[sharing] my journey on turning dreams into plans

*disclaimer : this gonna be a long blog post*

Semua berawal dari tahun 2012, ketika saya merampungkan studi S2 saya di Newcastle, UK. Hari itu akhir November, hari terakhir saya datang ke lab untuk berpamitan dengan rekan-rekan yang berada di dalam research group yang sama dengan saya, termasuk dengan Prof saya dan co-supervisor saya. Saya masih ingat percakapan kami saat itu

Prof : “So, Gabriella. what’s next?”

Me : “I’m planning to continue doing a PhD”

Prof : “Where are you planning to apply for a PhD position?”

Me : “Germany”

Co-supervisor : “Eh? Why Germany?” *fyi, supervisor saya ini tipikal orang British banget, yang kayanya ada dendam kesumat sama orang Jerman*

Me : “Why not?”

Semenjak itu, saya mulai melamar ke berbagai universitas yang sedang membuka lowongan untuk mahasiswa PhD. Januari 2013, saya sempat memperoleh kabar baik bahwa saya masuk ke dalam shortlisted kandidat PhD di TUM. Jangan ditanya betapa senangnya saya saat itu. Baru lulus master dan yakin bakal keterima PhD di Jerman. Dreams come true! Pertengahan Februari 2012, saya berangkat ke Munich, Jerman untuk final interview dengan calon supervisor saya. For your info, proyek PhD yang ditawarkan pada saat itu adalah di area kanker. Padahal, mimpi saya adalah mengerjakan proyek penelitian yang terkait terapi penyakit autoimun. Namun, pada saat itu yang ada di pikiran saya adalah yang penting lanjut PhD, yang penting pergi dari Indonesia. Ya, saat itu saya adalah seorang anak muda yang belum bisa move on dari nyamannya suasana Eropa. Dan saya gagal di final interview. Sempat sedih, tapi ya sudah mungkin memang belum jalannya saya lanjut sekolah.

Awal Maret 2012 saya kembali ke Indonesia dan puji Tuhan langsung ditawari oleh salah seorang teman untuk mengerjakan sebuah proyek penelitian. The power of networking! Saya bekerja sebagai research assistant selama kurang lebih 6 bulan, mengerjakan 2 proyek. Dalam kurun waktu itu pula saya melanjutkan proses melamar PhD dengan membabi buta. Setiap ada lowongan, saya baca requirement-nya sekilas dan langsung saya lamar. Terkadang saya sudah bisa memprediksi bahwa saya tidak akan diterima, mengingat kualifikasi saya tidak memenuhi persyaratan minimum untuk proyek-proyek tersebut. Tapi saya nekad. Akibatnya? Puluhan email penolakan saya terima selama tahun 2013 itu. Supervisor S2 saya sampai ngambek tidak mau menulis surat rekomendasi lagi  untuk saya dan beliau benar-benar lakukan itu. Beliau tidak pernah membalas email-email saya selanjutnya yang terkait dengan aplikasi PhD. Saya tahu pada kurun waktu tersebut beliau pindah dari Newcastle ke Utrecht. Bahkan beliau tidak menginformasikan email barunya kepada saya. Haha. Saya menyebut 2013 sebagai a year when life really punched me right on my face. Tahun penuh perjuangan dan penolakan. Dan tahun di mana saya menjadi pengangguran (ngehe) selama 6 bulan. Puas lah glundang glundung di rumah sambil sesekali melamar pekerjaan.

Dalam periode jadi pengangguran itu, ternyata saya lumayan produktif juga. Saya menulis satu proposal penelitian, yang pada akhirnya  amat sangat berguna untuk hunting calon supervisor. Sekitar akhir 2013 saya mendapat info (lagi-lagi the power of networking) dari salah seorang teman yang dulu bersama-sama studi Master di Newcastle. FKUI membuka program PhD joint degree dengan Newcastle University. “Wah, bakal balik lagi ke UK nih”, pikir saya saat itu. Excited! Jadilah saat itu saya ikut ujian SIMAK UI untuk program Doktor dan lolos. SIMAK UI ternyata tidak sesulit yang dikatakan orang-orang. #sombong. Tidak lama setelah itu, saya mendapatkan konfirmasi dari Newcastle bahwa sudah ada supervisor yang bisa membimbing saya. Namun pada akhirnya saya terbentur masalah pembiayaan. Pada saat itu saya mendaftar beasiswa LPDP. Mungkin karena skema programnya tidak terlalu jelas (joint degree ini mengharuskan saya untuk membagi studi saya menjadi 2 periode, 1.5 tahun di Indonesia dan 1.5 tahun di Inggris, kalau tidak salah), jadi pada akhirnya tidak lolos seleksi administrasi. Singkat kata, gagal lagi.

