Tentang Melayani

Sejak kira-kira setengah tahun yang lalu, saya mulai kembali mendekatkan diri kepada Tuhan. Bukan berarti sebelumnya tidak dekat. Tetapi, sebelumnya saya tidak banyak melakukan kontribusi dalam kegiatan pelayanan di gereja.

Dalam kurun waktu tiga tahun belakangan ini, saya merasa berkat Tuhan tidak habis-habisnya hadir dalam hidup saya. Dulu saya merasa bahwa ketika keinginan saya tidak dikabulkan, Dia tidak memberkati saya. Namun, belakangan saya sadar bahwa Dia tidak mengabulkan apa yang saya inginkan, tapi Dia menggantinya dengan sesuatu hal yang jauh lebih baik dan sesuai dengan kondisi saya pada saat ini. Dia bukannya tidak mengabulkan, tetapi hanya menunda.

Saya mulai aktif kembali sekitar pertengahan tahun lalu ketika tiba-tiba saja saya tergerak untuk menjadi pemazmur. Sejak kelas 6 SD hingga SMA, saya pernah menjadi pemazmur di gereja. Namun, sejak kuliah S1 hingga S2 (karena alasan klise, sibuk), aktivitas itu saya tinggalkan. Walaupun jadi pemazmur itu ribet, karena kalau dapat jadwal pelayanan untuk misa minggu pagi (pukul 06.30), harus bangun tidur super pagi banget. Atau ketika dapat jadwal untuk misa minggu sore (pukul 18.00), selesainya sudah agak malam sedangkan besoknya harus kerja. Tapi balik lagi, saya selalu ingat bahwa Tuhan sayang sama kita tidak mengenal waktu, lho. 🙂 Jadi, tidak apa-apa dong kalau waktu saya sekitar 1-2 jam dalam 1 minggu dipakai untuk Tuhan?

Awal 2015, saya dipertemukan dengan paduan suara yang terdiri dari sekelompok orang yang memiliki kecintaan terhadap lagu-lagu gerejawi klasik. Maka bergabunglah saya dengan paduan suara tersebut dan sudah beberapa kali melayani misa bersama mereka. Saya bersyukur diberikan kesempatan untuk mengenal orang-orang yang memiliki iman Katolik yang lebih mantap daripada saya. Dari mereka, saya bisa terus belajar.

Menjadi taat bukan berarti menjadi fanatik. Itu prinsip saya. Toleransi tetap harus dijalankan. Melayani Tuhan janganlah jadi sesuatu hal untuk menyombongkan diri. Melayani Tuhan harus didasari dengan keinginan untuk berbagi. Kebetulan Tuhan beri saya talenta untuk bernyanyi dan bermusik, maka saya melayani Tuhan melalui cara itu.

Seseorang pernah berkata pada saya : “melayani Tuhan itu harus total”. Jujur kadang saya kecewa ketika umat di gereja saya berlomba-lomba melayani dalam misa ‘prime time‘ (misa prime time itu sebutan kami untuk misa hari Minggu jam 8.30, di mana biasanya umatnya paling banyak). Para pelayan liturgi  berusaha mempersiapkan dengan sebaik-baiknya. Ya itu gak salah sih. Tapi pernah kejadian di misa minggu sore, tidak ada paduan suara yang melayani. Karena dianggap itu misa yang sepi umat. Lah, kalau Tuhan juga beranggapan seperti itu gimana ya? Bisa saja kan Dia bilang “Ah, gw mau kasih berkat buat umat yang ke gereja pas prime time aja”. Nah lho.

Jadi, mari kita melayani Tuhan dengan hati gembira dan tulus. Di manapun dan kapanpun.

Selamat Paskah buat teman-teman Kristiani di manapun kalian berada. Tuhan berkati 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s