akselerasi

7c8e5aaa3fbae92a867bdc279f4adfbd

Saya perhatikan di masa sekarang ini banyak orang tua muda yang bangga jika anak-anaknya memiliki kemampuan atau bahkan prestasi yang melebihi anak-anak seusia mereka pada umumnya. Misalkan, di kala normalnya anak-anak memulai playgroup di usia 3 tahun, ada yang ketika berumur 2 tahun sudah dimasukkan ke playgroup. Tidak ada salahnya kalau tujuan utamanya hanya untuk sekedar mengajarkan anak bersosialisasi. Namun, terlihat salah ketika anak usia tersebut sudah diajarkan membaca dan menulis.

Hal ini berlanjut dengan fenomena anak usia 4.5 atau 5 tahun yang sudah masuk SD. Umur 15 tahun sudah lulus SMA. Memang membanggakan ya ketika anak kita memiliki kecerdasan yang brilian. Tapi, pernahkah kalian memikirkan perkembangan psikologis mereka? Pengaruh akselerasi terhadap perkembangan psikologis anak. Ya, ini adalah topik besar yang ingin saya bahas kali ini.

Pertama-tama, saya bukan seorang psikolog. Pekerjaan saya sebagai seorang dosen memungkinkan saya untuk berinteraksi dengan para mahasiswa dengan rentang usia mid-teenage hingga late teenage. Ada beberapa mahasiswa saya yang masih berusia lima belas dan enam belas tahun. Sebagai informasi, usia normal mahasiswa tingkat 1 adalah delapan belas tahun. Dari hasil observasi saya terhadap para mahasiswa yang berusia sangat muda tersebut, sebagian kecil sudah terlihat cukup dewasa dan siap untuk menjalani dunia perkuliahan. Namun, sebagian besar masih terlihat ‘kaget’ dengan dunia perkuliahan. Golongan yang ‘kaget’ini dapat dibagi menjadi dua jenis – Golongan pertama, mereka yang mengucilkan diri dari pergaulan karena merasa tidak nyambung dengan teman-temannya yang rata-rata berusia lebih tua dari mereka. Golongan kedua, mereka yang overexcited terhadap status baru sebagai mahasiswa dan merasa bebas melakukan apa saja termasuk hal-hal yang di luar batas norma kesopanan. Golongan yang kedua ini, jujur saja membuat saya miris. Saya bahkan sampai bertanya-tanya apakah mereka tidak diajarkan tentang kesopanan di rumah?  Bagi saya sepintar apapun seseorang, kalau dia tidak bisa menghormati orang lain dan menempatkan dirinya dengan baik, kepintarannya itu tidak ada artinya.

Saya bersyukur karena kedua orangtua saya berkomitmen menyekolahkan saya dan adik-adik di sekolah Katolik, setidaknya untuk pendidikan dasar. Sekolah Katolik tidak mengenal istilah kelas akselerasi. Mereka tidak mau menerima anak yang berusia di bawah 6 tahun untuk masuk SD. Saya tidak tahu apakah aturan seperti itu masih diterapkan hingga saat ini. Tetapi menurut saya, itu adalah aturan yang bagus. Kami bertumbuh sesuai dengan usia kami. Tidak terlalu cepat dewasa.

Saya tahu mendidik anak itu sulit. Tetapi, pendidikan awal seorang anak mengenai norma-norma adalah di rumah. Jangan jadikan kesibukan kalian, sebagai alasan tidak bisa mendidik anak. Saya merupakan anak dari orang tua yang bekerja, tetapi mereka berhasil membekali saya dengan norma dan nilai-nilai kehidupan. Menjadi orang tua itu memang penuh tantangan. Tapi, ketika suatu saat kalian melihat anak-anak kalian tumbuh menjadi seseorang yang tidak hanya pintar namun berakhlak baik, pasti kalian bangga.

Suatu hari nanti, kalau saya memiliki anak, saya akan berusaha membiarkan dia untuk tumbuh sesuai dengan usianya. Saya tidak mau dia terlalu cepat dewasa.

Saya tidak anti terhadap akselerasi. Namun, semoga ke depannya kelas akselerasi di sekolah-sekolah tidak hanya menitikberatkan pada perkembangan intelektualitas belaka. Karena kecerdasan emosi itu tidak kalah penting.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s