have you really understand your belief?

you call ME the light, but you never see me
you call ME the way, but you never follow me
you call ME the teacher, but you never listen to me
you call ME the LORD, but you never serve me
Don’t be surprise if someday I’ll said : “I do not know you”

Hari ini saya mendengarkan salah satu homili terindah selama 22 tahun saya menjadi orang Katolik. Jujur saja, biasanya saya sering terkantuk-kantuk di gereja ketika homili *ampun*. Kutipan di atas merupakan kata-kata yang diucapkan oleh Pastor di gereja saya tadi. Beliau juga mengutipnya dari salah satu ancient quotation yang (kata beliau) sangat terkenal di Irlandia.

Kalimat pada kutipan di atas begitu menggelitik saya, terutama yang bagian “You call me the LORD but you never serve ME“. Saya seperti diingatkan kembali oleh kalimat itu. Memang sudah beberapa tahun ini saya absen melayani TUHAN. Hanya dengan mengatasnamakan kesibukan kuliah, hubungan saya dengan DIA agak merenggang, walaupun tidak sampai putus. Saya masih ke gereja dan saya masih berdoa. Namun, itu belumlah cukup.

Untungnya, ketiga kalimat teratas dari kutipan itu tidak menyindir saya. Tapi, saya yakin bahwa kalimat-kalimat tersebut merupakan sindiran yang cukup keras bagi orang-orang yang mengaku beragama, tapi tidak pernah menjalankan aturan agamanya. Dalam hal ini saya berbicara secara general, tidak hanya menyangkut agama saya.

Ada sedikit kelompok di dalam agama, semua agama pasti ada, yang mengeksklusifkan diri dan menganggap agamanya adalah yang paling benar. Menurut pandangan saya, kasihan dan bodoh sekali orang-orang itu. Bukankah tidak ada agama yang salah? Orang-orang yang seperti itu harusnya membaca kalimat ketiga dari kutipan di atas. “You call ME the teacher but you never listen to me” Kamu menganggap AKU gurumu, tapi kau tidak pernah mendengarkan AKU. TUHAN yang dipercaya oleh semua agama yang disebut dengan berbagai macam nama tidak pernah mengajarkan kita untuk membunuh atau memusuhi orang lain. Yang salah bukan agamanya, tapi manusianya. Jadi, harap dibedakan. Rasanya, jahat sekali orang-orang yang berani melakukan kekerasan dengan berkedok agama. Mereka itu secara langsung mengkhianati TUHAN yang sudah memberi mereka kehidupan dan yang mereka sembah.

Saya tidak bermaksud menggurui. Saya hanya ingin membagi pemikiran saya dan kebetulan kutipan di atas itu agak menggelitik. Saya dengan bangga berani bilang bahwa saya dan keluarga saya taat beragama, tapi kami tidak fanatik. Segala sesuatu yang berlebihan itu buruk, termasuk dalam hal kepercayaan. Kalau belum paham dengan agama kita sendiri, gak usah deh ngurusin agama orang. Just ask to yourself : “have I seen, followed, listened, and served HIM?” If you haven’t done  any of them, then don’t be surprise if HE won’t recognize you when someday you literally meet HIM. Setiap dari kita pasti suatu saat nanti bertemu dengan DIA.

Hari gini, berantem gara-gara agama? Udah gak jaman, kali. Ini abad 21, meen bukan jaman purba. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s