Hari Milikmu

hari ini hari milikmu. juga esok masih terbentang. dan mentari kan tetap bernyala di sini di urat darahku

Semua anak ITB, paling tidak angkatan 2006 lah, pasti mengenal lirik lagu “Mentari” di atas kan? Saya pertama kali mendengar lagu tersebut dinyanyikan pada Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru di Sabuga tahun 2006, ketika saya juga menjadi bagian dari ribuan mahasiswa baru ITB saat itu. Sampai beberapa tahun kemudian, lirik tersebut selalu melekat di otak saya. Apalagi, lagu tersebut harus kita nyanyikan saat inisiasi himpunan. Pokoknya, lagu itu sudah mendapat predikat sebagai lagu kampus.

Masih teringat dengan jelas juga di pikiran saya ketika pada tahun 2006, rektorย  ITB saat itu pak Djoko Santoso berkata bahwa 4 tahun lagi kami semua harus kembali menginjakkan kaki di gedung Sabuga dengan menyandang gelar sarjana di belakang nama kita. Saya (dengan penuh keberuntungan) berhasil menginjakkan kaki kembali di Sabuga 4 tahun (kurang sedikit) kemudian. Sahabat-sahabat saya, tepat 4 tahun kemudian. Dan baru saja, 4 tahun (lebih sedikit) kemudian, teman-teman gila-gilaan saya akhirnya menginjakkan kaki di tempat sakral bagi seluruh anak ITB itu. ๐Ÿ™‚ Pertama-tama, proficiat atas keberhasilan kalian!

Momen yang selalu saya tunggu-tunggu sejak jaman masih jadi mahasiswa hingga kini sudah menjadi alumni adalah wisuda. Kenapa? Karena prosesi wisuda di kampus saya sangat unik dan tiada duanya. Dulu, beberapa kali saya ikut menyanyi bersama PSM ITB dalam prosesi wisuda di Sabuga. Kala itu, melihat para wisudawan membuat diri saya berdecak kagum sambil berkata : “wah, wisudawannya cakep-cakep dan cantik-cantik ya!” Nyatanya mahasiswa yang sehari-hari nampak biasa saja, ketika mengenakan toga ada aura yang berbeda. Jadi lebih keren. ๐Ÿ™‚ Gak tau deh, waktu saya diwisuda dulu, ada yang berpendapat bahwa saya keren gak ya? *berpikir keras* Tapi, yang pasti jadi wisudawan itu capek. Bagaimana tidak? Dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore harus pakai kebaya + kain + high heels + nahan perut. Buat seorang wanita tomboy seperti saya, hal itu adalah siksaan.

wisuda saya, juli 2010 lihatlah sendal jepit itu

Satu hal yang sangat khas dari ITB adalah tradisi arak-arakan setiap himpunan. Jadi, semua wisudawan diarak dari Sabuga sampai ke Fakultas oleh anak-anak himpunan. Arak-arakan dimulai dari Sabuga, melewati tunnel yang menghubungakan Sabuga dengan kampus, kemudian (kalau himpunan saya) mengarah ke jurusan teknik mesin, lanjut ke teknik sipil, gerbang depan di mana diadakan performance oleh para junior dari himpunan, kemudian (biasanya) lanjut ke jurusan teknik perminyakan, dan berakhir di gedung Fakultas. Prosesi arak-arakan ini sangat menguras tenaga. Coba bayangkan kalau kita tetap mengenakan high heels. Waktu wisuda dulu sih saya cuek mengenakan sandal jepit. Eh, tapi ada teman saya yang ngotot tetap memakai high heels-nya lho *salut!*

teman-teman saya yang kemarin diwisuda

And back to the main topic. Jadi, sabtu lalu tanggal 9 April 2011 beberapa teman gila-gilaan saya diwisuda akhirnya. Nono, sang aktivis kampus, wanita terheboh di seantero mikrobiologi 2006, dan orang pertama yang memanggil saya dengan sebutan “mbak Ella” yang akhirnya diikuti oleh semua orangย  memanggil saya dengan sebutan itu. Whuuaa ๐Ÿ˜ฅ jadi berasa tua deh saya. Yang kedua, Intan, temennya Nono (haha), seseorang dengan ekspresi lempeng nan serius tapi kalau bercanda “dalem” banget alias bisa bikin saya ngakak guling-guling sampai keluar air mata. Oiya, dia juga suka kita panggil “om” karena ukuran kakinya besar banget seperti om-om. Hehe..becanda, tan! Yang ketiga adalah Saki, sang penghibur di kalangan mikrobiologi 2006. Saya ingat waktu jaman-jaman heboh dunia perkuliahan, semester 3-4 di mana buanyak sekali praktikum yang harus kita jalani, Saki bisa-bisanya memasang wajah tenang di saat kita semua heboh berjibaku dengan jurnal, laporan, beserta teman-temannya yang kadang membuat kita begadang selama beberapa hari. Untuk masalah ketenangan, Saki juaranya lah! Yang keempat, di gambar kedua adalah Rara. Ketika TPB (tahun pertama), kita selalu bareng kemana-mana, tapi ketika sudah berbeda jurusan, kita jarang jalan bareng. Sampai akhirnya kita dipertemukan di dalam lab yang sama ketika mengerjakan tugas akhir. Dia adalah partner suka dan duka saya di lab, secara bench kita berdekatan. Dia masuk lab lebih dulu daripada saya. Oleh karena itu, dialah yang mengajari saya mengoperasikan beberapa alat-alat di lab yang harus saya gunakan untuk keberlangsungan TA saya. Dan saya dengan kurang ajarnya menyelesaikan TA duluan dan meninggalkan dia di lab sampai bulan April ini. Maafkan temanmu ini, ya Rara! Kemudian, yang terakhir adalah Amet. Orang yang paling inspiratif yang suka menciptakan quotes sederhana nan mantap. Anaknya kadang suka nyebelin dan bawel, hingga sering jadi sasaran omelan cewek-cewek mikro termasuk saya. Sisi positif dari teman saya yang satu ini adalah, buat dia tidak ada pertanyaan bodoh. Dia juga anak yang sedikit gak tau malu. Haha..viss met!

Makin banyak saja teman seperjuangan saya yang meninggalkan kampus tercinta. Tentu saja saya sangat bahagia menyaksikan senyum kebanggaan mereka dan orang tua mereka. Kalau saya boleh mengingat kembali yang saya rasakan ketika wisuda tahun lalu, satu hal yang paling saya rasakan dulu adalah lega. Setelah berbulan-bulan dihantui oleh berbagai deadline, hari setelah wisuda itu adalah hari kebebasan. ๐Ÿ™‚

Untuk teman-temanku, selamat menikmati kebebasan kalian! Jangan lupa, dunia menanti kontribusi kita semua, alumni dari suatu institut terbaik di negeri Indonesia! ๐Ÿ™‚ Kawan, hari esok masih terbentang!!!!

 

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s