a little contemplation

I don’t do clubbing. I’m not smoking. I don’t do all of those “cool” stuffs. Do that mean I won’t get a guy? No, I believe I’ll get one who will accept me whoever I am and who will love me just the way I am. Someday.

 

kata orang, kalau kita punya pengharapan yang kuat, seluruh alam raya akan berkonspirasi untuk mewujudkan impian kita itu.

 

 

Advertisements

It’s Been 3 Years! Yeay!

Saya baru sadar ternyata tanggal 28 Oktober adalah hari ulang tahun blog “La Vie est Belle”. Udah 3 tahun aja saya cuap-cuap di sini. Haha..semoga gak pada bosan ya baca tulisan-tulisan saya yang kadang (atau sering) gak jelas. Terima kasih buat kalian yang rutin baca blog saya ataupun kalian yang memilih untuk jadi silent reader blog ini. Apalagi buat teman-teman yang sudah mulai baca blog saya dari jaman dulu pertama kali ngeblog di Blogger tahun 2007. The time when I was writing some craps, tapi kalian tetap rela ngebaca dan kasih komen. Makasih banyak ya.

Jujur ya, saya tidak pernah menyangka bahwa blog ini bisa berperan penting dalam hidup saya. Dulu, saya pikir blog hanyalah sarana untuk curhat. Tapi, sekarang kadang saya menengok posting blog dari beberapa tahun yang lalu dan senyum-senyum sendiri membacanya. Saya seakan bisa melihat transformasi dari pribadi saya. It’s amazing knowing how this blog impact my life.

Selain itu, blog ini bisa bikin saya selalu bersyukur terhadap hidup saya. Selalu ada keajaiban-keajaiban kecil yang terjadi dan itu bisa terlihat dari sebagian posting yang ada di blog ini. Wow, ย God has done lots of amazing things to me.

Mungkin kalian merasa bahwa di hampir setiap posting blog, saya tidak menulis kalimat dengan struktur yang benar. Saya juga kadang ngerasa kok. Tapi, ya beginilah saya. I write in my own way. Saya bukan penulis, makanya gaya nulis saya berantakan. Saya cuma ingin menulis, karena saya butuh ini untuk tracking segala hal yang saya alami. Saya percaya bahwa semua kejadian di dalam hidup itu menarik untuk diceritakan, apapun itu, baik ataupun buruk. Because there’s always a reason behind everything.

Once again, terima kasih banyak buat kalian para pembaca yang sudah meluangkan waktu main-main ke blog saya, baik disengaja ataupun tidak sengaja akibat digiring oleh Google. ๐Ÿ™‚

Sorry ya kalau tulisan di blog saya bahasanya suka campur-campur. Hehe.

This is my home in the cyber world. I will always write here to documenting my life. Feel free to come to my home, writing some comments, or just read the posts.

Thanks. Enjoy your day, mates! ย Happy Weekend! ๐Ÿ˜€

Hello, Long Time No Write ;)

Halo, apa kabar? Ih basa basi banget ya saya? Sekarang saya jarang update blog ini ya? Iya nih gak bisa nulis sesering dulu. My life is so good here. Saya senang banget berada di sini.

Jadi ceritanya perkuliahan sudah mulai sejak 2 minggu lalu. Sibuk banget. I’m like literally busy. I need more than 24 hours a day. Ini gak berlebihan karena setelah saya ngobrol-ngobrol dengan teman-teman seperjuangan di sini, mereka juga merasakan hal yang sama. Yang saya maksud dengan teman seperjuangan adalah mereka yang sama-sama berada di Faculty of Medical Sciences. Kalau yang di jurusan lain sih nampaknya amat sangat santai karena mereka bisa gitu shopping dan jalan2 selama weekdays. Jangan ditanya ya gimana nerd-nya saya kalau weekdays.

