Month: March 2011

Happy 18, Brother!

Saya & Bagus waktu kecil

 

 

 

 

 

Saya & Bagus, sekarang. Sorry fotonya gak jelas. Dia gak mau terlalu terekspos, katanya. :p

Hey tidak terasa usiamu sudah 18 tahun ya hari ini. Sudah besar, kamu ya dek. Udah mulai berani pacaran. Tapi, tidak apa-apalah. Masa remaja memang masa untuk mengeksplorasi diri dan lingkungan kan?

Aku masih ingat lho, waktu kecil kamu bandel banget. Dengan tampang innocent itu seakan kamu punya alibi untuk semua “tindak kejahatan” yang kamu lakukan. Haha. Berhubung aku anak yang paling besar, aku lah yang selalu jadi “tersangka” kalau ada keributan di antara kita berdua. Semua orang senang sama kamu, dek karena kulitmu yang putih, bibirmu yang merah merekah (kayak cewek), dan wajahmu yang seperti orang Cina. Tapi, sayang sekali ya, jejak kegantengan masa kecilmu sekarang sudah tidak bersisa. Hahaha. 😀

Tidak, aku tidak pernah iri sama kamu yang begitu lucu waktu masih kecil. Waktu kamu lahir dulu, aku senang sekali karena akhirnya aku punya seorang adik. Sudah puas aku 5 tahun menjadi anak tunggal yang selalu dimanja dan menjadi tumpuan kasih sayang bapak & ibu.

Memang waktu kecil kita sering berantem. Tapi, seiring bertambah usia kita, kamu ternyata bisa aku jadikan sebagai teman diskusi yang menyenangkan juga. Kadang tanpa kamu sadari, kamu keceplosan menceritakan tentang cewek-cewek yang lagi dekat sama kamu. Haha..itu lucu banget lho!

Dulu waktu kamu tahu aku keterima kuliah di ITB, aku ingat kamu bilang begini : “Aku nanti mau kuliah di tempat yang lebih bagus daripada ITB”. Aku tidak mau kalau kita hidup dalam persaingan satu sama lain, karena kita bersaudara. Sesama saudara tidak boleh bersaing, tapi harus saling mendukung. Semua orang sudah ditentukan jalannya oleh Tuhan.

Satu hal saja yang mau aku sampaikan buatmu. Jangan pernah nyuekin orang tua. Iya sih kamu gak pernah bermasalah di sekolah. Nilai-nilai kamu selalu bagus. Bahkan aku dengar beberapa waktu yang lalu kamu termasuk dalam deretan siswa berprestasi di sekolahmu. Well, hanya dengan melihat nama sekolahmu saja aku tau kalau kamu adalah seorang anak yang brilian. Sekolah terbaik di Jakarta, meeenn!! hehe. Tapi, kalau lagi dinasehati bapak & ibu, mbok ya didengerin dengan sepenuh hati gitu, dek. Akhirnya aku bilang sama bapak & ibu : “Bagus emang anaknya mengejutkan, pak bu. Dia santai-santai gitu juga nanti hasilnya baik2 aja kok. Percaya deh.”

Selamat 18 ya adikku, Alfonsus Maria Bagus Dwiaji. Semoga panjang umur, sukses, dan sehat selalu. Semoga UN dan SNMPTN nanti sukses! Sukses percintaannya juga, biar gak galau terus. Hahaha 😀

Am I That Serious?

I keep asking myself this question : “Am I that serious?” Based on  an “observation” that I did  these past few months, I gathered opinions from my new friends. Most of them think that I’m way too serious. In fact, personally I don’t think that I’m serious. I’m just the same as other common people.

I’m trying to guess why they came into such a conclusion like that. First, I love reading. I always bring at least one book (any kind of book) in my bag whenever I go anywhere and I prefer to spend my free time reading a book than having unimportant chit-chat with my friends. Second, when I’m in the class, I always give my full attention to the lessons. Maybe those 2 reasons lead them in making a conclusion that “Ella is a kind of serious person”.

Okay, so this is my defense. Haha. Actually, I’m totally not a serious person. If you don’t believe it, ask my closest friends and family. They think that I’m such a “crazy” girl because sometimes I can throw some absurd jokes that make them laugh. I also not always drown into books until sometimes people labeled me as a bookworm. I love having a discussion or brainstorming with others. Ask me to speak about music,movies, or current scientific issues, and I’ll turn into such a talkative and fussy girl.

Honestly, I’m a little bit offended when my new friends think that I’m too serious. Well, I’m not like that. I’m afraid that when people know me as a serious person, they feel uneasy to be friends with me or they think that they must come with a “big” issue to start a conversation with me.

