2016 : a year of overcoming obstacles

Seminggu lagi, habis sudah hari di tahun 2016. Tahun yang serasa roller coaster bagi saya. Tahun ketika saya diharuskan membuat berbagai keputusan besar yang masing-masing diikuti oleh segala konsekuensinya. Tapi, puji Tuhan, tahun ini bertambah satu orang yang dengan tulus tanpa henti memberikan suntikan semangat untuk saya.

Sejak akhir 2012, mimpi saya adalah lanjut sekolah S3. Tapi, rupanya Tuhan punya kehendak yang berbeda. Saya belum bisa lanjut S3. Tuhan malah berikan saya pekerjaan, hingga sekarang saya jadi dosen.

Akhir tahun 2015, saya diingatkan kembali (dipaksa, lebih tepatnya) oleh seseorang untuk menggapai mimpi yang tertunda itu. Mulailah saya hunting supervisor hingga akhirnya menemukan profesor yang projectnya cocok dengan yang saya inginkan. Proses ini berlangsung relatif cepat. Saya yakin tangan Tuhan bekerja dalam hal ini. 

Bulan Mei 2016, saya mengambil unpaid leave selama kurang lebih 15 hari untuk pergi menghadiri conference di London, sekaligus menemui calon profesor saya. Keputusan yang gila, memang. Tapi, kalau saya tidak melakukan hal tersebut, bisa jadi calon prof saya meragukan keseriusan saya. 

Setelah itu, dimulailah perjuangan mencari beasiswa. Awalnya saya pede daftar beasiswa L*** yang lagi hits banget itu. Si dia, yg kebetulan adalah awardee beasiswa tersebut, semangat sekali sharing tips & trik supaya saya lolos wawancara beasiswa ini. Namun rupanya saya tidak berjodoh dengan beasiswa ini. Di saat-saat terakhir saya menerima kabar bahwa mulai tahun pertengahan 2016, dosen ber-NIDN tidak bisa lagi melamar beasiswa ini, melainkan harus melamar melalui beasiswa BUDI-LN. Shock lah saya. Namun, saya tetap mencoba melamar beasiswa BUDI-LN tersebut sembari melamar beasiswa lain. Yang tak disangka, saya malah dipanggil wawancara beasiswa lain itu dan akhirnya lolos wawancara serta direkomendasikan untuk menerima beasiswa. Beasiswa apakah itu? Nanti akan saya ceritakan pada waktu yg tepat, lengkap dengan sharing pengalaman dari saya. 

Tahun ini juga beberapa tempat yang ada di travel bucket list saya akhirnya berhasil saya kunjungi. Penyandang dana-nya masih orang tua sih. Semoga suatu saat nanti bisa gantian saya yang bawa mereka jalan-jalan.

Selain itu semua, tahun ini saya berhasil mengatasi rasa takut. Akhirnya saya berani menjalani operasi mata, yang Puji Tuhan segala prosesnya lancar.

Dalam hal pekerjaan, saya bersyukur semuanya berjalan lancar. Tidak ada drama-drama gak penting, setidaknya bagi saya pribadi. 

2016 sudah akan berakhir, meninggalkan pengalaman yang takkan saya lupakan sampai kapanpun. 

Saya bersyukur memiliki orang tua yang sangat suportif dan selalu berdoa untuk saya. Tanpa doa mereka, saya tidak akan sekuat ini menghadapi hari-hari saya. Tanpa dukungan dari mereka, saya tidak akan seberani ini dalam mengambil berbagai keputusan-keputusan besar.

Spesial terima kasih buat kamu yang sudah membuat hari-hari saya lebih berwarna dan yang menularkan semangat berjuang pada saya. Kamu tahulah kamu siapa. Tahun 2017 sepertinya kita akan terpisah jarak (lagi). Namun, saya percaya suatu hubungan yang berdasar pada iman akan Tuhan, adalah sebuah hubungan yang kuat. Semoga studimu dan rencana studi saya selalu dilancarkan. Amin. 

Di atas segalanya, syukur tak terhingga saya ucapkan pada Tuhan karena telah menyertai setiap langkah saya di tahun 2016 yang akan segera berakhir ini.

Selamat tahun baru, teman-teman semua. Semoga tahun 2017 akan memberikan berbagai pengalaman baru bagi kita semua. Tuhan berkati 🙂 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s