Sistem pendidikan di sini jauh berbeda dengan di Indonesia. Kita gak akan pernah ketemu jadwal kuliah dari pagi sampai sore di dalam satu hari. Kuliah tatap muka di kelas tuh paling hanya 2 jam per hari. Tapi, ketika kuliah, dosen sudah siap dengan references list yang berkaitan dengan mata kuliah hari itu. Terserah kita mau baca atau gak. Itulah kenapa saya lebih banyak menghabiskan waktu di asrama. Banyak jurnal yang harus dibaca, bo. Bahkan saya buka internet ย hanya untuk mencari jurnal-jurnal penelitian terbaru. Yes, di sini sistemnya adalah belajar mandiri. And you wanna know what I like the most of being here? Di sini saya bisa mendapatkan akses ke jurnal penelitian yang terbaru sekalipun dengan GRATIS, sodara-sodara. Ini ajaib banget, karena semasa saya kuliah S1, saya gak bisa akses ke jurnal penelitian terbaru. ย So, kalau kalian kuliah di tempat saya berada sekarang, merupakan suatu kebohongan besar jika kalian merasa kekurangan literatur. ๐Ÿ™‚

Yang kedua, ketepatan waktu nampaknya sudah menjadi budaya bagi orang Inggris. Jadi, gak ada ya ceritanya dosen atau mahasiswa yang telat. Misalnya, kuliah mulai jam 9 pagi. Jam 8.45 dosen sudah nongkrong di kelas dan kelas pun sudah penuh dengan mahasiswa. Dan di sini, ketika kuliah dimulai, gak ada tuh mahasiswa yang ngobrol di kelas. Mereka mengikuti kuliah dengan serius. Di luar kelas, mereka liar. Yes, honestly speaking UK students are wild. They spend most of their nights at pubs, drinking until they get drunk. Tapi, begitu masuk kelas, saya kagum sama keseriusan mereka.

Kemudian, di sini kita bisa meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris dengan mengikuti yang namanya in-sessional English course selama apapun yang kita mau. Lagi-lagi GRATIS. Saya senang apapun yang gratisan. Iya saya masuk Newcastle University memang pakai partial scholarship, tapi orang tua saya masih tetap harus keluar banyak uang untuk nyekolahin saya di sini. Dan saya gak ngerasa uang orang tua saya terbuang percuma karena saya memperoleh fasilitas yang LUAR BIASA bagusnya di sini.

Hmmm..apa lagi ya? Banyak banget yang bikin saya terkagum-kagum. Oiya, ternyata banyak lho yang tahu tentang Indonesia. Senang deh. Kadang malu juga ya kalau orang dari negara lain berbicara tentang kehebatan negara saya ini, sementara yang ada di pikiran saya itu Indonesia jelek banget.

Intinya, saya senang dengan segala keteraturan yang sama temukan di sini. Indonesia terlalu “berantakan”, menurut saya. Saya senang berada di sini, tapi I can’t call this place as home. My home is in Indonesia, dengan segala ketidakteraturannya, dengan segala kebrengsekkan elite-elite politiknya. Saya pasti akan kembali ke rumah ketika saya sudah mencapai semua mimpi saya, karena, sadly, profesi saya tidak dihargai di rumah saya. Dan tidak..tidak seperti beberapa orang yang saya kenal yang sudah tinggal di luar negeri selama bertahun-tahun, yang berpikiran untuk mengganti kewarganegaraan mereka, saya tetap orang INDONESIA sampai kapanpun. Hanya saja, saya kok prefer buat tinggal dan berkarir di negara ini ya? Yah, let’s see aja lah yaaa apa yang akan terjadi dengan saya selanjutnya.

Satu hal yang pasti. Keputusan untuk melanjutkan sekolah di UK adalah salah satu keputusan nekat paling tepat yang pernah saya buat. Bahkan orang tua saya pun pernah meragukan kesungguhan saya. But, look me now. I’m here and thankfully still safe and sound.

Take care you guys!!! See you in another post. Soon, hopefully!! ๐Ÿ˜€

How To Confront Homesick?

Bagi kalian yang sedang merantau ke negeri orang demi menuntut ilmu ataupun bekerja, suatu perasaan yang bernama homesick pasti tidak dapat dihindari. Tapi, menurut saya kita gak boleh terbelenggu sama rasa itu karena ujung-ujungnya bakal merugikan kita sendiri. Terhitung mulai besok, sudah 3 minggu saya tinggal sendiri di negeri yang jauhnya beribu-ribu mil dari kampung halaman. Mungkin di mata orang lain, saya terlihat bahagia-bahagia saja. Ada, lah sedikit rasa homesick itu. Mengutip kata-kata yang pernah diucapkan oleh ibu saya, seenak-enaknya hidup di negeri orang, masih enak hidup di negara sendiri. Iya emang betul sih.