In these times, I really want to build my network. The only way to build a wide network is by making as many friends as possible. I know maybe I should start to be more friendly and to spread more smiles to others so that they won’t think that I’m that serious. Actually, I take this as a feedback for myself. Finally I know what other people think about me. I’ve just known them for a few months and those are  their judgements. I’m a serious person. In the case of my best friends, I’ve known them for several years and they don’t think that I’m serious. But, who knows if they’ve ever had a same opinion before.

People, try to know someone better before you labeled him/her with a particular stereotype!

image from here.

Pemimpi

performed by Naif

Mimpi teruslah bermimpi
Jangan pernah berhenti bermimpi
Mimpi bisa jadi nyata
Bila engkau berusaha
Untuk mewujudkannya

Mimpi teruslah bermimpi
Siapapun boleh saja bermimpi
Asal jangan engkau lupa
Dan selalu berusaha
Untuk mewujudkannya

Tak ada mimpi yang terlalu tinggi
Semua sangat mungkin ‘tuk diraih
Panggillah aku seorang pemimpi
Panggillah aku ini sang pemimpi

Mimpi bisa jadi nyata
Bila engkau berusaha
Untuk mewujudkannya

Tak ada mimpi yang terlalu tinggi
Semua sangat mungkin ‘tuk diraih
Panggillah aku seorang pemimpi
Panggillah aku ini..
Panggillah aku ini..
Panggillah aku ini..
Panggillah aku ini sang pemimpi

——————————————————

Beberapa waktu lalu ketika saya sedang iseng search lagu-lagu Naif di YouTube, tiba-tiba menemukan lagu yang berjudul “Pemimpi” ini. Liriknya sangat inspiring. Saya adalah seorang pemimpi. Saya sudah menyusun impian saya selama 10 tahun bahkan 20 tahun ke depan. Saya menulis di 1 file  microsoft word yang saya beri judul “my biggest dreams” lengkap dengan deadline kapan saya harus mewujudkanya. Ketika mulai muncul rasa lelah dan putus asa, saya selalu buka file itu untuk “mengingatkan” diri sendiri bahwa : “hey ella, loe masih punya banyak mimpi lho. masa gitu aja nyerah?” Dan biasanya semangat saya langsung membara kembali begitu melihat file itu. 🙂

Kadang saya berpikir bahwa saya bisa menjadi saya yang sekarang, sedikit banyak dipengaruhi oleh mimpi-mimpi saya. Berawal dari SMP, saya ingin melanjutkan SMA di sebuah sekolah negeri yang terbaik kualitasnya di Jakarta. Tidak diterima. Tapi, akhirnya saya bisa diterima juga di sekolah negeri, yang kualitasnya terbaik kedua (pada saat itu) di Jakarta. Ya gak apa-apa lah. Terus, ketika memilih untuk kuliah. Dari SMA saya sudah bermimpi untuk bisa kuliah di salah satu institut terbaik di Indonesia yang terletak di Bandung. Ketika menentukan jurusan, saya ingat lagi bahwa saya bercita-cita menjadi seorang peneliti. Cita-cita yang aneh, memang. Kata orang-orang, jadi peneliti tuh susah kaya. *bodo amat* Mungkin orang-orang pada bingung, di saat orang-orang lain berlomba-lomba untuk menuliskan jurusan teknik bla-bla-bla sebagai pilihan pertama mereka ketika ujian masuk, saya menulis MIKROBIOLOGI sebagai pilihan pertama. Saya senang sekali waktu akhirnya diterima di jurusan itu. Yeah, mimpi kedua telah diraih. Selanjutnya, hari-hari saya dipenuhi dengan kegiatan di laboratorium. Banyak orang yang saya ceritakan tentang kegiatan saya, berkomentar seperti ini : “ih gak asik banget sih kerjaan loe?” Untungnya saya terlahir sebagai orang yang cuek, jadi saya gak terlalu pedulikan apa kata orang. Setelah menjalani aktivitas di kampus, bertambah lagi 1 mimpi saya. Lulus tepat waktu, paling lama 4 tahun. Ini adalah impian yang agak ‘gila’, karena saya tergolong jenis mahasiswa yang biasa-biasa saja. Dengan sedikit jalan yang berliku di akhir masa studi, mimpi ini terealisasikan juga.

Setelah lulus, saya masih punya (banyak) mimpi lagi. Mimpi jangka pendek : saya mau lanjut kuliah S2 di Eropa. Saya daftar ke beberapa universitas di sana secara online. Selain itu, saya juga apply beberapa beasiswa. Mungkin saya belum beruntung, beasiswanya gak ada yang lolos. Hehee. Tapi, dari hasil apply2 online itu, saya mendapatkan suatu offering dari salah satu universitas dengan reputasi yang cukup baik di Eropa. Dan sekarang saya berharap bahwa proses untuk meraih mimpi saya yang keempat akan segera dimulai di akhir tahun ini.

