Month: April 2011

Predictable Rejection

I got 2 rejection emails 2 days in a row. Gimana rasanya? Tentu saja ada sedikit penyesalan. Tapi, ya sudahlah. Yang penting saya sudah mencoba sehingga saya tidak akan dihantui oleh rasa penasaran seumur hidup. Toh, saya sudah diterima di satu universitas lain yang tidak kalah bagus kok.

Pada detik ini, semua frase yang berawalan “kalau saja” sedang berkecamuk di kepala saya. Kalau saja dulu nilai mata kuliah S1 saya straight A, pasti sekarang saya bisa dengan mudahnya mendapatkan beasiswa ya. Kalau saja dulu saya belajar lebih serius lagi, pasti saya bisa lulus dengan predikat cum laude dan pastinya sekarang akan mudah untuk diterima di berbagai universitas terbaik dunia. Dan sederet “kalau saja” yang lain, yang intinya adalah penyesalan. Penyesalan yang tidak berguna.

Jadi, ya diterima aja lah ya hasil akhir ini. Mungkin saya harus mencari sisi positif dari keadaan ini. Saya tidak perlu bimbang lagi antara mau melanjutkan kuliah di Prancis atau UK, karena yang di Prancis sudah jelas-jelas tidak diterima. So, sekarang benar-benar harus mengerahkan segala pikiran, mental, dan tenaga buat UK. Yeah keep fighting, Ella!!!

Memang sih, dulu saya pernah menggebu-gebu sekali untuk lanjut kuliah di Prancis sampai saya niat mengambil kursus Bahasa Prancis. Bahkan sekarang sedang mempersiapkan ujian DELF. Rasanya useless ya punya sertifikat DELF, tapi gak bisa lanjut kuliah di Prancis.  But for me, there’s no such things as a useless effort. Kalau belum bisa kuliah Master di Prancis, mungkin nanti saya malah bisa kuliah Doktoral di sana. Semoga!

Prancis adalah impian saya. UK adalah kenyataan yang akan segera saya jalani. Mari jalani kenyataan yang ada, sambil terus mengejar mimpi. Saya janji mau belajar dengan sangat serius dan lulus dengan memuaskan tahun depan. Kesalahan yang lalu tidak boleh terulang lagi.

Prancis, semoga kita bisa bertemu pada akhir tahun 2012 atau awal 2013 nanti ya! 🙂

Oiya, ternyata begini ya rasanya ditolak. Sakit! Haha..soalnya sejak beberapa bulan yang lalu saya selalu terima email yang isinya confirmation of acceptance gitu2 yang membuat saya merasa agak “di atas angin”. Lesson learned : jadi orang gak boleh greedy.

ps: saya gak terlalu shock, karena sudah memprediksi bahwa kemungkinan besar saya gak diterima. Saya mendaftar ke UPMC alias medical school-nya Sorbonne. Keputusan yang amat sangat nekad dan sejak awal saya berkeyakinan bahwa hanya keajaiban yang bisa membuat saya diterima di sana.

Lord knows dreams are hard to follow. But don’t let anyone tear them away. Hold on there will be tomorrow. In time you’ll find the way

Happy Easter

Seperti yang telah umum diketahui,dalam tradisi agama Katolik pekan suci sudah dimulai sejak Minggu Palma, ketika kita memperingati masuknya Yesus ke kota Yerusalem. Kemudian dilanjutkan dengan Kamis Putih, memperingati perjamuan terakhir Yesus bersama keduabelas murid-Nya. Selanjutnya, Jumat Agung, memperingati wafat Yesus di kayu salib. Sabtu Suci, mengenang detik-detik kebangkitan Yesus. Dan diakhiri dengan Minggu Paskah, memperingati kebangkitan Yesus. Idealnya, kita wajib ke Gereja pada kelima hari tersebut. Akan tetapi, sebagian orang (termasuk saya) beranggapan kalau sudah ikut Misa Sabtu Suci, tidak wajib ke gereja ketika Minggu Paskah. *iya, saya tahu ini bisa-bisanya saya saja..hehe :)*

Bagi saya, perayaan Paskah setiap tahun memiliki arti tersendiri yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bahkan Yesus -putera Tuhan- mau turun ke dunia bahkan sampai disalib untuk menghapus dosa-dosa saya. Wow. My God is so great!

