Tenang, Doamu Pasti Dikabulkan

Kata-kata di Khotbah yang dilontarkan oleh Pastor di gereja saya pada Hari Raya Kenaikan Isa Almasih, kamis yang lalu, masih saja terngiang di telinga saya. Salah satu kalimat yang dia ucapkan adalah : “Saya berani jamin bahwa semua doa yang Anda ucapkan dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan, pasti akan dikabulkan”. Pada saat itu juga, saya langsung colek ibu saya dan bilang “Yakin banget ya, tuh Romo, bu”. Ibu saya hanya tertawa. Oiya dan satu lagi, sang Pastor juga mengatakan kalimat ini : “Hati-hati dengan apa yang Anda ucapkan, karena semua perkataan yang keluar dari mulut anda adalah doa”. Kalau kalimat ini, saya sudah sering dengar beberapa kali.

Tapi setelah misa itu, bahkan sampai hari ini saya berpikir. Ternyata, memang benar Tuhan selalu mengabulkan doa-doa saya. Tapi kadangkala saya tidak menyadarinya. Yeah, manusia memang seperti itu kan, ya? :p Kemudian, saya coba flashback kejadian-kejadian selama beberapa tahun terakhir. Peristiwa “tertua” yang berhasil saya ingat adalah ketika tahun 2006, saat detik-detik sebelum UAN, saya galau mau lanjut kuliah dimana, jurusan apa. Saya heboh ikut ujian masuk beberapa universitas negeri, termasuk ITB. Bahkan, saya sampai dua kali ikut USM ITB. Setelah gagal USM pertama, sebenarnya saya sudah malas ikut USM kedua. Saya sudah menyiapkan mental untuk ikut SPMB pada saat itu. Sebenarnya, pada saat itu, masuk ITB bukanlah cita-cita saya. Yang saya mau adalah kuliah di jurusan yang bisa mengakomodir cita-cita saya untuk menjadi peneliti dalam bidang medis. Orangtua saya mendesak agar saya ikut USM sekali lagi. Kalau di kesempatan ini gagal, berarti memang bukan jalannya. Pada saat itu juga sebenarnya saya sudah diterima di salah satu PTN lain, jadi saya santai saja ikut USM yang kedua itu. Eh, malah keterima di jurusan Mikrobiologi ITB. Dan kemudian saya menjalani 4 tahun hidup saya yang sangat menyenangkan di kampus tersebut.

Peristiwa kedua terjadi ketika saya duduk di akhir tingkat 3. Saya harus mencari perusahaan/lembaga riset untuk tempat saya melakukan kerja praktek. Pada saat itu, saya sudah mengincar 1 institusi. Tapi, apa daya mereka hanya menerima mahasiswa dengan IPK yang superior untuk melakukan kerja praktek di lembaga mereka. Sampai seminggu sebelum deadline, saya belum menemukan tempat untuk kerja praktek. Saya terus berdoa dan mencari, dengan tetap dibantu oleh orangtua saya (oh, how I love my parents!). Akhirnya dapat dong. Dengan mudahnya. Entah kenapa saya tidak pernah melirik institusi tersebut, sebelumnya.

Selanjutnya, 1 tahun setelahnya, ketika penelitian Tugas Akhir. Pada awalnya, saya mendapat topik penelitian tentang tanaman. Bisa kacau cita-cita saya yang mau menjadi medical scientist, kalau tiba-tiba penelitian tugas akhir saya tentang tanaman. Gak nyambung. Saya mikir, pokoknya saya harus bisa melakukan penelitian yang ada hubungannya dengan penyakit. Solusinya adalah saya harus memikirkan proposalnya dari awal. Saya sendiri merasa hal itu mustahil. Saya, yang pada saat itu masih mahasiswa S1, harus membuat proposal penelitian beneran yang harus saya ajukan ke sebuah lembaga. Di luar negeri aja, yang biasa bikin proposal-proposal macam itu, anak-anak S3. Eh, tapi akhirnya goal dong.

Terus, saya juga pernah berkoar-koar bahwa di bulan Juli 2010, saya harus bisa berdiri di Sabuga pakai Toga dengan menyandang gelar sarjana. Kesampaian.

Lulus S1, saya pengennya langsung lanjut S2. 1 bulan setelah saya apply, langsung dapat conditional offering letter. Yang berarti, berdasarkan seleksi dokumen akademik, saya sudah bisa diterima. Saat itu juga saya coba-coba apply kerja (buat iseng). Gak ada yang diterima. Sekarang saya mikir, mungkin kalau dulu saya langsung dapat kerja, saya bakal bimbang untuk lanjut sekolah lagi.

