Terima Kasih, Guruku

Teacher : one who inspire, guides, enlightens, motivates; tireless scholar

Tanggal 25 November adalah hari guru nasional. Saya dikasih bunga (kertas) sama mahasiswa. Hingga saat ini, saya masih merasa bergidik ketika diberi predikat sebagai seorang guru. Tanggung jawab seorang guru itu besar sekali, dan saya mengakui masih harus belajar banyak untuk menjadi seorang guru yang baik.

Terhitung sejak 2.5 tahun yg lalu, saya berprofesi sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Guru, berbeda dengan dosen, diwajibkan untuk memahami sedikit ilmu psikologi anak. Sedangkan dosen tidak. Itulah mengapa saya belum percaya diri disebut sebagai guru. 

Saya beruntung pernah memiliki guru-guru yang sangat menginspirasi dan secara tidak langsung ikut berkontribusi terhadap jalan hidup yg saya pilih. Sebagai informasi, saya adalah produk kurikulum 1994, dalam artian mengikuti pola pembelajaran kurikulum tersebut dari SD hingga SMA. Ciri khas kurikulum tersebut adalah proses pembelajaran lebih banyak 1 arah. Tapi, guru-guru yg menginspirasi saya itu dapat membuat proses pembelajaran tersebut menyenangkan. 

Ketika SD, guru favorit saya namanya Bu Cicil, guru bahasa Indonesia. Terinspirasi dari beliau, saya waktu itu bercita-cita menjadi seorang sastrawan. 😂 Ketika SMP, guru favorit saya adalah Bu Wien, guru Biologi. Dari beliau, saya memperoleh cara belajar yg efektif yg berhasil saya terapkan di jenjang pendidikan saya selanjutnya bahkan hingga sekarang. Dari beliau juga, sebenarnya cikal bakal untuk saya mengambil jurusan sains sudah mulai muncul. Ketika SMA, guru favorit saya adalah Bu Netty, guru Kimia. Entah bagaimana beliau bisa menbuat pelajaran kimia dengan stoikiometri-nya itu menjadi begitu simple. Ketika kuliah, ada dua guru favorit saya. Yg pertama adalag Bu EGR, dosen Imunologi, yang kata teman-teman saya tegas dan galak. But she’s my favorite, anyway. Saya bukan mahasiswa yang brilian di kelasnya. Tapi, saya menikmati proses pembelajaran yang beliay berikan. Satu lagi adalah dosen pembimbing tugas akhir saya, Bu FMD. Dari beliau saya belajar untuk menjadi seorang peneliti yg produktif, selalu update, dan gaul. Satu nasihat beliau yang akan selalu saya ingat adalah “hidup ini sebenarnya hanya tentang pilihan. itu yang akan menentukan jalan hidupmu”

Sebenarnya ada satu lagi, supervisor saya pas S2, Prof. JVL. Beliau berkebangsaan Belanda. Saat itu saya stuck dengan research project saya dan beliau bilang “sometimes sh*t happens in life. but it doesn’t mean that you’re a total failure. never give up!”

Oiya di tempat kerja yang sekarang pun saya pernah memiliki seseorang yg saya anggap guru. Dialah Ibu DT. Bos pertama saya yang mengajarkan saya banyaaaaaak hal tentang dunia pendidikan tinggi. 

Walaupun sudah lewat satu hari, izinkan saya mengungkapkan rasa terima kasih kepada guru-guru yang telah mendidik saya hingga menjadi seorang Gabriella yang seperti sekarang ini. Sampai kapan pun saya tidak akan pernah bisa membalas jasa-jasa mereka. Mereka adalah orangtua-orangtua saya ketika saya melangkahkan kaki keluar dari rumah. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s