I’m sick :(

I’m suffered from this very bad influenza. I’ve felt unhealthy since last week but I haven’t seen the doctor yet because yeah I thought I could recover soon without seeing the doctor. Actually, I was so wrong. It has becoming worse. Argh. I can’t concentrate in doing anything.

I got sick in the wrong time. This week I suppose to finish some important things. I have to repeat some parts of my research because my advisor said that my result should be perfect. Also, I must start writing my theses. So far, I’ve finished the first chapter but I still can’t continue to the second chapter because my body is too weak. And I also must prepare for next week’s presentation. I must be in Bandung today instead of leaning at my bedroom in Jakarta. Gosh, I don’t like being sick. In the time like this, I regret for being so carelessly drinking cold beverages in the middle of rainy season.  I really regret it. Arrrrrggghhhh, I wanna get well soooooonnnn!!

Advertisements

my siblings

Oke, beberapa hari ini saya memang amat sangat santai. Kerjaan saya adalah jalan-jalan ke mall. Sebut saja…Ciwalk, PVJ.  Heran? Saya juga heran. Padahal saya kan mahasiswa semester 8 di Institut Gajah Mbleduk. Harusnya sibuk dong. Hehehee..Puji Tuhan penelitian TA saya hari ini sudah beres. Hasilnya juga bagus. Ajaib banget, lah. Sekarang tinggal nyusun skripsi deh. Semangat2, ellaaaa!! 😀

Sudah cukup introduction-nya. Sekarang saya mau nulis tentang adik-adik saya deh. Udah lama pengen nulis tentang mereka, tapi kelupaan terus. (maaf ya adik-adikku :p).

Saya punya 2 adik cowok. Jadi, gak heran dong kenapa saya tomboy? Yaaaa..dari kecil gaulnya memang sudah sama cowok-cowok bandel itu. Adik saya yang pertama namanya Bagus. Dia sekarang masih kelas 2 SMA dan sebentar lagi dia akan berulang tahun yang ke-17. Uhuuyy,, sweet seventeen euy. Orang yang baru kenal sering salah sangka bahwa saya adalah adiknya dia. Ya jelaslah dia jauh lebih tinggi dan lebih besar daripada saya. Saya akui di banyak hal dia jauh melebihi saya, tapi sayang sekali dia itu anaknya pemalas luar biasa. Bayangkan, cara dia belajar itu adalah sambil terngkurep di tempat tidur. Emang gila! Saya iri dengan kemampuan dia dalam bersosialisasi. Dia mudah sekali bergaul dengan siapapun. Sangat berbeda dengan saya yang butuh waktu beberapa lama untuk bisa akrab dengan orang. Perbedaan usia saya dengan dia tidak terlalu jauh, hanya 5 tahun. Oleh karena itu, kami tumbuh besar bersama. (caelaah bahasanyaaa) Dulu waktu masih kecil, kami tidak pernah akur. Tiada hari tanpa berantem, sampai membuat eyang kami stress. FYI, waktu masih kecil kami banyak menghabiskan waktu bersama Eyang karena orangtua saya tidak berani meninggalkan kami di rumah hanya bersama pembantu. Sekarang ketika kami sudah sama-sama gede, jangan kira kami tidak pernah berantem. Kami masih sering cela-celaan, karena saya bukan tipe kakak yang mau mengalah. Saya adalah tipe kakak yang mau menang sendiri. Hahaaa. Bahkan kadangkala saya merasa bahwa adik saya ini lebih mature dari saya lho. Saya sering minta bantuan dia dalam hal per-komputer-an atau per-laptop-an karena dia jago banget. Dia? Gak pernah tuh minta bantuan saya karena katanya dia gak yakin dengan kemampuan saya. Emang sial deh!

