one year ago

29 Juni 2010..

Saya datang ke kampus pagi-pagi. Detak jantung sudah tidak beraturan. Segera menuju ke ruang meeting dosen SITH lantai 4. Pembantaian dimulai jam 8 pagi. Jam 9.30 saya disuruh keluar setelah habis dibantai. 10 menit kemudian, masuk ke ruangan lagi. Dan, akhir pembantaian itu adalah : gelar S.Si di belakang nama saya.

Ketegangan itu berlangsung 1 tahun yg lalu lho. Tetapi, saya masih ingat kronologis kejadian hari itu secara detail.

and here I am now..

Seseorang yang pernah mencicipi menjalani pekerjaan sebagai seorang research assistant. Bersyukur sudah bisa share ilmu dengan orang lain. Dan sekarang tinggal menghitung waktu untuk merantau ke negeri yang nun jauh di sana demi melanjutkan studi. Ya, tahun ini saya akan kembali duduk di kelas menjadi mahasiswa.

Saya butuh doa kalian, teman-teman supaya bisa survive menjalani kehidupan 1 tahun ke depan.

Advertisements

About Plagiarism

Beberapa minggu lalu, saya membaca satu postingan di blognya Mbak Enno. Saya tidak mengenalnya secara langsung, tapi sejak beberapa tahun yang lalu saya senang membaca blognya, walaupun hanya sebagai silent reader.ย Hehe. Rupanya konten blognya dikopi tanpa izin oleh seseorang, dan ketika si seseorang itu ditegur secara baik-baik, malah memberikan jawaban yang tidak mengenakkan. Sampai akhirnya, Mbak Enno mempublikasikan semua link media sosial dari si copycat tersebut. Menurut saya, itu adalah sebuah langkah yang sangat berani dari seorang blogger untuk memerangi plagiarism. Dan harus diikuti oleh blogger-blogger yang lain yang merasa dirugikan karena konten blognya dicontek.

Saya sendiri tidak tahu apakah ada oknum-oknum yang pernah mencontek isi blog saya, karena saya tidak pernah secara khusus menelusuri keberadaan postingan blog saya di dunia maya. *hmm..gak ngerti juga soalnya*

Saya akui, pada masa-masa awal blogging (sekitar pertengahan 2007), saya melakukan tindak plagiarism. Saya googling gambar-gambar untuk dipasang di beberapa postingan blog saya tanpa mencantumkan link sumbernya. Pada saat itu, saya masih belum mengerti etika per-blogging-an. Tapi, setelah itu sampai sekarang saya selalu mencantumkan link ketika saya meng-copy gambar atau tulisan orang lain ke dalam blog saya.

Saya berkecimpung di dalam dunia ilmu pengetahuan (science) di mana plagiarism dianggap sebagai suatu pelanggaran serius. Bahkan pernah ada 1 orang mahasiswa di kampus saya (tapi beda fakultas) yang gelar doktornya dibatalkan karena terkena kasus plagiarism. Ada sebuah pengalaman tak terlupakan yang berhubungan dengan masalah ini. Dulu, ketika masih tingkat 1 di ITB, saya & teman-teman diberi tugas oleh asisten praktikum untuk membuat resume dari suatu film yang sebelumnya kita tonton bersama. Pada hari H pengumpulan tugas, teman dekat saya belum mengerjakan. Saya merasa kasihan melihatnya ketakutan kalau-kalau dimarahi asisten. Pada saat itu, tanpa berpikir panjang, saya langsung mengizinkannya untuk mencontek tugas saya saja. Dalam pikiran saya, ah paling tugas itu hanya formalitas saja, tidak akan dibaca sama asisten. Eh ternyata beberapa jam setelah pengumpulan tugas, kami berdua dipanggil sama asisten. Saya masih ingat benar nama asisten tersebut. Singkat cerita, nilai saya dipotong 30 poin, sedangkan nilai teman saya 0. Bego banget lah saya waktu itu. Ketika mengerjakan skripsi, dosen pembimbing saya juga selalu mengingatkan tentang plagiarism ini. Jangan sampai kelewatan menulis sumber literatur. Begitu selalu pesan beliau.

Mengkopi karya orang lain, dengan alasan apapun itu adalah hal yang salah. Benar kata Mbak Enno di postingannya bahwa untuk membuat suatu artikel di blog, kadangkala si penulis harus berkontemplasi selama beberapa hari. Saya juga biasanya sudah memikirkan apa yang mau saya tulis di blog sejak beberapa hari.

Jadi, yuk buat para blogger yang lain mari kita tidak membudayakan mencontek isi blog orang lain tanpa izin. Gak usahlah buat postingan dengan kata-kata puitis kalau kata puitis itu kamu ambil dari blog orang. Lebih baik buat postingan di blog dengan kata-kata lugas yang sesuai dengan kepribadian kamu. Gak ada salahnya buat postingan galau, kalau itu memang sesuai dengan keadaan kamu dan yang terpenting setiap kata yang kamu tulis berasal dari pikiran kamu, bukan pikiran orang.

Saya suka ungkapan yang berbunyi seperti ini : don’t write to impress, but let’s write to express.

