Me Motivating Myself

Apakah ada di antara kalian yang merasakan bahwa kata-kata yang keluar dari mulut orang lain bisa memotivasi diri kalian? Saya tidak.

Postingan ini terinspirasi dari diskusi spontan di kelas les prancis saya beberapa waktu yang lalu. Saat itu, tiba-tiba guru saya mengangkat topik tentang apa yang orang-orang sebut “motivator”. Well, tidak dapat kita pungkiri saat ini di stasiun televisi lokal banyak sekali tayangan yang bertujuan untuk “memotivasi” para penonton. Salah satunya yang paling terkenal adalah yang disiarkan setiap minggu malam di satu stasiun televisi berita. *sorry, saya gak mau sebut nama (stasiun tv & programnya) secara spesifik, nanti dikira promosi, lagi :)* Saya yakin kalian sudah tau lah program acara apa yang saya maksud. Satu hal yang menjadi pertanyaan saya adalah kenapa sih para penonton televisi di Indonesia sangat menggemari tayangan seperti itu? Apakah kita harus mendengar kata-kata penyemangat hidup terlebih dahulu baru kemudian mau bangkit dan beraksi?

Menurut saya, satu-satunya orang yang bisa memotivasi kita adalah diri kita sendiri. Orang lain mungkin bisa menginspirasi, tapi tidak bisa memotivasi kita untuk menjadi seseorang yang lebih baik apabila tidak ada keinginan dari dalam diri untuk berubah.

Saya tidak bisa membayangkan jika beberapa tahun ke depan, ketika di negara lain sudah ada penemuan-penemuan baru dalam bidang teknologi, sebagian besar masyarakat Indonesia masih duduk terkagum-kagum di depan televisi menonton ceramah seorang motivator. Ironis. Motivator dipandang layaknya Tuhan.

Dalam kesempatan itu, guru saya mengatakan bahwa mungkin salah satu akar penyebab rakyat Indonesia menggemari tayangan yang berbau motivasi itu adalah kemiskinan. Ya, KEMISKINAN yang mungkin membuat mereka berkhayal untuk memiliki suatu kehidupan yang sempurna suatu hari nanti. Dengan menonton tayangan macam itu, mungkin mereka merasa bisa sejenak melupakan penderitaan mereka. Tapi, bagi saya itu bukan solusi. Setelah tayangan itu selesai, mereka pastinya akan kembali menghadapi kehidupan nyata, kan? Jadi, intinya tayangan tersebut tidak akan mengubah kehidupan mereka. Kalau bahasa Jawanya, saya bisa katakan bahwa keberadaan tayangan tersebut hanya untuk “ngayem-ayemi”.

Saya sendiri pernah salah kaprah dengan konsep “motivator” ini. Dulu saya mengira “motivator” sama dengan “inspirator” sehingga saya pernah menulis di salah satu postingan di blog ini beberapa tahun yang lalu bahwa ayah saya adalah motivator saya. Sebenarnya, maksud saya adalah bahwa beliau itu salah satu inspirator saya.

Jadi, tidak ada siapapun yang lebih mengerti diri kamu dibanding kamu sendiri. Mulailah menjadi motivator buat dirimu!

Saya punya banyak inspirator, tapi saya hanya punya 1 motivator.

I am the best motivator for myself.

2 comments

  1. kita punya pemikiran yang sama, gab. tapi gw malah ga pernah nonton tipi. hahahaha. bingung kenapa mesti pakai motivator. padahal keadaan di sekeliling sebenarnya adalah motivator. menurut gw sih.

  2. gw juga gak pernah nonton acaranya si “motivator” itu haha. cuma liat iklannya aja sekilas.
    kalau menurut gw, keadaan sekitar & kisah hidup orang2 sukses bisa menginspirasi gw untuk berbuat sesuatu. tapi, kalau dari dalam diri kita gak ada motivasi untuk bergerak ya, selamanya kita cuma bakal terinspirasi aja, tapi tetap diam di tempat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s