Adik saya yang satu lagi namanya Bayu. Dia sekarang masih kelas 5 SD. Beda usia kami memang sangaaaat jauh, yaitu 11 tahun. Dia lahir ketika saya sudah kelas 6 SD. Tapi, anehnya saya nyambung lho ngomong sama dia. Ini dianya yang ketuaan apa sayanya yang masih kayak bocah ya? Itu pertanyaan yang masih sering berkecamuk di kepala saya. Adik saya ini hobinya berubah-ubah. Saya suka ngakak juga melihat dia yang amat sangat labil itu. Dia tidak terlalu suka belajar tetapi sangat berjiwa seni. Dia adalah satu-satunya dari kami bertiga yang mewarisi bakat menggambar Bapak saya. Saya cuma bisa menggambar bakteri, sedangkan si Bagus nggambar orang aja pletat pletot. Heheheheee 🙂 Kemudian, adik saya si Bayu ini juga jago bahasa Inggris. Hebat deh, accent-nya British banget. Suka lucu aja kalau ngeliat dia ngomong bahasa Inggris sambil monyong-monyong. Terus dia juga paling jago bahasa Jawa. Di antara kami bertiga, saya yang paling parah level bahasa Jawa-nya. Hahaaaa.

Saya bersyukur punya 2 adik yang walaupun bandel, tapi “bener”. Mereka tidak pernah terlibat kasus di sekolahnya, punya prestasi yang baik, dan tidak suka keluyuran. Kami bisa membuktikan bahwa walaupun kedua orang tua kami merupakan orang tua yang bekerja, kami tidak lantas terus menerus mencari hiburan di luar rumah. Itulah mengapa setelah saya kuliah di Bandung pun saya sering banget bolak balik ke Jakarta. Saya selalu kangen dengan kebandelan, kekonyolan, dan kelucuan mereka. Walaupun sering berantem, saya tetap sayang sama mereka. Justru dengan sering berantem-berantem kecil, saya merasa ikatan kita sebagai saudara semakin kuat. *definisi ngaco*

Love you so much, bro!! 🙂

I (Almost) Reach My Dream

I still have a little step ahead to finish my final project research. I started it on the early of this month. Honestly, I can’t believe that I almost finish this research in only a  month (actually it’s a little more than a month because I started the DNA extraction in the middle of February). Woww..I can do it! Yeah, I can do it.

Next week, hopefully I’ll start writing my bachelor degree theses. Oh my GOD!! It means I really can graduate this July. Still can’t believe. Big thanks for my advisor. You’re so kind, ma’am. I feel so grateful to have such an advisor like you. You always encourage me instead of judging and let me down. I still need your help for my theses, though  :D.

Finally, thank you my dear GOD. Now, I know that YOUR plan will always much better than mine. YOU never leave me even for just a second. I know YOU always there and hear my prayer. YOU can make everything possible.

Yeeeyy….I almost reach one of my dreams, finishing my bachelor degree on time. Please pray for me so I can survive in passing these few months ahead.

cheers 🙂

boleh dilihat, tidak untuk dimiliki

Dulu ketika masih berumur belasan, ketika masih labil (emang sekarang gak ya? :p) kayanya status punya gebetan tuh terasa penting banget ya. Kriteria gebetan saya juga ribet banget. Pokoknya, dulu tuh saya selalu mendambakan cowok yang tinggi, ganteng, berhidung mancung, jago main musik ( khususnya gitar, piano, biola), dan punya selera humor yang tinggi. Wuihh..ribet kan?

Tapi tanpa saya sadari seiring bertambahnya usia, kriteria-kriteria tersebut semakin berkurang. Dan terlebih dari itu, sekarang saya sudah tidak pernah mencari gebetan dan juga sudah tidak lagi merasakan sensasi dari proses gebet menggebet itu. Tau gak sekarang kriteria cowok idaman saya tuh cuma 2, yaitu seiman dan berkepribadian baik (punya rumah pribadi, mobil pribadi, tabungan pribadi). Sama 1 lagi deh, saya pengen punya cowok yang usianya lebih tua dari saya karena saya masih percaya bahwa usia itu menunjukkan kedewasaan seseorang walaupun hal tersebut tidak berlaku bagi saya pribadi. Hahaha 🙂 Tuh liat kan? Cuma 3 (tiga) persyaratan tapi kok ya susah banget menemukan sosok yang seperti itu. Atau,,belum nemu aja kali ya? Saya sendiri sih berprinsip bahwa cowok itu tidak perlu dicari, nanti akan datang sendiri. Saya pernah ngomong kayak gitu ke ibu saya dan kemudian saya ditertawakan habis-habisan oleh beliau. Perlu kalian ketahui bahwa saya bisa  memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi ketika melakukan hal apapun, hal akademik sekalipun. Tapi, ketika berhadapan dengan satu kata yang terdiri dari 5 huruf bernama ‘cinta’ ini,  rasa percaya diri itu hilang entah ke mana. Aneh memang saya ini.

