Kerja vs S2

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan pertanyaan dari salah satu mahasiswa saya. “Ms. Ella, ada saran gak? Sebaiknya saya langsung lanjut S2 setelah lulus atau kerja dulu?” Saya yakin banyak mahasiswa di luar sana yang sama galaunya dengan mahasiswa saya itu. Jangan khawatir, saya juga pernah melalui pergumulan yang serupa hampir 6 tahun yang lalu.

Jawaban yang paling netral dari pertanyaan itu adalah : “tergantung kesiapan dirimu”. Jawaban yang frontal dan menantang adalah : “langsung lanjut S2”. Memang benar, bekerja merupakan ajang aktualisasi diri para fresh graduate S1 dan bagi beberapa orang, sarana mengisi waktu hingga “siap” untuk melanjutkan S2. Namun, terlalu lama bekerja akan membuat seseorang terperangkap di dalam zona nyaman hingga enggan untuk kembali ke bangku kuliah. Percayalah!

Dengan langsung melanjutkan S2 selepas lulus S1, banyak keuntungan yang kamu dapatkan. Pertama, karena baru lulus S1, ingatanmu masih segar. Kedua, kamu masih muda dan energik. Ketiga, tanpa kamu sadari, kamu terbuka menerima hal-hal baru. Setelah memutuskan untuk melanjutkan S2, biasanya muncul pertanyaan lain : “di Indonesia atau di luar negeri?” Jawabannya terkait dengan motivasi pribadi. Dari segi konten studi, apakah S2 di luar lebih baik daripada di dalam negeri? Tidak juga! Banyak lulusan luar negeri yang kalah bersaing dengan lulus lokal. Namun, ditinjau dari segi kemandirian dan perluasan jejaring pertemanan dan jejaring profesional, tentunya S2 di luar negeri akan lebih menguntungkan.

Saat ini bersekolah di luar negeri bukan lagi monopoli orang-orang kaya. Banyak beasiswa yang tersedia, baik dari pemerintah Indonesia maupun dari pemerintah negara lain. Setiap beasiswa memiliki persyaratan dan ketentuan yang berbeda-beda. Kalian harus mencermati hal-hal tersebut. Sebagian besar beasiswa memiliki persyaratan yang ribet, tapi justru di situlah tantangannya. Kuncinya adalah, kalian harus mendaftar sebanyak-banyaknya beasiswa,  percaya diri dengan kemampuanmu dan jangan takut gagal.

Namun, ketika kalian memutuskan untuk langsung melanjutkan S2 selepas lulus, jangan heran begitu kembali ke Indonesia, teman-teman seangkatan kalian sudah mencapai posisi yang cukup tinggi di perusahaan-perusahaan tempat mereka bekerja.

Berkaca pada kasus saya, saya dapat dikategorikan sebagai seseorang yang nekad. Dulu saya berpikir bahwa saya ini idealis. Sejak tahun terakhir kuliah S1, saya bercita-cita melanjutkan S2 dan kemudian langsung S3. Baru setelah itu mencari pekerjaan. Kadang kalau sekarang saya mengingat masa-masa itu, saya berpikir bahwa dulu saya gila. Saya bersyukur cita-cita saya tidak serta merta terwujud. Setelah lulus S2, mau tidak mau saya harus kembali ke Indonesia dan mencari pekerjaan. Alasannya apa? Ternyata tidak semudah itu bagi international students untuk mendapatkan proyek penelitian S3 di negara Eropa, dan kalaupun bisa itu perlu waktu yang lama. Sedangkan, visa pelajar saya sudah mendekati kadaluarsa. Singkat cerita, saya kembali ke Indonesia dengan status jobless master graduate. Memalukan, memang. Haha. Akan tetapi, Tuhan selalu membuka jalan. Dengan perjuangan yang agak berliku, akhirnya saya memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan. Di saat itu, teman-teman seangkatan saya yang tidak lanjut S2, sudah memperoleh salary tinggi dari pekerjaannya. Tapi, mereka masih S1. Saya sudah S2.

Tidak ada yang salah ketika kalian memutuskan untuk langsung bekerja atau lanjut S2 setelah lulus S1. Semuanya harus mengacu pada target hidup kalian. Mau jadi apa? Mau bekerja di sektor seperti apa? Apakah untuk bisa berhasil di sektor tersebut kalian perlu  memiliki pendidikan S2? (karena jangan salah, ada banyak sektor yang tidak terlalu mementingkan pendidikan S2) Hal-hal seperti itu sudah harus kalian pikirkan paling tidak sejak kuliah tingkat 2. Kalau masa kuliah kalian berlalu begitu saja, dan baru heboh memikirkan masa depan ketika kalian sudah tingkat akhir, sayang sekali waktu 4 tahun itu terbuang percuma.

Pada pertemuan pertama dengan mahasiswa-mahasiswa mentor saya, pertanyaan pertama adalah : “setelah lulus dari sini, rencana kalian apa?”. Bahkan saya menanyakan pertanyaan yang sama kepada mahasiswa-mahasiswa tingkat 1. Intinya, harus ada target yang akan dicapai. Perkara di tengah jalan, seiring berjalannya waktu, target tersebut ternyata harus dimodifikasi, itu bukan masalah. Target itulah yang akan menentukan masa depan kalian. Jangan bilang : “terserah orang tua saya saja lah”. Masa depan kalian itu kalian sendiri lho yang akan jalani.

Tetap semangat!

ps. tulisan ini dibuat untuk memotivasi mahasiswa-mahasiswa saya dan juga untuk memotivasi adik saya sendiri (yang lulus cum laude dari salah satu universitas negeri di Indonesia, berpotensi untuk melanjutkan S2, tapi lebih memilih untuk bekerja)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s