Realisasi dari mimpi untuk menjadi seorang peneliti juga sudah saya rintis sejak sekarang. Ya walaupun sekarang predikat saya masih seorang peneliti abal-abal lah ya. Hehe. Di luar bidang akademik, saya juga bisa bermain piano. Dulu waktu jaman sekolah, sempet kepikiran enak juga kali ya kalau saya bisa jadi guru piano. Eh, kesempatan itu datang tidak disangka-sangka. Jadi, sekarang keahlian piano saya itu malah bisa jadi sumber penghasilan. Walaupun nominalnya tidak besar, tapi mengajarkan saya bahwa cari uang itu tidak mudah.

Kesimpulannya, berdasarkan apa yang saya alami, semua hal yang terjadi dalam hidup saya itu berawal dari mimpi. Saya akan terus jadi pemimpi dan saya gak akan malu mengakui hal itu.

Ketika kita bermimpi, kita akan selalu memikirkan mimpi kita. Kalau kita memikirkan itu terus menerus sambil mencari cara untuk mewujudkannya, suatu saat pasti tercapai.

Hari sabtu kemarin saya berdiskusi dengan salah seorang teman lama. Saya menceritakan kepadanya tentang rencana-rencana saya ke depan. Saya selalu antusias kalau menceritakan tentang mimpi saya. Mau tau apa komentar dia? “Loe ambisius banget ya, La.” Iya, saya memang ambisius dan idealis sekali. Hal itulah yang menyebabkan saya tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang pekerja kantoran. Mungkin idealisme saya bisa mati kalau saya memutuskan untuk kerja kantoran.

Jadi, ayo bermimpi! Mau tau mimpi terbesar saya? Menjadi orang Indonesia pertama yang meraih nobel dalam bidang medical science. Haha..biarin. Namanya juga mimpi, harus setinggi-tingginya.

Salah satu cara untuk saya mensyukuri mimpi-mimpi yang telah tercapai adalah dengan melihat arsip di blog ini. Dulu saya pernah bermimpi untuk menjadi saya yang seperti sekarang ini. And here I am. 5 tahun lagi saya mungkin membaca postingan ini, dan akan memikirkan hal yang sama.

Earthquake & Tsunami in Japan

Yesterday afternoon when I was on my way home, I read a shocking news on my twitter timeline. 8.9 magnitude earthquake followed by a 10 metres tsunami hitted Japan. And suddenly I remember that some of my friends are currently being in Japan for study and research purpose.

I was directly checked on my y!m and found out that one of my friend was online. I asked him whether he and our other friends were alright, and he said that everything was under control there and no need to worry. He’s living in Osaka, by the way. However, yesterday night I knew from FB that there wasn’t any news from one of my junior who is currently doing her exchange program in Tokyo. Let’s hope that she’s alright and doesn’t experience any serious injury. Well, 8.9 magnitude earthquake is really huge!

Based on the news from CNN that I watched yesterday, they predicted that the tsunami would soon reach Indonesia and other nearby countries. Thank God, until this moment that tsunami don’t hit Indonesia. But we still need to be aware of any bad possibilities that may happen.

May God be with Japanese people and my friends there. And may God also be with us, Indonesian!

Happy Birthday, My Dear (Little) Teenage Boy

when he were a kid

He's a "teenager" now

Hari ini, 12 tahun yang lalu

Saat itu aku kelas 5 SD

Ketika itulah kamu lahir, adikku

Aku ingat, proses kelahiranmu cukup sulit

Karena ibu sudah tidak dalam usia ideal untuk melahirkan, ketika itu

Tapi, akhirnya kamu lahir dengan selamat

 

Aku paham, masa kecilmu tidak terlalu berkesan

Sejak lahir, sampai 3 tahun setelahnya, kamu sakit-sakitan

Tapi, ketika kamu berusia 4 tahun, tiba-tiba kamu sembuh dari segala penyakitmu

Keajaiban itu sungguh ada

 

Sejak itu kamu tumbuh menjadi anak yang aktif

Anak yang ceria dan penuh keingintahuan

Seorang anak yang merasa bahwa sekolah terlalu mengekang kebebasannya, membatasi keingintahuannya

Seorang anak yang memiliki kemampuan bermusik luar biasa

Calon drummer handal masa depan, begitulah kamu menyebut dirimu

 

Tanpa terasa 12 tahun sudah berlalu sejak kelahiranmu

Sejak masa-masa menegangkan itu

Kamu yang sudah tidak mau disebut anak-anak lagi

“Aku sekarang sudah remaja, Mbak Ella”, begitu katamu

Hidupmu masih panjang, dek

Sekarang saatnya kau susun mimpi-mimpimu

Karena tidak ada mimpi yang terlalu tinggi

 

Selamat ulang tahun adikku, Albertus Bayu Bhagaskara Triaji.