Sebelum memasuki Pekan Suci, kami diwajibkan berpantang dan atau berpuasa selama 40 hari. Saya akui bahwa pantang saya lumayan gagal. Banyak godaan ya ternyata. Padahal pantang saya sederhana saja lho. Saya bertekad untuk tidak mengeluh, selama 40 hariiii saja. Susah banget. Yang ada, saya masih sering sekali misuh-misuh (bahasa Jawa yg artinya : marah-marah). Jadi, kesimpulannya pantang saya gagal. 😦 Semoga setelah ini saya bisa belajar untuk menahan emosi sedikit demi sedikit. Amin.

Apa harapan saya dari perayaan Paskah tahun ini? Saya berharap supaya Tuhan terus mendampingi saya dalam proses persiapan studi lanjut saya dan supaya segala hal dalam kehidupan saya bisa berjalan lancar. Saya sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi di hadapan saya. Hanya Dia yang tahu.

Oh iya, saya teringat 2 hari yang lalu pada perayaan Kamis Putih, tiba-tiba setelah selesai Homili, pastor di gereja saya -Romo Wisnu- menyanyikan lagu “Mukjizat Itu Nyata”. Lagu ini tidak pernah gagal membuat saya untuk ikut menyenandungkan liriknya sambil merem melek. Berikut ini cuplikan liriknya.

Di saat ku tak berdaya kuasa-Mu yang sempurna. Ketika ku berdoa mukjizat itu nyata.

Bukan karena kekuatan, namun roh-Mu ya Tuhan. Ketika ku percaya mukjizat itu nyata.

SELAMAT PASKAH, TUHAN MEMBERKATI

ps : saya ketemu bekas gebetan saya lho tadi di gereja. tahun lalu juga ketemu. tapi, kalau dulu jantung saya jumpalitan begitu melihat dia, sekarang biasa-biasa saja tuh. haha..it means that I’ve totally moved on. masa lalu biarlah berlalu. haha 😀

pss : sebenarnya ingin memasang gambar yang berhubungan dengan Paskah, tapi setelah googling gak nemu gambar yang oke. Jadi, tanpa gambar deh.

faithfullness

Pernah dengar 2 kalimat seperti ini? “Eh gw udah 7 tahun naksir cowok itu lho. Gw setia banget lah pokoknya” atau “Gw tuh orangnya setia. Buktinya gw udah 2 tahun pacaran sama si dia.” Kutipan pertama menggambarkan seseorang yang bego *ngaca. percayalah, itu adalah gambaran diri saya beberapa tahun yang lalu*. Kutipan kedua menggambarkan seseorang yang terlalu naif.

Lalu, bagaimana dong definisi dari k e s e t i a a n ? Mungkin kisah nyata yang akan saya sampaikan di bawah ini, bisa sedikit membantu kita untuk mendefinisikan arti dari kesetiaan.

Dua hari terakhir ini, ketika saya & ibu saya melakukan doa pagi di gereja, saya melihat sepasang suami istri  paruh baya (belum terlalu tua, mungkin 50-early 60s). Sang istri nampak masih sehat, tapi sang suami harus dibantu sebuah tongkat ketika berjalan. Untuk bangun dari duduknya saja, sang suami nampak kepayahan dan saya melihat raut keputusasaan di wajahnya. Dia tampak sangat benci dengan kondisinya. Namun, apa yang dilakukan sang istri? Tidak ada raut kesedihan di wajahnya. Yang ada hanyalah raut wajah tegar. Dia juga tidak mengasihani suaminya. Ketika suaminya kepayahan untuk bangun dari duduknya, dia menepuk-nepuk pundak suaminya memberi semangat, meyakinkan bahwa dia bisa. Selanjutnya mereka akan berjalan berdampingan meninggalkan gereja. Cerita selesai.

