My Mom Said

Being a woman, you must be tough. You must have a good job that make you financially independent. Even when one day you get married and have a family, don’t depend on your husband.

Thanks, Mom 🙂

Advertisements

yeay! my own domain

Akhirnya terwujud juga punya domain sendiri, yaitu coratcoretnyaella.com 🙂 Beberapa tahun lalu sempat iri dengan seorang teman yang sudah duluan punya domain sendiri. Saya ingat waktu itu saya bilang “beli domain bisa habisin gaji gw sebulan”. Lebay! Hahaha.

Terharu rasanya. Akhirnya saya punya penghasilan yang cukup untuk bisa beli domain blog.  Saya tidak pernah menyebut diri sebagai blogger. Saya hanya seseorang yang suka menulis di blog, karena saya introvert (masa?). Lebih tepat ambivert sepertinya, ya.

Blog pertama saya itu di Friendster, tahun 2006. Mungkin teman-teman generasi pre-Facebook tahu lah ya tentang sosial media yang nge-hits pada jamannya itu. Kemudian berlanjut bikin account di blogspot, tahun 2007. Setahun kemudian, baru pindah ke wordpress karena menurut saya tampilan wordpress lebih rapi dibandingkan blogspot. Jadi, kalau dirunut sebenarnya sudah sepuluh tahun saya ngeblog. Dan selama  9 tahun saya menggunakan ID coratcoretnyaella. Kenapa kepikiran nama itu? Random aja sih. Haha. Blog ini adalah sarana saya untuk mencurahkan isi pikiran. Saya bisa menuliskan apapun di sini, termasuk hal-hal yang seringkali tidak bisa saya ungkapkan secara lisan.

Screen Shot 2016-08-18 at 7.52.31 PM
postingan pertama saya di wordpress

Saya mulai menulis di blog sejak awal-awal jadi mahasiswa. Sampai sekarang sudah bekerja. Perjalanan yang sangaaaat panjang. Blog ini bisa dikatakan sebagai saksi bisu perjalanan hidup saya. Segala cerita sejak saya jadi mahasiswa di ITB, ketika saya merantau ke Inggris, dan akhirnya kembali bekerja di Indonesia tertuang semua di blog ini.

Oktober nanti genap delapan tahun sudah saya ngeblog di wordpress. Saya masih ingat, postingan pertama blog ini diketik di komputer kosan yang koneksi internetnya lambat sekali. 😀

Semoga dengan mempunyai domain sendiri, saya jadi lebih rajin update blog. 🙂

 

Post-Surgery

thumb_IMG_3727_1024

Mungkin sebagian orang yang pernah berinteraksi dengan saya sudah mengetahui bahwa saya ada problem dengan mata saya. Istilah medisnya strabismus eksotropia atau bahasa bulenya lazy eyes atau bahasa awamnya juling. Ini merupakan kelainan bawaan sejak lahir, tetapi baru mulai terlihat agak jelas beberapa tahun setelah saya memakai kaca mata. Tepatnya sekitar awal-awal masa SD. Awalnya saya tidak sadar dengan kelainan ini karena relatif tidak mengganggu aktivitas saya pada masa itu. Namun, ketika kuliah di jurusan mikrobiologi kondisi ini mulai mengganggu, apalagi ketika awal-awal masa kuliah banyak aktivitas di lab yang mengharuskan saya menggunakan mikroskop. Kondisi strabismus ini ternyata membuat mata saya kehilangan kemampuan 3 dimensi (ini saya baru tahu dari penjelasan dokter mata, beberapa waktu yang lalu) Untungnya, saya mengambil topik penelitian tugas akhir di bidang biologi molekuler, jadi tidak perlu bekerja dengan mikroskop. Gangguan mulai sangat terasa ketika saya penelitian S2 dan harus mengerjakan uji immunocytochemistry menggunakan mikroskop fluoresens. Itu gila banget lah perjuangannya.

Dokter mata saya juga sempat bertanya apakah saya mengalami ketidaknyamanan dalam bergaul karena kondisi saya ini? Well, berhubung saya cuek, jadi dalam kehidupan sosial sih aman-aman aja ya. Beberapa orang suka tanya tentang kondisi mata saya dan saya biasanya jelaskan secara singkat. Kalau ada yang kepo tanya-tanya lebih lanjut, saya tinggalin aja sih. Hahaha.

