Indonesia Milik Semua

Sejak duduk di bangku taman kanak-kanak, saya sudah diajari untuk menghafalkan 5 sila pada pancasila. Ketika duduk di bangku sekolah dasar, pengetahuan saya bertambah. Saya belajar bahwa Indonesia adalah negeri yang penuh keanekaragaman dengan 5 agama yang diakui dan dengan beribu suku bangsa yang menghuni Sabang sampai Merauke. Dari buku pelajaran yang saya baca dulu, saya mengetahui bahwa bangsa Indonesia terkenal dengan keramahannya.

Namun, ketika saya mencermati peristiwa-peristiwa yang terjadi di negeri ini selama beberapa tahun terakhir, saya mulai curiga bahwa percuma saja rakyat Indonesia bersekolah karena ternyata yang mereka pelajari hanyalah teori belaka. Mari kita ingat kembali, sila pertama pancasila adalah “Ketuhanan yang Maha Esa” dan sila ketiga pancasila adalah “Persatuan Indonesia”. Apakah prinsip “Ketuhanan yang Maha Esa” itu masih berlaku ketika pemeluk agama tertentu selalu memandang curiga ketika bertemu pemeluk agama yang lain dan ketika menganggap bahwa TUHAN mereka lebih superior daripada TUHAN milik pemeluk agama lain? Padahal, TUHAN yang dipercaya oleh semua agama itu sama. TUHAN itu hanya satu. Oleh karena itu, menurut saya adalah suatu hal yang konyol ketika suatu perdebatan terjadi hanya itu menentukan TUHAN siapa yang lebih baik. Selanjutnya, adalah masalah agama. Seperti yang telah kita pahami, Indonesia mengakui keberadaan 5 agama (sekarang 6, karena Kong Hu Cu sudah diakui keberadaannya di Indonesia). Jelaslah sudah, Indonesia bukan hanya milik umat Islam saja. Indonesia adalah negeri milik umat beragama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu. Ketika saat ini pembangunan rumah ibadah untuk penganut agama minoritas sering mengalami penghambatan tanpa alasan yang jelas, menurut saya sila pertama dari pancasila sudah dikhianati. Beberapa hari yang lalu, saya membaca satu artikel di majalah Tempo yang menceritakan tentang betapa sulitnya umat Islam di New York untuk melaksanakan ibadahnya sampai-sampai umat Islam di kota itu harus menyewa basement dari sebuah gedung yang di kala malam difungsikan sebagai night club. Apakah pemerintah Indonesia dan masyarakat akan menunggu sampai keadaan di negeri ini sebegitu buruknya? Indonesia bukan Amerika dan saya yakin Indonesia masih jauh lebih baik dari Amerika dalam hal toleransi beragama. Apabila saya boleh memberikan contoh kehidupan beragama yang lebih baik daripada Indonesia, saya akan menyebut Turki dan Jerman. Turki adalah negara Islam, akan tetapi di sana semua agama dibiarkan tumbuh dengan suburnya. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka sangat jarang bahkan hampir tidak pernah membicarakan tentang agama. Mereka tidak mencampuri urusan agama orang lain. Hal yang berbeda terjadi di Jerman. Pada zaman kekuasaan Nazi dahulu, orang Jerman didoktrin untuk membenci kaum Yahudi. Namun, apa yang kita lihat sekarang? Di beberapa kota di Jerman banyak terdapat sinagoga dan letaknya berdampingan dengan gereja. Di sana sudah tidak ada lagi Yahudi-phobia.

Saya bermimpi bahwa suatu saat nanti negeri saya tidak lagi diliputi oleh berbagai permasalahan tentang kehidupan beragama. Saya ingin suatu hari nanti saya bisa melihat masjid, gereja, pura, vihara, dan kuil yang lokasinya berdampingan di kehidupan nyata. Selama ini kita hanya bisa melihat itu di Taman Mini, bukan? 🙂 Satu hal yang ingin saya tekankan di dalam tulisan ini, di negeri ini masih lebih banyak jumlah orang yang cinta dengan Indonesia daripada yang ingin memecah persatuan dengan dalih perbedaan agama maupun perbedaan ras. Oleh karena itu, saya yakin itu bukan hanya mimpi, melainkan sebuah harapan yang cepat atau lambat pasti akan terealisasi. Indonesia adalah negeri yang dihuni oleh pemeluk 6 agama dan lebih dari 300 suku bangsa. Ketika ada isu yang muncul untuk memecah belah negeri ini,ingat bahwa kita punya semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang tidak akan goyah sampai kapanpun. Bahwa kita berbeda, memang benar. Akan tetapi, suatu kata yang bernama INDONESIA itu harus membuat kita selalu merasa satu. Saya bangga menjadi orang Indonesia karena negeri yang paling beragam di seluruh dunia. Ingatlah, bahwa perbedaan bukanlah alasan kita untuk terpecah belah, tapi hal itu adalah alasan kita untuk bersatu. Jangan sampai kita mengecewakan para pahlawan yang dahulu mati-matian berjuang demi persatuan Indonesia, akan tetapi sekarang generasi kita malahan menempuh berbagai cara untuk menghancurkan persatuan itu.

*tulisan ini diikutsertakan dalam Writing Contest Competition Pesta Blogger 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s