Saya tidak tahu apakah mereka setiap hari ke gereja atau tidak, tapi yang pasti dua hari berturut-turut – kemarin dan tadi pagi – saya melihat mereka. Sebuah potret kehidupan yang membuat saya berpikir tentang makna yang lebih dalam dari yang selama ini saya pahami tentang  sebuah kata sederhana, kesetiaan. Oh, ternyata kesetiaan itu tidak bisa diukur dari berapa lama kita mampu berharap kepada satu orang tertentu. Oh, ternyata kesetiaan juga tidak semata diukur dari berapa lamanya kita mampu bertahan dengan orang yang sama dalam suatu hubungan yang kita sebut pacaran, toh?

Ketika kita memutuskan untuk menikah dengan seseorang yang menjadi pilihan kita, mulai detik itu juga kita meneken kontrak seumur hidup untuk mencintai pasangan kita, lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Mulai saat itu juga, kita harus berani bilang : “Saya mencintai kamu tidak semata karena kamu ganteng, kaya, lucu, pintar, bla..bla..bla.., tapi saya akan tetap mencintaimu walaupun suatu saat nanti kamu sudah gak ganteng lagi, meskipun someday ada saat-saat di mana kamu gagal…”

Kesetiaan juga bisa dilihat ketika seseorang tidak bosan menghabiskan sebagian besar waktunya dengan orang yang sama selama berpuluh-puluh tahun. Prediksi saya, sepasang suami istri yang saya temui di gereja itu minimal sudah berumah tangga selama 30 tahun.

Dan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini mulai berkecamuk di kepala saya….

Suatu saat nanti, ketika saya sudah punya suami, apakah saya bisa bertahan bertahun-tahun hidup bersama dengan dia? Apakah saya tidak bosan setiap hari mendapati diri bangun dari tidur di samping orang yang itu-itu saja selama berpuluh-puluh tahun? Apakah saya sanggup menyembunyikan ekspresi bete dari wajah saya ketika saya & suami sama-sama pulang dari bekerja dengan kondisi badan lelah? Apakah saya tetap sanggup berada di sisinya ketika dia mulai sakit-sakitan, tidak berdaya, dan rupanya sudah jauh dari kategori ganteng? Dan apakah sampai jauh setelah janji pernikahan diucapkan, saya tetap bisa menganggap dia sebagai anugerah terindah yang pernah diberikan oleh Tuhan kepada saya? Sebelum saya benar-benar mengambil keputusan bulat untuk menikah, saya akan pastikan bahwa kesemua pertanyaan di atas akan saya jawab dengan satu kata : YA!

Jadi, kalau kamu baru pacaran selama 2 tahun, terus dengan percaya dirinya bilang bahwa kamu adalah seorang yang setia, kayanya harus dipikirkan lagi deh. 🙂

Kesetiaan kepada seseorang adalah kemampuan untuk menunjukkan dan merasakan rasa cinta yang sama atau bahkan lebih dari  ketika masih dalam tahap pedekate saat kita sudah berpuluh-puluh tahun hidup bersama. Saya masih menunggu seseorang yang bisa dan mau saya ajak berbagi kesetiaan. *nah, ujung2nya curcol. abaikan.* Itulah definisi ngaco ala saya.

gambar dipinjam dari sini & sana.

Hari Milikmu

hari ini hari milikmu. juga esok masih terbentang. dan mentari kan tetap bernyala di sini di urat darahku

Semua anak ITB, paling tidak angkatan 2006 lah, pasti mengenal lirik lagu “Mentari” di atas kan? Saya pertama kali mendengar lagu tersebut dinyanyikan pada Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru di Sabuga tahun 2006, ketika saya juga menjadi bagian dari ribuan mahasiswa baru ITB saat itu. Sampai beberapa tahun kemudian, lirik tersebut selalu melekat di otak saya. Apalagi, lagu tersebut harus kita nyanyikan saat inisiasi himpunan. Pokoknya, lagu itu sudah mendapat predikat sebagai lagu kampus.

