when I first met him

Seharusnya sekarang saya mengerjakan skripsi. Akan tetapi pikiran saya sedang terdistraksi oleh dia. Iya, dia yang sebenarnya ingin sekali saya lupakan karena berpikir tentang dia berarti berpikir tentang masa lalu. Selama ini, saya mati-matian berusaha tidak memikirkan masa lalu. Kemudian, dang, tiba-tiba dia datang kembali di kehidupan saya. Maka, daripada dia terus berputar-putar di dalam imajinasi saya, lebih baik saya flash back sekalian kejadian-kejadian dulu antara saya dengan dia yang masih saya ingat. Yeah though I’m sure I still remember most of them.

Oiya, just a reminder for you, kalau kalian malas baca postingan yang mellow mendayu-dayu, tinggalkan saja blog ini okeeyy? hehe 🙂

And the story goes…..jengjengjeng (backsound) *naon*

Pertemuan pertama saya dan dia terjadi di gereja pada hari Jumat Agung. 10 tahun yang lalu, waktu saya masih kelas  6 SD. Saya masih ingat, waktu itu setelah ibadah jalan salib para putra altar mempersembahkan suatu drama tentang kisah sengsara Yesus. Dia berperan sebagai Yesus. Kesan pertama sama sekali tidak berkesan. Waktu itu saya berbisik ke ibu saya : “Ibu, itu yang jadi pemeran Yesus kok kasian amat ya? Cungkring gitu badannya, kayak tulang berbalut kulit doang.” Itu pertemuan pertama kami. Saya tidak tahu namanya, begitu pun dia.

Satu tahun kemudian kami bertemu lagi secara tidak sengaja. Kali ini di tempat les piano. Saya tidak pernah tahu kalau kami les piano di tempat yang sama sampai diadakan mini concert. Di konser itu saya main lagu “Fur Elise” dan mainnya ngaco tapi tetep dapet applause. Seneng deh..hahaha. Nah, dia main electone di konser itu. Lagunya susah lah pokoknya, tapi dia jago banget. Pas dia lagi main, saya mikir kok kayanya saya pernah liat orang ini ya, tapi di mana. Setelah konser selesai, saya baru nyadar kalau dia adalah orang yang sama dengan yang saya lihat satu tahun sebelumnya di gereja. Bayangkan, setelah 1 tahun berlalu saya masih ingat dia. Dia belum menyadari keberadaan saya waktu itu.Oiya kejadian tergila yang pernah saya lakukan pas SMP nih..setiap pulang sekolah saya HARUS lewat depan sekolah dia soalnya saya pengen liat dia nongkrong di warung depan sekolahnya. Sumpah saya freak abis! FYI dulu dia sekolah di SMA swasta di daerah Pejaten yang berinisial G (haha..gampang bgt ketebak!)

Setelah kejadian-kejadian itu kami sering bertemu di gereja, masih secara tak disengaja. Kebetulan, waktu SMP hingga awal-awal SMA saya cukup aktif sebagai pemazmur di gereja. Nah, pada saat-saat itulah intensitas saya bertemu dengan dia semakin tinggi. Gak tau saya yang ge-er atau gimana, tapi saat itu kita mulai dekat dan saya merasakan bahwa dia tuh baik banget. Oiya pada saat itu kita sudah saling kenal hehe (akhirnya). Tapi, proses kenalannya kocak banget, benar-benar bukan proses kenalan secara formal. Yah tau-tau saya sudah tau namanya dia adalah *sensor* dan dia tau bahwa nama saya Ella. Iya, just as simple as that.

Nah, sekitar pertengahan tahun 2003 waktu saya sudah jadi anak SMA dan dia baru masuk kuliah, saya mulai sok akrab tuh. Saya kadang merasa bahwa dulu saya “niat pisan” cari-cari info tentang dia. Saya males aja kalau ternyata saya suka sama orang yang udah punya pacar. Heuh,,malesin. Waktu itu saya dapet info dari teman saya kalau dia masih single (asik!) hehe..trus saya dikasih nomor handphone-nya sama teman saya juga. Mulailah saya sok2 tanya2 gak penting. Nanya tentang musik lah, nanya tentang kepaduan suaraan, lah. Padahal saya cuma cari alasan saja supaya bisa dengerin suaranya. Haha..awalnya saya cuma SMS. Tapi kadang dia malah nelpon balik dan bikin saya deg-degan jumpalitan. Hahaha..gejolak jiwa masa SMA gitu *gila* Waktu itu juga dia lagi mengalami masa ospek di kampusnya, jadi saya sok2an menyemangati dia gitu. Hahaha..padahal saya bukan siapa-siapanya gituuuu.

