Belajar Sabar

Saya adalah tipe orang yang meledak-ledak dan emosional. Memang keliatannya saya pendiam, tapi setiap kali ada orang yang kelakuannya menyinggung perasaan, segala sumpah serapah akan keluar dari mulut saya atau at least dalam hati, kalau orang yang menyakiti hati saya itu bukan orang yang saya kenal baik. Biasanya sih saya misuh-misuh sendiri. Itu dulu. Sekarang, saya berusaha meredam emosi saya. Saya bertekad untuk tidak mudah marah. Semoga saya berhasil menerapkannya dalam kehidupan saya selanjutnya.

Beberapa waktu terakhir ini saya memang jarang marah, karena tidak ada sesuatu pun yang membuat saya kesal. On the contrary, all things in my life was so perfect. Sampai sekarang juga masih sempurna-sempurna aja sih sebenarnya. Hanya, kemarin kesabaran saya sedikit diuji. Jadi, ceritanya email saya di-hack sama orang. Saya adalah orang yang sangat gaptek sama hal-hal yang berhubungan dengan hack-meng-hack (halah, istilah aneh). Jadi, sampai sekarang saya tidak bisa melacak siapa orang  yang meng-hack email saya. Singkat cerita, saya akhirnya bikin email baru. Asal kalian tahu saja, email saya yang di-hack orang itu adalah email resmi saya, media tempat saya berkorespondensi dengan dosen-dosen untuk membicarakan segala hal yang berkaitan dengan studi lanjut saya. Agak shock juga saya kemarin, karena semua arsip korespondensi saya dengan mereka hilang tanpa bekas.

Saat itu, saya pikir kalau saya marah-marah juga tidak akan menyelesaikan masalah. Memangnya dengan saya marah-marah, data-data itu bisa balik? Gak, kan? Finally, problem solved. Data korespondensi saya dengan universitas tempat di mana saya akan melanjutkan studi Master saya nanti, sudah diperbaharui. Saya bersyukur bahwa masih banyak orang-orang baik di sekeliling saya di antara hanya segelintir orang jahat yang ada.

Mungkin bagi teman-teman yang tergabung dalam social networking saya, sudah mengetahui permasalahan ini. Saya  memang menulis di status semua social network yang saya ikuti karena takutnya ada orang yang saking baik dan naifnya sampai percaya dengan pesan pada email tersebut.  Saya minta maaf ya kalau ada pesan tidak jelas yang intinya meminta sejumlah uang dan menggunakan nama serta email saya (fyi, email-nya ditulis dalam bahasa inggris dan nominal yang diminta adalah dalam mata uang poundsterling), yg masuk ke inbox email kalian. Itu penipuan modus baru, nampaknya.

Ada satu peristiwa lagi yang menantang kesabaran saya kemarin, tapi yang ini off the record saja karena menyangkut seseorang. Takut salah paham kalau sampai saya tulis di blog segala.

Bisa sabar dalam menghadapi suatu permasalahan itu ternyata enak ya. Kita bisa menemukan solusi yang tepat dalam keadaan tenang. Coba bayangkan kalau emosi yang didahulukan, kepala terasa panas terus lah ya.

Cobaan pertama di tahun 2011, yang berhasil saya lewati dan saya peroleh solusinya dalam waktu kurang dari 24 jam. Kuncinya cuma satu : SABAR. Gampang ya kalau nyuruh orang lain buat sabar. Menerapkannya di diri kita sendiri yang agak sulit. Itulah sebabnya kita harus belajar sabar.

Pelajaran berharga buat saya, jangan terlalu percaya pada teknologi. Tepatnya, jangan diperbudak sama teknologi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s