mimpi es tiga

Es tiga, atau orang-orang barat sana biasa menyebutnya dengan PhD. Salah satu mimpi terbesar saya yang belum terwujud. Mungkin buat kalian yang berteman dekat dengan saya, sudah bosan mendengarkan saya berkeluh kesah tentang aplikasi-aplikasi saya yang belum berhasil hingga saat ini. Kalau kalian pernah melihat page “Bucket List” di blog ini, terpampang di sana dengan jelas tentang salah satu keinginan saya itu. Tapi, memang seringkali kenyataan dan keinginan itu tidak berjalan seiring.

Kenapa sih saya pengen banget dapetin si es tiga itu? Karena saya merasa ilmu yang saya dapatkan hingga saat ini belum mencukupi. Es tiga bisa jadi medium saya untuk memperkaya ilmu dan meningkatkan kemampuan practical serta intelektual saya. Sebenarnya, cita-cita saya dalam hidup ini sederhana saja. Saya ingin hidup saya berguna bagi orang lain. Dengan latar belakang saya di bidang sains, saya ingin melakukan penelitian yang suatu hari nanti bisa membuahkan hasil yang bisa diimplementasikan di dalam dunia kesehatan, tidak hanya bagi Indonesia tapi bagi dunia internasional. Itulah kenapa saya merasa harus melanjutkan sekolah di luar negeri. Ketika saya bersekolah di luar negeri, pikiran saya akan lebih terbuka karena pastinya setiap hari akan berinteraksi dengan orang-orang yang berasal dari latar belakang berbeda. Saya sudah pernah merasakan hal tersebut. Dan jujur saja saya merasa bahwa waktu 1 tahun yang saya lewatkan di negeri orang, tahun lalu itu kurang lama. Saya ingin sekali mendapatkan kesempatan seperti itu, suatu hari nanti. Kalau saya hanya ingin mengejar ilmu, tidak perlu lanjut sekolah di luar negeri. Di Indonesia juga bisa. Untuk dapat gelar Doktor di universitas-universitas di Indonesia juga syaratnya tidak mudah, lho. Tapi, sekali lagi, saya punya tujuan yang berbeda.

Awalnya saya pikir dengan menyandang gelar Master dari sebuah negara di Eropa, akan membuat saya lebih mudah untuk dapat posisi es tiga. Ternyata tidak. Ternyata buat orang-orang Eropa saja sulit untuk dapat diterima. Apalagi untuk mahasiswa internasional macam saya. Tapi kalau tidak pernah mencoba, saya tidak akan pernah tahu tentang hal ini.  PhD berbeda jauh dengan Master. Hampir semua penelitian PhD itu bergantung dengan dana. Yang menyediakan dana adalah lembaga-lembaga tertentu yang tentunya memiliki kriteria yang sangat spesifik. Ini yang bikin susah. Hanya orang gila yang mau membiayai sendiri penelitiannya dalam bidang medical science. Ya mungkin bisa kalau kekayaan kamu gak akan habis untuk tujuh turunan.

Apply es tiga berat. Studi es tiga sendiri berat gak sih? Berdasarkan diskusi dengan teman saya, katanya berat banget.

Menghadapi hal seperti ini, saya dipaksa untuk berpikir positif. Mungkin sekarang belum saatnya. Dunia saya gak akan berhenti juga karena saya belum diterima es tiga. Mungkin Tuhan ingin saya fokus dulu dengan pekerjaan yang saat ini saya jalani.

Perjuangan belum berakhir. Tapi saat ini mungkin semangat saya yang tadinya berapi-api sekali, harus agak dikontrol. Demi kebaikan saya. Karena, jujur saja, kegagalan demi kegagalan ini bikin saya agak sakit hati juga lama-lama.

Saya yakin, ketika kita punya niat baik, Tuhan pasti akan buka jalan, entah bagaimana caranya. Dan saya juga percaya, Dia tidak akan kasih cobaan yang tidak bisa saya tanggung.

Tuhan tahu bahwa saya masih kuat, makanya Dia kasih tantangan-tantangan ini buat saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s