Berdasarkan observasi terselubung kecil-kecilan (biasa lah, mental scientist *tsaahh*) yang saya lakukan terhadap beberapa teman baru saya di sini, rasa kangen terbesar mereka adalah sama keluarga, kemudian sama pacar, terus kangen sama makanan. Nah, berhubung saya belom punya pacar, mungkin itulah sebabnya saya tidak terlalu homesick kali ya. hehe ๐Ÿ˜€ Ada untungnya juga jadi jomblo. Kalau sama keluarga ya pasti kangen lah, tapi gak sampai yang nangis-nangis bermuram durja gitu.

Saya kangen juga sama sahabat-sahabat pastinya. Kangen sama si Kristal yang bawelnya ampun-ampunan. Biasanya waktu masih di Jakarta, kalau udah weekend, dia pasti nge-pangpingpong BBM saya ngajakin jalan. Terus kangen juga sama Dita yang rumahnya sering saya intervensi, berhubung sama2 pengangguran terselubung waktu itu. Haha. Kalau sama geng mikro gila (Ipi, Nona, Unik, Aci) sih emang sejak lulus dari ITB kita lebih sering berhubungan secara virtual. Tapi kangen juga sih denger teriakan khasnya si Ipi, suaranya si Unik yang cempreng, berbagi kegaringan sama si Nona, ngetawain tingkah lakunya si Aci yang ajaib itu. Yaaa saya emang lebih kangen sama sahabat-sahabat daripada sama keluarga *haha..anak kurang ajar*. Gak, deeeng. Becanda.

Satu hal lagi yang bikin saya homesick adalah makanan. Gak ada tuh ketoprak, nasi uduk, nasi goreng kambing, dan martabak tipker favorit saya di sini. Untung, masih ada yang jual indomie :p

Boleh sih kangen sekali-sekali. Tapi, gak boleh terus-terusan lah ya. Nih, saya mau coba kasih tips ala Ella untuk mengurangi homesick :

  1. Cari teman yang banyak dan dari berbagai negara. Gak mau, kan udah menghabiskan waktu kurang lebih setahun di luar negeri, tapi bahasa Inggrisnya gak ada kemajuan? Satu hal yang pasti, ketika berteman sama orang dari negara lain, wawasan kita akan bertambah.
  2. Cari teman anak Indonesia juga. Kadang-kadang mulut kita capek juga kan casciscus pake bahasa Inggris terus, sampai lidah pegal? Jadi, penting tuh punya temen orang Indonesia yang senasib. Selain itu, juga untuk faktor keamanan. Iya, lah. Kita hidup di negeri orang. Pasti bakal lebih aman kalau kenal sama teman senegara.
  3. Buat diri kita sibuk. Jangan mendem di kamar asrama/flat aja sambil nangis-nangis kejer gara-gara homesick. Jalan-jalan kemana, kek. Shopping, belajar di Perpustakaan, ngampus, ikut society. 24 jam tuh berasa cepet banget. Yakin deh, gak akan inget homesick. Haha.
  4. Maksimalkan fungsi teknologi. Sekarang ada yang namanya Skype. Jarak udah gak ada artinya deh. Kita bisa ngobrol face to face sama keluarga di Indonesia. 2 hari yang lalu saya pertama kali Skype sama Bapak & Ibu. Haha..komentar si Ibu kocak banget deh : “Wah, tau gitu dari dulu pake Skype aja ya, La.” *yaiyalaaaahhhh Ibu!!!*.
  5. Ingat tujuan utama kita di sini adalah belajar atau bekerja dan kita gak boleh pulang sebelum dapet sesuatu dari sini. Jadi, gak boleh homesick.
  6. Cari kecengan. Ini sih tips yang amat personal dari saya. Serius…kecengan itu adalah mood-booster lho. Saking konsentrasinya kita ngeceng, lupa deh homesick-nya. Haha ๐Ÿ˜€
Ya, itulah sedikit tips yang rada ngaco dari saya. Hmmm..tapi saya sudah coba selama beberapa minggu ini dan cukup ampuh kok. Alasan serius saya untuk tidak homesick adalah, karena saya gak mau membuat keluarga di Indonesia kepikiran. Orang tua saya masih harus memikirkan adik-adik saya dan juga pekerjaan kantor Bapak & Ibu saya tuh cukup berat. Jadi, gak perlu lah membebani mereka dengan rasa homesick gak penting.
Jadi, buat teman-teman yang sering homesick, ayo lah cheer up!!! ๐Ÿ˜€