to someone who make everything seems so effortless

“You don’t find love. It finds you. It’s got a little bit to do with destiny, fate, and what’s written in the stars.” -Anais Nin

Hey!

We’ve been this close for a while. And everything seems so effortless for me. I’m so glad that you came again to my life out of a sudden. You came to my life when I was trying to recover from a major heartache. I denied this feeling of mine at the beginning and tried to find some reasons to not letting you enter my life. The more I tried, the more I failed to find those reasons.

Thank you for always making efforts for me, in the middle of your tight schedule. Still remember that Saturday in June when you attended my choir concert after staying for a night shift followed by a morning shift at the hospital. I know how tired you were by looking at your face. Sometimes I feel that you’re too good for me. But then I realise maybe you’re a gift from God. I’m grateful.

I don’t want to label what’s going on between us right now. Cause such label will just give pressure for us. We’re there for each other. We pray for each other in silence. We support each other, for sure. We’re this close but we still give spaces for each other to grow.

We never know what the future holds indeed, but if we’re meant to be together, I believe we’ll be.

Take care, Doc! I won’t leave you anymore. Though one day I might leave you for a while, well, you already have my heart at least.

Advertisements

akselerasi

7c8e5aaa3fbae92a867bdc279f4adfbd

Saya perhatikan di masa sekarang ini banyak orang tua muda yang bangga jika anak-anaknya memiliki kemampuan atau bahkan prestasi yang melebihi anak-anak seusia mereka pada umumnya. Misalkan, di kala normalnya anak-anak memulai playgroup di usia 3 tahun, ada yang ketika berumur 2 tahun sudah dimasukkan ke playgroup. Tidak ada salahnya kalau tujuan utamanya hanya untuk sekedar mengajarkan anak bersosialisasi. Namun, terlihat salah ketika anak usia tersebut sudah diajarkan membaca dan menulis.

Hal ini berlanjut dengan fenomena anak usia 4.5 atau 5 tahun yang sudah masuk SD. Umur 15 tahun sudah lulus SMA. Memang membanggakan ya ketika anak kita memiliki kecerdasan yang brilian. Tapi, pernahkah kalian memikirkan perkembangan psikologis mereka? Pengaruh akselerasi terhadap perkembangan psikologis anak. Ya, ini adalah topik besar yang ingin saya bahas kali ini.

Pertama-tama, saya bukan seorang psikolog. Pekerjaan saya sebagai seorang dosen memungkinkan saya untuk berinteraksi dengan para mahasiswa dengan rentang usia mid-teenage hingga late teenage. Ada beberapa mahasiswa saya yang masih berusia lima belas dan enam belas tahun. Sebagai informasi, usia normal mahasiswa tingkat 1 adalah delapan belas tahun. Dari hasil observasi saya terhadap para mahasiswa yang berusia sangat muda tersebut, sebagian kecil sudah terlihat cukup dewasa dan siap untuk menjalani dunia perkuliahan. Namun, sebagian besar masih terlihat ‘kaget’ dengan dunia perkuliahan. Golongan yang ‘kaget’ini dapat dibagi menjadi dua jenis – Golongan pertama, mereka yang mengucilkan diri dari pergaulan karena merasa tidak nyambung dengan teman-temannya yang rata-rata berusia lebih tua dari mereka. Golongan kedua, mereka yang overexcited terhadap status baru sebagai mahasiswa dan merasa bebas melakukan apa saja termasuk hal-hal yang di luar batas norma kesopanan. Golongan yang kedua ini, jujur saja membuat saya miris. Saya bahkan sampai bertanya-tanya apakah mereka tidak diajarkan tentang kesopanan di rumah?  Bagi saya sepintar apapun seseorang, kalau dia tidak bisa menghormati orang lain dan menempatkan dirinya dengan baik, kepintarannya itu tidak ada artinya.

Saya bersyukur karena kedua orangtua saya berkomitmen menyekolahkan saya dan adik-adik di sekolah Katolik, setidaknya untuk pendidikan dasar. Sekolah Katolik tidak mengenal istilah kelas akselerasi. Mereka tidak mau menerima anak yang berusia di bawah 6 tahun untuk masuk SD. Saya tidak tahu apakah aturan seperti itu masih diterapkan hingga saat ini. Tetapi menurut saya, itu adalah aturan yang bagus. Kami bertumbuh sesuai dengan usia kami. Tidak terlalu cepat dewasa.

Saya tahu mendidik anak itu sulit. Tetapi, pendidikan awal seorang anak mengenai norma-norma adalah di rumah. Jangan jadikan kesibukan kalian, sebagai alasan tidak bisa mendidik anak. Saya merupakan anak dari orang tua yang bekerja, tetapi mereka berhasil membekali saya dengan norma dan nilai-nilai kehidupan. Menjadi orang tua itu memang penuh tantangan. Tapi, ketika suatu saat kalian melihat anak-anak kalian tumbuh menjadi seseorang yang tidak hanya pintar namun berakhlak baik, pasti kalian bangga.

Suatu hari nanti, kalau saya memiliki anak, saya akan berusaha membiarkan dia untuk tumbuh sesuai dengan usianya. Saya tidak mau dia terlalu cepat dewasa.

Saya tidak anti terhadap akselerasi. Namun, semoga ke depannya kelas akselerasi di sekolah-sekolah tidak hanya menitikberatkan pada perkembangan intelektualitas belaka. Karena kecerdasan emosi itu tidak kalah penting.