Not An Ordinary Holiday

Yes, I’ve already in Europe now. And nope, I haven’t been in UK yet. Lots of friends asked me questions such as “how’s life in UK?”; “how are UK guys?” and so on. lol. The fact is, I haven’t reached UK yet, friends.

Jadi, ceritanya saya liburan bareng keluarga keliling Eropa. Bapak, Bagus & Bayu (kedua adik saya), dan tante saya sudah balik duluan ke Indonesia tanggal 5 September yang lalu. Sekarang saya tinggal bersama Ibu. Pasti langsung pada bilang “wow” deh. Gak, kok. Liburan ini tidak se”wow” yg kalian semua perkirakan. Kami berkeliling Eropa dengan menggunakan kereta api sebagai sarana transportasi, yang mana tarifnya jauh lebih murah daripada menggunakan pesawat. Kami juga menginap di hotel2 yg biasa saja, yang penting dekat dengan stasiun kereta. Berasa banget deh petualangannya. Gotong2 koper naik turun kereta. Hasilnya adalah lengan saya berotot, betis saya nampak seperti talas Bogor, dan kulit saya semakin gosong saja. Ternyata di sebagian negara Eropa masih summer, saudara-saudara. Damn, global warming!

Ini adalah perjalanan yang sangat menyenangkan. Beberapa hari yang lalu ketika mengunjungi Frankfurt, saya ketemuan dengan sepupu saya yang tinggal di sana, yang sudah sekitar 8 tahun tidak pernah ketemu. Apa yang kami lakukan di sana? Yup, kami secara impulsif menonton konser youth symphony orchestra. Di gedung opera, pula. Gimana saya gak senang dan surprised?!? Konsernya super keren. Thanks my cousin, Mbak Ninta. If you weren’t there, we would never know that there would be a concert since we (me & mom) don’t understand German language.

Alte Oper Frankfurt, where we watched that amazing concert. 🙂

Sekarang saya menulis postingan ini di sebuah kamar hotel di Lourdes, kota kecil di selatan Prancis. Suasana religius menyelimuti kota ini. Kota yang amat sangat nyaman. Kemarin sore saya mengikuti misa harian. Malamnya saya ikut serta dalam prosesi lilin sambil berdoa Rosario bersama beribu-ribu umat Katolik dari seluruh dunia. Suasananya begitu magis. Saya terharu karena ternyata masih banyak orang-orang yang ingat untuk berdoa dan mengucap syukur pada Tuhan. Saya jadi malu karena kadang saya suka malas berdoa. Ini adalah kali ketiga saya datang ke Lourdes. Pertama kali ke sini saya berumur 3 atau 4 tahun. Saya tidak ingat apa2 karena masih kecil. Kali kedua adalah 4 tahun yang lalu dan sepertinya pada saat itu saya hanya menganggap kunjungan ke sini sebagai sebuah rekreasi sehingga saya tidak terlalu merasakan perubahan setelah pulang dari sini. Dan pada kunjungan yang sekarang, saya begitu menghayati. Saya juga gak tau kenapa. Mungkin karena sekarang saya ke sini hanya berdua dengan Ibu, yang memang amat sangat religius sehingga saya juga jadi termotivasi untuk berdoa. Semoga kunjungan kali ini tidak hanya berakhir menjadi sebuah “kunjungan” biasa, melainkan dapat membawa perubahan yang lebih baik untuk diri saya. Baru kali ini juga saya memperhatikan suasana di Lourdes dengan seksama. Begitu banyaknya orang sakit yang datang ke sini dengan pengharapan bahwa mereka akan sembuh. Mereka benar-benar membuat saya lebih mensyukuri segala yang saya punya. Saya punya bagian tubuh yang lengkap, saya bisa beraktivitas dengan mudah. Tapi, masih suka mengeluh. Sedangkan bahkan ada di antara mereka yang menggerakkan tangan saja tidak bisa. Kasihan sekali.

Puncaknya adalah tadi pagi saya mengikuti misa pemuda (Youth Mass). Sebagian besar umat yang hadir adalah anak-anak muda yang menjadi volunteer di Lourdes selama beberapa minggu. Di akhir misa, Ibu bilang : “La, coba kamu ikut jadi volunteer tahun depan. Untuk tambah pengalaman dan cari teman.” Saya pikir : “Ide bagus nih. Mungkin tahun depan saya akan coba daftar jadi volunteer” Semoga impian itu bisa tercapai.

Banyak orang datang ke Lourdes untuk melihat mukjizat. Di sini ada sungai yang tidak pernah kering semenjak terjadi penampakan Bunda Maria kurang lebih 100 tahun yang lalu. Orang-orang datang ke sini untuk meminum air tersebut dan berharap segala penyakit mereka sembuh. Tapi, tanpa kepercayaan, air itu tidak berarti apa-apa. Jadi, intinya kalau kalian datang ke Lourdes, kalian harus percaya bahwa Tuhan dengan perantaraan Bunda Maria akan menyembuhkan kalian. Bukan air yang menyembuhkan, tapi kepercayaan kalian sendirilah yang menyembuhkan. Seperti yang tertulis di papan di samping keran air di katedral Lourdes : “This water is nothing if you have no faith”.

This is a really great holiday, indeed. I hope that this is a good beginning of my new life as a master student in UK, starting from September 26th. Minggu depan Ibu sudah balik ke Indonesia dan saya akan tinggal sendiri di UK. Kalau teman-teman saya bisa bertahan di negeri orang, saya juga pasti bisa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s