Awal tahun 2012, saat pemilihan project untuk penelitian master, saya sudah mengincar salah satu project yang menurut saya prospektif. Supervisor-nya juga terlihat asik. Saya approach si supervisor itu dari jauh-jauh hari, memgutarakan bahwa saya tertarik dengan projectnya. Dia nampak oke-oke saja dengan maksud saya tersebut. Tibalah hari penentuan project. Jeng..jeng..saya tidak dapat ajalah project si supervisor itu. Ngamuk sengamuk-ngamuknya saya pada saat itu. Terutama sama orang yang pada akhirnya dapat project itu. Haha. Dia orang dari negara lain (bukan orang Indonesia, gak usah disebut lah ya darimana). Sampai-sampai teman-teman saya selalu bilang : “Ella, look it’s your arch enemy coming”. Haha. Jadi, terpaksalah saya mengerjakan project yang menjadi pilihan kedua di list saya. Sejujurnya, saya tidak terlalu mengerti tentang topiknya. Tapi, saya malah belajar banyak hal selama 5 bulan berada di lab mengerjakan project ini. Saya dapat supervisor yang sangat baik dan suportif. Saya belajar dari dia, bahwa seorang peneliti yang hebat itu tidak akan pernah puas dengan segala hasil yang dicapainya, karena di dalam dunia sains semua hal dapat dieksplor. Ketika kita sudah menemukan satu hal, itu adalah pintu untuk kita menemukan hal lain. Jadi, gak ada habis-habisnya. Kata-kata penyemangat dari dia yang paling saya ingat adalah : “Gabriella, sometimes sh*t happens. Try again. Don’t give up”. Kata-kata itu terucap setelah saya melakukan eksperimen selama 15 kali, dan kesemuanya gagal. Project ini membuat saya jatuh cinta lebih dalam lagi dengan imunologi. Pengalaman tersebut sangat berkesan buat saya. Melewatkan beberapa bulan dengan bekerja bersama peneliti beneran, yang publications-nya sudah banyak dimuat di jurnal-jurnal keren macam Nature. Ritme kerja mereka gila, jujur saja. Tapi, saya ketagihan.

Tahun 2013 baru hampir setengah jalan, tapi sudah banyak pembelajaran yang saya alami. Yang cukup menjitak saya dengan keras. Pelajaran pertama, saya gak boleh menjadi orang yang terlalu yakin. Pede boleh, terlalu yakin jangan. Pelajaran kedua, pekerjaan jadi peneliti di Indonesia itu memang benar tidak seenak jadi peneliti di luar negeri. Kalau dulu saya hanya mendengar dari kata orang-orang, sekarang saya mengalaminya sendiri. Kamu lulusan luar negeri? Balik ke Indonesia, jadi peneliti? Ya, kamu diperlakukannya sama aja dengan yang lulusan lokal. Jangan berharap lebih. Hahaha. Saya juga mencoba berdamai dengan apapun yang terjadi pada saya saat ini. Mencoba untuk tidak mengeluh, jalani saja, dan tidak memasukkan ke hati segala perkataan-perkataan orang yang gak enak tentang diri saya (ini yang paling susah!)

Ada satu rencana besar yang ingin saya wujudkan tahun ini. Dan itu pula hal yang selalu ada di setiap doa saya, setiap malam sebelum tidur, tidak pernah saya lupa. Semoga Tuhan dengar itu. Kalau rencana itu tercapai (amin!), saya sudah akan tenang mengenai masa depan saya. Karena di usia saya yang sekarang, seharusnya saya yang bekerja keras, dan orang tua saya yang bersantai. Tapi, kenyataannya orangtua saya saat ini masih bekerja dengan sangat keras karena saya benar-benar baru merintis profesi impian saya.

Well, back to the topic. Tuhan selalu mengabulkan doa-doa kita? Berdasarkan pengalaman saya, iya. Tapi, DIA tidak mengabulkannya mentah-mentah. Pasti ada proses sebelum kita bisa bilang : “wah, iya doa gw terkabul”. Kadang, di tengah proses itu, kita merasa ditempatkan pada situasi yang tidak kita inginkan. Tapi pada akhirnya kita merasa bahwa situasi itu jauh lebih menyenangkan buat kita, dari pada kalau Tuhan benar-benar mengabulkan bulat-bulat keinginan kita. Itu terjadi pada saya. Dulu saya pengen banget kuliah di Prancis, eh saya malah terdampar di UK selama 1 tahun. Tempat di mana saya mendapatkan sangat banyak pengalaman, teman, dan pelajaran-pelajaran lain tentang hidup. Yang kedua adalah research project buat master saya tahun lalu.

Banyak keajaiban yang terjadi pada saya sebelum kurun waktu tahun 2006, tapi saya tidak bisa mengingatnya. Waktu itu, saya akui, saya kurang bersyukur dan terlalu sombong. Sekarang, saya berpikir kalau pada tahun 2006 itu, saya tidak memaksa diri ikut USM ITB yang kedua, mungkin saat ini keadaan saya berbeda. Atau sama? Haha..gak tau. Tapi, pasti tidak exactly sama seperti sekarang.

Kalau kalian percaya Tuhan (apapun agama kalian), andalkan dia dalam hidupmu. Berdoalah. Dia pasti mengabulkan doa-doa kamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s