Awal 2014 saya masih belum menyerah untuk mendaftar program PhD yang lain. Namun, tidak disangka-sangka pada Maret 2014, berawal dari iseng-iseng karena bosan diceramahin sama Ibu saya gara-gara kelamaan menganggur, saya malah mendapatkan full time job yang akhirnya membawa saya sebagai seorang dosen. Kita memang tidak pernah bisa memprediksi ke arah mana hidup akan membawa kita. Pada tahun ini saya sangat menikmati profesi baru saya dan sejenak melupakan mimpi besar saya untuk melanjutkan PhD.

Pertengahan 2015 barulah saya tersadar ada mimpi yang menunggu untuk diwujudkan. Tepatnya disadarkan oleh seorang teman lama. Kebetulan pada saat itu dia juga sedang berjuang untuk mimpinya. Beberapa kali, baik secara langsung maupun melalui chat, dia seakan mengindoktrinasi saya supaya segera melanjutkan studi. Percakapan kami biasanya seperti ini :

Teman saya : “Ella..buruan gih lanjut S3”

Me : “Gw belum dapat Prof. Capek gw ditolak mulu”

Teman saya  : “Pokoknya lo harus lanjut S3. Pakai LPDP” *iya dia awardee LPDP yang selalu mempromosikan (maksa, lebih tepatnya) supaya saya daftar beasiswa itu*

Saya akhirnya terbujuk juga oleh omongan dia. Mulai lah saya poles-poles proposal saya yang sudah teronggok di folder laptop sejak 2013. Pada saat itu, preferensi saya mengenai negara tujuan untuk studi PhD  mulai berubah. Saya mau kuliah di Inggris saja karena malas berhadapan dengan kendala komunikasi. Sebagai informasi saja, proposal penelitian saya adalah tentang Graves Disease, salah satu jenis penyakit autoimun yang etiologi-nya masih belum jelas hingga saat ini. Saya memang agak idealis dan cenderung ngotot kalau sudah bicara tentang ide penelitian. Hehee. Jadilah saya mencoba mencari Profesor di Inggris yang fokus penelitiannya di area tersebut. Tak disangka ada seorang Profesor di King’s College London (KCL) yang mengerjakan penelitian dengan topik tersebut. Saya kirim proposal saya ke beliau. LIMA BELAS menit kemudian beliau balas email saya dong! Beliau sangat tertarik dengan ide penelitian saya dan mengajak saya meeting via Skype di hari berikutnya. Pada saat Skype meeting itu beliau mengatakan bahwa beliau memiliki kolaborator di Jerman yang mengerjakan penelitian seperti yang saya inginkan. Jadi, beliau menyarankan saya untuk studi PhD di Jerman saja.  Wah saat itu rasanya bahagia sekali saya. Entah mengapa pada saat itu saya yakin bahwa saatnya sudah dekat untuk saya melanjutkan studi.

Mungkin memang ini sudah digariskan oleh Tuhan, beberapa hari kemudian saya memperoleh info ada conference tentang personalized medicine di London. Kebetulan saat itu saya sedang mengerjakan proyek menulis article review tentang personalized medicine (yang pada akhirnya mandek sih sampai sekarang. tidak sempat terurus lagi. haha!). Jadi, saya rasa cocok. Maka berangkatlah saya ke London untuk conference dan di sela-selanya saya ke KCL bertemu dengan calon Profesor saya itu. Saya menjelaskan bahwa saya akan mendaftar beasiswa untuk membiayai penelitian saya. Ketika itu saya masih pede bisa lolos beasiswa LPDP. Well, ternyata rencana saya yang terkait beasiswa ini tidak semulus yang saya bayangkan. Keseruan proses hunting beasiswa ini akan saya ceritakan dalam posting selanjutnya ya! Singkat kata, calon profesor saya itu antusias sekali dengan proposal penelitian saya. Setelah itu saya mulai penjajakan dengan calon Profesor saya yang di Jerman, yang ternyata juga tidak kalah antusias. Puji Tuhan.

