[sharing] Proses Mendapatkan Beasiswa S3

Setelah berhasil mendapatkan Supervisor/Profesor yang cocok, langkah selanjutnya adalah tentunya perburuan beasiswa. Studi S3 dengan biaya sendiri sama saja dengan bunuh diri. Kecuali kalian memang kaya banget ya.

Tahap pertama dari perjuangan mencari beasiswa adalah buka mata dan buka telinga. Saya mulai bergabung dengan komunitas pemburu beasiswa sejak kuliah S1 tingkat 3 (tapi baru berhasil dapat beasiswa pas sudah mau S3). Pada saat itu belum ada Whatsapp, apalagi Whatsapp group. Informasi di-share melalui mailing list. Saat ini informasi beasiswa sudah sangat mudah untuk diakses. Jadi tidak ada alasan untuk tidak update.

Karena saya studi S2 di wilayah Eropa dan kebetulan untuk S3 dapat proyek penelitiannya di wilayah Eropa juga, jadi saya lebih familiar dengan skema beasiswa di wilayah tersebut. Setiap negara biasanya menyediakan beasiswa untuk applicants dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Saya yakin jika kalian rajin blog-walking, pasti sudah banyak menemukan bloggers yang sharing soal beasiswa Eropa.

Nah, berhubung saya dapat proyek S3 di Jerman, jadi saya “hanya” mentarget 3 beasiswa untuk saya apply tahun lalu. Beasiswa Pendidikan Indonesia dari LPDP (http://www.lpdp.kemenkeu.go.id/beasiswa/beasiswa-magister-doktor-2/), Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia – BUDI LN,ย  Beasiswa dari Pemerintah Jerman -DAAD (http://www.daadjkt.org/index.php?program-beasiswa-daad), dan Beasiswa dari Lembaga Katolik Jerman -KAAD (http://www.kaad.de/en/stipendien/stipendienprogramm-s1/).

Awalnya saya sangat berharap dengan Skema BPI-LPDP. Siapa sih pemburu beasiswa yang tidak tergiur dengan skema beasiswa paling prestisius di Indonesia ini? Sayangnya Universitaet Duisburg-Essen (UDE) tidak ada dalam list universitas tujuan LPDP. Tapi saya nekad saja. Toh, saya bisa jelaskan nanti ketika interview (pede banget bakal lolos sampai tahap interview). Pada awal 2016 sempat beredar gosip kalau dosen sudah tidak diperkenankan lagi untuk mendaftar skema BPI-LPDP ini. Namun, dua orang teman saya yang juga dosen (di universitas yang berbeda dengan saya, tentunya) lolos di Gelombang 1 & 2. Saya daftar untuk Gelombang 3. Namun tiba-tiba ada informasi resmi pada pertengahan tahun 2016 yang intinya memberitahukan untuk semua pendaftar beasiswa yang berstatus dosen dan memiliki NIDN, dialihkan ke beasiswa BUDI-LN. Shock! BUDI-LN ini adalah skema beasiswa khusus untuk dosen dan dananya dikeluarkan oleh Ristekdikti dan LPDP. Saya tidak mau menceritakan panjang lebar tentang beasiswa ini, karena hanya membuat sakit hati. Haha. Ya pokoknya intinya saya pernah apply beasiswa ini. Untuk rekan-rekan dosen yang masih menunggu kelanjutan beasiswa ini, tetap sabar, tabah, dan semangat ya!

Selanjutnya saya mendaftar beasiswa DAAD. Yang selama ini saya ketahui, skema beasiswa ini adalah yang paling sulit. Teman-teman saya yang berhasil mendapatkan beasiswa ini adalah mereka yang menurut saya pintar. Jauh melebihi saya pintarnya. Makanya sejujurnya saya tidak terlalu berharap banyak ketika apply, dan sudah berpikir seandainya tidak lolos beasiswa ini ya mungkin memang bukan jalannya saya untuk melanjutkan studi S3. Saya submit aplikasi beasiswa DAAD ini hanya beberapa hari sebelum deadline. Sampai-sampai saya diingatkan oleh koordinator DAAD regional Jakarta untuk segera submit aplikasi, karena sebagian besar dokumen sudah di-upload. Waktu itu saya masih menunggu surat rekomendasi dari dosen pembimbing S1 saya.

Beasiswa terakhir yang akhirnya tidak jadi saya apply adalah KAAD. Kenapa? Pertama : ketika itu saya sudah sampai pada tahap wawancara beasiswa DAAD dan tidak mau membagi konsentrasi saya. Kedua : Persyaratan beasiswa ini agak sulit dan ribet, menurut saya. Tetapi apabila teman-teman mau mencoba, silakan saja. ๐Ÿ™‚

Sekitar dua minggu setelah saya submit aplikasi beasiswa DAAD, saya menerima email dari DAAD Jakarta yang berisi undangan untuk menghadiri interview beasiswa. Surprise banget dong! Saat itu saya sedang supervise lab session, dan saya loncat-loncat gak jelas di dalam lab sampai mahasiswa-mahasiswa saya bingung.