Maksudnya adalah tulisan yang kita hasilkan adalah ungkapan isi hati dan pikiran kita. Setelah tulisannya jadi, kita puas karena ekspresi kita sudah tersampaikan. Orang lain mau membaca atau tidak, itu perkara lain. Bagi saya, merupakan suatu hal yang sia-sia kalau postingan blog saya dibaca oleh beribu-ribu orang tapi ternyata apa yang saya tulis itu menjiplak tulisan orang.

Buat Mbak Enno (kalau tiba-tiba dia terdampar di blog saya ini), tetap sabar dan please jangan berhenti menulis ya. ๐Ÿ™‚

Me Motivating Myself

Apakah ada di antara kalian yang merasakan bahwa kata-kata yang keluar dari mulut orang lain bisa memotivasi diri kalian? Saya tidak.

Postingan ini terinspirasi dari diskusi spontan di kelas les prancis saya beberapa waktu yang lalu. Saat itu, tiba-tiba guru saya mengangkat topik tentang apa yang orang-orang sebut “motivator”. Well, tidak dapat kita pungkiri saat ini di stasiun televisi lokal banyak sekali tayangan yang bertujuan untuk “memotivasi” para penonton. Salah satunya yang paling terkenal adalah yang disiarkan setiap minggu malam di satu stasiun televisi berita. *sorry, saya gak mau sebut nama (stasiun tv & programnya) secara spesifik, nanti dikira promosi, lagi :)* Saya yakin kalian sudah tau lah program acara apa yang saya maksud. Satu hal yang menjadi pertanyaan saya adalah kenapa sih para penonton televisi di Indonesia sangat menggemari tayangan seperti itu? Apakah kita harus mendengar kata-kata penyemangat hidup terlebih dahulu baru kemudian mau bangkit dan beraksi?

Menurut saya, satu-satunya orang yang bisa memotivasi kita adalah diri kita sendiri. Orang lain mungkin bisa menginspirasi, tapi tidak bisa memotivasi kita untuk menjadi seseorang yang lebih baik apabila tidak ada keinginan dari dalam diri untuk berubah.

Saya tidak bisa membayangkan jika beberapa tahun ke depan, ketika di negara lain sudah ada penemuan-penemuan baru dalam bidang teknologi, sebagian besar masyarakat Indonesia masih duduk terkagum-kagum di depan televisi menonton ceramah seorang motivator. Ironis. Motivator dipandang layaknya Tuhan.

Dalam kesempatan itu, guru saya mengatakan bahwa mungkin salah satu akar penyebab rakyat Indonesia menggemari tayangan yang berbau motivasi itu adalah kemiskinan. Ya, KEMISKINAN yang mungkin membuat mereka berkhayal untuk memiliki suatu kehidupan yang sempurna suatu hari nanti. Dengan menonton tayangan macam itu, mungkin mereka merasa bisa sejenak melupakan penderitaan mereka. Tapi, bagi saya itu bukan solusi. Setelah tayangan itu selesai, mereka pastinya akan kembali menghadapi kehidupan nyata, kan? Jadi, intinya tayangan tersebut tidak akan mengubah kehidupan mereka. Kalau bahasa Jawanya, saya bisa katakan bahwa keberadaan tayangan tersebut hanya untuk “ngayem-ayemi”.

Saya sendiri pernah salah kaprah dengan konsep “motivator” ini. Dulu saya mengira “motivator” sama dengan “inspirator” sehingga saya pernah menulis di salah satu postingan di blog ini beberapa tahun yang lalu bahwa ayah saya adalah motivator saya. Sebenarnya, maksud saya adalah bahwa beliau itu salah satu inspirator saya.

Jadi, tidak ada siapapun yang lebih mengerti diri kamu dibanding kamu sendiri. Mulailah menjadi motivator buat dirimu!

Saya punya banyak inspirator, tapi saya hanya punya 1 motivator.

I am the best motivator for myself.

Rollerblades – Eliza Doolittle

I know you say you’re ready to change
But I need to get it down on paper
It’s in your face, you’re ready to blame
The first guy in line to catch the train

I’ll save your seat
‘Cause you don’t stand for what you preach

You’re singing with a broken string
Tell me what you really mean
Do you know what you want?

While beating up on yesterday
I was on my rollerblades
Rolling on, moving on

It’s time to take the time to create
‘Cause you’re running late, the doors are closing
So tip your hat and you might get back
Whatever you need is up ahead

This train won’t stop
For anybody to get off

You’re singing with a broken string
Tell me what you really mean
Do you know what you want?

While beating up on yesterday
I was on my rollerblades
Rolling on, moving on

You’re singing with a broken string
Tell me what you really mean
Do you know what you want?

Do you know?
Oh, no

We’ve got to run with it
It will get better
And at least
We’re stuck together

Make your mind up
Know what you need to say
Before you shout at me
So take your seat
‘Cause standing only wears out feet

You’re singing with a broken string
Tell me what you really mean
Do you know what you want?

You’re beating up on yesterday
I was on my rollerblades
Rolling on, moving on

You’re singing with a broken string
Tell me what you really mean
Do you know what you want?

Beating up on yesterday
I was on my rollerblades
Rolling on, moving on

Do you know what you want?

———————————————————————

A nice song for broken hearted people! ๐Ÿ™‚ Love the video, anyway.