Sepertinya antara saya dengan dia memang sudah ada perbedaan persepsi sejak saat itu. Saya terlalu berharap banyak karena dia baik banget dan perhatian. Dengan status saya yang “bukan siapa-siapanya” dia, berarti saya harus rela kalau suatu saat dia suka sama seseorang dan move on dengan seseorang itu. Saya pikir momen itu tidak akan datang terlalu cepat. Eh, ternyata baru beberapa bulan kuliah, dia sudah menemukan si seseorang itu. Dan mereka jadian sampai sekarang. (sialan, gak putus2! hahahaa :p) Terus, dia tiba-tiba menghilang dan mengganti nomor handphone-nya pula. Wah, saat itu kondisi saya langsung drop. Itulah pertama kali saya menangis gara-gara seorang cowok (bego banget lah saya kalau dipikir-pikir)

Bertahun-tahun saya gak pernah ketemu dia setelah kejadian itu. Hingga kemudian, saya kuliah di Bandung. Saya meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya bisa ketemu cowok yang jauh lebih baik dari dia kok. Dia emang baik, tapi apakah orang yang  baik tega tiba-tiba pergi tanpa jejak meninggalkan saya? *doh kok jadi kayak sinetron ya bahasa gw?* Iya memang sejenak (beberapa tahun) saya sempat lupa sama dia. Di kampus saya menemukan orang-orang ganteng nan baik hati. Hahaaa…

Sampai tiba-tiba Natalan tahun 2009 yang  lalu saya ketemu dia (tanpa pacarnya) lagi di gereja dan saya masih deg-degan. Saya berkata kepada diri saya sendiri : “duh maunya apa sih gw? kok gw lemah banget kalau berhadapan sama dia?” Dan dia juga dengan seenaknya memberi tatapan itu ke saya. Dikiranya saya gak tau. Padahal saya setengah mati berusaha gak mau melihat ke arah dia karena benar-benar salah tingkah. Saya mikir : “ih dia kok masih mencoba flirting ya, padahal kan udah punya cewek.”

Dan waktu Paskah kemarin saya tugas bareng sama dia. Gak nyangka, lah saya.  Sebelum ini, kalau saya tahu bahwa kita tugas barengan, biasanya saya gak jadi ikutan. Iya benar sekali saya memang menghindari ketemu dia karena tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan (seperti tiba2 degup jantung saya tidak bisa dikontrol). Yah begitulah setelah itu saya kembali memikirkan dia hingga sekarang. Gak tau juga ke depannya bakal seperti apa. Ternyata saya masih suka PARAH sama dia. Sebenarnya saya sudah tidak ingin ketemu-ketemu lagi dengan dia, tapi akhir-akhir ini pertemuan kita gak pernah direncanakan. Dengan kata lain, banyak “kebetulan” yang membuat kita bertemu.

Dia nggak cakep. Tapi ada faktor lain yang bisa bikin saya suka sama dia. Dia baik. Dulu dia melakukan semua itu ke saya karena dia gak tau perasaan saya. Jadi, bukan salah dia juga sih.

So, yeah harapan itu masih ada di lubuk hati saya yang terdalam. Kalau saya gak bisa mendapatkan dia, sudahlah. Cari pacar orang bule aja kali yeee? :p Yes, honestly dia adalah protipe cowok idaman saya. Kalau seandainya pacar dia yg sekarang itu bakal langgeng terus sama dia, saya cuma mau bilang bahwa si cewek itu amat sangat beruntung mendapatkan cowok sebaik dia. Tolong jangan disia-siakan. Hehehe 🙂 Saya sudah tidak se-obsesif dulu terhadap si dia ini. Tapi kalau bisa ngedapetin dia ya gak nolak juga sih. Ahahaha..

Yeah, dialah si mister yang sering saya sebut di tweet2 saya. Begitulah ceritanya. Panjang ya? Ya sudahlah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s