Malam sebelum interview, saya video call sama Prof saya. Beliau berinisiatif mengadakan mock interview dengan saya. Pertanyaan-pertanyaan beliau susah banget dan sempat membuat saya nge-drop sambil berpikir apakah interview DAAD seberat itu. Lucu sih kalau dingat-ingat kembali.

Tanggal 14 November 2016, saya menghadiri interview beasiswa DAAD yang diadakan di salah satu hotel di Jakarta Selatan. Kebetulan saya dapat giliran pertama, pukul 09.30. Sudah deg-degan tidak karuan. Untung tidak nge-blank.ย  Di dalam ruangan itu saya ditempatkan di tengah. Di hadapan saya ada sekitar 7 orang penguji, yang beranggotakan 5 orang penguji dari beberapa universitas di Indonesia yang juga merupakan alumni Jerman yang bidang keilmuannya terkait dengan life sciences & engineering, 1 orang penguji dari DAAD Bonn, dan 1 orang dari Ristekdikti. Sebagian besar pertanyaan yang diajukan mengacu pada proposal penelitian yang sudah saya buat. Untuk pertanyaan-pertanyaan mengenai teknis penelitian, saya bisa jawab dengan tenang. Namun, satu pertanyaan terberat justru datang dari seorang Bapak dari Ristekdikti itu. “What would you do if your research last for more than 3 years?” Ya, itu kemungkinan terburuk yang sangat mungkin untuk terjadi. Semoga jika pun saya nanti berada di posisi tersebut, bisa memperoleh solusi yang tepat. Amin!

Selesai interview rasanya lega. Tidak ada ekspektasi apapun. Karena ditolak itu sakit, bro! Hehe..saya sudah terbiasa dengan penolakan.

Bulan Desember, saya menerima email lagi dari DAAD. Saya baca emailnya pelan-pelan dari atas. Ternyata saya dinyatakan lolos interview dan direkomendasikan untuk menerima beasiswa. Belum mutlak jadi penerima beasiswa. Tapi, tetap bersyukur! Sehari sebelumnya saya dikasihtau oleh rekan sesama dosen di kampus bahwa salah satu penguji saya adalah saudara sepupunya teman saya itu dan beliau menceritakan tentang keadaan saya pas wawancara. HA! Memalukan. Saya jadi terkenal gitu.

Periode Desember 2016 – Februari 2017 adalah periode paling menegangkan karena bisa saja saya akhirnya tidak memperoleh beasiswa. Interview sudah lolos, tapi Letter of Acceptance dari Universitas belum saya terima. Selama libur Natal-Tahun Baru saya tidak tenang. Setiap hari kerjaan saya ngecek email pribadi. Padahal mah di Jerman juga Prof saya lagi liburan. :p Akhir Januari 2017, surat cinta dari UDE datang juga!! Saya diterima secara resmi sebagai kandidat Doktor dengan syarat harus mengambil beberapa mata kuliah yang mana mata kuliah-mata kuliah tersebut SUSAH! SEMANGAT, LA!

Hari bersejarah itu adalah 15 Februari 2017. Satu hari setelah Valentine’s. 10 hari sebelum ulang tahun saya (Penting!). Datang email pemberitahuan dari DAAD Bonn. Berhubung semua komunikasi dengan DAAD dilakukan melalui portal, setiap ada email yang berisi notifikasi untuk membuka pesan baru yang masuk di Portal, itu pasti deg-degan. Begitu juga di hari itu. Ternyata isi emailnya adalah Letter of Award. Saya dapat beasiswa untuk S3!!! Saya satu di antara tiga penerima beasiswa DAAD Research Grant for Doctoral Program dari Indonesia!! Langsung cubit-cubit tangan, tampar-tampar pipi. Sakit! Oh ini beneran! ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€

Beberapa hari lalu, saya diceritakan oleh teman saya sesama penerima beasiswa bahwa salah satu penguji ketika wawancara itu adalah Dosennya. Teman saya sempat bertemu beliau minggu lalu dan menyebut nama serta institusi saya dan seketika katanya beliau berkomentar : “oh dia cerdas”. Jadi senyum-senyum sendiri saya. Puji Tuhan saya bisa memberikan impresi positif di depan orang-orang yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal saya secara personal.

Begitulah pengalaman saya. Seru dan menegangkan. Tapi pada akhirnya selalu ada yang bisa dikenang. Bahwa saya telah berhasil melalui proses itu, dan apabila di depan nanti ada banyak cobaan, mudah-mudahan dengan melihat postingan ini kembali, saya bisa melewatinya dengan baik.

Salam Semangat! ๐Ÿ™‚

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s