yang (katanya) dewasa, yang galau

Adik bungsu saya berusia 17 tahun, kelas 3 SMA. Sepertinya dia sedang jatuh cinta. “Mbak Ella, aku punya gebetan. Anak sekolah lain.”, begitu katanya..bangga. “Mbak Ella, gih cepat cari suami”, lanjutnya. Dia kira cari suami, segampang cari siomay.

Lucu juga ya melihat anak-anak remaja seusia adik saya itu. Ketika dua remaja saling tertarik, mereka ungkapkan rasa itu, kemudian pacaran. Simple. Lebih bagus lagi kalau hubungan pacaran itu malah bisa menambah semangat belajar kedua belah pihak. Saya juga dulu seperti itu. Hanya saja, belum pernah berakhir sampai pacaran. Berteman dekat saja, karena entah kenapa sejak dulu saya agak malas dengan sesuatu yang bernama komitmen,. Kalau sudah pacaran, berarti gak bisa melirik yang lain dong. Haha.

Namun, semakin bertambah usia, terlebih setelah usia melewati angka 25, saya semakin berhati-hati dalam menjalani sebuah hubungan. Tidak hanya saya sebagai pihak wanita. Para pria seusia saya pun begitu. Lebih selektif dan lebih banyak pertimbangan. Terkadang saya malah terlalu menikmati status sebagai wanita single dan takut akan kehilangan kebebasan jika suatu saat nanti saya punya pacar dan akhirnya menikah.

Dalam 2 tahun terakhir ini, saya menjalani dua hubungan (“pertemanan”) yang agak  menjurus ke serius dengan 2 orang pria –bingung kan?– (tentunya di dalam periode waktu yang berbeda yaaaa!). Yang pertama usianya jauh di atas saya dan masih mempertimbangkan karirnya yang belum mapan sehingga menikah bukanlah prioritas hidupnya saat ini. Yang kedua (alias yang sekarang) seusia dengan saya dan masih mengejar cita-citanya tapi kadang galau juga memikirkan kapan harus menikah tapi kemudian kembali sadar akan cita-citanya. Saya sendiri bagaimana? Saya tidak mau pacaran yang tidak jelas ujungnya. Tetapi, memutuskan untuk menikah pun tidak bisa main-main. Dibutuhkan komitmen seumur hidup. So, sekarang ya masih single saja, menikmati pekerjaan, dan mempersiapkan petualangan (akademik) yang selanjutnya.

Di usia ini, mulai banyak tekanan dari pihak luar yang dengan semena-mena bertanya : “sudah punya calon belum? kapan nikah?”, seolah mereka yang paling tahu bagaimana membuat kita bahagia. Yang begini, baiknya dicuekin saja. *peace*

Jadi, janganlah kita men-judge para remaja itu sebagai generasi galau, karena generasi 25++ pun tidak kalah galau. Tetapi jangan sampai kita menjadi tidak selektif dalam memilih pendamping hidup, hanya karena sudah dikejar usia.

Saya selalu percaya, wanita baik akan berpasangan dengan pria yang baik pula.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s