Pertama kali muncul wacana untuk operasi adalah ketika  pada tahun 2003 saya diopname karena sakit yang agak parah. Kondisi tubuh saya diperiksa secara menyeluruh dan ketika itu dokter yang merawat saya sadar mata saya gak beres dan menyarankan saya untuk segera operasi. Waktu itu saya masih kelas 1 SMA. Gak mau lah dadakan dioperasi. Orang tua saya kebetulan bukan tipe-tipe orang tua rempong yang memaksa saya operasi. Mereka santai saja. Kedua, ketika saya sedang S2 di Inggrís. Supervisor saya menyarankan saya untuk operasi. Tapi ternyata medical insurance saya sebagai student tidak meng-cover operasi mata. Jadi, batal. Selain juga karena saya takut. Ketiga, ketika saya kembali ke Indonesia dan bekerja di tempat yang lama. Bos saya sadar mata saya juling. Kebetulan suaminya beliau adalah dokter spesialis mata. Maka beliau mempromosikan sang suami untuk mengoperasi saya. Masih gak mempan, karena saya takut. Haha. Keempat, bos pertama saya di tempat kerja yang sekarang. Beliau sangat concern dengan kondisi saya hingga mencarikan dokter-dokter ahli di Singapura. Di saat itulah saya mulai berpikir, sepertinya sooner or later harus operasi. Mulailah diskusi panjang dengan orang tua yang berujung buntu karena lagi-lagi saya yang disuruh mikir. Haha..dilema punya orang tua yang sangat demokratis. Tadinya saya mau operasi tahun lalu, tapi batal karena sibuk dan galau mau operasi di Indonesia, Singapura, atau Penang. Tahun ini pun hampir batal lagi karena kesibukan saya. Namun, saya berpikir kemungkinan besar tahun depan saya akan merantau lagi untuk waktu yang cukup lama. Kalau kondisi ini dibiarkan, takutnya bakal semakin parah dan mengganggu studi saya nanti.

Maka, sekitar akhir bulan Juni lalu saya mulai mencari info tentang dokter mata ahli strabismus di Jakarta Eye Centre (JEC). Kenapa JEC? Karena beberapa teman dan keluarga merekomendasikan rumah sakit ini. Ternyata dokter ahli strabismus itu tidak banyak. Di rumah sakit ini pun hanya ada 3 atau 4 dan hanya 1 yang sudah konsulen. Pertengahan Juli saya konsultasi dengan salah seorang dokter dan menurut beliau kondisi saya sudah cukup parah serta harus dioperasi. Namun, beliau mengaku belum pernah menghadapi kasus yang seperti saya sehingga saya dirujuk ke dokter yang lebih senior. Akhirnya saya ditangani oleh dokter yang senior itu dan diatur lah jadwal operasi (yang harus dicocokkan dengan jadwal saya…sok sibuk banget ya sayaaa..hahaha!). Satu hal yang saya kagum dari dokter ini adalah beliau sangat realistis dengan mengatakan dari awal bahwa ilmu medis adalah ilmu yang paling tidak pasti. Jadi, operasi ini tidak 100% pasti berhasil. Maka beliau berkata : “kalau kamu belum ikhlas, lebih baik ditunda dulu operasinya”. Mungkin kalau pasien lain akan shock ketika bertemu dokter semacam itu. Tapi, saya malah semakin mantap untuk operasi. I believe on his expertise and let God do the rest.

Jumat, 12 Augustus 2016. Hari operasi pun tiba. Saya datang ke rumah sakit dengan super nyantai, membaca medical consent dengan seksama (kebiasaan saya yang tidak mau asal tanda tangan tanpa membaca isi dokumen…sesimpel apapun dokumen itu), mempersiapkan operasi, hingga jalan sendiri ke ruang operasi. Operasinya sendiri berjalan selama 90 menit dan saya tidak merasakan apapun. Setelah operasi pun saya langsung sadar. Ketika dokternya nanya ke perawat “orang tua anak ini mana ya?” Saya langsung jawab : “nunggu di luar dok”. Haha..kaget kayanya dokternya. Cepat banget saya sadarnya.

Setelah operasi masih agak teler, tapi sudah bisa melakukan aktivitas sendiri. Puji Tuhan, tidak merepotkan orang. Hehe. Saat ini saya masih dalam tahap recovery. Syukurlah setiap hari selalu ada kemajuan. Sudah mulai membiasakan pakai kaca mata lagi, membiasakan membaca, dan hari ini mulai mencoba membuka laptop kembali. Semoga dalam beberapa hari ke depan sudah bisa kembali ke kantor dan beraktivitas seperti biasa. Saya sempat post foto saya satu hari pasca operasi di FB dan banyak yang mendoakan saya supaya cepat pulih. Terima kasih ya teman-teman! 🙂

Bagi saya ini bukan sekedar operasi. Ini adalah bukti bahwa akhirnya saya bisa melawan rasa takut saya sendiri. Saya yakin, setelah ini pasti akan banyak momen di mana saya harus keluar dari zona nyaman dan melawan rasa takut saya terhadap hal-hal yang lain.