Month: March 2017

[sharing] bagaimana mendapatkan (calon) supervisor untuk S3

Setelah beberapa minggu yang lalu saya sharing tentang pengalaman saya mewujudkan serangkaian mimpi saya untuk menjadi sebuah rencana, sekarang saya akan berbagi pengalaman mendapatkan (calon) supervisor untuk s3.

Pertama-tama kita harus sadar bahwa studi di tingkat Doktoral itu jauh berbeda dengan tingkat Master. Berkaca pada pengalaman pribadi 6 tahun yang lalu sewaktu merencanakan untuk studi Master, saya mendaftar ke 4 universitas. Aplikasi saya gagal di 2 universitas dan berhasil di 2 universitas (Newcastle dan Bristol). Pada akhirnya yang saya pilih adalah Newcastle, semata karena universitas tersebut lebih dulu memberikan confirmation of acceptance. Proses dari mendaftar hingga memperoleh konfirmasi memakan waktu kurang dari 1 bulan. Sedangkan ketika mencari calon supervisor untuk S3, saya memerlukan waktu sekitar 2 tahun. Saya sampai sudah bebal dicuekin sama beberapa calon supervisor yang menjadi incaran saya. 😀

Apa yang harus disiapkan dalam rangkaian perburuan calon supervisor S3 ini?

  • Niat

Terdengar klise, tapi ini yang paling penting. Tanpa niat yang kuat, ketika kita berhadapan dengan satu penolakan, besar kemungkinan kita akan menyerah.

  • Tentukan bidang penelitian yang ingin kamu kerjakan untuk proyek S3

Ini harus ditentukan sejak awal. Kalau kita sendiri tidak tahu minat kita, proses perburuan calon supervisor akan terasa sulit sekali. Topik penelitian untuk S3 sebaiknya sejalan dengan topik penelitian yang sudah kita kerjakan ketika S2. Dalam kasus saya misalnya, ketika S2 saya mengerjakan penelitian tentang patogenesis penyakit autoimun. Untuk proyek S3 saya ingin mengerjakan penelitian yang bertujuan untuk menemukan terapi penyakit autoimun.

  • Tulis proposal penelitian

Pada awalnya saya beranggapan bahwa proposal penelitian itu bisa dirancang kemudian, ketika saya sudah menemukan calon supervisor. Saya sudah pernah mencoba menghubungi seorang Prof tanpa bermodal proposal. Beliau bertanya, saya mau penelitian yang seperti apa. Saya bingung menjelaskannya dan korespondensi pun berakhir tanpa hasil. Maka, percayalah. Menulis proposal adalah salah satu bagian terpenting dalam proses perburuan calon supervisor. Buatlah proposal sedetail mungkin. Ketika sudah bertemu dengan calon supervisor yang cocok, besar kemungkinan proposal kita akan dikomentari habis-habisan. Tidak menutup kemungkinan, proposal penelitian akan berubah total. Tapi, kita sudah meninggalkan kesan pertama yang baik kepada calon supervisor kita. Kita punya modal proposal.

Trik ini mungkin berbeda-beda bagi tiap orang. Saya mencari calon supervisor berdasarkan universitas tempat beliau bernaung. Walaupun banyak yang bilang bahwa universitas di wilayah Eropa pada dasarnya memiliki kualitas penelitian yang sama, saya tetap berpegang pada prinsip, ketika kita kuliah di tempat yang bagus, akan lebih banyak hal yang bisa kita dapatkan karena pasti kita akan banyak berinteraksi dengan orang-orang hebat.

  • Kirim email ke calon supervisor 

Tulis email dengan bahasa Inggris yang baik, benar, dan sopan. Ingat, email pertama kita akan menentukan bagaimana kesan calon supervisor terhadap pribadi kita. Jangan lupa lampirkan CV dan proposal penelitian kita. Ada beberapa orang yang bilang, email pertama sebaiknya berisi perkenalan diri dulu, Jangan langsung tembak dengan proposal dan sejenisnya. Well, bukannya saya gak sabaran, tapi akan lebih efektif untuk menjelaskan maksud dan tujuan sekalian melampirkan dokumen-dokumen terkait di email pertama. Calon supervisor kita itu adalah orang yang sibuk. Jadi jangan bayangkan dia punya waktu untuk terus-terusan keep in touch dengan kita.

Langkah selanjutnya adalah menunggu respon dari calon supervisor kita. Biasanya kalau beliau tertarik dengan proposal kita, beliau akan merespon email kita dalam kurun waktu 2 minggu. Kalau setelah 2 minggu belum ada jawaban, ada baiknya kita kirim ulang email kita. Kalau masih tidak ada jawaban juga, anggap saja kita belum jodoh dengan calon supervisor itu. Cari calon supervisor yang lain.

Kunci utama dalam proses perburuan profesor adalah ketekunan. Jangan pernah menyerah ketika menghadapi penolakan.

Good luck! 🙂

dua puluh sembilan

Tanggal 25 Februari yang lalu usia saya bertambah menjadi 29 tahun. Sudah tua, kata beberapa orang. Masih muda, kata saya. Di umur saya ini, ibu saya sudah menikah dan beranak satu.

Saya? Single, bahagia, dan penuh mimpi. Dulu sewaktu berusia awal dua puluhan, saya memiliki target untuk menikah di usia 25. Angka itu pun tanpa terasa terlewati tanpa ada pria yang mendekati saya. Lepas dari usia 27 tahun barulah ada beberapa yang mendekat, namun seketika menjauh tatkala saya bercerita tentang mimpi-mimpi besar saya yang masih menunggu untuk diraih. Namun ada satu yang tak menjauh. Dia. Orang yang sama sejak dua tahun lalu.  Yang hampir saja malah membuat saya balik kanan maju jalan. Tapi akhirnya saya putuskan tidak jadi. Kami saling menyayangi dalam diam. Tapi kami tahu sama tahu perihal hati masing-masing.

Sekarang, tinggal satu tahun lagi menuju angka 30, saya hanya ingin berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan diri saya di tahun-tahun yang lalu.

Saya bahagia dengan segala pencapaian saya selama 29 tahun menghirup dunia ini. Sudah pernah diperkenankan mencicip studi di negara yang berjarak 10.000 km dari rumah saya. Dan sebentar lagi pun akan beroleh kesempatan lagi.  Saya bersyukur Tuhan menganugerahi saya teman-teman yang luar biasa serta keluarga yang sangat suportif.

Kado ulang tahun terindah sudah saya dapatkan di awal Februari 2017.  Dimulai dengan datangnya LoA dari Jerman, JJA saya akhirnya di-approve, dan datangnya keputusan bahwa saya lolos beasiswa DAAD. Kado yang sangat spesial. Semuanya atas kuasa Tuhan, tentunya.

Tiga bulan lagi saya akan kembali merantau untuk 3 tahun. Pasti akan ada yang sinis yang berkata “Kamu sekolah terus sih? Kapan nikahnya?” Untuk setiap hal, ada waktunya masing-masing. Tenang saja lah. Toh ini hidup saya.