu saya tiba di Jerman. Hari-hari pertama saya di sini cukup aman, karena masih ditemani oleh Ibu saya. 🙂 Meskipun ini sudah kali ke sekian saya menginjakkan kaki di Jerman, namun kali ini terasa berbeda karena saya akan tinggal di sini untuk kurun waktu yang cukup lama. 3 tahun. Excited sekaligus khawatir juga.

Bagaimana kesan pertama saya terhadap Jerman? Negara ini sangat teratur dan warganya juga taat sekali terhadap peraturan-peraturan yang ada. This is nice! Tapi, menurut saya, orang-orang Jerman itu “dingin”. Tidak seperti orang Inggris yang “hangat”. *mulai membandingkan* Semoga kesan pertama saya ini salah ya.

Anyway saya tidak akan langsung memulai perkuliahan. Rentetan perjalanan hidup di tanah rantau ini akan dimulai dengan Kursus Bahasa (Sprachkurs) di Cologne selama bulan Juni hingga September 2017, yang segalanya sudah diorganisir oleh DAAD. Luar biasa sebagai penerima beasiswa, at least sampai detik ini, saya merasa effortless.

Mohon doanya supaya saya betah di sini, cepat beradaptasi, dan dapat banyak teman.

6 tahun lalu, ketika memulai studi master di Inggris, saya membuat kategori “My life in Newcastle” di blog ini. Sekarang juga akan ada kategori baru “My life in Germany”

Semoga akan banyak cerita seru yang bisa saya share di blog ini untuk menambah semangat teman-teman semua. 😀

Essen, 28 Mei 2017. 10:40 PM

x%ZvLPFyRVSSOEmwatGhIw_thumb_3792

berfoto di depan Essen Hauptbahnhof – ps: iya saya potong rambut pendek (sekali) dan di-highlight merah violet :p

Kenapa Mau S3?

Hari Sabtu pekan lalu, orang tua saya mengadakan Misa Syukur di rumah atas berkat yang Tuhan sudah berikan untuk kami sekeluarga, terutama untuk saya. Pada saat itu Pastor bertanya kepada saya : “Ella, kenapa sih kamu mau capek-capek sekolah hingga jenjang S3?”

Jawaban saya saat itu adalah : “Saya ingin mengembangkan diri dan pada dasarnya saya juga senang belajar. Itulah yang mendasari saya melanjutkan sekolah hingga jenjang S3”

Pada Homilinya, Pastor berkata : “Sebaik-baiknya ilmu adalah yang bisa dibagikan kepada orang di sekitarmu. Jadi, janganlah melulu berpikir untuk dirimu sendiri. Namun, berpikirlah bagaimana caranya agar ilmu yang kamu peroleh selama bersekolah di luar negeri itu bisa kamu amalkan buat orang lain”

Iya. Begitu egoisnya saya sampai saya hanya berpikir untuk diri sendiri saja.

Banyak yang bertanya apakah kelak saya akan kembali ke Indonesia. Sampai detik ini saya masih berpikir untuk kembali dan mengembangkan negeri ini melalui ilmu yang saya dapat di sana nanti. Ternyata memang ada sisi idealis dalam diri saya yang belum hilang.

Banyak hal yang mungkin terjadi selama studi saya nanti. Beberapa hari lagi saya berangkat. Mohon doanya!

Semoga keberadaan saya disana bisa membawa kebaikan bagi orang-orang baru yang akan saya temui. Layaknya yang terjadi di sini dan juga di tempat-tempat lain yang pernah saya singgahi dalam hidup saya.

Saya siap berkarya di tempat baru. Belahan bumi lain yang jaraknya beribu-ribu kilometer dari tanah kelahiran saya, Indonesia.

Bersenandika di Minggu Malam Itu

Hadirnya saya di Institut Français Indonesia (IFI), Bandung hari Minggu malam lalu bukanlah hal yang disengaja. Sehari sebelumnya, dalam perjalanan ke Bandung, saya iseng chat seorang teman yang saat ini tinggal di Bandung, berharap jadwal dia agak longgar jadi kita bisa bertemu barang sebentar. Ternyata, di luar dugaan, dia mengajak kami (saya dan seorang teman) untuk hadir menonton penampilan suaminya dalam acara poemuse. Sebelumnya saya sudah melihat sekilas update-nya di akun Instagram milik teman saya. Saya pikir acaranya sudah lewat.

Oke. Cukup introduksi-nya.

Singkat cerita minggu malam, kami menuju IFI dan menikmati pertunjukkannya. Tajuk dari pertunjukkan ini adalah Senandika.

senandika : wacana seorang tokoh dalam karya susastra dengan dirinya sendiri di dalam drama yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut, atau untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca atau pendengar. -Kamus Besar Bahasa Indonesia

Acara dibuka dengan sambutan singkat dari sang sutradara, Kennya Rinonce, yang ternyata merupakan putri dari seniman Sujiwo Tejo. Beliau menyampaikan overview dari pertunjukkan Senandika ini. Selanjutnya pertunjukkan pun dimulai. Babak pertama dibuka dengan lagu “Meninggalkan Kandang” yang liriknya berdasarkan puisi karangan Eka Budianta dan aransemen musik oleh Ananda Sukarlan. Beberapa puisi dinyanyikan secara apik oleh Soprano Delta Damiana dan Tenor Daniel Victor. Galuh Pangestri menginterpretasikan kata-kata dalam puisi-puisi yang dinyanyikan dalam gerak tari yang energik. Luar biasa. Diiringi oleh dentingan piano dari pianis Nicholas Rio.

Pentas ini merupakan bentuk “protes” dari beberapa seniman muda terhadap situasi di negara Indonesia saat ini, di mana sulit untuk menjadi diri sendiri di tengah derasnya informasi yang kita terima (yang kadang lebih banyak hoax). Mereka rindu Indonesia yang damai di tengah keberagaman. Hanya ini yang bisa mereka lakukan sebagai seniman. Dan menurut saya, mereka berhasil menyampaikan pesan tersebut.

Bagian yang paling saya suka sekaligus membuat merinding adalah ketika mereka menggabungkan lagu Ave Maria, suara Adzan, tarian Saman, dan drama lagu Janger pada piano.  Perpaduan yang sangat indah.

Sedikit masukan dari saya, suara Delta dan Daniel masih bisa dibuat lebih powerful lagi. Mungkin karena faktor akustik venue yang tidak terlalu bagus, di beberapa bagian suara mereka terkesan hilang timbul. Anyway, Daniel suaranya bariton bukan Tenor. 🙂

Namun secara keseluruhan pertunjukkan ini luar biasa. Pesan yang diinginkan telah tersampaikan dengan baik. Di Indonesia jarang ada pertunjukkan yang menggabungkan puisi, musik, dan tari sekaligus. Senandika adalah salah satu yang bagus. Proficiat untuk semua yang terlibat dalam pertunjukkan ini. Keep up the great work! 🙂

ps. Lagu “Meninggalkan Kandang” dan “Dalam Doaku” membangkitkan kenangan masa lalu saya. Bertahun lalu pernah diminta seorang teman untuk mengiringinya latihan kedua lagu itu ketika dia mau ikut kompetisi Tembang Puitik Ananda Sukarlan.

IMG_7184

Berhubung susah ambil foto pas lagi pertunjukkan, maka pasang foto ini saja ya 🙂 Bersama Daniel Victor setelah pertunjukkan 

Ulasan mengenai acara ini juga dapat dilihat pada tautan di bawah ini :

http://lifestyle.kontan.co.id/news/poemuse-menyulap-kebisingan-jadi-nyanyian-puisi

https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170513/282076276790810