Pemimpi

performed by Naif

Mimpi teruslah bermimpi
Jangan pernah berhenti bermimpi
Mimpi bisa jadi nyata
Bila engkau berusaha
Untuk mewujudkannya

Mimpi teruslah bermimpi
Siapapun boleh saja bermimpi
Asal jangan engkau lupa
Dan selalu berusaha
Untuk mewujudkannya

Tak ada mimpi yang terlalu tinggi
Semua sangat mungkin ‘tuk diraih
Panggillah aku seorang pemimpi
Panggillah aku ini sang pemimpi

Mimpi bisa jadi nyata
Bila engkau berusaha
Untuk mewujudkannya

Tak ada mimpi yang terlalu tinggi
Semua sangat mungkin ‘tuk diraih
Panggillah aku seorang pemimpi
Panggillah aku ini..
Panggillah aku ini..
Panggillah aku ini..
Panggillah aku ini sang pemimpi

——————————————————

Beberapa waktu lalu ketika saya sedang iseng search lagu-lagu Naif di YouTube, tiba-tiba menemukan lagu yang berjudul “Pemimpi” ini. Liriknya sangat inspiring. Saya adalah seorang pemimpi. Saya sudah menyusun impian saya selama 10 tahun bahkan 20 tahun ke depan. Saya menulis di 1 file  microsoft word yang saya beri judul “my biggest dreams” lengkap dengan deadline kapan saya harus mewujudkanya. Ketika mulai muncul rasa lelah dan putus asa, saya selalu buka file itu untuk “mengingatkan” diri sendiri bahwa : “hey ella, loe masih punya banyak mimpi lho. masa gitu aja nyerah?” Dan biasanya semangat saya langsung membara kembali begitu melihat file itu. 🙂

Kadang saya berpikir bahwa saya bisa menjadi saya yang sekarang, sedikit banyak dipengaruhi oleh mimpi-mimpi saya. Berawal dari SMP, saya ingin melanjutkan SMA di sebuah sekolah negeri yang terbaik kualitasnya di Jakarta. Tidak diterima. Tapi, akhirnya saya bisa diterima juga di sekolah negeri, yang kualitasnya terbaik kedua (pada saat itu) di Jakarta. Ya gak apa-apa lah. Terus, ketika memilih untuk kuliah. Dari SMA saya sudah bermimpi untuk bisa kuliah di salah satu institut terbaik di Indonesia yang terletak di Bandung. Ketika menentukan jurusan, saya ingat lagi bahwa saya bercita-cita menjadi seorang peneliti. Cita-cita yang aneh, memang. Kata orang-orang, jadi peneliti tuh susah kaya. *bodo amat* Mungkin orang-orang pada bingung, di saat orang-orang lain berlomba-lomba untuk menuliskan jurusan teknik bla-bla-bla sebagai pilihan pertama mereka ketika ujian masuk, saya menulis MIKROBIOLOGI sebagai pilihan pertama. Saya senang sekali waktu akhirnya diterima di jurusan itu. Yeah, mimpi kedua telah diraih. Selanjutnya, hari-hari saya dipenuhi dengan kegiatan di laboratorium. Banyak orang yang saya ceritakan tentang kegiatan saya, berkomentar seperti ini : “ih gak asik banget sih kerjaan loe?” Untungnya saya terlahir sebagai orang yang cuek, jadi saya gak terlalu pedulikan apa kata orang. Setelah menjalani aktivitas di kampus, bertambah lagi 1 mimpi saya. Lulus tepat waktu, paling lama 4 tahun. Ini adalah impian yang agak ‘gila’, karena saya tergolong jenis mahasiswa yang biasa-biasa saja. Dengan sedikit jalan yang berliku di akhir masa studi, mimpi ini terealisasikan juga.

Setelah lulus, saya masih punya (banyak) mimpi lagi. Mimpi jangka pendek : saya mau lanjut kuliah S2 di Eropa. Saya daftar ke beberapa universitas di sana secara online. Selain itu, saya juga apply beberapa beasiswa. Mungkin saya belum beruntung, beasiswanya gak ada yang lolos. Hehee. Tapi, dari hasil apply2 online itu, saya mendapatkan suatu offering dari salah satu universitas dengan reputasi yang cukup baik di Eropa. Dan sekarang saya berharap bahwa proses untuk meraih mimpi saya yang keempat akan segera dimulai di akhir tahun ini.

Realisasi dari mimpi untuk menjadi seorang peneliti juga sudah saya rintis sejak sekarang. Ya walaupun sekarang predikat saya masih seorang peneliti abal-abal lah ya. Hehe. Di luar bidang akademik, saya juga bisa bermain piano. Dulu waktu jaman sekolah, sempet kepikiran enak juga kali ya kalau saya bisa jadi guru piano. Eh, kesempatan itu datang tidak disangka-sangka. Jadi, sekarang keahlian piano saya itu malah bisa jadi sumber penghasilan. Walaupun nominalnya tidak besar, tapi mengajarkan saya bahwa cari uang itu tidak mudah.

Kesimpulannya, berdasarkan apa yang saya alami, semua hal yang terjadi dalam hidup saya itu berawal dari mimpi. Saya akan terus jadi pemimpi dan saya gak akan malu mengakui hal itu.

Ketika kita bermimpi, kita akan selalu memikirkan mimpi kita. Kalau kita memikirkan itu terus menerus sambil mencari cara untuk mewujudkannya, suatu saat pasti tercapai.

Hari sabtu kemarin saya berdiskusi dengan salah seorang teman lama. Saya menceritakan kepadanya tentang rencana-rencana saya ke depan. Saya selalu antusias kalau menceritakan tentang mimpi saya. Mau tau apa komentar dia? “Loe ambisius banget ya, La.” Iya, saya memang ambisius dan idealis sekali. Hal itulah yang menyebabkan saya tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang pekerja kantoran. Mungkin idealisme saya bisa mati kalau saya memutuskan untuk kerja kantoran.

Jadi, ayo bermimpi! Mau tau mimpi terbesar saya? Menjadi orang Indonesia pertama yang meraih nobel dalam bidang medical science. Haha..biarin. Namanya juga mimpi, harus setinggi-tingginya.

Salah satu cara untuk saya mensyukuri mimpi-mimpi yang telah tercapai adalah dengan melihat arsip di blog ini. Dulu saya pernah bermimpi untuk menjadi saya yang seperti sekarang ini. And here I am. 5 tahun lagi saya mungkin membaca postingan ini, dan akan memikirkan hal yang sama.

2 comments

  1. wow.. keren..
    gw juga ada keinginan untuk jadi peneliti tapi.tapi.tapi.. mash banyak hal yg menjadi alasan untuk mengubah cita-cita.
    btw gw setuju dengan lw, ambisius dan cuek..hahaha..
    smoga cita2 lw kesampaian.. ntar klo sdh dapat nobel, ingat2 gw.. haha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s