Titik Nol

20130912-173516.jpg

Saya tertarik untuk membeli dan kemudian membaca buku ini pertama-tama karena sahabat saya. Dia bilang bahwa banyak quotes bagus di buku ini. Isinya tidak hanya tentang traveling, tetapi juga tentang kehidupan. Singkat cerita, setelah beberapa bulan menimbang-nimbang, beli atau pinjam saja ke sahabat saya itu, akhirnya saya beli.

Safarnama, catatan perjalanan, ini dimulai dari Beijing berlanjut ke Xinjiang di ujung utara Cina. Dilanjutkan ke Tibet, Pegunungan Himalaya, India, Pakistan, dan bahkan hingga Afghanistan. Dalam perjalanan itu dia bertemu berbagai macam orang dengan berbagai macam karakter. Yang tentu saja membuat dia terkaget-kaget. Banyak yang baik, tapi banyak pula yang aneh.

Pengarang bercerita di buku ini bahwa dia belajar banyak tentang kehidupan selama melakukan perjalanan ini. Bagaimana ketika berada di India, dia melihat orang bergeletakan di jalan. Bagaimana ketika dia tanpa sengaja terkepung di tengah kerusuhan besar ketika sedang berada di Kabul. Nyawa manusia serasa murah sekali di negara-negara tersebut.

Ketika berada di Pakistan, dia dipuja-puja semua orang begitu mereka tahu bahwa dia berasal dari Indonesia. Rupanya yang mereka tahu, Indonesia itu negara Muslim. Jadi, mereka menganggap orang Indonesia itu “saudara”.

Banyak pengalaman menyenangkan, menyedihkan, dan mengerikan yang terjadi pada pengarang yang semuanya tergambar jelas pada tulisannya di buku ini. Tapi, pada akhirnya dia harus kembali ke titik nol-nya. Pulang, Apa yang membuat dia akhirnya memutuskan untuk pulang dulu ke titik nol-nya? Saya rasa, itu adalah salah satu inti cerita di buku ini.

Traveling seperti yang dilakukan oleh Agustinus Wibowo ini, adalah salah satu bentuk traveling yang sesungguhnya, menurut saya. Walaupun dia tidak mau disebut sebagai traveler, backpacker, atau apapun itu. Traveling yang tidak hanya untuk sesaat mengagumi keindahan alam suatu negara kemudian pergi, tetapi juga mau hidup bersama-sama dengan orang lokal dan belajar bahasa setempat.

Saya hobi traveling, tapi sepertinya saya belum berani untuk melakukan perjalanan menantang bahaya ke wilayah-wilayah ekstrim seperti yang dilakukan oleh penulis. Terima kasih untuk Agustinus Wibowo yang sudah membagikan cerita perjalanannya di buku ini. Tidak banyak (atau bahkan belum ada) travel-writer Indonesia lainnya yang menuangkan kisahnya hingga sedetail ini ke dalam sebuah buku.

2 quotes dari buku Titik Nol untuk menutup review singkat saya ini

“Mengapa orang-orang yang katanya beriman selalu merasa yang paling benar?” (hal. 451)

“Agama bisa menjanjikan damai dan keselamatan, namun juga bisa menjelma jadi tragedi penindasan barbar ketika orang-orang merasa hanya dirinyalah yang paling murni, paling suci, paling benar.” (hal. 458)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s