Masih teringat dengan jelas juga di pikiran saya ketika pada tahun 2006, rektor  ITB saat itu pak Djoko Santoso berkata bahwa 4 tahun lagi kami semua harus kembali menginjakkan kaki di gedung Sabuga dengan menyandang gelar sarjana di belakang nama kita. Saya (dengan penuh keberuntungan) berhasil menginjakkan kaki kembali di Sabuga 4 tahun (kurang sedikit) kemudian. Sahabat-sahabat saya, tepat 4 tahun kemudian. Dan baru saja, 4 tahun (lebih sedikit) kemudian, teman-teman gila-gilaan saya akhirnya menginjakkan kaki di tempat sakral bagi seluruh anak ITB itu. 🙂 Pertama-tama, proficiat atas keberhasilan kalian!

Momen yang selalu saya tunggu-tunggu sejak jaman masih jadi mahasiswa hingga kini sudah menjadi alumni adalah wisuda. Kenapa? Karena prosesi wisuda di kampus saya sangat unik dan tiada duanya. Dulu, beberapa kali saya ikut menyanyi bersama PSM ITB dalam prosesi wisuda di Sabuga. Kala itu, melihat para wisudawan membuat diri saya berdecak kagum sambil berkata : “wah, wisudawannya cakep-cakep dan cantik-cantik ya!” Nyatanya mahasiswa yang sehari-hari nampak biasa saja, ketika mengenakan toga ada aura yang berbeda. Jadi lebih keren. 🙂 Gak tau deh, waktu saya diwisuda dulu, ada yang berpendapat bahwa saya keren gak ya? *berpikir keras* Tapi, yang pasti jadi wisudawan itu capek. Bagaimana tidak? Dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore harus pakai kebaya + kain + high heels + nahan perut. Buat seorang wanita tomboy seperti saya, hal itu adalah siksaan.

wisuda saya, juli 2010 lihatlah sendal jepit itu

Satu hal yang sangat khas dari ITB adalah tradisi arak-arakan setiap himpunan. Jadi, semua wisudawan diarak dari Sabuga sampai ke Fakultas oleh anak-anak himpunan. Arak-arakan dimulai dari Sabuga, melewati tunnel yang menghubungakan Sabuga dengan kampus, kemudian (kalau himpunan saya) mengarah ke jurusan teknik mesin, lanjut ke teknik sipil, gerbang depan di mana diadakan performance oleh para junior dari himpunan, kemudian (biasanya) lanjut ke jurusan teknik perminyakan, dan berakhir di gedung Fakultas. Prosesi arak-arakan ini sangat menguras tenaga. Coba bayangkan kalau kita tetap mengenakan high heels. Waktu wisuda dulu sih saya cuek mengenakan sandal jepit. Eh, tapi ada teman saya yang ngotot tetap memakai high heels-nya lho *salut!*

teman-teman saya yang kemarin diwisuda

And back to the main topic. Jadi, sabtu lalu tanggal 9 April 2011 beberapa teman gila-gilaan saya diwisuda akhirnya. Nono, sang aktivis kampus, wanita terheboh di seantero mikrobiologi 2006, dan orang pertama yang memanggil saya dengan sebutan “mbak Ella” yang akhirnya diikuti oleh semua orang  memanggil saya dengan sebutan itu. Whuuaa 😥 jadi berasa tua deh saya. Yang kedua, Intan, temennya Nono (haha), seseorang dengan ekspresi lempeng nan serius tapi kalau bercanda “dalem” banget alias bisa bikin saya ngakak guling-guling sampai keluar air mata. Oiya, dia juga suka kita panggil “om” karena ukuran kakinya besar banget seperti om-om. Hehe..becanda, tan! Yang ketiga adalah Saki, sang penghibur di kalangan mikrobiologi 2006. Saya ingat waktu jaman-jaman heboh dunia perkuliahan, semester 3-4 di mana buanyak sekali praktikum yang harus kita jalani, Saki bisa-bisanya memasang wajah tenang di saat kita semua heboh berjibaku dengan jurnal, laporan, beserta teman-temannya yang kadang membuat kita begadang selama beberapa hari. Untuk masalah ketenangan, Saki juaranya lah! Yang keempat, di gambar kedua adalah Rara. Ketika TPB (tahun pertama), kita selalu bareng kemana-mana, tapi ketika sudah berbeda jurusan, kita jarang jalan bareng. Sampai akhirnya kita dipertemukan di dalam lab yang sama ketika mengerjakan tugas akhir. Dia adalah partner suka dan duka saya di lab, secara bench kita berdekatan. Dia masuk lab lebih dulu daripada saya. Oleh karena itu, dialah yang mengajari saya mengoperasikan beberapa alat-alat di lab yang harus saya gunakan untuk keberlangsungan TA saya. Dan saya dengan kurang ajarnya menyelesaikan TA duluan dan meninggalkan dia di lab sampai bulan April ini. Maafkan temanmu ini, ya Rara! Kemudian, yang terakhir adalah Amet. Orang yang paling inspiratif yang suka menciptakan quotes sederhana nan mantap. Anaknya kadang suka nyebelin dan bawel, hingga sering jadi sasaran omelan cewek-cewek mikro termasuk saya. Sisi positif dari teman saya yang satu ini adalah, buat dia tidak ada pertanyaan bodoh. Dia juga anak yang sedikit gak tau malu. Haha..viss met!

