Apa Yang Sudah Kuperbuat Untuk Negaraku? (Renungan 17 Agustus)

Tahun ini negara Indonesia telah memasuki usianya yang ke 64. Untuk ukuran seorang manusia, angka 64 tahun setara dengan seseorang yang telah berusia lanjut dan mulai tertatih-tatih menjalani aktivitasnya. Namun, untuk ukuran sebuah negara, di usianya yang ke 64 seharusnya telah tegak berdiri dan segala aspek kenegaraan telah tertata dengan baik. Pada usianya yang ke 64 ini, apa yang kita lihat dari negara Indonesia?

Suatu negara tidak akan maju tanpa adanya kontribusi dari warga negaranya. Berdasarkan pengalaman pribadi saya ketika saya masih sekolah beberapa tahun yang lalu, upacara bendera merupakan kegiatan yang paling tidak disukai oleh para siswa. Menurut saya, upacara bendera merupakan bentuk kontribusi paling minimum kita sebagai warga  negara. Apa susahnya berdiri sekitar 1 jam di bawah terik matahari jika hal tersebut dibandingkan dengan perjuangan para pahlawan untuk merebut kemerdekaan? Rasa nasionalisme itu yang kurang dimiliki oleh masyarakat kita. Mungkin kita bisa mencontoh Jepang. Di sana, masyarakat benar-benar rela mengorbankan diri untuk negaranya bahkan hingga melakukan harakiri.  Mereka begitu bangga dengan negaranya. Memang, negara kita bukan Jepang. Negara kita adalah Indonesia dengan segala kekhasannya, kekurangan dan kelebihan. Tapi, tidak ada salahnya bukan apabila kita meniru filosofi hidup masyarakat Jepang tersebut?

Selain masalah nasionalisme, permasalahan lain yang sangat krusial dan sudah berlangsung selama turun temurun di negara kita ini adalah KORUPSI. Sepertinya di setiap lembaga di negeri ini, entah di lembaga pemerintahan ataupun di lembaga pendidikan, korupsi telah menjadi sesuatu yang wajar. Korupsi tidak terjadi begitu saja ketika seseorang telah menduduki suatu jabatan tertentu. Korupsi bisa dimulai sejak dini. Berdasarkan pengalaman pribadi saya, banyak sekali orang-orang di sekitar saya yang mengincar beasiswa dengan dalih ketidakmampuan ekonomi. Awalnya saya tidak peduli, toh itu urusan mereka pribadi. Namun, ketika beredar kabar bahwa sebagian besar dari penerima beasiswa tersebut ternyata berasal dari keluarga yang masih mampu, saya merasa sedikit geram juga. Apakah kita bisa menganggap diri kita berasal dari golongan ekonomi lemah ketika kita ke kampus dengan bermobil? Rasanya perlu diberikan mata kuliah tentang pencegahan korupsi di kampus-kampus di Indonesia.

Masalah yang terakhir adalah keamanan. Seluruh dunia mengetahui bahwa pada tanggal 17 Juli 2009 telah terjadi goncangan keamanan yang sangat melukai hati seluruh bangsa Indonesia. Menurut pendapat saya, pemberitaan oleh media asing mengenai peristiwa tersebut terkesan berlebihan. Ledakan bom tersebut tidak membuat kita takut dan paranoid, tetapi, ya peristiwa tersebut meningkatkan rasa kewaspadaan kita bahwa terorisme memang belum mati dan kita harus bersama-sama memeranginya.

Lalu, apa yang harus kita lakukan dalam menyambut momen hari jadi negara Indonesia yang ke 64? Ada baiknya kita bertanya kepada diri kita sendiri : Apakah yang telah saya perbuat untuk negara ini? Jujur, saya belum berbuat banyak untuk negara ini. Tapi, setidaknya saya memiliki rasa nasionalisme dan saya tidak pernah berbuat korupsi di sepanjang hidup saya.

Perlu diingat, menjadi seorang nasionalis bukan berarti menutup diri dari pergaulan global dengan negara lain. Menjadi seorang nasionalis adalah dengan menjadi bagian dari masyarakat dunia tanpa meninggalkan ciri khas kita sebagai bangsa Indonesia. Apabila suatu saat nanti saya memperoleh kesempatan untuk belajar dan bekerja di luar negeri, saya akan ambil kesempatan itu. Saya akan mengaplikasikan dengan baik ilmu yang saya miliki dan membuktikan bahwa orang Indonesia juga bisa sejajar dan bahkan lebih baik kemampuannya dibandingkan dengan orang dari negara lain.

Indonesia adalah dari Sabang sampai Merauke. Indonesia adalah sekumpulan orang dari berbagai macam ras dan agama. Namun, segala perbedaan itu membuat kita satu. Kita adalah warga negara Indonesia. Saya lahir dan tumbuh besar di Indonesia. Mungkin beberapa tahun lagi saya akan merantau ke luar negeri untuk berkarya di sana tetapi jiwa saya tetap Indonesia. Satu hal yang tidak mungkin saya lakukan adalah mengganti kewarganegaraan. Saya akan mati sebagai orang Indonesia.

Selamat ulang tahun Indonesia, negeriku. Jayalah selalu!

MERDEKA! (Karena kita memang bangsa yang merdeka)

4 comments

  1. Korupsi membuat kita sebagai rakyat terjajah…… tapi bagaimana menyelesaikan persoalan yang sudah mengakar daging ini? kita sendiri tidak sadar mendorong proses korupsi ini…. cuba direnungkan benar kah tulisan saya ini..?

    1. Kalau saya pribadi, saya tidak pernah dan tidak akan pernah mendukung terjadinya korupsi. Apakah karena masalah ini sudah mengakar daging, lantas kita tidak bisa menghentikannya?
      Maaf kalau pendapat saya berbeda. Anyway, terimakasih atas komentarnya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s