30

Saya selalu senyum-senyum sendiri tatkala mendengarkan cerita cinta mereka. Lucu dan seru. Ya, kisah cinta bapak dan ibu saya. Mereka bertemu di Bandung, ketika Bapak saya sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir jurusanTeknik Arsitektur ITB dan Ibu saya masih tingkat awal di jurusan Akuntansi Unpar. Berbeda kampus rupanya tidak menghalangi cinta mereka untuk bersemi (halah). Jadi ceritanya mereka berdua bergabung di paduan suara Katedral Bandung. Nah di situlah benih-benih cinta itu tumbuh. Haha. Anaknya padahal dulu berkhayal bisa punya kisah cinta yang ala-ala mereka gitu, tapi gagal total!

Singkat cerita, setelah pacaran 4 tahun, mereka menikah pada 13 November 1986. Pada saat itu Ibu saya masih kuliah dan Bapak saya baru banget bekerja dengan penghasilan yang tidak bisa dikatakan mencukupi untuk membina sebuah rumah tangga. Tiap kali Bapak menceritakan tentang ini, saya berkomentar : “Gila ya..Bapak nekad banget ngawinin anak orang, padahal kerjaan juga belum settle” Awal masa-masa pernikahan mereka benar-benar penuh perjuangan karena harus melalui long distance marriage (LDM sudah eksis lho by the way sejak tahun 80an, cuma generasi sekarang suka melebih-lebihkan kondisi LDM ini ya..*peace*). Bapak kerja di Jakarta, Ibu kuliah di Bandung. Pas hamil saya pun, Ibu masih aktif kuliah dan pulang pergi Jakarta Bandung. Luar biasa. Keren banget ya saya, sudah ikut kuliah sejak masih di dalam rahim Ibu. Setelah Ibu saya lulus kuliah dan bekerja, kehidupan mereka mulai agak lebih baik. Tapi, tantangan lain mulai datang dengan lahirnya adik-adik saya. Mereka memiliki pola yang berbeda terkait mendidik anak.

Sebagai anak tertua, saya bisa melihat bahwa kedua orang tua saya berusaha untuk memiliki satu suara dalam hal apapun ketika menghadapi kami, anak-anaknya. Walaupun di balik itu, mereka pasti harus berargumen terlebih dahulu. Satu hal lagi yang mengagumkan dari mereka adalah tidak pernah membanding-bandingkan ketiga anaknya, tapi selalu membangga-banggakan kami kepada teman-teman mereka. Hal-hal negatif hanya boleh dibicarakan di dalam rumah dan dicari penyelesaiannya, tidak boleh sampai keluar. Mereka juga tidak pernah menghakimi pilihan anak-anaknya. Kami bertiga memiliki minat yang jauh berbeda dari mereka. Tapi mereka selalu memberikan dukungan penuh. Bahkan untuk hal-hal kecil yang berkaitan dengan hobi kami.

Ketika kami beranjak besar, mereka mulai sering sharing tentang bagaimana memilih pasangan hidup. Ini berlaku untuk adik-adik saya yang cowok sih. Hati-hati memilih calon istri, karena salah-salah malah akan menjerumuskanmu. Haha.

Mereka juga selalu menekankan bahwa ketika kita memutuskan menikah dengan seseorang, artinya kita mau menerima semua hal yang berkaitan dengan dia-kebaikan, keburukannya, keluarganya, dan lain-lain-seumur hidup. Jadi, harus benar-benar siap.

Selamat merayakan ulang tahun perkawinan yang ketiga puluh. Semoga selalu dalam lindungan Tuhan. Terima kasih untuk segala nasihat dan petuah hidup yang telah Bapak & Ibu berikan untuk kami. Dan kami tidak akan pernah bisa membalas segala kebaikan Bapak & Ibu, hanya bisa bersyukur kepada Tuhan memiliki orang tua seperti Bapak & Ibu. Jalan kami masih panjang, dan kami berharap Bapak & Ibu berdua selalu mendampingi dalam setiap jengkal langkah kami ke depannya. Bapak dan Ibu, you’re my inspiration! 🙂

thumb_img_4011_1024

But for those who love, time is eternal -Shakespeare

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s