Mahasiswa ITB Arogan? Masa siih??

Kemarin saya mendapatkan suatu email dari salah satu milis yang saya ikuti. Inti dari pesan dalam email tersebut adalah bahwa alumni ITB sebagian besar bersikap arogan. Tentunya hal tersebut adalah penilaian dari pihak yang bukan merupakan alumni ITB. Dalam pesan tersebut disebutkan bahwa alumni ITB sombong karena merasa mereka adalah orang-orang terbaik yang dimiliki oleh bangsa ini, mereka telah ditempa di suatu institusi terbaik di negeri ini. Intinya, mereka menganggap orang lain di luar sana itu lebih rendah derajatnya. Ketika berkaitan dengan masalah honor atau gaji, lebih parah lagi. Mereka menuntut gaji yang sangat tinggi padahal kadangkala mereka hanyalah fresh graduate yang minim pengalaman. Salah satu hal yang dipertanyakan oleh sang pembuat pesan itu adalah : Apakah di ITB mahasiswanya didoktrin untuk menjadi narsistik dan arogan?

Saya akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut dalam kapasitas saya sebagai seorang mahasiswa ITB.  Jawaban saya adalah tidak semua mahasiswa ITB arogan. Jangan membuat suatu generalisasi yang tidak bertanggung jawab. Hanya dengan melihat segelintir alumni ITB yang arogan, lantas menganggap bahwa seluruh mahasiswa ITB itu sombong. Memang ada beberapa mahasiswa, bahkan sebagian adalah teman-teman saya sendiri, yang sombong akan prestasi mereka. Akan tetapi menurut saya hal tersebut bukanlah merupakan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Mereka cukup pantas untuk bersikap seperti itu karena memang ada sesuatu yang perlu dibanggakan. Lain halnya dengan mahasiswa yang IPKnya saja tidak sampai 2 tetapi sombong. Barulah hal tersebut perlu dipertanyakan.

Hal selanjutnya adalah masalah narsistik. Sebagian besar mahasiswa ITB memang narsis. Saya adalah salah satunya. Tidak semua orang bisa jadi mahasiswa ITB. Maka, tidak heran bila ada kebanggaan tersendiri ketika kita bisa masuk menjadi civitas akademika di institusi ini. Bagi saya, sifat narsistik tersebut hanya saya perlihatkan di dalam kampus. Di luar kampus, saya bersikap biasa-biasa saja.  Saya tidak mengetahui bagaimana keadaan rekan-rekan saya sesama mahasiswa ITB. Mungkin sebagian besar dari mereka bersikap narsistik sampai ke luar kampus. Hal itulah yang mungkin membuat orang lain gerah. Mungkin hal ini bisa dijadikan sarana introspeksi bagi kita.

Oiya, ada satu hal lagi. Sudah menjadi anggapan umum bahwa mahasiswa ITB itu individualis, introvert, dan tidak bisa bekerja di dalam tim. Saya sudah beribu-ribu kali mendengar tentang hal ini. Dosen saya berkali-kali mengingatkan kami supaya membuang jauh-jauh sikap individual dan banyak bergaul untuk meningkatkan soft skill. Kalau di jurusan saya sih rasa-rasanya tidak ada yang bersikap individualis. Selama ini segalanya berjalan asik-asik aja. Bergaul lancar, kuliah juga lancar. Mungkin teman-teman yang dari jurusan teknik yang lebih banyak merasakan hal tersebut. Kalau masalah ini, menurut saya memang sudah nature-nya anak ITB. Hehe. Sepanjang mereka mampu mengerjakan sesuatunya sendiri dan tidak mengganggu yang lain, semestinya tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Kalau mereka tidak mampu bekerja di dalam tim, ya tidak usah ditempatkan di dalam tim. Biarkan mereka kerja sendiri. It’s just as simple as that.

Saya sendiri telah menjadi bagian dari ITB selama hampir 3 tahun. Pada awalnya, memang ada sedikit rasa kaget dengan kultur pergaulan dan kehidupan di kampus. Akan tetapi, hal tersebut hanya berlangsung selama beberapa bulan pertama. Lama kelamaan menurut saya tidak ada yang aneh dari kehidupan kami. Dulu waktu masih SMA saya mengira di ITB itu isinya hanya orang-orang pintar saja. Nyatanya, gak juga. Buktinya, saya yang biasa-biasa saja bisa bertahan kok hingga hari ini.

Jadi, tolong jangan salah sangka terhadap kami, mahasiswa ITB. Kami hanya orang-orang biasa juga kok seperti orang-orang lain. Saya paling benci kalau ada orang yang berkata seperti ini : “Masa anak ITB yang kayak gini aja gak bisa?” Sebal sekali rasanya.