Proses selanjutnya adalah merevisi proposal penelitian saya, disesuaikan dengan situasi terkini terkait Graves Disease itu sendiri. Prosesnya cukup alot, karena -kembali lagi- saya orangnya agak keukeuh sama pendapat saya. Setelah korespondensi selama sekitar 1 bulan, akhirnya jadilah proposal penelitian saya yang sudah final. Yang memerlukan waktu lama adalah finalisasi segala hal administratif yang terkait dengan persiapan studi PhD saya ini. Perlu waktu hampir 1 tahun sejak saya memperoleh surat konfirmasi bahwa mereka bersedia menjadi pembimbing saya hingga keputusan akhir terkait pendanaan studi saya. Proses yang lama, yang melibatkan banyak pihak, yang jujur saja sempat membuat saya lelah.

Saat ini saya sedang dalam fase hectic karena tak menyangka jadwal keberangkatan saya ternyata harus dimajukan 3 bulan dari rencana awal. Banyak sekali hal yang perlu saya lakukan terhitung dari bulan Maret hingga Mei ini. Tapi saya bersyukur akhirnya bisa sampai pada fase ini. Fase yang sudah saya tunggu-tunggu sejak 5 tahun yang lalu.

Banyak pelajaran yang saya petik dari perjalanan panjang menggapai mimpi ini :

  1. Berdoa, berdoa, dan berdoa. Saya memeluk agama Katolik, jadi saya berpegang pada Alkitab. Ayat Alkitab yang selalu menguatkan saya adalah Yesaya 41:10 – “janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan”
  2. Jangan pernah merasa bahwa mimpi kita terlalu tinggi. Saya suka sekali dengan quote dari Andrea Hirata yang tertulis di dalam novel Laskar Pelangi : “Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”
  3. Selalu berpikiran positif dan menunjukkan kegigihan kita di depan calon Profesor
  4. Jangan pernah berpikir untuk berhenti ketika satu peluang untuk mendapatkan beasiswa tertutup.
  5. Perluas networking. Kita harus rajin datang ke acara-acara info session berbagai universitas dan berbicara dengan orang-orang yang inspiratif. Intinya, surround yourself with positive and inspiring people.
  6. Jangan pernah meremehkan sesuatu yang bernama “keajaiban”. Banyak hal yang bagi kita terasa tidak mungkin. Tapi bagi Tuhan, semuanya mungkin terjadi.

Keluarga berperan penting dalam proses ini dan mereka adalah orang-orang yang paling mengetahui segala pergumulan yang pernah saya hadapi  hingga bisa sampai pada kondisi sekarang ini. Namun, kedua orang tua saya bukanlah tipe orang tua pemaksa. Mereka tidak terlalu heboh menyuruh saya S3. Yang heboh justru teman-teman terdekat saya. Mereka semua semangat sekali mendorong saya untuk S3 karena mereka tahu bahwa ini adalah impian saya sejak lama. Terima kasih tak terhingga untuk teman-teman saya. Apalagi untuk satu teman yang paling memaksa saya untuk S3 itu. Inisialnya CA. Dia yang dulu selalu kirimkan kata-kata motivasi buat saya. Bahkan yang sampai datang ke rumah saya untuk mengajari saya “simulasi” wawancara beasiswa. Haha. Terima kasih ya.

Perjuangan belum selesai. Masih ada 3 tahun di depan sana, yang saya pun belum tahu akan seperti apa. Teruntuk teman-teman yang masih berjuang, jangan berhenti berjuang untuk menggapai mimpi. Proses ini memang tidak mudah. Tapi kuncinya hanya satu : pantang menyerah.

Salam semangat! 🙂

 

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s