Jadi, intinya udah ada seseorang yang loe suka belom la sekarang? Hooooo…udah dong! Tapi sayangnya dia adalah sesosok makhluk bernama laki-laki yang hanya boleh dilihat, tidak boleh disentuh, apalagi dimiliki. Yah, layaknya sebuah masterpiece. So, this is kinda unrequited love. Cuma mau ngomong begitu aja pake muter-muter ya? Hehe..tapi menurut saya sih tidak ada salahnya untuk berharap. Di dalam kehidupan saya selama ini sering ada keajaiban-keajaiban kecil yang terjadi. Semoga suatu saat juga ada keajaiban dalam hal c-i-n-t-a. *mellowgakjelasmode:on*

Someday, saya pasti butuh seseorang buat sama-sama menyongsong masa depan. Yeah, someday! Saat ini hal itu belum menjadi prioritas saya karena masih berada di urutan ke sekian. Saya yakin ada seseorang yang tulang rusuknya match sama saya yang sekarang masih bersembunyi entah di mana atau malahan orang yang selama ini sudah sering berkeliaran di sekitar saya, ah tak taulah. Hey whoever you are, surely we’ll meet someday!

Cheers! 😀

ps : kenapa saya ujug-ujug nulis tentang beginian? karena tadi saya tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang boleh dipandang tetapi tidak boleh dimiliki itu. hehe..dan saya merasa perlu untuk menulis ini, bahwa hidup kita tidak melulu tentang cinta dan bagaimana cara mendapatkan pacar. masih banyak persoalan lain yang harus diurus, contohnya TA (teteup ya)

Introvert/Ekstrovert

Mungkin teman-teman kuliah mengenal saya sebagai pribadi yang ekstrovert. Memang, sejak masuk kuliah beberapa tahun yang lalu saya merasa sedikit berubah menjadi seseorang yang lebih mudah bergaul. Apalagi, sejak kenal dan kemudian dekat dengan teman-teman saya yang ‘toa’ semua itu. Akan tetapi, sebenarnya saya bukan orang yang nyaman berada di tengah keramaian, saya bukanlah orang yang menyukai terlibat di dalam suatu pembicaraan panjang dengan orang lain. Lingkungan pergaulan telah membuat saya sedikit demi sedikit berubah hingga tidak menjadi diri saya yang sebenarnya.

Sifat asli saya adalah super duper introvert. Saya senang menyendiri, berada di dalam kamar seharian sambil membaca buku dan mendengarkan musik. That’s heaven for me. Tapi, pribadi yang introvert biasanya sulit untuk maju karena mereka terkungkung dengan pemikiran mereka sendiri dan merasa bahwa tanpa orang lain pun mereka bisa hidup. Makanya saya ingin sedikit demi sedikit mengurangi sifat introvert ini. Punya banyak teman itu enak kok. Lagipula kita kan manusia, makhluk sosial.

Role model saya untuk hal ini adalah bapak saya sendiri. Beliau pernah cerita bahwa dirinya juga adalah seorang yang introvert, paling tidak suka jika harus berinteraksi dengan orang lain. Tapi, beliau berhasil melawan sifat itu dan keluar dari comfort zone-nya.  Akhirnya beliau bisa sukses. Beliau bukanlah sosok yang sempurna (di dunia ini tidak ada yang sempurna), tapi saya ingin bisa seperti beliau.

Menjadi seorang yang ekstrovert bukan berarti suka teriak-teriak ke semua orang mengumbar rahasia pribadi dengan curhat kemana-mana (itu namanya lebay). Ada seorang teman saya yang punya sifat ekstrovert berlebihan. Tidak perlulah saya sebutkan siapa orangnya, yang jelas dia bukan teman dekat saya. Agak kurang nyaman juga ya berinteraksi dengan orang lebay seperti itu. Ekstrovert yang saya maksud adalah mampu menempatkan diri dengan baik di dalam pergaulan. Saya pengen banget jadi orang yang seperti itu, tidak canggung ketika harus berhadapan dengan orang lain sekalipun kita baru mengenalnya.

Saya yakin langkah awal menuju kesuksesan adalah berani keluar dari zona nyaman kita.