#moccalastshow

Arina in action, with her flute

Saya merasa beruntung mendapat kesempatan untuk menonton konser pertama dan terakhir dari grup band Indie kebanggaan Indonesia, MOCCA. Ini adalah pertama kalinya saya menonton mereka live. Sayangnya, setelah ini mereka akan hibernasi dalam waktu yang belum bisa ditentukan, menyusul kepergian Arina sang vokalis ke USA untuk menikah dan tinggal di sana. Suasana konser hari Jumat malam kemarin itu sangat emosional. Saya yakin bahwa sebagian besar penonton yang hadir di sana adalah penggemar MOCCA yang mengikuti karir mereka sejak awal, sama seperti saya. Hal itu terbukti dari koor penonton yang terjadi setiap Arina menyanyikan lagu-lagu hit MOCCA.

Bagi saya, satu kalimat yang bisa menggambarkan awal perkenalan saya dengan band ini adalah : “I knew I love you before I listen to your songs“. Kenapa? Saya mengetahui keberadaan Mocca dari artikel di suatu majalah. Di artikel tersebut dikatakan bahwa band ini beraliran swing jazz. Saat itu saya masih kelas 3 SMP, masih katro lah. Denger kata-kata swing jazz tuh kayanya wow keren banget. Ditambah setelah itu saya melihat foto dari album pertama mereka yaitu My Diary. Desainnya lucu. Pokoknya ketika itu, memiliki album Mocca adalah wishlist terbesar saya. Saya ingat butuh perjuangan untuk mendapatkan album tersebut. Dan usaha saya itu gak sia-sia. Semua lagu di album My Diary itu bagus banget. CDnya selalu ada di dalam discman saya. Fyi, pada masa itu saya belom kenal yang namanya iPod. Bapak saya juga suka sama lagu-lagunya Mocca, lho.

"My Diary" album's cover

Tidak banyak band Indonesia yang lagu-lagunya saya suka, karena sebagian besar memiliki lirik yang terlalu puitis sehingga sulit diinterpretasikan. Bisa dibilang 95 % dari lagu-lagunya Mocca liriknya berbahasa Inggris. Eits, jangan menuduh mereka sok keinggris-inggrisan dulu, kawan. Bahasa Inggris itu lebih to the point, sehingga makna dari sebuah lagu bisa langsung tersampaikan tanpa ada ambiguitas.

Lagu-lagu Mocca juga pernah sukses menjadi soundtrack jatuh cinta, patah hati, dan penyemangat buat saya di kala mood sedang drop. Lagu “What If” selalu saya dengarkan setiap malam ketika saya mengalami gejolak cinta pertama. *eyaa bahasanya* Perhatikan saja liriknya : “what if I give you my smile, are you gonna stay for a while. what if I put you in my dreams tonigh, will you gonna stay till it’s bright” Waktu itu saya masih kelas 1 SMA, pertama kali jatuh cinta yang bukan cinta monyet, dan orang yg beruntung di jatuh cintai adalah si mister ACP itu. Aheyy. Terus ada juga lagu yang berjudul “Secret Admirer” yang liriknya : “dear secret admirer. when you’re around the autumn feels like summer. how come you always messing up the weather just like you do to me“. Lagu ini adalah favorit saya dari semua lagu Mocca yang bagus-bagus itu. Kemudian, waktu udahan sama si mister itu, soundtrack patah hatinya adalah lagu “Dear Diary” yang liriknya : “all I want is for everything in the right place so everyone would happy. is it too much to ask for?

Pas kuliah juga saya masih sering mendengarkan lagu-lagunya Mocca. Sempet jatuh cinta 2 kali pas masa-masa kuliah, akan tetapi yang beruntung saya kasih soundtrack lagunya Mocca adalah si orang yang kedua. Siapakah dia? Itu lho subjek utama di postingan sebelum ini. Hehe. Waktu lagi deket sama dia, selain dengerin “Lucky”nya Jason Mraz, saya juga suka dengerin lagu “The Best Thing”, yang liriknya : “I’ve got the best thing in the world, cause I have you in my heart” Yah, namanya juga lagi berbunga-bunga. Haha..najong.

Waktu jatuh bangun dengan TA dan skripsi saya juga mendengarkan Mocca. Lagu “Do What You Wanna Do” dan “Life Keeps On Turning” sukses menjadi penyemangat saya di kala gundah gulana sendirian di kamar kosan.

Beberapa waktu lalu saya baru menemukan salah satu lagu terbaru mereka yang berjudul “Butterflies In My Tummy”. Ehm..keren sekali lagunya, apalagi waktu menemukannya saya sedang dilanda jatuh cinta kronis dengan si bapak ganteng nan charming. Sekarang sih sudah goodbye aja lah ya sama si bapak itu. Hihi.

Lagu “I Remember” juga bagus lho. Duh banyak juga ya lagunya Mocca yang begitu membekas di hati *adeuh*. Hal utama yang membuat saya suka dengan lagu-lagu mereka adalah liriknya yang jujur. Mereka juga bisa membuat lagu patah hati dengan irama riang. Hanya sedikit lagu mereka yang iramanya mellow *irama mellow itu gimana ya, la?*

Last but not least, saya sedih banget pastinya dengan keputusan band kesayangan saya ini untuk vakum dalam jangka waktu yang gak jelas. Thanks ya, Mocca karena lagu-lagumu sudah menemani perjalanan hidup saya sejak jaman remaja dulu hingga saat ini saya (harusnya sudah) dewasa. Konser terakhir kalian kemarin itu super duper keren abis. Gak sia-sia saya terjebak kemacetan Jakarta yang amit-amit itu untuk sampai ke Senayan. Penampilan Mocca kemarin top banget lah. Kualitas live mereka sama bagusnya dengan kualitas studio recording-nya.

Sukses selalu untuk Mocca! Saya akan menunggu Mocca comeback lagi!!! 😀

Mocca feat. Endah n Rhesa. The most outstanding collaboration that night.

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s