Let’s Talk About Marriage

Hehe..pasti pada heran deh kenapa tiba-tiba saya mengangkat topik ini di blog. Gak kok, saya gak kepengen cepat-cepat menikah. Pada posting kali ini saya hanya ingin mengutarakan pendapat saya mengenai pernikahan, topik yang sedang hangat dibicarakan oleh teman-teman saya.

Berawal dari suatu invitation yang saya terima di FB. Undangan pernikahan salah seorang senior saya (jarang-jarang saya terima undangan pernikahan). Usia saya dengan dia kurang lebih sama, ya lebih tua dia sedikit lah. Dia sudah mau menikah, sedangkan saya sebaliknya masih galau. πŸ˜€ Kemudian, beberapa teman dekat saya juga sudah mulai sering membicarakan tentang pernikahan (secara serius, tentunya). Berada di antara mereka, membuat saya terlihat bagaikan anak kecil yang masih polos. Sejujurnya, hingga saat ini kata ‘pernikahan’ belum pernah melintas di kepala saya karena menurut saya menikah sama dengan membina keluarga, dan ketika kita memutuskan untuk membina keluarga, hal itu bukanlah hal yang main-main. Apakah di usia saya (dan teman-teman saya) yang masih awal dua puluhan ini sudah mampu untuk membina keluarga? Well, usia memang tidak menentukan kedewasaan seseorang sih. Tapi, buat saya pribadi, iya ngaruh banget.

Bahkan di usia saya saat ini, saya belum pernah pacaran. Melihat teman-teman saya yang pacaran dan mendengar cerita mereka tentang problematika (elaaahh bahasa gw!) pacaran, malah membuat saya semakin berhati-hati untuk memulai suatu hubungan dengan seseorang. Saking berhati-hatinya, sampe gak pernah pacaran. Hehehe πŸ™‚ Iya, lah ngurus diri saya sendiri saja kadang-kadang masih suka ribet, apalagi kalau sudah punya pacar, pasti ribetnya berlipat ganda. Masih pacaran lho, belum menikah.

Sebenarnya tidak ada desakan untuk saya segera punya pacar dan menikah dari keluarga. Jadi, harusnya saya santai-santai saja dong ya. Mau tau pendapat saya mengenai konsep pernikahan? Sesuai yang diajarkan oleh kepercayaan saya, pernikahan adalah sesuatu yang sakral, satu kali seumur hidup, dua insan yang dipersatukan oleh Tuhan dan tidak dapat diceraikan oleh manusia sampai kapanpun. Iya, konsep pernikahan yang tertanam di pikiran saya memang seperti itu dan mungkin terkesan ‘berat’. Solusinya ya, jangan buru-buru menikah karena menikah itu bukan sesuatu yang enak. Saya menulis ini bukan karena semata-mata saya berstatus jomblo merana lho ya. Oiya, dengan status jomblo yang saya sandang ini, saya merasa biasa-biasa aja, dalam artian tidak menikmati dan juga tidak menyesali.

Jadi, kesimpulannya, semua indah pada waktunya. Suatu statement yang klise, memang. Bagi saya pribadi, untuk saat ini saya merasa belum tepat waktunya untuk saya berpikir untuk menikah (yaiyalah cowoknya aja belum ada). Saya gak peduli kalau orang -orang terdekat saya yang notabene seumuran dgn saya sudah memikirkan tentang hal itu. Mungkin mereka sudah merasa ‘siap’ atau mungkin juga pandangan mereka mengenai pernikahan, tidak seribet pandangan saya. πŸ™‚

Eh tapi jangan dikira saya takut dengan pernikahan ya. Saya gak takut, tapi saya menghormati pernikahan itu sendiri. Sehingga saya gak mau main-main. Suatu saat saya juga pasti menikah, dengan seseorang yang sudah disiapkan oleh Tuhan untuk saya. Dan ketika saya memutuskan untuk menikah, pastilah saya sudah dewasa secara mental. Kalau boleh sebut umur, saya ingin menikah ketika sudah berusia 25 tahun. Well, let’s see. Itu 3 tahun lagi.

In the end, humans can plan everything, but only God can decide the best for us.

Kalau Tuhan bilang tidak, maka kita tidak bisa memaksakan kehendak kita, bukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s