Makin banyak saja teman seperjuangan saya yang meninggalkan kampus tercinta. Tentu saja saya sangat bahagia menyaksikan senyum kebanggaan mereka dan orang tua mereka. Kalau saya boleh mengingat kembali yang saya rasakan ketika wisuda tahun lalu, satu hal yang paling saya rasakan dulu adalah lega. Setelah berbulan-bulan dihantui oleh berbagai deadline, hari setelah wisuda itu adalah hari kebebasan. 🙂

Untuk teman-temanku, selamat menikmati kebebasan kalian! Jangan lupa, dunia menanti kontribusi kita semua, alumni dari suatu institut terbaik di negeri Indonesia! 🙂 Kawan, hari esok masih terbentang!!!!

 

Life’s Intersection

Yesterday I met up with my 2 college best friends, Nona and Ivi. This gathering was so emotional since we haven’t met each other for almost 6 months. You know when we were still in college, we went everywhere together every single day. So, we talked about everything. Nona talked about her kind of weird job, and Ivi was really excited because soon she will start her new jobs. Wow..congratulations for both of you! I’m so happy.

And yeah finally we talked about the most interesting subject. Boys and Love. Suddenly they said : “Ella, are you serious that you just want to wait for your prince charming until the right time will come without doing any efforts? It’s impossible! You have to do something to get him” That short unpredictable talk made me think. Maybe I’m too naive to think that someday the right one will come to me.

I know, I’m still young and still have lots of time to think about creating a serious relationship or even marriage. But, I’m 23 right now and maybe this is the time to start looking at those things from a more mature point of view. My mom got married when she was 23. That’s why now she has a tendency in urging me to search for a boyfriend. Nah!

Actually my love life is kinda complicated. Currently I’m adoring someone who is living in another country. We only had a chance to meet and making interaction for a few weeks. And with this person, I experienced my first -love at the first sight- moment. I didn’t know what made me like him. But one thing for sure, we could get along well. The problem is we have a different faith, he’s much older than me, and the most important thing is it looks like he hasn’t got any special feeling for me. He just treat me as one of his discussion partners. I think this kind of relationship is impossible. While I’m adoring this one particular person, without I’m noticing, another someone from the past keeps coming in my life in these few recent weeks. We  met often, but no words coming from our mouths. We had a special story long time ago. After that time, we barely contact each other. Now I don’t have any special feelings for him. He’d been my crush for almost 7 years. Can’t you imagine? Actually we’re so close, but we make a big invisible space between us. In fact, this person is “perfect” for me. But, the question is : Am I perfect for him? We have the same faith, we grow up in the same environment, we have lots of things in common. By looking at those similarities above, you can tell me that we are meant to be together. But, still, it’s not that easy. Gosh, this love matters really confuse me!

Am I the one who should make the first move? I am such in the intersection of my life. Life is always full of problems, indeed. This is one of the problems that I must face.

Maybe I should do this one thing, as my friend -Ivi- said. I should make a list contained of some boys who fit my “boyfriend’s criterias”. Haha..this also makes sense. 🙂

picture source.